
Ardi memasuki kamar dengan membawa bag paper di tangannya, dan melihat Rianti sedang duduk menatap keluar jendela kamar.
"Kamu udah bangun sayang?" Ardi meletakkan bag paper di atas nakas danl menghampiri istrinya.
"Iya Mas, aku baru bangun, badanku terasa pegel semua. Tadi habis beresin koper aku langsung ketiduran."
"Ya udah gak apa-apa ... kalau gitu kita keluar yuk, makan malam udah siap. Habis itu kamu lanjutin lagi tidurnya." Ardi memegang kedua pundak Rianti dan menuntunnya hingga tiba di meja makan.
Rianti duduk sambil melihat sekeliling.
"Kenapa sepi Mas? Yang lainnya mana?"
"Udah kembali ke rumah ayah, mereka ke sini kalau siang saja. Kenapa?"
"Sepi Mas ...."
Rianti mengunyah makannya sambil cemberut.
"Ya bagus dong, jadi gak ada yang ganggu kita, heheh ...." Ardi terkekeh geli.
"Iih Mas tu ya ... Genit!" Rianti ikutan tersenyum.
Mereka pun menikmati makan malam tanpa banyak bicara.
Ting tong ting tong.
Bel berbunyi.
"Aku aja Mas yang buka pintu, Mas lanjutin aja makannya." Rianti beranjak dari kursi menuju ke arah pintu.
Rianti membuka pintu dan merlihat seorang wanita paruh baya yang berpakaian bak model. Tubuh tinggi, ramping, dan rambut pendek yang tergerai. Di tambah dengan mantel bulu berwarna pink, kacamata hitam, dan tas tangan yang senada dengan warna mantel, membuatnya terkesan modis walaupun sudah berumur.
Mirip Syahrini ... batin Rianti
Rianti tersenyum ramah pada wanita itu.
"Nyari siapa Tante?"
Wanita itu menurunkan sedikit kacamatanya dan menatap tajam pada Rianti.
"Tante Tante! Aku bukan Tante kamu! Panggil majikan kamu, cepat!" bentaknya.
__ADS_1
Belum sempat Rianti menjawab, wanita itu telah lebih dulu masuk rumah dengan mendorong bahunya.
"Ardi ... Ardi!"
Wanita itu memanggil Ardi dengan suara setengah berteriak.
"Tante ... kapan nyampai?" Ardi yang baru keluar, langsung tersenyum dan memeluk wanita itu.
Ini tantenya Mas Ardi, penampilannya luar biasa. Benar-benar mirip Syahrini. Rianti menatap penampilan wanita itu dari bawah hingga atas.
Wanita itu tersenyum manis pada Ardi dan memeluk lagi tubuh pria itu.
"Tante sampai di Indonesia udah 3 hari, cuma masih sedikit sibuk mengurus cabang yang ada di sini. Maafin Tante ya ... tidak bisa mampir lebih awal." Wanita itu masih menatap Ardi dengan penuh kasih.
Yulia melihat ke sekeliling ruangan, seperti sedang mencari seseorang.
"Tante dengar dari mas Hendra, katanya kamu sudah menikah lagi, terus mana istrimu?" tanyanya penasaran. Raut wajah penuhnkasih masih terukir di wajahnya yang sedikit menua.
Ardi tersenyum dan berjalan menghampiri Rianti yang masih mematung di dekat pintu, menggenggam tangannya, dan berjalan mendekati Wanita tersebut.
"Ini dia Tante ... Istri aku, namanya Rianti," ucap Ardi sambil menggangdeng tubuh Rianti.
Ekspresi Yulia sedikit berubah, yang tadinya tersenyum manis sekarang terlihat sinis. Ia tak menyangka wanita yang dikiranya pelayan ternyata istri dari keponakannya. Ia buka kacamata hitamnya dan mengamati Rianti dari bawah hingga atas. Berdecak heran dan tak percaya.
"Ini beneran Istri kamu? Kenapa pendek dan kampungan begini sih! Seharusnya kamu bilang sama Tante kalau mau menikah, Tante banyak kenalan model wanita cantik dan anggun yang lebih cocok bersanding denganmu."
Mendengar ucapan sarkis dari Yulia membuat ekspresi Ardi berubah. Ia pandangi wajah Rianti yang terlihat berkaca-kaca.
"Tante kenapa ngomong gitu sih! Dia ini istri aku, aku mencintainya! Seharusnya Tante juga harus bisa menyayangi dan menghormati dia. Bukan malah menghinanya begini. Tante ... tinggi pendek, jelek cantik itu bukan masalah buatku. Yang terpenting adalah aku nyaman dengannya." Ardi terlihat sedikit emosi menanggapi perkataan Yulia.
