Duren Sawit

Duren Sawit
Hukuman


__ADS_3

"Do, tolongin ..." gumamnya pelan sambil menarik-narik celana Edo.


Edo yang merasa celananya hampir melorot, langsung menepis tangan sahabatnya itu.


"Sorry Vin, otakku gak sanggup. Yang level one saja aku gak paham apalagi sekarang yang udah naik ke level three," bisik Edo yang sedikit nyeleneh mengenai trigonometri.


"Ah ... dasar oon," dengus Davin kesal sambil beranjak dari duduknya.


"Yee ... sesama oon di larang keras saling hina," sahut Edo yang entah di dengar atau tidak oleh Davin.


Davin pun berjalan maju ke depan kelas dengan perasaan yang tak bisa ia jabarkan.


Memang kamfret ni Pak tua, pagi-pagi udah nantangin aja. Aku mana bisa jawab soal beginian... entar aku kerjain baru tau rasa, batin Davin dan terlihat senyum licik di wajahnya.


Ardi yang melihat gelagat Davin seperti itu, tentu saja mengetahui kalau Davin tidak bisa menjawab soal.


Rasain ... sapa suruh cari gara-gara. Mau rebut Rianti? Pinterin dulu tuh otak kamu.


Davin berdiri di depan white board dan mencoba mengisi soal.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Murid yang lain masih menunggu jawaban dari Davin.


"Oke Fix. Aku nyerah," pikir Davin.


"Kenapa? Gak bisa jawab?" tanya Ardi yang terdengar meremehkan Davin.


Davin hanya menggeram menggenggam kuat spidol yang ada di tangannya serta menatap tajam pada Ardi.


Bagaimana bisa seorang pengajar berbicara begitu pada muridnya, pikir Davin.


Makanya jangan cari masalah sama orang yang lebih tua. Ni mau sok ngambil bini orang, langkahi dulu mayat lakinya, batin Ardi sambil membalas tatapan tajam Davin.

__ADS_1


Sekian detik suasana kelas terasa sedikit aneh. Murid-murid lain terlihat saling pandang. Kebingungan dengan diamnya Ardi dan juga Davin yang saling tatap seolah siap berperang.


Ardi memalingkan wajahnya dari Davin dan menatap semua murid yang ada di dalam kelas.


"Kalian kalau mau pinter matematika harus bisa mencintai matematika itu sendiri. Kalo udah cinta, sesulit apapun jalannya pasti akan ketemu juga jawabannya."


"Kenapa bisa begitu? Karena matematika itu ilmu pasti, paham!" ucap Ardi menasehati murid-muridnya.


"Sama juga halnya dengan jodoh, seberapa pun jauh pasangan kalian pergi ... pasti ujung-ujungnya akan kembali juga," imbuh Ardi lagi yang sengaja menyindir Davin.


"Anak-anak, hidup itu cari yang pasti-pasti aja. Jangan digantungin terus. Di kasih janji-janji mulu tanpa adanya ikatan. Kalian mau?" tanya Ardi yang sedikit melenceng dari materi pembelajarannya. Ia mencoba mencairkan suasana kelas yang terasa canggung akibat ulahnya dan juga Davin.


Semua murid terlihat manggut-manggut dan tersenyum kecil setelah mendapat nasehat tentang matematika plus asmara mereka.


Davin yang merasa harga dirinya diinjak-injak langsung mengeluarkan jurus mautnya. Ia lirik Ardi dengan tatapan tajam sambil menyeringai licik.


"Maaf Pak, saya masih belum paham tentang trigonometri. Saya hanya paham soal median," ucapnya yang terdengar menyesal. Namun, raut wajahnya seolah sedang menantang.


Ardi terdiam, masih mencerna apa yang akan Davin katakan.


"Kalau kamu paham tentang median gak, Ri?" tanya Davin yang setengah berteriak memanggil Rianti.


Ni anak kutu ngapain lagi bawa-bawa Rianti, batin Ardi kesal. Ia tetap berusaha setenang mungkin agar tidak terlihat jelas.


"Ayo sini aku kasih tau," ucapnya dengan lantang.


Rianti dan Shinta sekilas saling pandang, tidak tau apa maksud Davin.


