Duren Sawit

Duren Sawit
Kebohongan kecil


__ADS_3

Shinta yang menggenakan blazer biru dongker dan rok selutut berwarna khaki terlihat sedang berjalan membawa map yang berisi fotocopy ijasah dan riwayat hidupnya. Ia menyusuri jalanan kota yang sudah mulai terasa panas karena memang waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 siang. Ia sesekali menyeka keringatnya yang bercucuran.


Susah banget cari kerja, semua menolak dengan alasan penampilanku kurang menarik.


"Hufhh ...."


Shinta menghembuskan nafas yang begitu terasa berat. Ia masih berjalan mengikuti arah kakinya melangkah dan memutuskan beristirahat di kantin yang tidak jauh dari kampus ternama di kota X.


"Mbak, pesen teh es," ucap Shinta sambil memeijit-mijit kakinya yang terasa kaku karena telah berjalan hampir setengah hari.


"Oh iya, Neng, bentar ya," jawab si empunya kantin.


Shinta memandang ke sekelilingnya dan banyak mahasiswi yang seumuran dengannya sedang sibuk berlalu lalang, bahkan ada juga yang sambil mengobrol dan tertawa bersama teman-temannya.


Ia bandingkan dirinya dan mahasiswa yang ada disekelilingnya. Ada perbedaan yang sangat jelas. Shinta yang sibuk mencari kerja dan mereka begitu terlihat bahagia.


Kalau dulu aku memutuskan untuk kuliah apa nasibku bisa berubah?


Aku memang memutuskan untuk mencari kerja, dan aku tidak menyesalinya. Namun disaat-saat seperti ini hatiku terasa menciut.


Tekanan batin dan situasi yang tidak mendukung lagi-lagi membuat Shinta menghempaskan nafasnya dengan kasar.


"Kenapa atuh, Neng?" tanya wanita paruh baya sembari meletakkan segelas teh es di meja Shinta.


"Cuma lelah aja,Mbak. Sekarang begitu susah cari kerja," keluh Shinta kepada wanita bersanggul yang terlihat ramah. Ia seruput es yang ada di depannya.


"Semua orang punya kesulitan dan cobaan masing-masing Neng, tidak terkecuali mereka," imbuh wanita itu seraya melihat para mahasiswi yang ada di depan kantinnya.


Shinta hanya mengangguk pelan dan mencoba menumbuhkan kepercayaan dirinya lagi.


Setelah merasa lelahnya sedikit berkurang, Ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk melanjutkan perjalanan. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.


"Mau kemana sih? buru-buru amat," ucap seseorang pria. Pria itu adalah Ryan, mahasiswa yang di tolak mentah-mentah oleh Shinta tiga bulan yang lalu.


"Siapa dia, Yan?" tanya seorang teman Ryan yang menggunakan kacamata.


"Apakah ini Shinta yang kamu ceritain dulu, si kasir toko baju itu," kata salah satu temannya yang lain.


Entah mengapa Shinta merasa tidak senang dengan 3 pria yang berada dihadapannya itu. Ia merasa terintimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya begitu tidak sopan.


Shinta menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Ryan.


"Mau kamu apa? Kalau tidak terlalu penting aku mau pergi!" ucap Shinta dengan nada suara tidak sukanya.

__ADS_1


Shinta pun melangkah pergi dari hadapan mereka, namun lagi-lagi langkah Shinta terhenti saat Ryan merampas map yang ada ditangannya.


"Kembalikan!" pekik Shinta.


Sontak beberapa mahasiswa memandang ke arah Shinta dan ada pula yang memvidiokan kejadian tersebut.


"Kembalikan Ryan!" teriak Shinta sambil mencoba mengambil map biru miliknya,


Ryan hanya tersenyum menyeringai melihat Shinta yang sedang marah, ia malah membuka map dan sengaja menjatuhkan berkas-berkas itu di atas tanah.


"Ups ... maaf," ucapnya sambil tertawa sinis.


Shinta semakin tersulut emosi melihat tingkah Ryan yang menurutnya sudah keterlaluan.


"Kamu seharusnya menerima perasaanku. Kalau kamu mau, kamu bahkan tidak perlu bekerja. Cukup layani aku saja," ucap Ryan penuh kesombongan.


Shinta memungut berkas miliknya yang berserakan di tanah.


Sementara itu mobil sport Bmw i8 milik Veno melewati gerbang kampus tempat sepupunya mengajar. Ia melihat ada kerumunan mahasiswa yang seperti menonton pertunjukan.


