
Setalah mengucapkan bisikan ajaib itu ke telinga Ardi, wajah Rianti pun merona dengan sendirinya. Ia lupa kalau di sana ada orang lain selain mereka. Rianti tersenyum kikuk dan mencoba menjauhkan wajahnya dari Ardi. Namun dengan cepat Ardi tarik lagi tengkuk istrinya dan menikmati bibir yang sudah seperti candu baginya. Ia tidak terima kalau hanya di kecup cepat seperti itu. Sedangkan Rianti, tentu saja terkejut karena serangan dadakan Ardi, akan tetapi akhirnya pasrah juga sebab dia pun merindukan daging tak bertulang itu.
Suasana yang tadinya haru biru mendadak berubah jalur. Atmosfirnya terasa panas akibat ulah dua pasutri yang seperti sudah lama tidak bersua. Mereka seakan hidup berdua, dan yang lainnya hanya numpang lewat saja.
Melihat adegan pagut memagut itu membuat semuanya terlihat canggung dan memilih pergi dari sana. Membiarkan dua insan itu melepaskan kerinduan yang sudah dua bulan ini menyiksa batin keduanya.
Tapi beda hal nya dengan Shinta. Ia sama sekali tak berkedip menonton adegan yang sedikit memberi efek getaran pada hatinya. Ia terus saja memandangi kegilaan tabu itu dengan khidmat namun akhirnya tersadar saat Veno membisikkan sesuatu. "Kalau kamu mau, aku juga bisa mempraktekkannya untukmu." Mendengar perkataan sensual itu membuat Shinta bergidik geli dan melayangkan tatapan tajam pada Veno sebelum akhirnya pergi dari sana.
"Mas begitu merindukanmu, Sayang," ucap Ardi setelah selesai dengan salam sambutannya. Ia tersenyum dengan napas yang masih terdengar memburu. Kini ia tempelkan keningnya ke kening sang istri.
"Jangan pernah tinggalin Mas lagi ya, Mas gak bisa hidup tanpamu," pintanya dengan sepenuh hati.
"Soal Stella ...."
Belum sempat Ardi meneruskan kata-katanya, Rianti telah lebih dulu mengecup bibir Ardi dengan cepat. Ardi hanya mengerjapkan mata sambil berpikir, Apa masih kurang? Otak mesum Ardi kembali ke mode on.
"Mas, tolong jangan ungkit itu lagi ya. Aku sakit mengingat itu namun lebih sakit bila tak bisa bersamamu," ucap Rianti yang langsung membuat hati Ardi berbunga-bunga.
Ardi kecup kembali bibir Rianti dengan cepat.
"Mulai sekarang Mas berjanji akan selalu membahagiakanmu. Tidak akan ada lagi rahasia di antara kita, tidak untuk pelakor pebinor ataupun dept kolektor," ucap Ardi sambil tersenyum genit yang langsung mendapat pukulan kuat di bahunya.
"Ih apaan sih, Mas. Orang lagi serius juga," ucap Rianti dengan wajah di tekuk. Ia pun membenarkan posisinya kemudian memukul-mukul punggungnya yang terasa kaku. Karena memang sejak tadi dia lah yang membungkuk untuk mencium suami tercintanya itu.
"Lha lha mau ke mana? Salam pembukanya kan belum selesai," protes Ardi saat melihat sang istri menuju arah pintu. Ia ingin bergerak namun luka bekas tusukan membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Apanya yang salam pembuka? Kalo ada pembuka bearti suatu saat pasti ada penutup! Mas mau seperti itu!" gertak Rianti sambil melirik tajam pada suami mesumnya itu. Ia pun pergi keluar dari kamar meninggalkan Ardi yang terbaring sendirian.
Ardi hanya tersenyum getir mendengar jawaban pedas dari sang istri. Sejak kapan dia jadi galak begitu? Pikir Ardi.
__ADS_1
****
Tiga hari berselang.
Shinta sedang duduk sendirian menikmati jus apelnya di sebuah kafe. Dengan hanya menggunakan celana jeans dan jaket bergambar doraemon, ia tetap menjadi pusat perhatian kaum adam. Karena tanpa polesan make up pun Shinta tetap saja terlihat cantik dan menawan. Bahkan ada bebebrapa pengunjung pria yang bermain mata padanya.
Tidak lama kemudian duduklah seorang pria bule di depan Shinta. Ia lemparkan senyuman kepada gadis yang telah lama menunggunya.
"Sorry ya telat," ucapnya sambil menatap mata Shinta dan melepaskan senyuman termanisnya.
