
aku langsung menghentakkan tangannya dan berjalan cepat memasuki kamar mandi. BRAK. aku menutup pintu dengan kencang. oh ya tuhann---bagaimana bisa aku bertemu dengan pria seprotektif dia? batinku kesal.
Aku cukup lama dikamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah kurasa selesai dengan kegiatanku, aku mulai mencoba menstabilkan detak jantungku yang tak karuan karena emosi. Ceklek. Deg. Deg.
"Astagaaa" pekikku terkejut begitu pintu kubuka.
***
"Lu ngapain?!" teriakku melengkik karena terkejut.
Gimana ga kaget sih? baru banget cuci muka terus pas lagi bener-bener kesel sama tingkah orang kayak ben, dan dengan bikin jantungannya saat buka pintu langsung wajahnya.
"kamu ngapain lama banget dikamar mandi nya?" tanya ben menyelidik. bukannya jawab malah tanya balik, cih dasar emang CEO nyebelin, batinku kesal.
"Orang di kamar mandi biasanya ngapain sih?!" tanyaku kesal sambil mendelik kearahnya.
"Bunuh diri kali" jawabnya santai sambil mengendikkan bahunya dan berjalan acuh kembali ketempat tidur.
"Gila!" ucapku sinis sembari menutup pintu dengan pelan. aku mencoba menahan emosiku.
Kalo aku tau ternyata ben semejengkelkan ini, aku ga akan menerimanya. Cih, ternyata benar Menurut banyak orang jika hubungan tanpa status lebih baik daripada saat memiliki status. aku mencoba untuk tak kesal dan berjalan melangkah keluar kamar.
"Mau kemana?" pertanyaan itu terdengar sebelum aku sampai didepan pintu.
Aku menoleh padanya sebentar kemudian memberikan tatapan mengejek. cih, dia pikir bisa ngendaliin gw? haha ga bakal bisa. aku menatap el sebentar dan memutar knok pintu.
"Bukan urusan lu" setelah balasan sinis itu terucap dari bibirku, aku langsung melangkahkan kakiku keluar kamar.
Aku melangkahkan kaki cepat. Belum sampai semenit, aku mendengar suara pintu kembali terbuka dibelakangku. aku semakin mencepatkan langkahku menuju pintu keluar.
"Aww sakittt" teriakku lantang begitu merasakan tarikan yang kencang dan pegangan yang erat dilenganku.
"Mau kemana?!" pertanyaan yang memiliki sejuta aura menyeramkan itu terdengar tepat ditelingaku. Aku merinding. bulu kudukku meremang karena hal itu.
"Sakittt! lepasss!" teriakku sembari mencoba memberontak dari pegangannya.
"Mau kemana?!!!" pertanyaan itu kembali diucapkannya dan terdengar sangat pelan namun menimbulkan aura yang sangat tajam. Aku menelan salivaku dengan susah payah.
"Mau keluar" cicitku pelan. oh my goshh, kemana ana yang pembangkang tadii?! sumpah, sekarang rasanya aku sudah seperti diterkam srigala yang lapar, sedihkuu~~
"kemana?!" tanyanya lagi. aku merasa sangat terintimidasi.
aku menarik nafas, dan menghembuskan pelan. aku benar-benar merasa sudah terpojok dengan ben dibelakangku. Aku membalikkan badanku sehingga aku tepat berada dihadapannya.
__ADS_1
"Ya keluarlah kemana lagi?!" bentakku padanya. aku mencoba memberanikan diriku.
"Kauu---" geramnya kesal dan semakin memperpendek jarak diantara kami.
Aku semakin mundur hingga akhirnya menabrak dinding dibelakangku. aku ngerasa kayak di drama korea kalo kayak gini, ringisku. matanya menatap nyalang mataku.
"Lu-mauu a-apa?" tanyaku gugup begitu dia semakin mendekatkan diri.
