
Rianti mengejar Ardi hingga masuk ke dalam kamar. Ia masih merasa kesal karena selalu saja di modusin oleh suaminya itu.
Rianti berdiri di samping ranjang memperhatiakan Ardi yang sedang terbaring dengan lengan menutup matanya.
"Mas ... Mas Ardi. Bangun dong ... jangan pura-pura. Masa baru masuk udah tidur."
Rianti menggoyang-goyang paha Ardi.
"Aku tu sedang marah tau gak Mas, jadi cepet bangun. Atau kamu gak akan aku beri jatah selama seminggu kedepan!" Ancam Rianti.
Rianti tau kelemahan dan kekuatan suaminya adalah urusan ranjang. Entah itu faktor usia atau kerena kelamaan menduda. Setiap malam selalu saja mememinta jatah ranjangnya.
Mendengar ancaman itu Sontak saja Ardi bangun dan langsung duduk. Ia tarik Rianti ke dalam pelukannya.
"Kok gitu si ngomongnya. Kejem tau gak."
Ardi mengeratkan pelukannya serta mencium leher mulus Rianti. Sontak saja Rianti jadi menggeliat karena geli.
"Mas Stop! Aku sekarang sedang marah!" ucap Rianti dengan nada agak tinggi.
Ia melepaskan pelukan Ardi dan kembali berdiri menghadap seolah sedang menantang suami mesumnya itu.
Ardi seperti tak kehilangan akal. Ia tarik kembali tubuh Rianti hingga duduk ke pangkuannya. Rianti yang masih emosi mencoba melepaskan pelukan Ardi namun kekuatannya kalah saing dari sang suami.
"Tenanglah sayang, jangan marah-marah melulu. Udah kaya emak-emak tau gak."
"Enak aja, aku masih muda Mas."
Rianti masih meronta-ronta.
"Kamu jangan gerak-gerak, kalo yang di bawah bagun kamu harus tanggung jawab loh ya ...."
Ardi pun tersenyum karena Rianti langsung menurut dan tak bergerak lagi. Ia peluk pinggang Rianti dan meletakkan dagunya ke bahu sang istri.
"Iya Mas yang salah. Mas gak akan kaya gitu lagi. Habisnya kamu sih selalu aja menggoda Mas."
"Lha ini gimana sih! Minta maaf tapi ujungnya nyalahin aku juga. Lagian aku gak pernah ya goda Mas Ardi. Mas tuh yang selalu tergoda dengan sendirinya."
Ardi yang berada di belakang Rianti hanya tersenyum. "Iya deh maaf ... maaf. Jangan marah-marah mulu."
"Nah gitu dong ... ya udah aku mau mandi dulu udah sore soalnya."
Rianti ingin melepaskan pelukan Ardi namun lagi-lagi Ardi tak menghiraukannya. Ia masih asik memeluk tubuh sang istri sambil sesekali mencium punggung Rianti.
__ADS_1
"Apaan lagi sih Maaas ...."
Kini suara Rianti sedikit lembut karena menahan geli saat Ardi meniup leher belakangnya.
"Di sini udah ada Dianti belom," ucap Ardi sambil mengusap-usap perut rata Rianti.
Rianti mengernyitkan dahi.
"Siapa Dianti Mas?"
"Anak Ardi dan Rianti, heheheh ...."
"Ya belumlah, Mas. Lagian aku belum siap jadi emak," jawab Rianti jujur.
Entah kenapa mendengar perkataan jujur Rianti hati Ardi serasa sakit. Dia begitu menginginkan anak karena memang usianya sudah tidak muda lagi. Berbeda dengan Rianti yang masih belia. Ia lepaskan tangannya dari perut sang istri.
Rianti yang menyadari pelukan di perutnya yang sedikit longgar langsung menghadap Ardi dan menangkup wajah suaminya itu dengan kedua telapak tangannya. Ia perhatikan wajah prianya yang terlihat agak cemberut.
