
Setelah dipukul sedemikian rupa, sampai babak belur begitu. Ardi tetap melanjutkan langkahnya menemui Rianti yang sedang dirawat rumah sakit. Sambil menyetir, ia seka darah yang masih keluar dari bibirnya. Ardi memilih tidak melawan saat di pukul Andra, karena berpikir ia pantas mendapatkannya, Bahkan rela mendapatkan hukuman yang lebih dari sekedar pukulan. Ia juga tidak menyanggah saat Andra mengatainya breng*ek, karena menyadari kata-kata itu memang pantas ia sandang setelah tipu dayanya demi mendapatkan Rianti.
Semanjak awal, ia tidak mengira semua akan menjadi sekacau ini. Ardi mengira bisa mendapatkan hati Rianti sebelum semuanya terbongkar. Namun, ternyata sikap romantis dan usaha kerasnya selama ini untuk mendapatkan hati Rianti semua sia-sia. Rianti malah ingin bercerai darinya. Penyesalan .... itu lah yang Ardi rasakan sekarang.
Dari semalam Ardi berpikir dengan keras bagaimana caranya menemukan pelaku yang mencoba membunuh Rianti dan membuat Rianti kembali di peluknya. Ardi jujur dengan perasaanya. Bahwa dia telah benar-benar sudah melupakan Stella dan mulai mencintai Rianti. Hanya saja tidak tau caranya agar Rianti kembali mempercayainya lagi. Luka yang Ardi berika padanya begitu dalam hingga Rianti menjadi begitu tertakan dan akhirnya menderita amnesia. Ardi rindu Rianti, rindu senyum ramahnya dan rindu sikap manjanya. Dan yang lebih Ardi rindukan adalah kehangatan tubuh istrinya itu.
"Ahh Rianti ... aku merindukanmu," ucapnya lirih. Ardi kendarai mobil sport miliknya menembus keramaian kota dipagi hari.
Sesampainya di rumah sakit, Ardi bertemu dengan Shinta yang juga baru tiba dengan diantar seorang pria berwajah mirip bule dengan tinggi yang hampir sama dengannya, hidung yang mancung dan alis yang tebal. Terbersit di benaknya, bagaimana perasaan Veno ketika mengetahui kalau gadis pujaannya dekat dengan pria lain selain dirinya.
"Ahh sudahlah itu urusan Veno. Aku tak mau ikut campur," gumannya kemudian.
Ardi hanya tersenyum getir ketika bertemu Shinta, pasalnya dia juga sadar diri. Shinta pasti sangat membenci dirinya atas apa yang menimpa Rianti akibat ulahnya. Ardi juga sebenarnya ingin bertanya tentang hubungan Shinta dengan Veno dan pria bule itu. Tapi lagi-lagi di urungkan niatnya karena berpikir, "ini bukanlah saat yang tepat."
Di dalam lift mereka berdua masih sama-sama terdiam. Shinta memandang sekilas wajah Ardi yang lebam membiru dan ada perasaan senang ketika melihat penderitaan Ardi.
Rasain ... enakkan digebukin bang Aan, batin Shinta sambil tersenyum licik. Ia tau tersangkanya pastilah Andra, abang sepupunya sendiri.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Shinta tapi dengan nada yang terdengar tidak ramah.
Ardi menghela napas.
"Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Rianti ... tapi yang pasti, aku akan menjaga emosinya terlebih dahulu."
"Kita lihat dulu sampai di mana memori ingatannya terhenti. Lalu kita akan membuat Rianti mengingat kembali semuanya sedikit demi sedikit."
"Masalah dia ingat aku atau tidak akan aku pikirkan nanti. Aku yakin, lambat laun dia pasti akan mengingat dan menerimaku lagi sebagai suaminya," ucap Ardi dengan nada rendah yang terdengar ada sedikit keangkuhan di ujung kalimatnya tadi.
__ADS_1
Shinta yang menghela napas. Ia begitu prihatin pada Rianti. Kenapa bisa berakhir kedalam kehidupan duda yang sekarang tidak terlihat keren lagi, malah terlihat licik di mata Shinta.
Kasian kamu, Ri, batin Shinta ketika mengingat apa yang telah terjadi.
Rianti yang masih muda harus dihadapkan dengan cobaan yang bertubi-tubi hingga membuatnya menderita batin dan sekarang menjadi amnesia. Ya ... siapa yang tidak akan terguncang mendapat cobaan yang tak henti-hentinya menguras emosi. Ardi yang telah memanipulasi hidupnya, dijadikan istri pengganti, hamil di saat yang tidak tepat hingga mengalami keguguran.
