Duren Sawit

Duren Sawit
Gagal nge-drama


__ADS_3

Ke esokan harinya.


"Mas, kita mau ke mana?" tanya Rianti keheranan karena diajak pergi padahal masih jam delapan pagi. Ia pun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Ardi


"Rahasia," sahut Ardi sekenanya seraya mengukir senyuman agar sang istri tak bertanya lebih lanjut kepadanya.


Rianti yang terlalu polos tak menyadari akan rencana Ardi. Ia hanya merasa bahagia karena beranggapan akan diberi kejutan seperti tempo hari. Lamaran di pantai itu lho ... para reader ingat khaaan.


Sedangkan Ardi, senyum-senyum sendiri membayangkan hasil kerja keras serta peluhnya akan berbuah manis. Ia bahkan tak tidur semalan membayangkan akan ada Dianti di dalam perut Rianti.


Kira-kira kejutan apa ya hari ini? Pikir Rianti. Dan pikiran itu berhasil membuatnya mesam-mesem sendiri.


Di dalam mobil mereka tak banyak bicara. Hanya lantunan lagu Super Junior yang menggema di dalam mobil Ardi. Rianti yang memang mengidolakan salah satu member boy band tersebut, tak ayal juga ikutan bergoyang. Sesekali ia terlihat komat-kamit mengikuti lirik yang sulit diucapkan apalagi dipahami. Ia bahkan bergaya seperti memegang mix serta melakukan gimik yang memperlihatkan seolah dialah yang bernyanyi di atas panggung.


Sorry sorry sorry sorry


Naega naega naega meonjeo


Nege nege nege ppajyeo


Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby


Shawty shawty shawty shawty


Nuni busyeo busyeo busyeo


Sumi makhyeo makhyeo makhyeo


Naega michyeo michyeo michyeo baby


Ardi yang mendengar dan melihat tingkah konyol istri belianya itu hanya mengulum senyum. Ingin tertawa, takut dosa, pikirnya.


Ia hanya fokus menyetir dan sesekali menggerakkan bahu mengikuti irama musik yang terdengar enak untuk bergoyang.


Sesekali ia perhatikan tingkah heboh Rianti. Dan terbersit niatan jahatnya untuk memvidiokan tingkah absurd istrinya itu. Padahal mah dulunya pemalu. Nah sekarang malah bikin malu, batin Ardi seraya menggelengkan kepalanya, heran.


Setengah jam berkendara, tibalah mereka di tempat yang dituju. Ardi tersenyum senang, sedangkan Rianti wajahnya mulai pucat pasi. Matanya membulat lebar dan degup jantungnya seperti menggila.


"Mas, kita ngapain ke sini?" tanyanya setelah keluar dari mobil. Ardi lagi-lagi hanya mengulum senyum tanpa menjawab. Ia rangkul bahu Rianti agar berjalan bersama dengannya menuju loket antrian.


"Maaaass, ngapain kita kerumah sakit." Kini suara Rianti terdengar bergetar. Ia mulai panik akan tingkah misterius Ardi. Ia hentikan langkah dan memegang erat lengan suaminya itu.


"Mas sakit? Kok gak pernah cerita. Parah gak?" tanyanya secara beruntun dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Mas, jawab dong ... Mas sakit tenggorokan ya. Atau mendadak bisu ... kok gak ngomong-ngomong sih," desaknya kemudian. Namun Ardi masih tak menjawab, malah senyuman di wajahnya semakin lebar. Ia gandeng Rianti untuk duduk di kursi tunggu. Sedangkan dia sendiri mengambil nomor antrian dan menyerahkan segala data serta informasi yang diperlukan.


Setengah jam berselang.

__ADS_1


Mereka menunggu antrian dan duduk di depan poli THT. Rianti tak henti-hentinya menyeka air mata yang terus saja mengalir. Ia berpikir suaminya terserang penyakit parah yang membuatnya tak bisa bicara. Bagaimana tidak, Ardi sedari tadi hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Mas, bagaimanapun kondisimu, aku akan setia bersamamu. Aku mecintaimu, Mas. Walaupun berat, aku harap Mas kuat menjalani pengobatan," oceh Rianti setelah menghembuskan lendir dari hidungnya.


"Aku gak mau jadi janda semuda ini, Mas," celotehnya lagi yang langsung mendapat jitakan kecil di jidatnya.


"Auw sakit! Ini KDRT namanya."


Ardi hanya menggeleng, heran apa isi dari kepala istrinya itu.


Tidak berapa lama seseorang memanggil namanya. "Nyonya Rianti!" seru seorang perempuan berbaju serba putih.


"Iya ... di sini!!!" teriak Ardi seraya berdiri dan menggandeng tangan Rianti.


"Loh Mas, kok ke sana. Bukannya kita nunggu antrian untuk ke THT ya. Trus kok Mas bisa ngomong," cecar Rianti secara beruntun. Namun, Ardi lagi-lagi tak menanggapi. Ia masih memegang tangan istrinya menuju poli kandungan yang berada di ujung lorong rumah sakit.


