
Baskoro Advertising Grup adalah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan. Mempunyai gedung yang terdiri dari 15 lantai. Perusahaan besar yang mempunyai cabang di beberapa provinsi di Indonesia. Selain mempunyai manajemen yang yang bagus, Baskoro juga selalu memperhatikan karyawan dan koleganya dengan baik. Entah itu dewan direksi hingga karyawan non kontrak. Tidak ada istilah pilih kasih sehingga semua karyawan hormat dan loyal kepadanya.
Tujuan utamanya mempekerjakan Veno sebagai karyawan magang adalah untuk membentuk kepribadian Veno agar menjadi lebih baik. Padahal dengan kemampuan Veno dan pendidikannya selama di luar negeri, sudah dapat di pastikan ia pasti bisa membuat perusahaan menjadi lebih maju. Namun dengan karakternya yang keras kepala, membuat Baskoro mengambil langkah ekstrim. Ia biarkan anak semata wayangnya itu di menjalani kehidupan sebagai karyawan biasa. Yang selalu di marah dan kadang di jadiakan kambing hitam oleh atasannya sendiri.
Sedangkan Veno mau tidak mau harus menurut. Ia tidak ingin di kirim ke Amerika, bahkan ia rela mengembalikan mobil dan ATM tanpa batas kepada sang ayah.
****
Hari ini Shinta lah yang bertugas membersihkan toilet wanita yang berada di lantai sepuluh. Dengan bermodal ember, pel, sapu, sikat dan cairan pembersih lantai, Ia kerjakan tugasnya dengan cepat dan tepat. Empat bilik toilet, wastafel, dan cermin yang begitu besar, Shinta kerjakan semua sampai terlihat bersih. Tidak lupa juga ia mengumpulkan sampah dan menaruhnya di dalam kantong hitam yang lumayan besar.
"Ahh lelahnya ...."
Shinta merebahkan tubuhnya di atas kursi stenlis yang berada di dekat cermin. Sambil menunggu rasa penatnya hilang ia pun mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi facebook-nya.
Hmm mumpung sepi ... bikin status ahh, batin Shinta setelah melihat keadaan sekitar.
Shinta tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum dan menuliskan sesuatu di beranda facebook nya.
Ada abang beli bawang.
Bawang seharga lima ribuan.
Jangan pernah bilang sayang.
Kalau status udah jadi mantan.
"Ya elah pandai juga aku bikin pantun," ucapnya bermonolog kemudian tersenyum.
tidak lama kemudian ada pemberitahuan kalau seseorang berkomentar di postingannya.
Ada anak mandi dipancuran.
pancurannya terbuat dari bambu.
Lupakan saja lah yang namanya mantan.
Dan terima saja aku jadi pacarmu. Dewa meloholic.
Shinta terlihat kebingungan. Bukan karena pantun, melainkan karena sosok si Dewa meloholic yang selalu mencuri perhatiannya. Teman dumay yang begitu asik. Selalu membuat dirinya tersenyum ketika saling berbalas komentar. Karena merasa ingin berteman secara langsung, Shinta pun pernah mengiriminya pesan untuk bertemu. Namun yang bersangkutan tidak merespon sama sekali ajakan dari Shinta.
__ADS_1
Ada mangga di atas nampan.
Nampan yang indah berwarna ungu.
Bagaimana mungkin bisa pacaran.
Sedangkan kita belum pernah bertemu. Shinta.
Minum susu perah di dekat lembu.
Lembu di beri sepasang sepatu.
Walaupun kita belum pernah bertemu
Tapi hatiku sudah merindukanmu. Dewa meloholic
Shinta sekilas tersenyum mendapat pantun gombalan dari teman dumay nya itu. lalu ia kembali membalas komentar yang tergolong absurd.
Ada atlas di atas meja guru.
Guru itu guru pindahan.
Aku hanya menyukai kenyataan. S**hinta**.
Shinta pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia hendak kembali ke ke ruangan khusus cleaning service yang berada di lantai bawah.
