
ANA POV
Ekhem. Terdengar suara dari mama ben dan papanya yang dari tadi diam memperhatikan. aduhh, aku cuma pengen pulang terus tidurrrrr, aku capekk disiniiii, kezalku.
"Ben kamu makan sendiri. jangan nyusahin orang. Dan kamu, bukankah seharusnya ada yang jelaskan pada saya?" ucap mamanya ben sembari menunjukku.
Mendengar ucapan mamanya. el langsung menarik piringnya lagi dan memakannya sendiri. Aku menyuapi el dengan telaten. begitu mendapat pertanyaan dari mama ben, aku menghembuskan nafas berat.
"Maaf sebelumnya kalo saya udah kurang ajar tan. semalem el sakit. terus saya diminta ben bantuin nidurin el, eh ga tau nya malah saya yang ikut ketiduran" Jelasku padanya.
"Hmm bener itu ben?" tanya mamanya pada ben. Ben menganggukan kepalanya sambil menyantap makanannya.
"Kenapa kamu bisa dipanggil el mama?" tanya mamanya ben sambil.menatapku.
"Ana ga sengaja nyelamatin el. terus sejak itu, el manggil dia mama" jawab ben.
"Mama ga tanya kamu ben" teriak mamanya.
" kamu suka sama ben?" tanya mama nya yang membuat ben langsung tersedak. aku langsung menyodorkan minum padanya.
"Apaan sih ma pertanyaannya" Teriak ben.
"Diam kamu! mama ga tanya kamu yaa" jawab mamanya. uhh makin takut aku.
" Kamu mau berapa?" tanya mamanya menatapku tajam.
"Hah?!" jawabku refleks
"Kamu mau uangnya keluarga kami aja kan? Sekarang saya kasih kamu uang asalkan kamu ninggalin ben. Hm kamu mau berapa? 1 milyar? 1 triliun?" tanya mamanya.
"Mah!!" teriak ben nyaring.
aku kaget. aku marah. apa semua wanita yang mendekatinya dianggap begitu? wahh harga diri gueee. udah ga bisa sabar lagi ini. akh benar-benar marah. aku balas menatap tajam kearah mamanya ben. gaada yang pernah merendahkan aku seperti ini.
aku berusaha mengendalikan emosiku. intinya sabar. sabar. sabar kunci kehidupan. Aku menarik nafas dalam lalu menghembus kannya. aku sudah mulai tenang. aku menatap lembut kearah mama ben dengan senyuman menghiasi wajahku. tidak lupa juga aku masih terus menyuapi el.
" 1 triliun tan?" jawabku. itu pertanyaan okey.
"Sudah saya tebak. kamu cuma mau uang doang" sinis mama ben padaku. aku terkekeh geli. ngapain coba uang banyak? banyak uang tapi ga bahagia buat apaan?
"1 triliun buat apa tan?" tanyaku lagi mengulangi. sepertinya mereka bingung dengan pertanyaanku, batinku.
"Hah? ya jelas buat kamu ambur-amburin lah" jawab mama ben yang masih menatap tajam kearahku. suasananya sudah mulai mencekam. aku merasakannya dengan jelas.
"Diambur-amburin beli apa tan? coba deh jawab yang jelas" ucapku masih tenang. aku tak ingin terpancing. Harus sabar. lagian aku udah biasa ngehadapin keadaan kayak gini, batinku. aku masih tetap tersenyum.
"Bisa buat beli rumah mewah, mobil sport, barang branded, banyak deh" jawab mama ben cepat.
rumah? gw lebih suka apartemen, sama-sama tempat tinggal juga. mobil sport? gw ga suka, Cuma buat pamer doang ngapain. barang branded? lah dikamar gue aja ga muat lagi. Uang? gw ada. Cuma ngapain pamer?
"Hmm--saya rumah udah ada. mobil juga ada. barang branded juga banyak. Jadi buat apa uang tante?" tanyaku lagi.
"tante minta saya ngejauhin ben? oke gapapa saya ga masalah. lagian cuman ben kan bukan el?" lanjutku membuat semuanya diam tak berkutik. lagian nih keluarga niat banget mau ngelabrak. Dari kecil kali gw udah biasa ngadepin Cewek-cewek rempong yang ngedeketin kakak-kakak gue.
"Heii apaan sih?!" teriak ben begitu mendengar ucapanku. dia kenapa sih? kok malah dia panik banget? batinku bertanya.
"Apa maksudmu?" tanya mama ben mengabaikan anaknya. sepertinya nih ibu-ibu udah mulai paham maksudku.
