
BEN POV
"Dengar, aku sekarang benar-benar ragu buat ngebangun keluarga kecilku sama kamu. Rasa takutku seakan menguasaiku. mungkin, bagi beberapa orang ini hanya hal sepele. tapi, bagiku rasanya sangat menyakitkan. kamu diam. kamu bisu saat melihatku dipermalukan diperusahaanmu sendiri. Jika ditempat kekuasaanmu saja, aku merasa kamu tak sanggup melindungiku, bagaimana ditempat lainnya ben? Mungkin, nanti kamu hanya akan menulikan telingamu seakan tak ada yang terjadi, bukan?" aku menjelaskan nya dengan menatap dalam kebola matanya. aku berharap dia sadar apa yang kurasakan.
"Sayang, kamu salah paham. Aku bakal selalu jaga kamu dan ngelindungin kamu. Kan tadi aku udah jelasin, aku cuma ngerasa bingung dan panik ngeliat kamu semarah itu" jelas ben.
***
Ben menggenggam tanganku erat. kerutan didahinya menunjukkan seberapa takutnya ia kehilanganku. hilang? emang sejak kapan aku jadi miliknya? . aku mendengus kesal. aku bingung sekarang harus apa. hingga---
"Aku kasih kamu satu kali kesempatan" ucapku pelan.
"Beneran? sayangg makasihhh aku bener-bener minta maaf" teriak ben bahagia yang akhirnya langsung memeluk tubuhku.
"Ck. aku belum selesai ngomong" decakku kesal sembari mendorongnya pelan.
"oke-oke , Terus apa?" ben melepaskan pelukannya dan mulai menatapku dalam.
"aku mau kita buat kesepakatan" ucapku pelan namun menandakan ketegasan didalamnya.
"Kesepakatan apa?" tanya ben penasaran. dia mengernyitkan dahinya.
"Aku kasih kamu waktu satu minggu" ucapanku berjeda.
"Dalam waktu satu minggu itu, kamu harus bisa bikin aku percaya lagi sama kamu. kalo sampe dalam waktu satu minggi kamu ga bisa bikin aku percaya, berarti pernikahan kita memang harus dibatalkan" lanjutku yang langsung membuat Rahangnya mengeras seketika saat mendengar ucapan terakhirku.
"Aku setuju. lagian, Pernikahan kita ga akan aku biarin sampe batal" jawabnya cepat sambil menatapku tajam.
toh tatapan itu tak mempan untukku, lagian, dia tak akan membunuhku, jadi aku tak takut, pikirku. Aku tak akan membuat satu minggu itu menjadi hal mudah baginya. aku tersenyum menyeringai menatapnya. Cih, aku tak akan kalah dari ben karena aku sudah pasti akan menang. aku ga akan gagal.
"kamu ga boleh curang. Kalo dalam seminggu kamu ga bisa bikin aku percaya lagi, kamu harus setuju buat batalin pernikahan kita" ucapku lembut teramat sangat.
"tenang. aku bakal terus berusaha, lagian, ga akan aku biarin pernikahan kita batal" jawabnya. apa tantanganku salah ya? kenapa perasaanku ga enak? udahlah liat nanti aja.
"Yaudah kamu awas" ucapku seraya bangkit dari dudukku.
"mau kemana?" tanya ben yang juga mengikutiku.
"Masak. Laper" jawabku singkat, jelas dan padat.
Aku mengambil jepitan rambutku dilaci samping tempat tidur. kemudian, aku berjalan kearah pintu sambil menjepol rambutku. aku menuju dapur masih dengan ben yang terus mengikutiku.
Begitu sampai didapur, aku berlalu kekulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan dan menaruh semuanya diatas meja dapur. Aku berjalan bolak-balik karena bingung, hingga,
__ADS_1
"Awww , sejak kapan sih dindingnya disini?" teriakku kesal sambil mengelus dahiku.
"maaf ya" ucap ben lembut sembari mengusap dan mengecupi dahiku. cih cari kesempatan dalam kesempitan dasar, pikirku.
"Bisa ga sih stop ngikutin aku kayak anak ayam?!" ucapku kesal. dahiku sakit karena dada ben yang tiba-tiba berada didepanku. ternyata dada sama dinding ga ada bedanya.
"iya deh, maaf ya sayang" jawab ben masih dengan reaksi yang sama.
"udahh sana duduk diem. kalo bisa ga usah gerak lagi dari tuh kursi" ucapku asal sambil menunjuk salah satu kursi yang ada disana.
aku melangkahkan kakiku untuk kembali mencari semua bahan dan alat yang kubutuhkan. sedangkan ben, ia menuruti perkataanku dengan duduk di salah satu kursi yang berada di sini.
"kamu mau masak apa, yang?" tanya ben sambikll menatap kearahku yang sedang berkutat dengan mozarella.
