
"Kalo udah lamaran pasti bakal nikah secepatnya ,dek" ujar papa
"Serius deh. jawab aja, kenapa lu mau nikah sama duda itu?" tanya kak agus lagi.
aku menghembuskan nafas berat. dadaku mulai berdetak dengan cepat. aku takut dan mulai gemetaran. aku bingung harus menjawab apa. oh my gosh, aku baru tau kalo mau lamaran aja bakal kayak gini, batinku.
"Hmm--karenaa-akuu" ucapku terbata-bata.
***
"Hmm--karena-aku mencintainya" ucapku pelan.
Sebenarnya, aku tidak sepenuhnya berbohong. lagian, aku yakin kalo nanti aku pasti bakal mencintai ben, cinta itu datang karena terbiasa. aku hanya ga tau alasan apa lagi yang paling masuk akal. ga mungkin kan aku bilang yang sebenernya?
"Are you Really Love Him?!" teriakan dari kak yansyah terdengar
"Yes. Of course" jawabku seolah-olah meyakinkan.
"bukan karena kau kasian pada anaknya?" tanya mama yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Aku Kaget. gimana mama bisa tau?
"Itu juga salah satunya. Aku hanya ga ingin, anak itu tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap. Dia masih terlalu kecil untuk kehilangan kasih sayang dari seseorang yang kuyakin sangat mencintainya" akhirnya aku menjelaskan alasan terkuatku sekalian berusaha mengelak.
tapi aku berjanji, aku akan mulai belajar mencintai ben dan juga menjadi istri yang baik untuknya, jikalau kami menikah nanti, batinku berjanji. Mereka semua yang ada diruang keluarga ini menatapku sangat dalam.
Aku mengalihkan pandanganku kearah zahra yang sedang bermain sendirian dilantai, dia sedang memainkan boneka nya sembari menunggu kami menyelesaikan interogasi ini. aku sadar, ucapanku sudah menyinggung mereka semua. tapi sungguh, aku tak bermaksud. aku hanya ingin pembicaraan ini cepat berakhir.
*F**lashback on*
mama dan papa-ku merupakan orang tua yang sangat workholic. gila kerja nya itu akhirnya nurun ke anak-anaknya , batinku. Saat umurku 3 bulan, aku terkena Demam berdarah. Tidak ada dari orang tuaku yang tau jika aku sedang sakit.
saat itu, mereka sedang pergi keluar kota untuk mengemban tanggung jawab yang diberikan kantor. Dari bayi, aku sudah diasuh oleh babysister-ku. Kemudian, karena panik dan khawatir akan keadaanku, dia menelpon kakek nenekku yang ada dipalembang.
Babysisterku sudah berulang kali menelpon orang tuaku, tapi hasilnya nihil. tak ada jawaban. akhirnya kakek nenekku mengirimkan tiket pesawat untuk babysisterku dan aku untuk segera berangkat ke palembang.
aku dirawat hingga sembuh disana. Saat mama ingin aku kembali kejakarta, kakek tidak mengizinkannya. kakek khawatir, hal seperti itu akan terjadi lagi padaku. aku cucu perempuan pertama dan satu-satunya. mungkin karena itu agak spesial.
aku menjalani hidupku dengan bahagia. setiap hari penuh dengan canda, tawa dan juga duka. Aku selalu berpikir jika aku akan selalu bahagia bersama kakek dengan nenek. apa kalian tau? aku bahkan tak pernah mengingat orang tuaku. jangankan untuk meningat, Tau Nama mereka saja tidak.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Tibalah hari yang sudah merenggut seluruh kebahagiaanku. Keadaan itu membuatku mengerti Jika setiap manusia pasti akan pergi. aku shock. semua khayalan kebahagiaanku sirna. aku menangis ketika Kakek pergi, meninggalkanku untuk selamanya.
Aku selalu menangis hingga beberapa hari. rasanya aku tak sanggup kehilangannya. saat hari dimana dia pergi, Aku terus mencoba membangunkannya. akan tetapi dia tidak mendengarkanku. Sampai aku mengantarnya kedalam Liang kubur, dia tetap tidak bangun untuk mendengarkan aku.
Saat kehilangannya, aku seakan tak bisa hidup lagi. dadaku sesak. tenggorakanku tercekat. aku benar-benar sangat mencintainya. Dia Seseorang yang paling berarti dalam hidupku melebihi apapun. Dia juga selalu mencoba mengabulkan apapun yang kuinginkan semampunya.
aku sering berpikir, kakek jahat, kenapa kakek ninggalin ana?, atau terkadang berpikir kenapa tuhan tidak adil padaku? seluruh hal itu berkecamuk dipikiranku. Aku berpikir, masih ada nenek yang harus kujaga. aku harus menggantikan kakek. setelah itu, aku focus belajar dan mulai bekerja untuk masa depanku.
Aku ingin menjadi seperti kakek. Kakek mencoba membantu semua orang walaupun belum tentu dia akan dibantu. aku berjanji pada diriku sendiri, akan menjadi seseorang yang dapat memberikan kebahagiaan pada orang lain walaupun hanya sedikit. my motto is my lfe my heaven.
Hidupku surgaku. aku akan menjadikan hidupku yang sedih ataupun senang seperti surga. Indah dan akan selalu terasa indah. sejak itu juga, aku berpikir, aku harus menjadi apapun yang aku bisa. salah satunya , aku membuka Bisnis jual beli online ataupun offline serta mencoba menjadi penulis yang terkenal.
Aku jarang Mengobrol dengan orang tuaku. jangankan untuk mengobrol, bertemu saja tidak. Semenjak kakek meninggal pula, aku mulai cuek dan terkesan tidak perduli pada segala hal disekitarku, termasuk kedua orang tuaku. Aku mendedikasikan hidupku untuk membantu orang lain.