"Shinta!" Teriak seseorang yang memanggil namanya dari arah belakang. Shinta yang baru saja selesai membersihkan toilet pun menghentikan langkahnya mendorong janitor troli yang berisi perlengkapan kerjanya. Ia menoleh ke arah asal suara. Terlihat sosok yang baru kemarin ia temui. Pria bertubuh tinggi, berkulit putih dan wajah yang mirip orang eropa. Dia adalah Toni.
"Kamu kemana aja sih! Aku itu udah seharian nyari kamu tau gak," ucapnya yang terlihat ngos-ngosan karena berlari.
Shinta menjadi bingung melihat Toni berada di perusahaan yang sama dengannya. Ia perhatikan pakaian yang melekat di tubuh Toni. Penampilan yang seperti eksekutif muda. Tak seperti dirinya yang acak-acakan. Rambut panjangnya yang ia cepol ke atas dan ada handuk kecil yang melingkar di leher.
"Kamu masih ingat aku, kan?" tanyanya kepada Shinta. Ia sendiri masih terlihat mengatur napas.
Shinta hanya mengangguk pelan namun di wajahnya sama sekali tidak ada senyuman. Ia sekuat tenaga menekan perasaan genitnya agar tidak timbul ke permukaan, karena Toni adalah salah satu tipe idamannya.
Apa dia bekerja di sini? Batin shinta.
"Kenapa Bapak mencari saya? Terus dari mana Bapak tau saya kerja di sini?" tanya Shinta formal.
__ADS_1
Toni yang dipanggil seperti itu jadi mengernyitkan sebelah alisnya.
"Kenapa manggilnya begitu? Panggil Abang saja. Saya kan seumuran dengan Andra. Saya tau kamu kerja di sini dia," ucapnya sambil terseyum ramah
Shinta lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa Bapak kerja di sini?" tanya Shinta keheranan. Sebab sudah sebulan dia kerja di perusahaan Baskoro namun tak pernah melihat Toni.
"Iya saya memang kerja di sini, cuma sejak sebulan yang lalu saya mengurus kerjaan yang berada luar kota. Dan sekarang baru kembali lagi," jelasnya sambil memandang penampilan Shinta lalu tersenyum.
"Kamu dari mana? Kok kayak orang kebanjiran gitu,"
Shinta yang ditanya seperti itu langsung melihat ke arah kakinya.
"Eh ... iya, Pak. Maaf." Shinta dengan cepat menurunkan celana yang ia gulung hampir ke lututnya.
Toni yang dipanggil bapak oleh Shinta menjadi sedikit tidak senang.
"Ya udah deh ... panggil Bapak di kantor saja. Kalau di luar panggilnya harus Abang ya," pinta Toni dan direspon anggukan tanpa senyuman.
Melihat wajah Shinta, entah mengapa membuat Toni menjadi gemas. Ia pun mengacak-acak poni Shinta dan berlalu pergi.
Beberapa karyawan yang melihat kedekatan Toni dan Shinta mulai berbisik-bisik. Kecuali seseorang, tangannya mengepal, menahan geram.
Shinta melanjutkan langkahnya menuju lift.
Setelah beberapa saat, pintu lift terbuka. Ia pun masuk dan mendorong janitor troli yang membawa perlengkapan kerjanya.
"Tunggu!" teriak seseorang yang berada luar pintu dan Shinta pun menahan pintu lift agar tidak tertutup. Akan tetapi, kedatangan orang tersebut membuat Shinta tidak nyaman. Sosok pria yang selalu ia hindari kini malah berada satu ruangan bersamanya.
Shinta menekan tombol satu dan memilih diam menutup rapat mulutnya. Sedangkan hatinya tak henti-hentinya merutuki pria yang berada di sebelahnya itu. Dia adala Veno, pria yang di benci Shinta.
Sial banget sih hari ini! Kenapa bisa ketemu dia sih! Bikin kesel aja. Baru aja ketemu yang enak dipandang, eee ... sekarang malah ketemu si kamvret yang bikin enek.
Terdengar hempusan napas yang begitu berat dari Veno.
"Sejak kapan kamu mengenal Toni?" tanyanya pelan.
Namun Shinta masih terdiam. Tak menjawab dan tak berniat menjawab. Matanya masih memandang kedepan. Ia sudah bertekat untuk mengabaikan Veno apapun situasi dan kondisinya.
__ADS_1