
Stella ... aku sangat bahagia.
Ardi tarik tubuh Rianti yang masih lemas ke dalam dekapan dada bidangnya.
"Sayang ... aku mencintaimu."
Rianti yang masih sadar namun enggan bersuara hanya tersenyum kecil, dan menganggukan kepala. Tidak lama kemudian mereka pun tertidur pulas.
Tiga jam kemudian Rianti sadar dan masih berada dalam dekapan sang suami. Ia memakai kembali bathrobs miliknya. Sedangkan Ardi terlihat masih tertidur.
Namun sebenarnya Ardi sudah sadar saat Rianti melepas pelukannya.
Tiba-tiba Rianti teringat pertengkaran tidak lama setelah Ardi melamarnya.
"Makasih ya Mas, udah jadi suami terbaik. Belum sebulan kita kenal tapi kamu udah memenuhi relung hatiku. Kamu benar, aku sepertinya sudah bergantung padamu, jadi bagaimana mungkin aku bisa meracunimu." Rianti pun terkekeh geli mengingat kejadian itu.
Rianti perlahan beranjak dari tempat tidur agar sang suami tidak terganggu dengan gerakannya. Namun baru saja kaki kiri yang menginjak lantai, Ardi sudah memeluknya dari belakang. Meletakkan kepalanya di bahu Rianti.
"Jadi jangan tinggalin Mas ya ... karena pasti otak ini akan kosong," ucap Ardi.
Rianti terdiam, masih menyimak perkataan selanjutnya dari Ardi.
"Dalam benak orang bijak ada ide, solusi, dan alasan. Dalam benak para ahli ada formula, kimia, teori dan rumus. Nah dalam otak mas hanya ada kamu.
Rianti pun mengulum senyumnya setelah mendengar gombalan Ardi. Kata-kata ajaib yang mampu menumbuhkan sayap di dalam hatinya. Rasanya pengen terbang, batin Rianti.
"Ya udah ... Mas kembali tidur yah. Sekarang sudah jam 12 malam. Aku mau ke kamar mandi sebentar."
__ADS_1
"Aku anter ya. Kamu tidak akan bisa berjalan." Ardi mulai beranjak dari kasur dan melilitkan handuk ke pinggangnya.
"Ya gak perlulah, Mas, masa ke kamar mandi aja aku dianterin." Rianti menurunkan kaki kanannya dan hendak melangkah. Namun
"Awww ...."
Rianti berjongkok sambil menahan rasa sakit.
Ardi mendekatinya dan tersenyum lembut.
"Kan sudah Mas bilang, kamu gak akan bisa jalan."
Ardi langsung menggendong tubuh kecil Rianti keluar kamar menuju kamar mandi.
"Udah sampai Mas, turunin aku," ucap Rianti sambil mencoba untuk turun.
"Ngapain? Mas gak bisa berhenti di tengah-tengah, bisa celaka. Ayo kita lanjutkan yang tadi."
Meraka keluar kamar mandi setelah hampir 1 jam berada disana.
Ardi berjalan dengan menggendong Rianti keluar dari kamar mandi ala bridal style dan tangan Rianti bergelayut mesra di leher suaminya itu.
"Mas, bolehkah aku bekerja? Aku kesepian di sini." Rianti membuka obrolan saat keduanya sudah berada di dalam selimut dan kepala Rianti berada di dada bidang Ardi.
"Tidak sayang, Mas tidak akan mengizinkanmu."
"Tapi kenapa Mas. Aku bosan kalau kamu bekerja dan aku seharian harus di rumah. Di sini juga tidak ada motor untuk aku sekedar jalan-jalan melepas bosan. Dan lagi, orang-orang di komplek sini hampir semuanya bekerja. Jadi kalau siang sepi banget."
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita pindah ke rumah Mas yang satunya. Di sana rumahnya lebih besar dari ini. Kamar mandinya juga di dalam kamar. Juga ada halaman yang lumayan luas, jadi kamu bisa berkebun menanam bunga atau apapun. Asal jangan bekerja ya. Mas hanya takut kalau terjadi apa-apa padamu." Ardi mencium rambut Rianti dan membelainya dengan lembut.
"Kalau Mas punya rumah di sana, kenapa beli rumah ini?"
"Karena dekat dengan kampus."
"Lha kalo gitu ngapain kita pindah? Nanti bolak-balik ke kampusnya jadi susah."
"Ya gak apa-apa lah, demi kamu Mas rela kok ke kampusnya ngambil jalan yang memutar."
"Tapi kalaupun di sana aku masih sendiri ya percuma aja kita pindah, Mas." Rianti terlihat sedih.
Ardi mengeratkan pelukannya.
"Di sana kamu gak akan kesepian ... di sana banyak teman mengobrol. Ada Mang Udin, Mbak Minah dan Juminten, trus ada lagi beberapa yang lainnya. Mereka sebenarnya bekerja di rumah Ayah mamun terkadang juga ke rumah Mas buat bantu beberes di sana."
"Tapi ...." Belum sempat Rianti melanjutkan perkataannya, Ardi sudah lebih dulu menyumbat mulut Rianti. Rianti hendak menolak namun akhirnya ia turuti juga keinginan Ardi.
"Sayang ... bolehkah kita melakukannya lagi. Mas tidak bisa menahannya. Berada di dekatmu membuat Mas kehilangan kendali."
"Tapi ini udah jam 1 malam loh, Mas gak ngantuk, besokkan harus ke kampus."
"Gak apa-apa, Mas akan izin besok. Jadi boleh ya ...? Mas akan lakukan dengan pelan-pelan. Boleh ya ...?"
Rianti hanya mengangguk pelan dan pasrah membiarkan tubuhnya di kuasai oleh pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Lagi-lagi mereka melakukan pergulatan yang tidak ada pemenang dan pecundang. Suhu mendadak panas padahal AC sudah memberikan efek sejuknya. Hanya ada senyuman kepuasan dari keduanya.
__ADS_1
Ardi merapikan anak rambut yang berada di pipi Rianti dan mengecupnya pelan.
Stella ... aku tidak akan membiarkanmu ke mana-mana. Kamu cukup di rumah dan melayaniku. Aku juga akan melayani semua keinginanmu. Asal kau tetap bersamaku dan jangan hilang dari pandanganku. Aku sangat menyayangimu Stella. Sangat mencintaimu.