Dengan tampang Tony yang setara dengan Maxime Bouttier, sudah bisa di pastikan membuat perempuan manapun akan tergila-gila padanya. Apalagi senyumnya yang hangat seperti mentari pagi, bisa melelehkan hati siapapun juga termasuk seorang Prilly Latuconsina. Tapi nyatanya Shinta sama sekali tidak terpengaruh. Shinta hanya merasa biasa saja bila dekat dengan Tony. Tidak ada ser ser nya gitu lho, batin Shinta. Dasar belagu lu, jawab Authornya.
"Iya Bang, gak apa-apa kok. Aku tau Bang Tony sibuk akhir-akhir ini," jawab Shinta penuh pengertian.
"O iya, ada apa nih. Tumben ngajak ketemuan?" tanya Tony to the point. Karena selama beberapa hari terakhir, Shinta seolah menghindar darinya.
Shinta menyeruput kembali jus-nya sambil mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niatnya.
"Kenapa? Kamu mau nolak Abang?" tebak Tony dengan nada datarnya yang tentu saja membuat Shinta tercengang.
Dia ini peramal atau dukun? Kok bisa tau sih.
Shinta hanya terdiam, karena memang itulah alasannya mengajak Tony bertemu. Toni pandangi wajah Shinta yang terlihat gelisah.
Tok tok tok.
Tony memukul pelan meja kafe agar Shinta fokus memandangnya.
"Hey hey hey ... tenanglah Shinta. Aku tidak akan marah atau memakanmu," ucap Tony yang terlihat biasa saja.
__ADS_1
Bagaiman biasa dia setenang itu? Aku kan menolaknya? Batin Shinta bertanya-tanya.
Sekarang Shinta menatap serius wajah Tony dan masih menunggu penjelasan darinya.
"Aku sudah tau. Sebenarnya kamu menyukai Veno, Kan?" ungkap Tony secara gamblang Yang tentu saja memberikan sensasi spot jantung untuk Shinta.
Bagaimana dia bisa tau? Aku kan gak pernah cerita.
"Abang tau dari pak Baskoro. Kamu lupa kalau Abang itu bekerja sebagai asistennya," terang Tony.
Shinta kembali terkesiap. Ia tidak tau soal Tony yang bekerja sebagai asisten Baskoro. Ia hanya tau kalau teman abangnya itu bekerja di perusahaaanya saja.
"Jadi, sebelum rasa suka Abang mengarah ke cinta, Abang putuskan untuk mengakhirinya," jelas Tony lagi.
Entah mengapa mendengar penjelasan Tony membuat hatinya sedikit lega. Pria itu paham apa yang akan Shinta katakan tanpa harus ia utarakan. Namun hatinya kembali gelisah mengingat penjelasan Tony barusan.
Jadi maksudnya om Bas tau kalo aku menyukai anaknya? Astaga ... bagaimana bisa aku menghadapinya. Sedangkan besok aku sudah kembali bekerja.
Shinta mengerutkan wajahnya dan menggulung-gulung ujung jaket yang ia kenakan. Ia tidak tau bagaimana menghadapi orang yang telah begitu baik padanya.
"Tapi aku tidak menyukainya," elak Shinta terbata-bata. Ia mencoba tenang dengan menahan degupan jantung yang dari tadi membuatnya seperti kesulitan bernapas.
"Beneran, Bang," ucap Shinta mencoba meyakinkan Toni, karena pria itu hanya tersenyum tanpa merespon ucapannya.
Gelagat Shinta yang tidak biasa. Dan juga pipi yang sudah terlihat berubah warna. Membuat Toni mengulum senyumnya. Entah mengapa ia begitu gemas dengan perilaku Shinta. Ia pun memencet hidung Shinta hingga si empunya hidung meringis kesakitan.
"Ini tu hidung! Bukannya botol handbody," dengus Shinta setelah melepaskan hidungnya dari jari telunjuk dan jempol Tony.
"Makanya jangan bohong. Kalo suka bilang suka. Kalo enggak ya bilang enggak. Nanti kalo Veno di ambil perempuan lain, baru deh nangis bombay," terang Tony dengan nada bercandanya.
__ADS_1
Shinta Kembali terdiam. Ia malas berdebat dengan orang yang lebih tua. Karena sudah jelas, pasti yang muda yang kena getahnya, pikir Shinta. Ia pun pergi meninggalkan Toni yang masih tertawa setelah mengggodanya.
"Baiklah, rasaku cukup sampai di sini saja. Semoga kamu bahagia selalu, Shinta," guman Toni ketika melihat punggung Shinta telah menjauh dari pandangnnya.