Duda Itu Milikku

Duda Itu Milikku
Episode 34


__ADS_3

Ana Berjalan kearahku dengan senyumannya. aku terdiam sembari menatap senyum manisnya itu. ya tuhan, aku benar-benar sangat mencintai wanita ini, batinku.


"Kamu mau ikut pulang apa masih apa kerja?" tanya ana begitu sampai didepanku. aku terdiam. aku bingung. rasanya lidahku keluh.


"Ana" panggil seseorang dari arah belakangku. Ana langsung menatap kearahnya, aku pun membalikkan badanku. ternyata---


***


"Ana" panggil seseorang dari arah belakangku.


"Mamaa" teriak seorang anak kecil yang langsung berlarian memeluk ana.


Deg. Jantungku berdetak sangat cepat. Aduhh, matii ini aku, ringisku. Aku langsung menatap kearah mamaku. Ya, yang datang adalah mama dan juga el. Aku menatap memohon kearah mama. Semoga mama paham, batinku.


"El baru pulang sekolah?" Tanya ana.


El sudah berada disamping ana. Memelukki kakinya erat. Mama berjalan menghampiri ana dan langsung memeluknya. Sekarang jantungku seakan sudah ingin keluar. Baju basah karena keringat.


"Kamu ngapain disini sayang?" Tanya mama sembari melepas pelukannya pada ana.


"Tadi sih rencananya mau presentasi ma" jawab ana saat sedang memberikan laptopnya ditangannya pada kak agus. kemudian ia membawa el kedalam gendongannya.


"Oh terus?" Tanya mama lagi. Aduhh, pliss maa jangan bikin aku serangan jantung dong, batinku berdoa.


"Ga jadi maa" jawab ana.


"El gimana sekolah nya tadi?" Tanya ana sembari menatap el yang sedang memelukki lehernya erat.


"Seruu maaaa. Tadi el main lari-larian sama temen-temen. Nih liat kaki el luka" jawab el semangat sembari menunjuk lututnya.


"Sakit ga sayang?" Tanya ana lembut. Aku secara refleks mendekati el dan melihat lututnya yang diplester.


"Kok bisa jatuh sih? Lain kali ga usah main kayak gitu. Nanti kalo sakitnya parah gimana? Terus kalo nanti lari-lari malah jatuh ke jalaj raya gimana?" Ucapku panik dihadapan mereka.


"Ga sakit kan sayang?" Tanya ana lagi.


"Ga kok ma" jawab el sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ana.


"Berarti papa kamu aja yang lebay" ucap ana yang menatapku sembari memutar matanya malas. Aku hanya cengengesan.


"Yaudah ngobrolnya diatas aja yuk" ajak mama pada ana. Oh my goshh mamaa!!! Pliss dong ngertiin kode aku, batinku gelisah.


"Keatas ngapain ma?" Tanya ana bingung.


"Kita ngobrol diruangan ben aja. Tadi el ngajakin kesini katanya mau ngajakin papa nya main" jelas mama.


"Sayang, mainnya sama mama aja yaa. Papa kan lagi kerja. Nanti kalo papa sampe dipecat gimana?" Ucap ana lembut sembari mengelus rambut el.


"Dipecat?" Tanya mama yang sedang mengernyitkan dahinya. Oh tuhan----


"Iyaa maa. Tadi niatnya aku mau presentasi disini, tapi karena ada lalat yang gangguin ben jadinya aku marah, dan akhirnya aku diusir. Daripada ben dipecat jadi mending aku ngalah aja sama lalat" jelas anaa sembari menatap sinis wanita tadi. Wanita itu terlihat sangat tegang.


"Kamu diusir?" Teriak mama. Aku yakin itu pasti refleks.


"Siapa yang berani ngusir kamu hah?!" Teriak mama lagi. Kulihat, wanita yang tadi berdebat dengan ana sudah berdiri ketakutan.


