
Di ruang VIP rumah sakit.
Rianti tertidur dengan lelep karena efek obat yang ia terima atau mungkin karena efek terlalu lelah menagisi nasib malang yang ia terima. Entahlah, hanya tuhan yang tau segalanya tentang hati dan pikiran manusia.
Di samping ranjang Rianti ada sosok pria yang setia menemani tanpa bersuara. Memandang penuh kehangatan dan menggenggam tangan kecilnya. Mata sembab dan tatapan sayu seakan memperjelas betapa berantakan wajahnya. Sesekali ia tersenyum dan di saat bersamaa air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ya, dia adalah Ardi, pria yang berada dan setia menemani Rianti hampir 3 jam tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit. Ia menunggu Rianti sadar tanpa makan maupun minum. Pria yang memiliki banyak penyesalan karena telah menyakiti gadis polos nan lugu itu.
Ardi begitu sedih melihat wajah Rianti yang pucat dan mata yang sembab. Ia menyesal dan bahagia di saat yang bersamaan. pasalnya Rianti telah mengandung benih cintanya yang telah berusia 5 minggu. Ardi awalnya tidak percaya ada janin di perut Rianti yang datar itu. Tapi kalau di pikir-pikir bagaimana tidak mungkin, sedangkan tiap malam mereka selalu bercocok tanam hingga berpeluh-peluh serta suara erangan yang tak putus-putus mengikuti rutinitas wajib sebelum tidur.
Dan ada dua orang lagi di sana. ya, mereka adalah shinta dan Veno yang terduduk membisu di sofa berwarna jingga. Mereka terdiam dan hanyut dengan pikiran masing-masing. Sesekali Veno melirik Shinta namun Shinta membalasnya dengan tatapan yang seolah siap membunuh. Tatapan penuh kebencian. Dan Veno pun kembali menunduk takut, Ia bergidik ngeri karena di tatap begitu mengerikan oleh sang pujaan hati. Bukannya takut kalah saing, malainkan takut akan di abaikan dan di tinggalakan oleh Shinta.
Ck ... bagaimana aku bisa menyukai pria ini. Aku menyesal dulu tergila-gila padanya.
Shinta tak henti-henti merutuki dirinya sendiri. Ia benci sosok Veno yang secara tak langsung juga telah menyakiti sahabatnya.
Ya ... walaupun bukan tersangka utama tapi Veno itu ibarat kaki tangan yang harusnya juga mendapat hukuman, begitu pikir Shinta.
Sedangkan Veno merasakan kalut di dadanya. Ia yang sudah menjadi budak cinta Shinta hanya berusaha ingin mendapatkan gadis yang dulu memujanya. Veno sepertinya harus menerima karma karena selalu meremehkan Ardi yang rela menjadi budak cinta Stella dan kini menjadi budak cinta Rianti.
__ADS_1
Aku telah kualat. Itu lah kata-kata yang selalu tengiang di benak Veno. Ia begitu ingin mendekati Shinta, namun nyalinya menciut saat dipandang tajam seperti mata elang. Ia ingin menjelaskan dan menjabarkan segalanya. Ia tau Rianti adalah segala-galanya bagi Shinta. Dan kalaupun dibanding dengan Rianti, Veno hanyalah remehan peyek yang dengan mudah Shinta kunyah habis tanpa berpikir panjang.
Suasana di ruangan begitu sepi hampir tiga jam lamanya.
"Eughh ...."
Rianti menggeliat di dalam tidurnya. Perlahan membuka mata dan sesekali mengerjap mencoba memfokuskan pandangan. Ia merasakan kehangatan di tangan kanan dan melihat sosok pria yang duduk di sana. Sontak saja Ia tarik tangannya yang sudah terpasang selang infus.
"Sayang, kamu sudah sadar," ucap Ardi sambil menarik lagi tangan Rianti. Terlihat senyuman hangat di wajah kusutnya itu.
Rianti menarik kembali tangannya dari genggaman Ardi.
