Duren Sawit

Duren Sawit
Tak sesuai ekspektasi


__ADS_3

Setelah mengikhlaskan Amir, kini hati Rianti terasa lebih ringan. Ia bisa melanjutkan hari seperti yang ia inginkan tanpa ada perasaan bersalah. Apalagi sekarang ia memiliki seorang suami yang super baik dan menyayanginya. Jadi tidak ada alasan untuk terjebak di dunia mantan, bukan?


Sore hari.


Rianti sudah tak sabar ingin berkencan. Ia lebih nampak antusias dan ceria menunggu janji yang suaminya ucapkan semalam. Sebuah janji yang bahkan membuatnya susah tidur. Ia benar-benar ingin tau rasanya pergi jalan-jalan dengan pacar di tempat keramaian. Pasti seru, pikir Rianti sambil senyum-senyum sendiri. Kencan romantis yang membuatnya baper (bawa perasaan ) dan selalu berakhir bahagia bak drama Korea yang ia tonton bersama Shinta.


Namun ekspresinya berbanding terbalik dengan sang suami. Ardi keluar dari kamar dengan dahi yang mengkerut dan sudut bibir yang sedikit terturun. Dengan langkah perlahan pria itu melangkah keluar menghampirinya yang sedang duduk di ruang tamu.


"Sayang, kamu yakin aku harus pake beginian?" tanya Ardi. Sebenarnya ia ingin protes namun takut jika sang istri marah dan malah mengabaikannya.


"Emang kenapa? Bagus kok. Mas gak suka? Kan semalam udah janji bakal nurutin yang aku mau?" cecar Rianti dengan wajah yang sedikit di tekuk. Ia sedikit kecewa ternyata yang ia inginkan berbanding terbalik dengan Sang suami.


"Lagian coba sedikit berbeda dong. Masa hari-hari pake kemaja sama jas mulu. Orang kira aku ini simpenan om om," protes Rianti lagi ketika mengingat kejadian di mall tempo hari. Ia lipat lengannya di dada dan mengalihkan pandangannya seolah malas menatap suaminya itu.


Ardi mulai gelagapan, melihat perubahan raut muka Rianti, mendadak wajahnya pucat, sepucat-pucatnya. Ia peluk istri kecilnya itu dan mendekapnya dengan hangat.


"Iya deh iya, maafin Mas. Jangan cemberut lagi dong," bujuknya seraya melepaskan pelukan. Ia cubit gemas hidung Rianti dan tersenyum lebar saat wajah Rianti tidak terlihat marah lagi.


"Tapi, boleh pake jaket gak?" pinta Ardi ragu-ragu dan tentu saja di respon dengan tatapan tajam dari mata Rianti. Ardi kesusahan menelan ludahnya. Mendadak ia menyesal mengucapkan janji pada sang istri semalam.


"Iya deh iya, Maaf," ucap Ardi lagi.


Ardi pun mengikuti langkah Rianti yang seperti setengah meloncat. Ia berjingkrak-jingkrak bahagia dengan senyum lebar melangkah keluar dari dalam rumah. Sedangkan Ardi hanya bisa tertunduk malu melihat penampilannya sendiri. Celana selutut yang bercorak kotak-kotak mirip papan catur dengan atasan kaos berwarna merah muda bergambar love dengan tuliskan, 'Aku sayang pacarku'. Tak luput pula topi berwarna pink menghiasi kepalanya. Dengan langkah berat ia pun mengikuti Rianti. Bukankah aku sudah ketuaan untuk menggunakan pakaian ini. Batin Ardi benar-benar ingin menjerit. Namun apa daya, tatapan mata elang Rianti membuatnya tetap, harus, dan kudu wajib menggunakan baju couple yang bertentangan dengan gayanya selama ini.

__ADS_1


Setibanya di tempat tujuan, Ardi lagi-lagi dibuat tak berkutik saat Rianti memutuskan tempat kencan mereka. Area keramaian yang begitu banyak permainan di sana.


"Sayang, kamu yakin kita dateng ke sini?" tanya Ardi lagi dengan mata yang sedikit membelalak dan bibir yang sedikit bergetar.


Dengan mata yan berbinar-binar Rianti menjawab, "iya, di sini."