Plak. Aku menamparnya. tapi sumpah demi apapun itu ga kuat dan kencang. bahkan, itu hanya terkesan seperti dorongan diwajah. aku melihatnya menatapku dengan senyuman terkesan seperti seringaian dibibirnya.
nih orang gilaaaaa ditampar malah senyum, ih sumpah gw merinding sendiri , batinku merasa aneh. Ben semakin mendekatkan dirinya padaku. saat aku ingin melayangkan tanganku kembali, dia mencengkram tanganku.
"Aww gilaa sakit!" teriakku refleks begitu merasakan sakit ditanganku.
Dia mengabaikan diriku dan kembali mendekat. aku langsung mengalihkan wajahku kesamping. aku tak boleh menatapnya, atau akan akan luluh, prinsipku.
"Dengarr. aku yakin Kamu tau apa yang kuinginkan. jadi, berhenti bersikap seperti ini. karena akhirnya kamu hanya akan membuatku menyiksamu dengan kasih sayangku" ucapnya pelan namun penuh ancaman tepat didepan telingaku.
"Kamu bermain dengan lelaki yang salah" ucapnya lagi. Gilaa, gw merinding. sumpah, ben bener-bener kayak psikopat, batinku.
"Aku tak pernah bermain" ucapku pelan setelah menelan saliva dengan susah payah.
"Aku tak suka penolakan. Dan, harus kamu tau, aku tak keberatan jika harus membunuh semua orang yang menghalangiku. aku terbiasa akan hal itu" ujarnya sembari mengusap rambutku dan menciumnya.
terbiasa? apa maksudnya? aku yang awalnya bingung langsung membulatkan mataku sembari mendorongnya. oh shittt, ini gilaaa. gimana aku bisa lupa? kehidupan pebisnis kan ga selalu 'bersih' . apa aku benar-benar sudah masuk kedalam kandang singa?
"Stop!" teriakku saat dia mencoba kembali mendekat.
"Kasih aku waktu buat ambil nafas kali" teriakku lagi lantang dengan nada sinis.
jantungku kaget. aku mencoba menstabilkan detak jantungku dengan terus menghembuskan nafas pelan. aku ga boleh sampai salah dalam mengambil langkah,dan pasti dia memiliki sejuta cara nanti. bagaimanapun, aku harus bisa menang.
"Udah Ambil nafasnya? atau butuh nafas buatan?" tanyanya sembari terkekeh geli dengan senyuman menggodanya dan kembali berjalan mendekat kearahku.
aku tak mencegahnya. bukan karena aku membiarkannya mendekat, tapi karena aku merasa sangat lelah. yang pasti, dia tak akan mungkin membunuhku kan? tapi sekarang aku harus bagaimana? batinku.
aku menyenderkan badanku pada dinding dibelakangku. hanya satu kata yang dapat mendeskripsikan semuanya. bodoh. bisa-bisanya aku bermain tanpa melihat lawan.
"ahh gilaa" teriakku kaget begitu ben langsung menggendongku dengan gaya bridelstyle atau apa itu namanya, yang pasti aku tak suka. aku terus memukuli badannya.
"Lepas gaa?!" bentakku sambil terus memukuli dadanya. ya tuhan, aku bahkan belum sempat mencerna semuanya.
"Aww sayangg--" rengek ben begitu aku menggigit bahunya. plis yaa, ini bukan dramaa jadi stop deh romance alay-nya.
__ADS_1
"Kok digigit sih? kalo mau main gigit-gigitan sih tadi harusnya el suruh pulang aja ikut mama" lanjut ben dengan kerlingan nakal dimatanya. sungguh, aku mengutuknya.
"Ga usah digendong. gw bisa jalan sendiri" aku lelah bermain dengannya sekarang. hari ini aku sungguh lelah, banyak hal yang belum kucerna dengan baik oh my goshh---
"Gapapa sayang. aku cuma latihan aja buat nanti pas kita udah nikah. ternyata kamu cukup berat yaa" balasnya dengan senyuman manis dibibirnya itu. aku dengan cepat mencubit lehernya dan menggigitnya lagi.