"banyak. Dan stop panggil yang-yang ga jelas. aku bukan eyang-eyang. jelas banget aku masih muda" jawabku tanpa menatapnya balik.
Aku terus berkutat dengan masakanku. aku membuat spaghetti, lasagna, kentang goreng dan stick moza, tidak lupa juga dengan pudding untuk el nanti. aku memasak sembari bersenandung ria, bahkan membuatku lupa akan kehadiran ben.
"kok el ditinggal sendilii sih?" pertanyaan yang terlontar dari el membuat aku dan ben refleks langsung mengalihkan pandanganku padanya.
"heii sayangg-- baru bangun hmm?" tanyaku sembari menatapnya tapi tetap diam ditempat. el sedang mengucek-ngucek matanya secara terus menerus.
"nyenyak banget sih tidurnya" ucap ben yang kemudian bangkit dan berjalan menghampiri el. ben membawa el kedalam gendongannya.
"Ayoo papa temenin cuci muka yaa" balas ben yang membawa el berjalan kembali kekamar.
aku tersenyum simpul melihatnya. begitu tidak melihat ben dan el dipandanganku lagi, aku kembali berkutat dengan apa yang kukerjakan dan meletakkan hasil karyaku satu persatu diatas meja makan.
"Wahh wangii banget nih masakan mama" celetuk ben yang baru saja memasuki meja makan bersama el.
"kamu udah cuci muka sayang?" aku mengabaikan ucapan ben dan berjalan mendekati el.
"udah ma" jawab el sambil merentangkan tangannya ingin kugendong.
"Sama papa dulu yaa. mama mau bebersih bentar, okey?" jelasku pada el.
"Mama yang cepet yaa. papa sama el udah laper nih" ucap ben tersenyum menatapku.
"Iyaaa maa. el lapell bangettt" jawab el semangat.
"Iyaa bentar kok" balasku. Cup. aku melangkahkan kakiku mencium pipi el.
"papa juga mau dong" rengek ben padaku.
__ADS_1
Cup. aku mencium pipi ben lalu berjalan kembali kekamarku. aku mengabaikan ben yang sekarang mematung ditempatnya. dengan cepat aku bebersih dan kembali kemeja makan.
"Ayoo makan" ajakku pada mereka yang hanya menatap makanan. laper banget kayaknya, hihihi sampe-sampe air liur ngalir. aku terkekeh geli melihat mereka yang menatapku dengan tatapan sendu. hahaha.
Aku mengambilkan makanan untuk ben dan juga el seperti yang sudah pernah kulakukan. selesai makan malam, aku mengajak el untuk sikat gigi dan pergi tidur. ben sedari tadi terus menatapku.
"kenapa?" tanyaku pada ben.
"kamu cantik" jawab ben. aku mengendikkan bahuku acuh. cih gembel, gw aja pake baju daster, darimana cantiknya? batinku kesal.
"kamu ngapain masih disini? pulang gih dah malem" ucapku pelan masih dengan nada lembut tapi tersirat penyindiran halus didalamnya.
"kamu ngusir?" tanya ben seolah tak percaya.
"Iyaa. yang tadi secara halus. kalo mau pake cara kasar bilang aja" jawabku santai. ben terkekeh geli mendengarku. aku mengabaikannya dan hanya mengendikkan bahuku.
"aku nginep sini" ucap ben yang sudah menidurkan diri diranjang.
"ga. pulang sana" balasku dingin bagai tak tersentuh.
"Ada el. jadi, kamu ga usah takut bakal aku apa-apain. yaa walau, aku pengen sih ngapa-ngapain" ucap ben dengan seringai mesum dibibirnya.
"Mama ayook tidull" teriak el padaku. aku mendengus kesal begitu mendengar kekehan geli dari ben.
Aku tidur disamping el. El berada ditengah. oh my gosh, fantasy ku tentang keluarga bahagia timbul lagi, ringisku. aku memeluk el yang juga memelukku erat. ben memeluk kami berdua.
"Good night my life" ucap ben sembari mengecup puncak kepala el dan juga kepalaku.
"good night too ben" jawabku.
aku langsung memejamkan mataku dan mencoba tertidur. tak tau hitungan domba keberapa, aku sudah dengan lelapnya tertidur. El bahkan tertidur sangat cepat diantara ben dan aku. aku yang merasa tak sadar apa-apa lagi mulai memasuki alam bawah sadarku.
#
Happy reading ya gais:)
Bantu like, Comment, favorite and vote ya. trims all:v
pemberitahuan ulang!
revisi dilakukan dalam minggu ini yaa, jadi bakal ada banyak banget perubahan. doain juga semoga cerita aku lulus kontrak okey:)
aku mencintai kalian semua:*
__ADS_1