"Siapa bilang kita mau ke THT? Mas mau meriksain tubuh kamu," terangnya seraya menarik tangan Rianti yang mulai berhenti melangkah.


Astaga, ternyata untuku. Bagaimana ini? Gimana caranya aku bisa mengelak? Batin Rianti. Ia berusaha berpikir keras agar bisa menghindar bertemu dengan dokter. Pasalnya ia sedikit trauma dengan jarum suntik, dokter maupun obat. Bagaimana tidak? Waktu terakhir kali masuk rumah sakit saja dirinya disuruh cek ini, cek itu dan jarum suntik beberapa kali menembus kulitnya. Mengingat hal itu membuatnya kembali bergidik ngeri. Enggak! Aku gak mau di suntik.


"Ayo," ajak Ardi karena Rianti seperti mematung. Tak bergerak sama sekali dan keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya.


"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Ardi yang mulai terlihat resah melihat gelagat sang istri yang mulai berubah.


Triiing ....


Otak setengah cerdasnya mendapat ide licik.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ardi lagi yang sudah terlihat panik. Bahkan orang-orang mengelilingi mereka seakan melihat suatu hal yang darurat.


Ardi tangkup wajah Rianti dan menatap lekat mata istrinya itu.


"Kamu siapa? Di mana aku? Siapa namaku?" tanya Rianti secara beruntun. Ia keluarkan jurus ampuhnya, membuat drama seolah kembali amnesia demi menghindari seorang dokter.


Ardi yang awalnya panik mendadak tersenyum renyah menanggapi sandiwara yang Rianti lakoni.


"Udah, jangan bohong! Mulut bisa berdusta tapi mata tidak bisa, Sayaaang," ucapnya seraya tersenyum gemas.


"Sekarang mau jalan sendiri apa Mas yang gendong," ujarnya kemudian. Rianti yang tercengang, tak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka suaminya akan sadar secapat itu.


Ternyata pengalaman nge-dramaku gak bisa mengelabui Mas Ardi, pikirnya kesal.


Belum sempat Rianti menjawab, Ardi terlebih dahulu menggendong tubuhnya. Alhasil banyak diantara pasien atau keluarga pasien menggeleng-gelengkan kepala mereka setelah melihat pemandangan yang tak biasa itu.


"Mas, turunin ... malu ihh," bisik Rianti seraya memukul pelan dada bidang suaminya.


"Udah diem. Bentar lagi nyampe," sahut Ardi yang makin melebarkan langkahnya menuju poli kandungan.

__ADS_1


Kenapa harus aku? Aku kan gak sakit, batin Rianti bergejolak. Ia yang masih kebingungan hanya pasrah ketika disuruh cek tensi darah, berat badan, tinggi badan dan terakhir ini perutnya sedang di gerayangi sebuah alat yang terhubung dengan monitor kecil. Terdengar juga bunyi yang bergemuruh dari alat kecil itu.


Kok bunyinya kek gitu. Aku kan udah sarapan. Pikiran Rianti berkecamuk. Mendadak saja Ardi melakukan pengecekan terhadap dirinya, belum lagi suara berisik dari dalam perutnya. Apa aku menderita penyakit yang berbahaya ya? Wajah Rianti semakin pucat. Ia mengerjap beberapa kali ketika memandang dokter yang tersenyum ramah kepadanya.


"Sudah, Ri. Silakan duduk kembali," ucap sang dokter yang memang sudah mengenalnya. Ya, dia adalah Melati.


Dengan perlahan Rianti yang dibantu Ardi turun dari ranjang pasien dan berjalan duduk di kursi yang berhadapan dengan Melati.


"Selamat ya, istrimu hamil tujuh minggu tiga hari," ucap Melati.


Ardi langsung tersenyum sumringah. Ia bahagia. Tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa syukurnya kepada tuhan.


"Sayang, kita berhasil. Ada Dianti di dalam perut kamu," ucap Ardi dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Terlihat juga ada bulir air yang tertahan di ujung mata Ardi yang teduh.


"Terima kasih ya, sayang. Tidak lama lagi kita bakal jadi orang tua," imbuh Ardi lagi seraya memeluk erat tubuh Rianti.


Rianti masih tercengang. Dia masih mencoba memahami perkatan sang dokter barusan.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Maas aku hamiiiilll!!!" teriaknya kegirangan.


"Ada janin di dalam perut aku, Mas!!!"


Tamat.


.


.


.


.


. Tapi bo'ong. heheheh


**?**


Veno : Enak aje mau namat-namatin. Cerita aku mana!!! Aku kan juga mau bersanding sama Shinta. Mau ajep-ejep juga. 😡😡


Author : Upa sorry No. Lagian kan cuma bercanda. Rencananya aku mau bikin 600 episod. Ngalahin sinetron tersanjung. Hahahah....


Veno : Dasar author gila.

__ADS_1


Author : Biarin. Sesama gila dilarang saling hina. 😂😂😂


Gimana like sama komennya jangan lupa ya... 😎😎


__ADS_2