Rianti sebenarnya ragu karena mengingat yang sudah-sudah Davin selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Tapi tetap saja ia memberanikan diri beranjak dari kursi dan maju kedepan kelas.


"Kamu tau median itu apa?" tanya Davin lagi setelah Rianti berada tepat di depannya.


"Enggak," jawab Rianti singkat. Ia begitu tidak nyaman berada di depan kelas karena akan menjadi pusat perhatian banyak murid dan Rianti tidak suka itu. Ia memijit-mijit jemarinya dan keringat dingin mengucur dari kening serta wajah yang sudah terlihat pucat.


Davin yang tidak tau gelagat Rianti tetap melakukan aksi nekatnya. Ia berlutut dengan satu kaki menopang berat tubuhnya.


"Median itu merupakan nilai tengah dari suatu pemusatan data. Nah ... kamu itu juga nilai median di hidup aku, karena kamu berada tepat di tengah-tengah hati aku," ucapnya sambari tersenyum. Ia raih tangan Rianti dan dan mengecup pelan punggung tangan Rianti.

__ADS_1


"Jadilah kekasihku," ucapnya kemudian yang langsung disoraki oleh murid-murid yang lain. Dalam sekejap suasana kelas menjadi riuh tak terkendali.


Rianti yang merasa tidak nyaman dengan pengakuan Davin serta mendengar sorakan dari teman sekelasnya merasa risih. Ia tarik paksa tangannya namun Davin masih menggenggamnya dengan kuat.


Ni anak monyet bener-bener bikin emosi. Ardi menggeram.


Entah demi apapun, rasanya Ardi tidak kuat menahan amarah yang membuncah hingga naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya ia mengumpat sekasar-kasarnya bahkan ingin menenggelamkan Davin ke dasar lautan biar dimakan hiu sekalian. Ardi tidak terima istri tercintanya di sentuh oleh Davin. Sekarang ia paham kenapa Eldi mengatakan tentang 'tahan banting.'


Ardi langsung meraih kerah baju Davin dari belakang. Davin pun berdiri karena merasa tercekik.


"Kamu ngapain!" bentak Ardi.


"Kan Bapak sendiri yang bilang harus memberi kejelasan. Jangan ngengantungin perasaan orang. Nah, ini saya sedang praktekin," ucapnya dengan memasang wajah tak berdosa. Padahal hatinya tertawa senang melihat kemarahan di wajah Ardi. Ia lirik Rianti yang mematung.


"Bagaimana sayang? Kamu terima perasaanku?" tanyanya lagi.


Ardi makin menarik tinggi kerah baju Davin hingga Davin seperti kesulitan bernapas.


"Jangan main-main kamu! Ini waktunya belajar bukan waktunya mendengar leluconmu!" ucap Ardi yang masih terlihat emosi.


Sedangkan Rianti mendadak merasa tidak enak badan. Badan terasa menggigil, kepala serasa berat dan perut yang mual. Ia tidak peduli dengan Ardi dan Davin yang sedang bertengkar. Yang ia inginkan adalah beristirahat.


Rianti melangkah perlahan hendak kembali ke mejanya, akan tetapi muncul ingatan yang samar-samar di benaknya. Pantai, bunga, dan juga cincin. Rianti mencoba mengingat kembali yang barusan itu. Akan tetapi merasakan sakit yang dahsyat di bagian kepala. Tanpa ia sadari ia pun terjatuh tak sadarkan diri.


Para siswi histeris melihat Rianti yang ambruk, tergeletak tak bergerak. Ardi yang melihat Rianti pingsan langsung melepaskan kerah baju Davin dan langsung menggendong tubuh istrinya itu menuju UKS.


Sepanjang perjalan tak henti-hentinya Ardi berguman.


"Riri bangun sayang. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini?" keluhnya.


"Tolong buka matamu, Ri. Jangan bikin Mas panik. Cepatlah sadar dan ingat semua kenangan kita. Mas sungguh tidak sanggup kalau hidup jauh darimu. Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu bersama Mas apapun situasi dan kondisinya? Tapi kenapa sekarang kamu malah melupakan segalanya? Ayolah sadar sayang ... Mas tidak sanggup di hukum seberat ini ...."


****


Kasian ya si Ardi.


Heheh ....

__ADS_1


Hayu jangan lupa like komen dan vote nya.


__ADS_2