Flashback off
"Apa kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu?" tanya papa
"sangat yakin" jawabku lantang
"Nggak. Kamu ga bakal bahagia kalo maksain kayak gini, Na" Ucap mama menolak.
"Ma, Pa. Aku ga pernah minta apapun dari kalian. Aku bahkan ga pernah minta disuapi seperti teman-temanku saat seusia mereka. aku pun ga pernah marah saat mereka bilang aku anak pungut. Kalian tau? Saat kecil, aku ingin sekali foto keluarga. jangan foto keluarga, mengambilkan rapotku saja kalian tidak pernah. Bahkan, saat aku dehidrasi hampir meninggal pun, aku masih diam saja kalian meninggalkanku sendirian dirumah hingga akhirnya aku pingsan saat ingin mengambil air minum. Kalian selalu mengaturku, semenjak kakek meninggal, kalian menyekolahkanku ditempat yang kalian inginkan. bahkan, jurusan kuliah yang kuambil pun kalian yang tentukan. Kumohon, kali ini, biarkan aku bahagia dengan memilih pasangan hidupku sendiri. Aku tak ingin kebahagiaan terakhirku adalah saatku bersama kakek dan nenek" jelasku panjang lebar
air mata sudah mengalir deras dipipiku. akhirnya, aku mengeluarkan seluruh keluh kesah yang kutahan selama puluhan tahun ini. aku menangis Terisak. Kak wanda dengan cepat menghampiriku dan memelukku untuk menenangkanku.
Dapat Kulihat dari ujung mataku, mama juga sudah menangis didalam pelukan papa. Ini pertama kali-nya aku menangis didepan mereka setelah kakek meninggal. dadaku terasa sangat sesak. Tenggorokanku tercekat. aku hanya bisa menangis dipelukan kak wanda. kumohon, jaga lemah.
"Kami hanya ingin yang terbaik untukku, Na" jawab papa.
"Aku tak tau, apakah menurut kalian yang terbaik untukku adalah selalu membuatku tidak bahagia?" pertanyaanku yang tepat menusuk kedalam dada mereka sembari Menekan Kata 'Selalu'
Aku tak tau apa yang mereka rasakan, yang pasti Kak yansyah dan kak agus sudah meneteskan air matanya. aku mulai mencoba menenangkan diriku dipelukan kak wanda. Aku lelah.
aku menarik nafas dalam beberapa kali dan menghembuskannya pelan. Mengapa hidupku harus seperti ini? padahal niatku hanya ingin membahas pernikahan. aku tak pernah suka jika akhirnya seperti ini. apakah pasangan hidup pun tak bisa kupilih sendiri?
saat kurasa keadaanku sudah sedikit stabil, aku mulai melepaskan pelukan kak wanda, aku menatapnya sebentar dengan senyumanku. Sekarang Sikap dan Wajahku sudah menunjukkan tidak ada yang terjadi. aku berjalan menaiki tangga menuju kearah kamar zahra sambil membawa tas ransel dan juga tas tanganku.
__ADS_1
"Aku istirahat dulu" ucapku sembari berjalan meninggalkan mereka.
Aku memasuki kamar zahra, keponakanku. aku meletakkan tasku diatas meja kemudian berjalan kekasur, menidurkan diriku disana. aku mengambil handphoneku dan membuka casing-nya. Terdapat fotoku bersama dengan kakekku didalam sana. aku menatap foto kecil itu dan menciumnya lama.
Aku Memejamkan mataku sembari memeluk foto kakek. aku menyunggingkan senyum dibibirku dan kemudian mulai terlelap tidur. Aku Bukan lelah fisik, melainkan aku sangat merasakan lelah dibatinku.
**
Aku tertidur nyenyak disini. Beberapa jam kemudian, kak wanda mencoba membangunkanku. aku bangkit dari tidurku dan mengedarkan pandanganku. ini bukannya kamar zahra? Ah ia, kan lagi dirumah kak agus, batinku. aku menatap kak wanda yang sudah menutup jendala.
"Udah jam berapa kak?" tanyaku sembari mengusap pelan mataku
"Jam 6 ,Dek. Kamu buruan mandi ya, abis itu kita makan malem dibawah" Ucap kak wanda setelah selesai menutup jendela dan akan melangkah keluar kamar.
"Hmm, aku ga ikut makan malem deh kak. masih ada urusan yang harus dikerjain" Jawabku yang membuat kak wanda langsung mendekatiku dan duduk disampingku
"Kamu masih Marah?" tanya nya sambil menatapku
"Nggak kak. aku ga pernah marah kok sama mereka" jawabku
"terus kenapa ga mau makan?" tanya kak wanda
"Nggak laper terus lagi banyak kerjaan" jawabku
"Intinya abis mandii kebawah turun makan. Kakak udah masak capek-capek masa ga dihargain sih? lagian ini keinginan ponakanmu juga nih, katanya mau makan bareng tantenya" cerocos kak wanda panjang
"Yaudah liat nanti ya kak" balasku sembari bangkit dari tidurku dan berjalan mengambil handuk serta pakaian ganti kemudian berjalan meninggalkan kak wanda memasuki kamar mandi.
#
Tolong support kalian dong. biar ceritanya banyak yang baca juga:)
Bantu like, comment, Favorite And Vote ya. trims:"
Jangan Lupa follow ig kita @Destiichz ya!
Kita bakal berada disudut pandang ana dulu ya Sayang-koh_-
__ADS_1
~Lagu adalah pernyataan cinta yang paling dalam~ Destiichz.
aku mencintai kalian semua:*