"Oo jadi sekarang kamu sudah berani ya ngelawan omongan Tante. Ingat! Saya ini Tante kamu, kakak dari ibumu! Seharusnya kamu perlakukan Tante selayaknya seorang ibu. Bukannya malah ngelawan demi gadis kampung ini!" jawab Yulia tak kalah sengit.
"Dulu ... waktu kamu menikah pertama kali dengan Stella, Tante sama sekali tidak ambil andil, karena tante dengar istri kamu itu cantik dan berpendidikan tinggi, jadi bisa sesuai dengan standar keluarga kita. Tapi sekarang apa? Wanita ini masih terlalu muda! Bahkan mungkin baru tamat SMA," ucapnya seraya tersenyum sinis.
Yulia mendekati dan mengelilingi tubuh Rianti. Lagi-lagi ia pandangi Rianti dari bawah hingga atas.
"Jangan-jangan kamu digoda wanita ini ya ... terus dia mengaku hamil! Heran, jaman sekarang para gadis sepertinya tidak punya urat malu. Demi harta, rela menjual tubuhnya. Apa begitu orang tuamu mengajarimu!" cerca Yulia lagi.
"Tante Cukup!" Ardi berteriak menghentikan ucapan Yulia.
Rianti tak mampu menahan penghinaan yang dilontarkan kepadanya, apalagi sampai membawa-bawa nama kedua orang tuanya. Matanya berkaca-kaca, ia pun berlari masuk kedalam kamar meninggalkan Ardi dan Yulia yang masih di ruang tamu.
__ADS_1
"Nah itu, Gadis licik! Senjata terakhirnya adalah air mata. Kamu jangan bodoh Ardi, buka matamu!" Yulia melipat lengannya di dada.
"Sudah Tante! Cukup! Lebih baik Tante pulang saja. aku mau istirahat."
Ardi pun berlalu menuju kamar dan meninggalkan Yulia di ruang tamu.
"Cih ... anak bodoh."
Yulia pun memasang kembali kacamata hitamnya dan berlalu meninggalkan rumah Ardi.
Ardi masuk ke dalam kamar dan mendapati Rianti menangis di dalam selimut dalam posisi duduk. Ia peluk tubuh Rianti yang tertutup selimut dari kaki hingga kepala.
"Sayang ... maafin Mas ya ... Mas tidak tau kalau tante akan berbicara seperti itu," bujuk Ardi.
Rianti tak merespon ucapan Ardi malah isakan tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Sayang ...."
Ardi menarik selimut yang menutup tubuh Rianti. Ia tarik tubuh Rianti kedalam pelukannya.
"Udah jangan nangis lagi. Ada Mas di sini yang akan membelamu. Mas tidak akan membiarkan siapa pun menghina istri cantik Mas ini. Hapuslah air matamu, hmm ...." Ardi membelai-belai rambut pendek istrinya itu hingga suara isakan tangis Rianti mulai sedikit mereda.
Ardi melepaskan pelukan dan memegang bahu Rianti.
"Sayang ... jangan pernah menangis karena di hina. Kuatlah, jadilah wanita yang tangguh. Jangan pernah membiarkan siapapun mengintimidasimu. Semakin kamu lemah, semakin gencar mereka menghinamu. Dengar Mas ... fisik tidak bisa menjadi penghalang untuk meraih kebahagiaan. Semua orang berhak bahagia termasuk kamu. Mas akan berupaya keras untuk membahagiakanmu," terang Ardi seraya menatap mata sembab Rianti.
Ardi menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi Rianti, dan menatap dalam-dalam mata istrinya itu.
"Jangan di ambil hati ya ... tante Yulia memang seperti itu. Veno yang anaknya sendiri saja tidak betah berdekatan dengan dia. Sikapnya yang diktator dan seenaknya sendiri membuat orang-orang di sekelilingnya pergi menjauh. Pertama om Baskoro lalu Veno."
"Apakah orang-orang di keluargamu sepertu itu Mas?" Rianti mulai berbicara setelah membuang ingusnya dengan tissu.
Ardi menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Tidak sayang, hanya tante Yulia yang seperti itu. Om Joy malah orangnya lebih ramah, kamu pernah dengar dari Shinta kan soal om Joy," tanyanya.
Rianti mengangguk pelan.
"Iya, Shinta bilang ... dia adalah dokter yang merawatnya."
"Om Joy itu adalah adik yang paling bontot. Orangnya paling baik, hanya saja tidak punya anak. Jadi Mas hanya punya Veno. Sepupu satu-satunya. Karena ayah Mas dan papinya Veno itu sama-sama anak tunggal."
__ADS_1