Duda Itu Milikku

Duda Itu Milikku
Episode 37


__ADS_3

ANA POV


Aku Menghabiskan waktu bersama Mama ratna dan juga el di mall. kami mengelilingi mall dengan el yang terus berada digendonganku. Rasanya badanku pegal sekali karena itu.


Kami memakan ice cream bersama dan membeli beberapa hal. Saat aku ingat waktu, jam dihandphoneku sudah menunjukkan pukul 4 sore. aku harus bergegas kebandara bertemu orang tuaku.


"Mah, kayaknya ana harus pergi duluan deh" ucapku.


"kamu mau kemana sayang?" tanya mama ratna sembari mengernyitkan dahinya.


"Orang tuaku pulang ke palembang hari ini. Jadi, aku harus bergegas kebandara untuk bertemu dengan mereka terlebih dahulu" jelasku pada mama.


"Yaudah mama sama el ikut aja" jawab mama.


"ga usah mah. Kalian pasti lelah seharian ini. ana naik taxi aja" balasku.


"Gapapa ana. mama juga mau ketemu dulu sama orang tua kamu. el ga capek kan?" tanya mama.


"Ga kok maa, nek. El juga mau ketemu sama opa sama oma" jawab el. menggemaskan. el memang memanggil mama dan papaku dengan panggilan opa dan oma sejak kemarin.


"Oke deh, tapi ana yang bawa mobil nya yaa ma" aku bernegosiasi. kan kasian kalo mama yang bawa. pasti capek, pikirku.


"Yaudah Ayoo" ajak mama menyetujui ucapanku.


kami berjalan beriringan. el sudah tak berada digendonganku lagi. Anak kecil itu berjalan bergandengan tangan denganku. kami berjalan menuju kearea tempat parkir mobil.


Sampai didepan mobil, mama langsung mengeluarkan kunci mobil dan menyerahkannya padaku. aku membuka mobil dan menggiring el untuk duduk dibelakang.


aku sengaja membuat el duduk dibelakang. kasian sama mama ratna nanti kalau el duduk dipangkuannya. aku aja udah pegal banget, apalagi mama kan. jadi yaa, el duduk dibelakang.


Aku memutari mobil dan duduk dikursi kemudi. aku segera menyalakan mobil dan mengatur Ac serta radio, kemudian langsung melajukan mobil dengan pelan menuju kebandara.


"Kamu serius sama keputusan kamu tadi?" tanya mama ratna menatapku seakan ragu.


Aku menghembuskan nafas berat. Aku menatap mama sekilas sembari melirik kebelakang lewat kaca depan. El sudah membaringkan tubuhnya, pasti tertidur disana.


"Iyaa maa. Tapi, mama tenang aja. sikap dan perhatian aku ke el ga akan berubah kok" jawabku dengan senyuman hangat dibibirku. Kudengar, mama menghembuskan nafas berat.


"Yaudah. Kalo itu yang terbaik menurut kamu, mama terima aja. asalkan kamu seneng yaa, Nak" jawab mama. aku tersenyum kecil.


"Kamu ga mau ngabarin ben dulu buat sekedar ngasih kabar?" tanya mama lagi.


"Ughh, Iyaa maa" jawabku.


aku menghela nafas berat. Aku memakai earphone yang telah tersambung ke handphoneku dengan gugup. aku mengendarai mobil dengan pelan dan mulai mencari kontak ben disana.


Aku Focus menyetir sembari tetap mencari kontaknya. setelah menemukan kontak itu, aku langsung menelponnya. Belum sampai hitungan menit aku menelpon atau tepatnya didering yang pertama, telepon tersebut diangkat oleh sang empunya.


"Halo! kamu dimana?" teriak pria diseberang sana dengan sangat cepat. pasti dia khawatir karena daritadi telponku dan mama tak terangkat, pikirku.

__ADS_1


"Lagi dijalan XXXX mau ke bandara" jawabku setelah melihat kesekitar.


"Yaudah tunggu. aku susul sekarang" ucapnya cepat.


" Ga usah" jawabku.


"Kenapa?" tanyanya. aku yakin dia pasti bingung.


"gw nelpon cuma mau bilang, kalo gw mau batalin pernikahan kita" ucapku santai.


"What?! kamu bercanda kan?!" teriaknya cepat sangat melengkik ditelingaku begitu mendengar ucapanku.


"gw serius. gw mau pernikaan kita batal. gw juga udah bilang sama mama, dan dia setuju aja" jelasku.


"Ini siapa??" tanya ben yang menunjukkan dia tak percaya dengan ucapanku. aku memutar bola mataku malas.


"Ck. Gw ana. Udahlah, Gw ga mau berhubungan sama pria kayak lu. udah ya, gw udah sampe dibandara, dah " jawabku sambil berdengus malas.


hatiku masih sangat panas jika mengingat kejadian hari ini. aku juga sudah berpikir keras, aku tak akan bisa hidup bersama dengan pria yang memiliki banyak wanita dihidupnya.


lagian, kalo dipikir-pikir lagi, ben sama aja udah ngelanggar kesepakatan awal saat lamaran. Bilang saja kalo aku egois. sangat. tapi, perempuan mana yang rela berbagi prianya?


"Tunggu" ucap ben dari seberang telpon.