" tante nyuruh aku jauhin ben kan? sekarang aku tanya. sedeket apa sih emang aku sama dia sampe harus ngejauh?" tanyaku berani. lagian emang bener kan? orang selama kurang lebih sebulan ini aku deketnya sama el kok, cucunya . bukan malah anaknya, ben.
__ADS_1
Selama pembicaraan antara mama ben dan aku, suasana benar-benar hening. hanya terdengar suara dentingan sendok saat aku menyuapi el. Bahkan, papa ben dan alda adiknya hanya diam tak bersuara.
"Ben" panggil mama. ben menoleh menatap mamanya. perasaanku kok ga enak ya, ringisku begitu melihat senyuman merekah yang terpancar dari mama ben. sangat berbeda dengan beberapa menit yang lalu.
"kamu dan ana nikah bulan depan. mama restuin. eh, kalo bisa minggu depan. bahkan kalo bisa lebih cepet besok. intinya jangan dilepas calon mantu mama ini" Ucap mama ben membuatku sangat shock.
what the ****?! apa-apaan ini. apa mereka sengaja? hah apa tadi? aku ga salah denger? nikah? gila kali ya. orang yang udah gue kenal bertahun-tahun aja gue masih belum mau nikah, lah ini? , baru sebulan. aku mulai berpikir keras. bingung .
"Yess!! tengkyu mam" teriak ben yang menyadarkan aku dari banyaknya pikiran di kepalaku. kenapa dia bahagia banget? kayaknya beneran ada yang aneh, batinku.
"Siapa yang bakal nikah?" ucapku membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka kearahku.
"Ya kita lah" jawab ben sembari tersenyum lebar.
"Hah?Siapa?!" teriaku bertanya lagi. Mungkin aja kan tadi aku salah denger, batinku.
"Aku sama kamu lah ,anastasia" jawab ben lagi. aku tersentak. eh itu beneran? what? seriously? bukannya mama ben ga suka sama aku? lah gimana sih? batinku mulai sibuk bertanya.
"Lah kok aku? Aku ga mau. lagian emang tante mau punya menantu kayak saya?" ucapku tak terima dengan jawaban ben sambil menatap kearah mereka semua.
"Kenapa?" tanya ben cepat sambil mendongak menatap aku lekat.
"Tante tadi cuma ngetes kamu aja sayang" jawab mama ben sembari tersenyum hangat. beda banget ekspresinya sama yang tadi, kayak nya punya bakat akting deh, batinku.
"Maaf semuanya, tapi saya ga mau" tegasku.
"Kenapa?!" teriak ben. aku kaget.
nih orang kok rese banget sih. teriak-teriak kayak ngebentak gitu lagi, batinku. aku mengelus dadaku sebentar. menenangkan emosi ku agar tidak meledak-ledak nantinya.
"beri saya alasan kenapa saya harus mau nikah sama kamu?" tanyaku formal sambil menatap lekat ke bola matanya.
" Ya jelas lah harus mau. karena selain tampan, aku juga sangat kaya. jadi kamu ga perlu kerja lagi , cukup menghambur-hamburkan uangku saja" balasnya lantang. hanya itu? karena tampan dan kaya?
"kenapa kamu ga mau? emang aku kurang apa hah?!" tanya ben sediki membentak.
" kamu sangat sempurna. hanya saja, aku belum bisa" jawabku seraya menundukkan kepalaku.
" Kamu ga mau jadi mama nya el?" tanya mama ben sambil menatapku.
"Maa, el nakal ya? el janji ga akan nakal lagii tapi mama jangan ninggalin el" Ucap el secara tiba-tiba begitu mendengar ucapan neneknya. oke, aku dijebak lagi, batinku.
"Bukan gitu sayang. mama akan selalu jadi mama el. cuma kalo nikah sama papa, mama belum bisa jawab sayang" jelasku sambil mengelus kepala el lembut.
" Apa yang bikin kamu ga mau nikah sama aku hah?!" teriak ben. aku sedikit tersentak kaget. aku harus jawab apa?
" Tolong pikir dari sudut pandanganku. kita baru kenal kurang lebih sebulan ini, lalu tiba-tiba bilang menikah? bahkan kita ga pernah membicarakan hal yang mengarah kesitu" Jawab ku tegas. aku hanya lelah. plisss pengen banget pulang ke apartemen, huhu.
" Dulu tante nikah sama om, juga baru kenal seminggu" jawab mama ben.
" itu kan dasar papa ganjen jadi ga sabaran" celetuk alda seraya menatap orang tuanya.
"Eh kok jadi papa sih" jawaban tidak terima dari papa ben.
"Maaf, saya permisi. masih ada yang harus saya kerjakan" ucapku sembari mencium el dan bangkit dari dudukku.
"Aku antar" Jawab ben yang juga bangkit dari duduknya.