"aww sayang sabarrr dongg. bentar lagi kita nikah kok. eh tapi, kamu ganas banget yaa" oke fix. nih cowok beneran gila.
aku menarik nafas panjang dan menghembus kannya pelan. gimana bisa dia nyinggung soal berat badan sih? sumpah badan gw ini termasuk ideal banget. lagian, dia ga tau apa? berat badan itu hal paling sensitif buat cewek? batinku marah. aku berdecak kesal.
Dia membawaku kembali kekamar. Ck. sumpah mirip banget sama kayak drama gitu, kayak pengantin gitu? Cihh jijik banget. aku tetap mengikuti keinginannya asalkan nyawaku dan seluruh keluargaku aman.
"Aku mau kita bicara" aku melembutkan nada bicaraku. harus bisa menguasai lapangan sebelum memulai pertandingan, pikirku.
"Apa sayang?" tanyanya membalasku.
"Turunin dulu" ucapku padanya. dia menurunkanku tepat dikasur samping el tertidur. setidaknya, dia masih memperlakukanku dengan lembut, batinku.
Aku Memundurkan badanku hingga akhirnya aku menyender pada sandaran kasur. dia duduk tepat didepanku dengan el disamping kami. aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. setidaknya, dia bukan seorang psikopat, batinku bersyukur.
"Aku mau bilang, kalo--" ucapanku terpotong.
"Kalo cuma mau bilang buat batalin pernikahan kita mending ga usah dibahas. aku tau aku salah, tapi--" ben langsung memotong ucapanku. segera aku membekap mulutnya agar tak mengatakan apapun lagi.
"Jangan memotong ucapanku dulu" ucapku pelan dengan tatapan tajam menghunus padanya. kalo bisa tatapan tajam gw jadi pisau sih, mungkin ben udah mati sekarang.
"kamu tau ga seberapa kesalnya aku saat liat cewe gila itu megang kamu?" tanyaku.
"Tapi--" ucapannya terpotong saat akuu--
"kamu tau seberapa marah dan kesalnya aku? dan harusnya kamu tau, kalo kamu udah keterlaluan banget pas kamu cuma diem ditempat saat aku mempermalukan diriku sendiri untukmu? aku mengkhawatirkan nasib satpam yang akan dipecat. aku juga mengkhawatirkanmu---" jelasku sambil tepat menatap bola matanya.
"Aku berpikir, gimana kalo sampe kamu dipecat? gimana kamu mau menghidupi keluarga kita? Dan kamu tau, aku bener-bener kecewa sampe aku ga bisa berkata-kata lagi saat tau ternyata aku cuma dipermainin dengan sikap kamu yang cuma diem" lanjutku lagi dengan senyumanku.
"Aku minta maaf" ucap ben pelan. aku memegangi tangannya.
"Dengar, aku sekarang benar-benar ragu buat ngebangun keluarga kecilku sama kamu. Rasa takutku seakan menguasaiku. mungkin, bagi beberapa orang ini hanya hal sepele. tapi, bagiku rasanya sangat menyakitkan. kamu diam. kamu bisu saat melihatku dipermalukan diperusahaanmu sendiri. Jika ditempat kekuasaanmu saja, aku merasa kamu tak sanggup melindungiku, bagaimana ditempat lainnya ben? Mungkin, nanti kamu hanya akan menulikan telingamu seakan tak ada yang terjadi, bukan?" aku menjelaskan nya dengan menatap dalam kebola matanya. aku berharap dia sadar apa yang kurasakan.
#
Happy reading gais:)
Bantu like, Comment, favorite and vote ya. trims all:v
__ADS_1
"Revisi dilakukan setelah karya tamat okay"
aku mencintai kalian semua:*