Setelah mengucapkan itu, aku tak mendengar suara apapun lagi. Aku melepas earphone dan meletakkan handphoneku didalam tasku. aku merasa tak perduli akan hal itu.


"Gimana?" tanya mama.


mama menghela nafas berat. aku seakan berdosa dengan orang tua. Aku udah sampai diparkiran bandara dan mulai melepas seat-belt ku. aku meraih tas dan membereskan earphoneku.


"maaf ya ma" ucapku pelan.


"Gapapa. mama ngerti kok" jawab mama dengan senyuman hangatnya


"Makasih maa" ucapku tulus.


"Iya sayang. Kamu harus tetep anggap mama sebagai ibu kamu sendiri yaa" jawab mama.


"siap mah hehe" balasku sembari terkekeh kecil. setidaknya, aku harus menata hatiku.


mungkin bagi kalian, mudah sekali untukku memutuskan membatalkan pernikahan. Siapa sih yang ga sedih kalo jadi aku? tapi menurutku sebelum cinta tumbuh semakin cepat dan banyak, lebih baik untuk segera mencabut akarnya agar tak dapat tumbuh lagi.


"Sayang bangun" ucapku pelan seraya membangunkan el.


"Mama gendong" rengek el yang baru bangun sambil merentangkan kedua tangannya. aku tersenyum melihat itu.


"Sini Sinii" jawabku yang kemudian membawanya kedalam gendonganku.


Aku menggendong el sembari menyampirkan tasku dilengan. El terus memeluk leherku dan menenggelamkan kepalanya disana. aku mengelus rambut halus el.

__ADS_1


kemudian, aku memberikan kunci mobil pada mama. kami berjalan beriringan menuju pintu masuk keberangkatan. Mama ratna bilang, jika orangtuaku sudah menunggu didepan sana. begitu melihat mereka, aku langsung mempercepat langkahku hingga tanpa sadar meninggalkan mama ratna dibelakang.


"Mahh, Pahh" teriakku sembari menghampiri mereka.


"Haii sayang" jawab mama yang kemudian memelukku.


Aku memeluk mama dan papa bergantian. Sedangkan el sudah berada digendongan kak agus. Kak yansyah tak ada disini dikarenakan urusan rumah sakit yang mendesak. orangtuaku juga memeluk dan mencium el.


Setelah mengobrol kurang lebih 10 menit ,terdengar panggilan yang mengharuskan orangtuanya bergegas masuk kedalam. Kami semua berpamitan. mama ratna juga ikut berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri mamaku.


"Kalian hati-hati yaa. Jaga diri masing-masing dan jangan lupa kabarin mama sama papa kalo ada apa-apa" ucap mama sebelum melangkah menjauh.


Aku dan kak wanda terus melambaikan tangan pada mereka. Setelah memastikan Orangtuaku masuk kedalam, Kak agus memberikan el kedalam gendonganku kembali. kami sudah akan berbalik dan pergi kembali kerumah masing-masing, hingga---


"Anaaa" teriakkan itu menggelegar. aku mengusap dadaku terkejut. gilaaa.


"Papaa" el langsung turun dari gendonganku dan berlari mendekati seseorang yang berlari tergesa-gesa.


Ga perlu dikasih tau, kalian pasti tau dengan jelas itu ben. Ben Membawa el kedalam gendongannya dan berlarian kecil mendekat kearahku. aku hanya menatapnya seolah bertanya.


Dia terus menarik nafas dan menghembuskannya. ben terlihat seakan-akan baru saja berlari 10km tak. aku Mengernyitkan dahiku dan mengabaikan ben yang seolah kelelahan dan berjalan mendekati mama.


"Mama pulang sama ben sama el yaa. aku bakal ikut kak agus aja" ucapku sembari memeluk mama.


"Ga!" bentakkan itu terdengar dari ben yang langsung memegangi tanganku.


"Awww Apaan sih?" teriakku kaget sembari berusaha melepaskan tangannya yang meegangi tanganku erat.


"Dengar ya, pernikahan kita batal dan itu ga bisa diganggu gugat!" ucapku lantang didepan ben.


"Apa?!" teriakkan itu terdengar bersamaan dari kak agus dan kak wanda. Ben terlihat geram dengan perkataanku. dia menggertakkan giginya dan semakin mengencangkan pegangan tangannya padaku.


"Pernikahan kita ga akan batal apapun yang terjadi" geram ben sembari memegangi tanganku dan menyeretnya untuk mengikutinya.


"Heii lepas" aku memberontak. Tanganku terasa sakit saat dia dengan kencang memegangnya.


"Lepas!" bentak kak agus yang dengan kasar menghempaskan tangan ben.


"Aku harus bicara dengannya" geraman ben terdengar jelas.


"Jangan pernah kasar pada adikku" jawaban sinis terdengar dari kak agus. mereka saling menatap dengan pandangan bermusuhan, sedangan aku mengelus tanganku yang memerah.


aku menarik nafas pelan dan menghembuskannya berat. Aku berjalan mendekati ben yang masih menggendong el dan membawa el kepelukanku. aku memberikan el pada mama.


#


Happy Reading gais:)


Bantu Like, comment, And vote yaa trims:v

__ADS_1


aku mencintai kalian semua:*


__ADS_2