Shinta yang melihat ada pergerakan di atas ranjang Rianti langsung beranjak dari sofa. Melangkah menghampiri sahabatnya.
"Ri ... kamu sudah sadar," ucap Shinta yang langsung menyambar tangan kiri Rianti dan duduk di sebelahnya. Hatinya begitu sakit ketika melihat Rianti menangis tanpa bersuara. Ia pandang Ardi yang ada di hadapannya. Shinta benar-benar ingin mencakar wajah itu, namun ia urungkan karena memang tidak berguna. Nasi telah menjadi bubur, pikir shinta.
"Shinta ... Tolong jauhkan laki-laki b*jingan ini dariku," pinta Rianti. Ia berusaha kuat agar bisa menahan air matanya. Mata Rianti seperti keran rusak yang tak habis-habis mengeluarkan air. Tak bisa di tahan, jalan satu-satunya hanya membiarkan air itu kosong dengan sendirinya.
__ADS_1
"Kalian berdua pergilah! Aku akan menjaga Riri," ucap Shinta. Ia sebenarnya masih marah bahkan lebih marah dari sebelumnya ketika melihat Rianti menangis seperti itu. Tapi Shinta mencoba tenang agar situasi tidak semakin kacau. Ditambah perasaan dan janin Rianti yang harus ia jaga.
Veno yang berada di belakang langsung memegang pundak sepupunya itu seakan mengajaknya keluar ruangan.
"Tapi aku ingin menemaninya." Ardi memelas.
"Nanti saja, biarkan Rianti tenang dulu. Dia baru sadar dan tidak baik bila membuat dirinya stres. Ayo kita menunggu di luar saja," ucap Veno yang akhirnya angguki Ardi.
Setelah Veno dan Ardi pergi dari ruangan, Shinta menolong Rianti agar bisa duduk dan sandaran dengan memencet remot kontrol untuk megatur posisi pasien. Setelah Rianti terlihat nyaman barulah Shinta mendekati sahabatnya itu dan duduk bersebelahan di atas ranjang.
Shinta tak sanggup melihat wajah Rianti. Mata yang sembab hidung yang memerah dan bibir yang bergetar. Shinta yang melihat wajah berantakan Rianti, tak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Rianti.
Rianti menjelaskan semua yang ia ketahui. Tentang semua kebohongan dan sandiwara yang Ardi perlihatkan selama ini. Tentang perasaan tulus, sayang dan cintanya kepada Ardi. Rianti juga menjelaskan betapa sakit hati, terluka dan menderitanya dia di saat yang bersamaan. Air mata pun mengiringi suara Rianti. Beberapa kali ia seka air matanya yang benar-benar tidak bisa berhenti.
Shinta hanya terdiam mendengar penjelasan yang sebenarnya ia sudah tau. Namun, setelah mendengarnya langsung dari Rianti membuat jantung Shinta pun terasa sakit. Ia hanya mengelus-elus rambut kepala Rianti yang bersandar di bahunya. Ia tidak menyangka rasa sakit atas penghianatan dari orang terkasih begitu menyiksa. Buktinya dia yang hanya jadi pendengar ikut merasakan sakit hati apalagi orang yang bersangkutan. Entah masih dalam efek obat atau karena lelah menahan sakit hati dan memikul beban perasaan, Rianti akhirnya kembali tertidur di bahu Shinta.
Di luar ruangan, Ardi dan Veno sedang duduk di kursi tunggu. Wajah Ardi kembali kusut dan pikirannya semraut memikirkan bagaimana meminta maaf kepada Rianti. Ia sandarkan kepalanya ke dinding dengan mata yang terpejam dan terdengar helaan napas yang begitu berat
__ADS_1
Veno yang dari awal menentang rencana Ardi tidak bisa menghujat atau ikutan menghakimi Ardi. Ia akan terus di sisi Ardi dan menghiburnya. Karena memang darah itu lebih kental daripada air, dan sekarang ia tau makna dari pepatah itu.