
Ardi yang mengetahui adanya bahaya yang mengancam Rianti tentu saja melakukan banyak cara untuk mencegahnya. Selain mencari jejak pembunuh bayaran yang di sewa Heru, ia tetap berusaha melindungi istrinya itu, dan salah satu upaya Ardi adalah dengan menyewa beberapa preman yang terorganisasi yang sering kita dengar dengan istilah gangster. Cara Ardi tergolong Ekstrim tapi mengingat kenekatan sang pembunuh yang berani melukai istrinya tanpa rasa bersalah membuat Ardi berani mengambil jalur yang ilegal.
Komplek Bumi Perkasa tempat Rianti tinggal yang biasanya terlihat sepi kini terdengar begitu berisik dan ramai. Beberapa mobil terparkir di depan rumah Andra. Memenuhi halaman rumah yang berada di depan kontrakan Andra. Terlihat juga beberapa orang yang sibuk berlalu lalang keluar masuk ke dalam rumah itu. Orang-orang yang berperawakan cukup seram dengan tubuh kekar bak binaragawan sejati. Mereka semuanya memasang wajah yang tidak ramah sama sekali sehingga Shinta dan Rianti yang tak sengaja beradu pandang dengan salah satu di antara mereka pun menjadi bergidik ngeri.
Rianti dan Shinta yang sedang menunggu ojek online pun merasa tidak tenang melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam memandang lekat kepada mereka.
"Shin, itu kenapa sih rame-rame?" tanya Rianti sambil menggandeng erat lengan Shinta.
"Mereka kok ngeliatin kita ampe segitunya?" imbuh Rianti lagi.
Shinta yang sebenarnya juga merasa takut mencoba tenang dan menenangkan sahabatnya itu.
"Tenang lah, Ri. Gak akan ada apa-apa kok. Mereka sepertinya penghuni rumah itu," ucap Shinta sambil berbisik.
"Tapi Shinta, aku tetep takut. Bagaimana kalau kita di bunuh, diculik atau mungkin dijual."
Pikiran Rianti benar tidak menentu apalagi teringat dengan drama korea yang ia dan Shinta tonton semalam. Bagaimana hitam dan kejamnya dunia mavia.
"Stt ... jangan mikirin yang aneh-aneh ah ... aku jadi ikutan parno nih," ucap Shinta setelah melirik pria besar yang berada tepat di seberang jalan.
Berutunglah tidak lama kemudian ojek pesanan Shinta tiba dan mereka pun langsung pergi meninggalkan situasi yang benar-benar menakutkan bagi keduanya.
Lima belas menit kemudian tibalah mereka di depan gerbang sekolah. Dan lagi-lagi seperti hari-hari sebelumnya, Davin setia menunggu dengan senyuman yang merekah lebar menghiasi wajahnya yang lumayan tampan.
Rianti memutar bola matanya malas ketika melihat Davin. Ia dan Shinta berjalan agak cepat meninggalkan Davin yang mencoba mengejarnya. Rianti benar-benar jengah akan sikap kekenakan Davin yang sering membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi kemaren menjadikan objek tontonan siswa satu kelas.
"Riri sayang ... tungguin Akang, dong!" teriaknya, yang lagi-lagi mengundang perhatian para murid.
Rianti sontak menghentikan langkah. Bukan karena ingin menunggu Davin, lebih tepatnya ingin memarahi Davin. Ia putar badan dan melihat Davin sedang terengah-engah.
"Vin, bisa gak sih satu hariiii aja gak bikin aku malu!" ucap Rianti sambil meletakkan kedua tangannya memegang pinggang.
__ADS_1
Davin hanya cengengesan. Melihat tatapan Rianti yang sedang kesal membuat jiwa usilnya kembali meronta dan bukanlah Davin namanya kalau tidak bisa memanfaatkan situasi. Ia masukkan tangannya ke lengan Rianti dan memegang kuat pergelangan Rianti kemudian mulai berjalan dengan langkah yang lebar. Rianti tentu saja ikutan berjalan dengan posisi menggandeng Davin dan mau tak mau melangkah dengan cepat mengimbangi Davin.
Sedangkan Shinta hanya tersenyum kecil melihat tingkah konyol Davin yang berhasil membuat Rianti jadi naik spaning. Kerena percuma saja, semakin di larang Davin akan makin gencar membuat Rianti selalu berada di sekitarnya.
"Daviiiinnn lepasin gak!" perintah Rianti. Namun Davin hanya melemparkan senyumanya kepada Rianti dan masih tetap menggandeng tangan mulus milik wanita yang ia sukai.
"Davinn lepasin ..." rengek Rianti yang mulai merasakan sakit di tangan dan kakinya yang tak mampu mengimbangi langkah lebar Davin.