"Udah maa gapapa. Kita pulang aja yuk" ajak ana sembari menenangkan mama dengan raut wajah bingung.


" berani sekalii kalian! memangnya kalian siapa hah?!" Teriak mama sembari menatap kesekeliling.

__ADS_1


Ana mengernyitkan dahinya. Dia pasti bingung kenapa mama bisa semarah itu. Aku mulai mengalihkan pandanganku begitu mama menatapku dengan tajam. Udahh gapapa, tinggal tunggu dikuburin aja nih gw, pikirku.


"Mama kenapa?" ucap ana pelan bingung.


"Udah ma gapapa. Mereka wajar kok kalo ngusir aku, Lagian aku juga udah jijik sama ini perusahaan. Ayo maa kita pulang aja" lanjut ana lagi.


"Aduhh sayangg-- yang wajar ituu kalo kamu ngusir mereka. Ini perusahaan milik keluarga kitaaa. Mereka yang pantasnya kamu usir dan kamu pecat kalo mereka bikin salah" jelas mama kesal.


 Jderrr. Seakan-akan petir menyambar dengan kencang. Jangan ditanya bagaimana ekspresiku sekarang. Jantungku berlomba sangat cepat didalam sana. Ya tuhan, help me please.


"Hah?!" Ana terlihat sangat bingung. Mama terus menatapku tajam.


"Ini perusahaan ben?" Lanjut ana bertanya.


"Iyaaa. Ini perusahaan milik keluarga kita sayanggg" geram mama masih terus menatapku yang sedang menggaruk tengkukku yang tak gatal. aku gugup. dan juga sangat takut.


"El, ini bener perusahaan papa?" Tanya ana pada el yang berada digendongannya seraya berusaha mencari kebenaran.


"Iyaa maaa. Tempat ini punya papa lohh" jawab el mendongak menatap ana. aku mulai memegangi tangan ana yang berada didepanku.


Semuanya terdiam. Mama terus menghujamiku dengan tatapan tajamnya. Kulihat, beberapa pegawai juga sudah keringat dingin sepertiku. ana masih diam ditempatnya.


"Ck. Bisa-bisa nya kamu diem aja liat ana diusir ben" geramm mama berjalan mendekati kearahku. Sedetik kemudian, telingaku di tarik dengan kuat.


"Aww maamm ampunn" teriakku kesakitan.


aku melepaskan tanganku pada ana. aku terus mengelus telingaku yang baru saja terlepas dari tarikan maut mama. gilaa, bisa copot nih telinga gw lama-lama, ringis batinku.


"Ini bener perusahaan kamu?" tanya ana menatapku. tatapannya seakan mengulitiku. ya tuhan, aku belum pernah merasa di intimidasi seperti ini sebelumnya.


"Iyaa saa--yang" jawabku gugup. aku meneguk salivaku dengan susah payah.


"Nggak sa-yangg, ta--tadii" ucapku terbata-bata.


"Wahh kamu benar-benar sosok suami Terbaik ya!" sindir ana. aku kembali keringat dingin. aku menatap ana dengan tatapan memelas. berharap, dia akan luluh pada wajahku.


"Sayangg, aku bisa jelasin" jawabku.


"Pantes aja kamu betah banget dikantor" ucap ana melirikku tajam.


"ternyata, kantor sama klub malam ga ada bedanya" lanjutnya sinis. aku kembali memegangi tangannya yang sedang menggendong el.


"Sumpah ga gitu sayang, suerr deh" ucapku panik. dia menjauhkan dirinya dariku hingga peganganku terlepas. dia terdiam beberapa saat, hingga---


"Karena lu punya banyak wanita disini. Lebih baik lu nikahin mereka saja" JDEUARRRRR. ucapan ana membuatku seperti serangan jantung.


"Gak!" teriakku yang langsung memeluknya beserta el.


"My. Women. Just. You. Only. You" aku menekan semua kata yang kuucapkan. aku panik.