Veno berdecak heran melihat apa yang ada dihadapannya tersebut dan memilih tidak ikut campur.


"Kenapa itu rame-rame? Anak jaman sekarang bukannya belajar biar pinter, ini malah sukanya bikin rusuh."


Di saaat ia melewati kerumunan itu, pandangannya menjadi berubah, yang awalnya cuek sekarang terlihat sedikit panik karena seseorang yang di kenalnya terlihat beradu mulut dengan seorang pria.


"Kenapa gadis vulgar itu di sana? Wah bisa ribet ini urusannya," guman Veno, dan ia pun menepikan mobil sport miliknya dan menghampiri kerumunan itu. Ia melihat Shinta sedang memungut lembaran kertas yang ia sendiri juga tidak tau kertas apa itu.


"Kamu mau tau kenapa aku tidak menerimamu?" tanya Shinta dengan nada naik satu oktaf. Ia sipitkan mata dan menatap tajam pada Ryan.


"Karena aku tau kamu itu pria brengsek yang kerjanya hanya foya-foya, menghamburkan uang hasil kerja keras orang tua!!!" Shinta kembali berdiri dan merapikan map yang ia bawa.


"Jadi jangan sombong! Ngaku-ngaku kaya tapi duit hasil minta," ujar Shinta sarkis.


Degh.


Jantung Veno teras berhenti berdetak. Entah kenapa ia juga merasa tersinggung atas ucapan gadis itu.


Ryan terlihat gelagapan mendengar ucapan Shinta dan bahkan ada beberapa mahasiswi yang berbisik seakan ilfill kepadanya.


Merasa terpojok Ryan pun mulai meradang.


"Dasar perempuan sialan!" Ryan ayunkan tangan kanannya hendak menapar pipi Shinta. Namun dengan cepat seseorang menahannya.

__ADS_1


"Jadi laki-laki tidak boleh main kasar, apalagi sama perempuan," ucap seseorang yang menahan pergelangan tangan Ryan.


Shinta terkesiap melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Kak Veno," ucapnya lirih.


"Lepasin gak!" seru Ryan yang mulai di kuasai oleh amarahnya. Matanya membelalak dan napas mulai memburu. Ia murka, apalagi setelah melihat tatapan mata Shinta kepada Pria yang bertubuh tinggi di hadapannya itu.


Veno lepaskan pergelangan tangan Ryan dengan kasar sehingga Ryan terdorong kebelakang.


"Emangnya kamu siapa! Berani-beraninya ikut campur!" bentak Ryan. Emosinya seperti sudah naik ke ubun-ubun.


Veno terlihat gelagapan, karena ia juga tidak tau sebenarnya hubungan dia dengan Shinta itu apa.


"Aku ... aku ..." Ucapan Veno terputus karena Shinta yang ada di belakang, mendadak menggandeng lengannya.


"Dia pacarku!" Jawab Shinta dengan suara lantang.


Veno tercengang, tapi akhirnya mengikuti arah kebohongan dari gadis yang ada disebelahnya itu.


"Kenapa? Gak suka! Karena aku lebih milih dia daripada kamu!" ucap Shinta mencoba memprovokasi Ryan.


"Aku gak percaya. Buktikan kalau dia memang pacarmu." Ryan menatap tajam pada gadis yang pernah jadi pujaan hatinya itu.


Mendengar tantangan dari Ryan membuat Shinta menjadi gelagapan. Ia pun memberanikan diri dan menarik lengan Veno hingga Veno sedikit tertunduk dan,


Cupp


Sebuah ciuman mendarat di pipi Veno.


Veno hanya terkesiap, terlihat canggung,


salah tingkah namun ia mencoba bersikap senormal mungkin.


"Udah ... gitu aja. Anak TK juga bisa," ucap Ryan sambil tersenyum licik.


"Sebenarnya kamu lesbi, kan!" imbuhnya lagi.


Veno yang mendengar ucapan Ryan mendadak darahnya mendesir hebat. Ia teringat tentang dirinya dan Susi yang berakhir begitu saja. Ia tidak ingin lagi mendengar orang di sekitarnya menjadi lesbi atau difitnah lesbi. Dia benar-benar benci dengan kata itu.


Tuduhan Ryan sontak saja membuat Shinta menjadi gugup. Ia benar-benar tidak seperti itu namun tidak tau cara membuktikannya.


***

__ADS_1


jan lupa like n komen 😊


__ADS_2