Kalau itu aku, aku pasti sudah gila, batin Shinta lagi
"Hufhh..." Shinta menghela napas.
"Lalu pelakunya ... apa belum bisa di temukan? Bukankah bagi kalian orang-orang kaya bisa melakukan semua hal dengan lebih cepat. Hidup seseorang saja bisa kamu atur sedemikian rupa. Kenapa menemukan seseorang saja begitu lama?" tanya Shinta lagi tapi nada suaranya terdengar sedikit meremehkan Ardi.
"Semua butuh proses Shinta. Ini kehidupan nyata, bukan cerita novel yang ketika buka bab selanjutnya semua sudah terselesaikan," ucap Ardi yang tak terima diejek seperti itu. Pasalnya dia juga sudah berusaha mencari informasi dari orang-orang suruhannya.
Shinta merasa tersindir, secara dia memang penyuka novel online, jadi secara tidak sadar mempengaruhi jalan pikirnya. Ia beranggapan semuanya bisa diselesaikan dengan mudah dan cepat bak cerita dalam novel.
Pintu lift terbuka dan mereka pun berjalan berdampingan menuju kamar Rianti dirawat.
Ardi membuka pintu dan mendapati Rianti masih tertidur nyenyak dan Mahendra sedang menonton TV. Ia pun duduk bersebelahan dengan sang ayah, dan Shinta duduk tak jauh dari mereka.
"Ayah sudah sarapan?" tanya Ardi dan hanya direspon anggukan dari Mahendra.
"Udah, tadi Ayah sarapan bersama Rianti," jawab Mahendra tanpa menoleh Ardi. Matanya masih fokus melihat berita di TV.
Ardi langsung tercengang mendengar jawaban ayahnya. Ia tak percaya. Mengingat reaksi Rianti seperti begitu anti berdekatan dengannya.
"Serius dia makan bareng Ayah? Dia tidak ketakutan?" tanya Ardi yang begitu terlihat penasaran.
__ADS_1
"Awalnya sih iya. Malu-malu kaya baru pertama kali bertemu. Rianti terlihat sungkan tapi lama kelamaan udah enggak malah beberapa kali dia tertawa saat menceritakan pengalaman lucunya," jawab Mahendra lagi sambil tersenyum kecil ketika mengingat cerita lucu yang Rianti katakan padanya.
"Tapi kenapa ketika melihatku dia seperti ketakutan?" tanya Ardi tak mengerti.
"Itu karna kamu udah sering nyakitin dia," sela Shinta yang menatap jengah pada Ardi. Ia kesal karena Ardi masih saja tidak mengerti kenapa Rianti bisa berperilaku seperti itu.
Kalau saja Rianti tidak amnesia. Aku pasti akan menolong Rianti mencakarmu dan mengulitimu hidup-hidup, batin Shinta menggeram.
"Walaupun dia lupa tentang semua kejahatanmu, tapi alam bawah bawah sadarnya menyimpan perasaan benci padamu yang sepertinya sudah mendarah daging," ucap Shinta sarkis. Seketika wajah Ardi dan Mahendra terlihat tidak nyaman di sindir secara terang-terangan seperti itu. Dan lagi-lagi Ardi hanya terdiam tanpa bisa membela diri.
"Shinta ..." panggil Rianti dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Shinta pun langsung berjalan ke arah Rianti. sedangkan Ardi dan Mahendra mengikutinya dari belakang.
"Iya Ri, kamu perlu apa?" tanya Shinta sembari duduk di ranjang Rianti.
"Apakan pemakaman Amir sudah selesai?" tanya Rianti yang terlihat menitikkan air mata.
Sontak saja ketiganya tercengang, saling melempar pandangan. Pemakaman Amir sudah selesai dua tahun yang lalu.
Ternyata awal mula penderitaan batin Rianti itu ketika Amir tiada. Alam bawah sadarnya menyimpan semua luka itu dan sekarang kembali mencuat kepermukaan.
Shinta pun memeluk tubuh lemah Rianti dengan begitu erat.
Kasian kamu, Ri. Aku tak menyangka ternyata kamu begitu menderita saat Amir meninggal. Maafkan aku Ri, ku kira kamu baik-baik saja karena selama ini tidak pernah mengungkit soal Amir lagi ... andaikan aku tau, aku pasti akan lebih menghiburmu lagi, batin Shinta seakan teriris. Akhirnya ia pun ikutan menangis juga.
****
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya ya geas