Ardi yang baru keluar dari ruang guru tentu saja tidak senang melihat adegan pemaksaan yang dilakukan Davin.
"Hey kenapa itu!" seru Ardi hingga Davin, Rianti dan Shinta menghentikan langkah mereka yang hendak naik ke tangga menuju lantai dua gedung sekolah.
"Lepasin gak!" perintahnya lagi ketika sudah berada di hadapan mereka. Tapi Davin sama sekali tidak menggubris perintah sang guru malah semakin menjepit tangan Rianti dengan lengannya.
Ardi lepas paksa cengkraman Davin hingga Davin terhuyung kebelakang dan menarik tubuh Rianti.
"Kamu ngapain sih maksa Rianti! Gak liat apa Rianti kesakitan begitu. Dan liat ini!" ucap Ardi sambil memperlihatkan pergelangan Rianti yang memerah akibat cengkraman Davin yang kuat.
"Hidup itu jangan yang muluk-muluk Davin. Kalo lapar ... makan. Kalau capek ... istirahat. Kalo ngantuk ... tidur. Kalo pendekatan namun dicuekin ... ya kamu ngaca!" ucap Ardi sambil melebarkan telapak tangannya ke wajah Davin kemudian menuntun Rianti menuju ruang UKS.
Sedangkan Davin lagi-lagi merasa kalah karena Rianti mengikuti langkah Ardi tanpa ada paksaan. Davin menghembuskan napas beratnya. Dan melanjutkan langkah menuju kelas.
"Kamu itu kenapa sih, Vin? Udah jelas Rianti punya laki. Ee masih mau di embat juga. Kamu itu harusnya sadar kalo kamu itu bukan tandingan seorang Ardi," ucap Shinta yang berjalan di belakang Davin.
Mendengar perkataan Shinta mendadak Davin menghentikan langkahnya dan otomatis saja Shinta menabrak tubuh jangkung Davin dari belakang.
"Ihh kamu apaan sih, Vin," sungut Shinta yang sudah terjungkal kebelakang. Shinta rapikan pakaiannya yang kotor terkena debu.
"Aku gak bisa seperti ini. Aku harus bisa dapetin Rianti. Aku gak perduli itu Ardi atau artis sekalipun!" ucap Davin penuh percaya diri.
"Dulu ada istilah 'sebelum janur kuning melengkug kita masih bisa usaha'. Nah sekarang sebelum Rianti mengandung boleh-boleh saja kan merebutnya," imbuh Davin lagi yang langsung mendapat pukulan kuat di bahu kanannya dari Shinta
__ADS_1
"Kamu itu jangan gila. Kaya gak ada wanita lain aja. Udah deh nyerah aja. Rianti dan Ardi itu saling cinta. Hanya sekarang lagi di tahap pengujian saja dari Tuhan."
"Lagian kamu ini masih muda udah mau jadi bebinor aja. Pasti hancur masa depan kaum muda bangsa ini kalo filosofinya kaya kamu," ucap Shinta lagi kemudian melongos pergi meninggalkan Davin.
Di ruang UKS.
Ardi dengan telaten mengoleskan salap di pergelangan tangan kecil Rianti yang memar sambil beberapa kali meniupnya.
Rianti hanya terdiam menikmati pemandangan yang so sweet menurutnya. Ia pandangi wajah Ardi tanpa berkedip. Hatinya berdegup kencang dan pipinya bersemu merah.
"Kamu kenapa merhatiin saya sampe segitunya?" ucap Ardi yang membuyarkan lamunannya. Ia jadi salah tingkah sendiri setelah kepergok memandang sang guru seperti itu.
Ardi balutkan perban ke lengan Rianti dan menggenggam tangan itu.
"Kenapa? Kamu terpesona akan ketampanan saya. Atau jantungmu telah berdegup tak beraturan?" ucap Ardi sambil menatap dalam mata Rianti.
Astaga kenapa rasanya aku pernah mendengar perkataan ini? Sebenarnya siapa orang ini? Kenapa dia selalu membuat jantungku tak tenang?"
Ardi cium punggung tangan Rianti dengan lembut.
"Jadilah kekasihku?"
Rianti lagi-lagi di buat tertegun mendengar ucapan tak masuk akal Ardi. Ia tarik paksa tangannya dan menjauhi Ardi.
"Bapak gila!"
Rianti pun langsung bergegas meninggalkan Ardi yang masih terduduk di ranjang ruang UKS.
Sepeninggal Rianti, Ardi terlihat frustasi dan menjambak rambutnya sendiri.
"Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan hatimu kembali," gumamnya pelan.
__ADS_1