Duren Sawit

Duren Sawit
Retak


__ADS_3

Ardi kembali ke rumah sakit setelah memastikan kalau Jessika bukanlah pelakunya. Ia menghentikan laju mobilnya di salah satu toko kue langganan.


"Kue ini sangat manis, Mas," ucap Rianti sembari menikmati kue brownis lalu tersenyum lebar.


Ardi bahagia mengingat senyum tipis bibir Rianti. Membayangkan senyum manis Rianti membuat Ardi seakan lupa akan rasa lapar dan lelahnya padahal ia belum makan dan istirahat sejak semalam. Ardi pun memutuskan membeli kue kesukaan Rianti dan membeli sebuket bunga yang tak jauh dari toko kue berada.


****


Di tangga darurat lantai tiga rumah sakit, Rianti duduk meringkuk sendirian. Hening dan senyap, hanya terdengar suara tangisannya yang begitu pilu. Ia meluapkan kemarahan dan kesedihannya dalam bentuk tangisan. Ya, hanya tangisanlah yang mampu Rianti lakukan sekarang.


Berkali-kali ia hapus air matanya, namun air hangat itu terus saja mengalir membasahi pipi. Betapa sakit hatinya, orang yang di sayang begitu lihai berdusta. Orang yg ia percaya begitu pandai membuat hatinya luka. Bahkan rasanya bukan lagi seperti teriris malainkan rasanya sudah seperti tercabik-cabik.


Sakit ... perih ... Rianti tidak tau harus bagaimana. "Apakah ini bertanda dari tuhan agar aku tetap bersamanya?" Pikiran itu selalu melintas di benak Rianti saat mengingat ada janin yang mulai hidup di rahimnya.


Rianti usap perutnya yang masih rata.


"Maafkan ibu ya, Nak. Tapi ibu benar-benar belum bisa terima kenyataan pahit ini. Ibu belum bisa memaafkan ayahmu untuk saat ini. Harap nanti kamu bisa mengerti," ucap Rianti disela-sela tangisannya.


Rianti teringat sosok amir yang begitu ia kagumi, perasaan suka yang ia pendam begitu lama. Tapi ketika Amir tiada, Rianti malah inginkan kebahagiaan dari pria lain. Terlalu lama untuk move on itu tidak baik. Tapi kalau terlalu cepat move on juga menandakan kalau kamu bukan orang baik. Kata-kata itu selalu memenuhi pikiran Rianti sejak tadi pagi. Membuatnya selalu merutuki diri sendiri. "Aku wanita jahat!"


"Mungkin ini karma juga hukuman dari Amir karena aku bahagia tanpa dia dan dengan begitu mudah melupakan dia." Pikir Rianti dan tangisannya pun makin terdengar pilu.


Ya tuhan apa yang harus aku lakuakan?


Flashback on.


Di ruang rawat inap Rianti.


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan muncullah Ardi dari arah luar dengan membawa sebuket bunga dan sekotak kue. Ardi melihat Rianti yang langsung membuang muka saat bertatapan dengannya. Ardi pun menghampiri Mahendra yang sedang duduk di sofa.


"Tangan kamu kenapa Ardi?" tanya Mahendra yang langsung beranjak dari sofa. Ia penasaran karena banyak darah di tangan kanan Ardi.


"Gak apa-apa, Yah. Cuma luka ringan doang. Veno belum datang? Dan kemana Shinta?" tanya Ardi balik karena di sana Ardi hanya menemukan ayahnya seoarang.


"Veno belum datang sejak tadi pagi. Mungkin masih menyelidiki CCTV hotel. Dan Shinta tadi izin pulang sebentar untuk membawa keperluan Rianti selama di rumah sakit," jelas Mahendra.


"Kalau begitu ayah juga pulang ya ... kamu ngomong baik-baik sama istri kamu. Kasian ... sejak mengetahui kalau sedang mengandung anakmu ... dia tak henti-hentinya menangis. Sudah sejam dia seperti itu."


Mahendra menghela napasnya sambil memegang pundak Ardi.


"Jangan tersulut emosi." Pesan Mahendra sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Ardi menghampiri Rianti yang sedang duduk bersandar di ranjangnya.