"Ga usah. aku udah pesan taksi" jawabku
__ADS_1
"Aku antar. atau kamu ga usah pulang?" ucapannya membuatku terdiam. suka banget sih maksa! , batinku. aku menghela nafas berat. akhirnya aku mengangguk.
"El ikut ya?" tanya el sembari memegang tanganku.
"Ga usah ya sayang. tante kan kangen. kita main berdua dulu ya, okey?" jawab alda mendekat kearah el.
" Yaudah deh. mama nanti el telpon ya" ucap el padaku sembari mencoba mencium pipiku.
aku menundukkan wajahku agar dia dapa menciumku. aku tersenyum hangat menatapnya. aku pamit pada kedua orang tua ben. Aku berjalan mengikuti ben dari belakang. aku lelah.
"Ben minggu depan jangan lupaa yaa" teriak mama ben saat kami sudah berjalan kearah pintu keluar.
" emang ada apa ma?" tanya ben membalik kan badannya kembali menatap keluarganya.
"Siapin lamaran buat ana. jangan lupa juga ya ana nanti kasih tau orang tuanya" teriak mama ben lagi. aku hanya tersenyum canggung menatapnya.
nih keluarga bener-bener deh. udah ditolak juga masih aja kekeh. ga ibu , ga anak sama aja. suka banget maksa, batinku. ughh tenang. aku menarik nafas pelan dan menghembuskan nya kasar. sabar.
Aku berjalan mengikuti ben memasuki mobil dan duduk disamping pengemudi, samping ben. Kami sudah berlalu meninggalkan kawasan rumah ben yang luas itu. aku benar-benar ingin cepat pulang.
aku ga kebayang deh, gimana bisa aku tahan kalo hidup dikeluarga itu? batinku meringis. Selama perjalanan hanya sunyi yang menemani kami. aku sama sekali tidak ingin memulai percakapan apapun dengan ben.
"boleh aku tau rumah orang tuamu dimana?" tanya ben padaku sembari focus menyetir.
"palembang. kenapa?" tanyaku balik.
"Boleh nanti kirimkan alamat lengkapnya?" tanya ben padaku lagi.
"Buat apaan sih?" tanyaku kesal.
"Minggu depan, aku mau ngelamar kamu kerumah orang tuamu" jawab ben sambil menatapku dalam dengan senyuman.
"Kamu serius mau ngelamar? tadi bukannya cuma ngerjain doang?" tanyaku cepat.
"Aku ga pernah main-main. aku akan melamarmu minggu nanti" jawabnya lantang.
"Hei, kita baru kenal sebentar kali. lagian , aku gamau ya kalo baru nikah, kita udah cerai. lagian kita ga kenal deket tau. belum tentu juga kita cocok nanti. pikirin baik-baik deh. intinya aku cuma mau nikah , seumur hidup itu sekali" jelasku panjang lebar.
"Aku tau. aku yakin dengan pilihanku" jawab nya santai. nih orang gila kali ya, batinku.
"Apakah ga ada wanita yang kamu cintai sekarang?" tanya pelan sambil menatap lekat kearahnya.
"Akuu--ga tau" jawab ben sambil focus menatap kearah jalanan. apa maksdunya?
aku diam. aku masih ga yakin. aku takut kalo ternyata ada orang yang dicintainya. aku ga mau menikah dengan seseorang yang juga mencintai orang lain. aku ga mau hanya menjadi pelarian semata.
kalian boleh bilang aku egois. tapi aku pernah berpikir, apakah lebih baik aku menikah dengan psikopat saja? jadi hanya ada aku dihatinya. aku takut dikhianati. aku pernah menyaksikan sendiri, bagaimana keluarga tanteku hancur didepan mataku.
Aku trauma. aku sangat takut sehingga rasa itu selalu menghantuiku. aku yakin, banyak yang menyukai ben. aku ga mau, jika nanti ben tertarik dengan wanita yang menyukainya saat dia sudah menikahiku.
"Kalo nanti minggu depan aku datang melamarmu, apakah kamu akan menerimanya? bisakah kamu memberikanku bocoran sedikit sekarang?" tanya ben yang membuatku sadar dari lamunanku.
"Hmm--gaa" jawabku gugup. aku bingung sekarang. padahal sudah banyak yang ingin melamarku dan kutolak tegas. kenapa sekarang aku jadi lemah? batinku bertanya.
"akuu--ga tau--ben" lanjutku lagi.
#
Bantu like, comment, favorite, and vote ya temen-temen, trims:)
__ADS_1
Terkadang masa lalu membuat kita takut menghadapi masa depan ~destiichz
aku mencintaii kalian semuaa:*