Ardi kembali mengikuti langkah Rianti masuk ke dalam taman bermain. Dan seperti dugaanya, mereka di tatap aneh oleh pengunjung lain. Sumpah demi apapun Ardi begitu ingin membenamkan wajahnya ke dasar lautan biar menghilang menjadi gelembung bak dongeng putri duyung. Ia malu semalu-malunya. selama 32 tahun hidup di dunia, baru kali ini ia tidak bisa terima jalan hidupnya dan lebih parahnya ia tak bisa menolak permintaan sang istri yang selalu benar. Yah, wanita memang selalu terdepan, batin Ardi.


"Mas, aku ingin naik itu," ucap Rianti seraya menunjuk sebuah komedi putar.


Mendadak Ardi tercekat, ia kembali kesusahan menelan saliva-nya sendiri. Ya, Ardi takut ketinggian. Melihat wahana permainannya saja sudah membuat jantung Ardi berdebar-debar, keringat dingin mengucur keseluruh tubuhnya. Belum sempat ia mengatakan kalau dirinya mengidap acrophobia, Rianti terlebih dahulu menarik tangannya dan masuk ke salah satu kabin dari bianglala itu.


Tidak lama kemudian komedi putar mulai bergerak, begitu juga perut Ardi yang serasa berputar-putar. Ia mulai merasakan pusing dan dan mual. Ia berpegang erat pada pegangan besi yang ada di sana.


"Mas Mas, coba kamu lihat kebawah. Mereka semua terlihat kecil," ucap Rianti setelah mencapai ketinggian kurang lebih 50 meter di atas tanah.


Ardi tak menyahut. Ia memegang kuat pada pegangan yang terbuat dari besi.


Rianti memandang wajah Ardi yang sudah seperti setengah sadar.


"Mas kamu kenapa? Kenapa pucat begini? Kamu takut ketinggian?" cecar Rianti. Ardi tak merespon. Kepalanya terasa berputar-putar. Ia tak bisa fokus pada Rianti atau apapun itu.


Rianti terlihat panik, ia tangkup wajah Ardi dengan kedua belah tangan dan mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Mas ... hey Mas, liat aku. Coba pandang aku saja. Jangan liat kebawah," tutur Rianti menginstruksikan kepada suaminya itu.


Ardi perlahan mendapatkan kesadarannya kembali. Melihat wajah sang istri membuatnya sedikit merasa nyaman. Entah perasaan apa itu. Tapi yang jelas Ardi bisa sedikit bernapas lega.


"Mas ... Mas sadar ... jangan pingsan," imbuh Rianti lagi. Ia tidak tau cara mengalihkan pikiran sang suami. Karena ini kali pertama ia bertemu degan orang yang hampir kehilangan kesadaran karena ketinggian. Pikiran Rianti kosong. Ia berdoa dalam hatinya agar komedi putar itu cepat berhenti.


"Mas Ardi ...."


Rianti panggil kembali nama suami tercintanya sambil menepuk-nepuk pelan pipinya. Ardi hanya tersenyum, senyum yang terlihat dipaksakan. Rianti daratkan ciumannya di bibir Ardi yang bergetar. Tanpa ada nafsu, yang ada hanya kepanikan. Ia berharap sang suami teralihkan dari rasa takutnya. Lama ia menempelkan bibirnya di sana dan tanpa Rianti duga bibir Ardi yang tadinya bergetar kini mulai bergerak agresif.


Ya, Ardi telah dapat menguasai dirinya kembali. Ia langsung tersadar ketika mendapat suntikan energi dari bibir mungil Rianti yang sudah seperti candu untuknya. Ia lahap tanpa ampun hingga bianglala berhenti dan mereka kembali di tatap aneh oleh para pengunjung yang hendak masuk ke dalam kabin. Bahkan ada salah satu ibu yang refleks menutup mata anaknya yang masih berumur lima tahun agar tidak menyaksikan perbuatan tak senonoh mereka.


Wajah Rianti mendadak terasa panas dan kulit wajah terasa menebal dan berdenyut. Ia begitu malu karena ketahuan berbuat mesum di tempat umum. Ia dorong tubuh Ardi dan langsung meninggalkannya.


"Sayang tolongin," pinta Ardi yang masih tertatih. Ia terhuyung karena keseimbangnnya belum benar-benar pulih.


****


Jangan lupa like komen dan vote.


heheheh


terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2