"lepas" geram ana seraya memberontak dalam pelukanku.


aku semakin memeluk ana dengan erat. gak. gak akan aku biarkan ana pergi. ana hanya milikku, dan aku hanya miliknya, batinku. ana terlepas dari pelukanku saat ia mendorongku keras.


"Eh, Lu mau bunuh gw sama el hah?!" teriaknya tajam.


"Peluk erat banget gila" gerutu ana yang masih tertangkap jelas dipendengaranku.


"kumohon maafkan aku. bukannya aku tak ingin membelamu, hanya saja aku tak tau harus berbuat apa. saat melihatmu begitu marah, pikiranku menjadi kacau. aku takut kau marah padaku" jelasku sembari menatap memohon padanya.

__ADS_1


"gw ga mau jadi istri lu. gw ga mau punya suami yang hobi bersama para wanita penggoda" ucapnya.


"Ga. Sumpah demi tuhan, aku gak pernah bersama dengan wanita manapun selain kamu sayang" jawabku cepat. aku panik. ya tuhan, bagaimana caraku menenangkan singa betina ini? batinku meringis.


"El, Kamu ikut mama ya" ucap ana pada el mengabaikanku.


"Sayang" panggilku. Aku berjalan mendekat kearahnya, tapi dia selalu mundur menjauhiku. aku meremas rambutku frustasi.


"kemana ma?" tanya el.


"Kamu main sama mama, om dan nenek aja ya. Ga baik kamu main disini" jawab ana.


"tapi el mau main sama papa maa" rengek el. ini baru anakku.


"perusahaan papa bukan tempat yang baik sayang. bahaya. mama takut nanti pikiran kamu terkontaminasi disini" jelas ana. what?


"sayangggg" rengekku pada ana.


"Kak agus, mama ayoo pergi" ajak ana.


"Presentasinya dek?" tanya kak agus menatap ana dengan senyumannya. dasar kakak ipar jahat, bisa-bisanya disaat kayak gini masih mikirin kerjasama, batinku kesal.


"Udahlah, ga usah dipikirin lagi kak. Aku yakin kok, CEO disini masih punya pikiran yang baik untuk mengingat apa yang ia kerjakan semalam" jawab ana menatapku sinis.


"Yaudah, ayo sayang kita ngemall aja" ajak mama. ya tuhan maaa, aku ini anakmuu lohh, ringisku.


"Maamaaaa" teriakku kesal.


"apa?" jawab mama masih menatapku tajam.


"Ayoo maa. aku juga mau sekalian cari papa baru buat el" balas ana.


"Whatt?!" teriakku cepat. aku panik.


"sayangg maafin aku" teriakku lagi. sudah cukup. aku ga perduli lagi bagaimana orang lain melihat sikap memalukanku sekarang. Yang pasti, aku hanya ingin ana dapat memaafkanku.


"Papa baru?" tanya el bingung.


"iya sayang. kita bakal cari papa baru buat kamu sama mama" jawab mamaku. mama bener-bener yaaa, geramku kesal. aku jadi bingung , apa aku beneran anak mama ya?


"Mamaaa" rengekku kesal.


"tapikan el sama mama udah ada papa?" tanya el bingung. bener tuh sayang. aku menatap el dengan tatapan memelas.


"papa tadi tega sama mama. Jadi, mama mau cari papa baru aja yang lebih sayang sama mama yaa" jawab ana santai sembari menciumi puncuk kepala el.


"Sayanggg" rengekku dihadapan ana.


"El mau kan papa baru?" tanya ana pada el yang mengabaikanku.


aku menatap el dengan tatapan memelas. ayoo anakku tunjukkan pesonamu. jangan mau papa baru atau apalah itu. papa mu dan suami mamamu itu aku, dan hanya bisa aku, batinku.


#


Happy reading.


semoga suka:)


aku mencintai kalian semua:*

__ADS_1


__ADS_2