"Sayang ini Mas bawakan kue brownies kesukaan kamu," ucapnya sambil membuka isi kotak dan menyajikannya di atas meja kecil di samping ranjang Rianti.


Ardi yang di diamkan Rianti pun melatakkan kue di nakas. Menangkup wajah Rianti dengan kedua belah tangannya. Ardi menatap dalam mata wanita kesayangannya itu. Hatinya terasa sakit melihat wajah Rianti yang biasa merona dan tertawa kini terlihat sayu juga pucat. Rasa bersalahnya semakin kuat. Ia tarik tubuh lemah Rianti ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.


Rianti hanya terdiam membisu membiarkan Ardi menyentuh tubuhnya walaupun ia merasa jijik akan hal itu. Ia ingin meronta sekuat tenaga tapi serasa tidak ada energi lagi yang tersisa di tubuhnya. Rianti menghirup aroma maskulin dari tubuh Ardi. Begitu menenangkan nyaman dan hangat hingga Rianti sedikit terlena sejenak. Namun, ingatan tentang kebohongan Ardi terlintas lagi di benaknya dan membuat emosinya kembali memimpin. Rianti hapus air matanya yang kembali jatuh.


Ardi mendekap tubuh Rianti dengan erat dan beberapa kali mencium pucuk kepala Rianti. Ia menghela napas, ada sedikit rasa lega di hatinya karena Rianti sudah terlihat tenang tanpa perlawanan.


"Sayang, dengerin penjelasan aku ya ... aku tau mungkin terdengar klasik." Ardi berbicara tanpa mengendurkan pelukannya.


"Aku minta maaf telah membohongimu selama ini. Itu semua aku lakukan agar bisa bersamamu."


"Jujur ... aku memang tidak percaya diri untuk mendekatimu secara terang-terangan. Karena tau, kamu tidak akan tertarik walaupun Mas berikan seluruh dunia untukmu."

__ADS_1


"Dan memang tidak di pungkiri aku mendekatimu karena menganggap kamu itu adalah Stella dan aku ingin mendapatkan cintanya Stella lagi."


Mendengar perkataan itu, Rianti langsung melepaskan pelukan dan menatap tajam pada Ardi.


Ardi terdiam sejenak mendapati dirinya dipandang jijik oleh Rianti dan ia terima itu tanpa protes. Ardi menggenggam tangan Rianti yang dingin.


"Sayang, Maafin aku. Sekarang aku yakin kalau aku sudah sangat mencintaimu. Aku tidak lagi mengganggapmu Stella."


Rianti masih terdiam. Tapi dalam diamnya ia mengucapkan segala jenis umpatan yang kasar.


Gampang banget ya tu mulut minta maaf, gak tau apa rasanya sakit dibohongi itu seperti apa. Apalagi lagi ena-ena sama aku tapi bayanginnya orang lain. Dasar penjahat kelamin! lelaki tua ganjen! Gatel! Argh coba aja kalo di bolehin mengumpat oleh pihak NT. Pasti umpatan author lebih makjleb dari ini.


Hehehe ... Author.


"Maafin aku juga karena membuatmu tidak bahagia di masa lalu karena rencanaku. Tapi aku janji aku akan menebus kesalahanku dengan membahagiakanmu dan anak-anak kita seumur hudupku," ucap Ardi penuh ketulusan.


Rianti terdiam. Ia tarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Mas ...."


Rianti terdiam sejenak, sedangkan Ardi dengan sabar menunggu kelanjutan dari ucapan Rianti.


"Aku minta cerai," ucapnya datar namun penuh penekanan.


"Aku gak bisa berpura-pura baik-baik saja tapi nyatanya tidak. Maaf aku gk bisa maafin kamu." Rianti pun menarik tangannya dari genggaman Ardi dan memalingkan pandangannya dari wajah Ardi.


Ardi tertegun mendengar ucapan horor itu. Jatungnya seakan berhenti berdetak, darahnya terasa mendidih naik ke ubun-ubun.


Matanya memerah dan rahangnya mengatup.

__ADS_1


"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi! Dari awal kau milikku! Dan sampai kapanpun kau tidak akan bisa lari dariku!"


__ADS_2