"Mas, beri aku waktu yah ... aku masih ingin menikmati masa-masa kita berdua. Aku masih ingin menjadi prioritasmu. Aku masih ingin menerima banyak cinta darimu. Tunggu aku yah ... tunggu aku siap mental dan tunggu tuhan mengizinkan."
Rianti mendaratkan kecupan ringan di dahi suaminya itu, lalu tersenyum dan memeluk kepala Ardi yang berada tepat di dadanya. Ardi yang mendapat pelukan hangat itu pun mengeratkan pelukan seakan tak ingin Rianti pergi.
Setelah sekian detik berpelukan mode mesum Ardi kembali mencuat. Ia tangkap bukit kenyal kiri Rianti yang masih terhalang baju dan meremas-remas pelan.
"Kita ada janji buat fitting baju di butik," sambungnya lagi.
Namun, Ardi seperti tak mengindahkan perkataan istrinya itu. Tangan kanannya kembali menari-nari sedangkan tangan kirinya menahan punggung belakang Rianti.
Rianti menggeliat geli, namun juga menikmati sentuhan ajaib dari Ardi. Tapi cepat-cepat ia melepaskan tangan Ardi yang sudah membuatnya lupa diri, dan menahan wajah Ardi yang terlihat akan menjajah lehernya.
"Mas jangan dulu. Bagaimana mau fitting baju kalo kamu kasih tanda di situ?"
Rianti langsung beranjak dari pangkuan sang suami dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Mas cepetan mandi. Kita ada janji," ucapnya sambil berlalu keluar kamar.
Ardi terlihat frustasi dan menjambak rambutnya sendiri. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi berusaha meredam hasratnya dengan berendam air hangat.
Rianti sendiri sengaja menjauh dan memilih duduk di ruang tamu sambil membuka aplikasi facebook yang sudah hampir sebulan tidak ia buka.
Ada begitu banyak pesan masuk dari akun yang bernama Rilovin Forever.
Sayang, kamu ke mana sih ... udah lama gak masuk kerja. Bales dong ...
__ADS_1
Tolong jangan gantungin perasaan aku. Cepet bales ya ...
Ri, kamu beneran udah nikah?
Kamu jahat!!!
Rianti terlihat berfikir dan mengingat siapa itu Relovin. Karena ia juga sempat mendapat pesan yang sama di hari-hari sebelumnya.
Rianti heran membaca pesan yang seolah-olah mengatakan kalau dirinya telah berkhianat dan menikahi orang lain. Ia buka informasi dan foto-foto di album Relovin.
Mata Rianti langsung melotot memandang foto yang ada di album. Begitu banyak foto dirinya di sana. Foto-foto sewaktu ia masih bekerja di toko baju. Ia melihat foto profil akun tersebut yang ternyata adalah milik Davin setiawan. Murid SMA yang selalu mengganggunya.
Apa ini? Jangan-jangan Relovin forever itu singkatan dari Rianti dan Davin. Dasar gila!
Rianti berdecak kesal namun setelah itu bibirnya menyunggingkan senyuman.
Rianti mengingat sosok Davin yang menurutnya sangat menyebalkan namun juga sangat manis. Hanya dia yang terang-terangan mengatakan cinta dan masih gencar mengejarnya. Tidak seperti laki-laki di masa lalunya.
Setelah selesai dengan akun Relovin forever Rianti kembali melihat pesan dari seseorang yang ia kenal. Malah sudah ia tandai sebagai saudara perempuannya.
Jessika Iskandar.
Nikmatin aja kebahagianmu sekarang! Aku janji akan membuat keluargamu hancur lebur hingga tak bisa di perbaiki maupun didaur ulang. Aku akan membalaskan dendam Amir. Kau juga akan merasa mati lebih baik dari pada hidup. Ingat itu!!!
Rianti menutup aplikasi facebook-nya. Ada sedikit kekhawatiran setelah membaca pesan dari Jessika.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ardi yang baru keluar dari kamar. Ia sudah rapi dengan baju kemeja panjang berwarna maroon dan celana jeans berwarna hitam.
"Gak apa-apa kok, Mas." Rianti mencoba menyembunyikan perasaannya.
Rianti memandang Ardi sambil tersenyum genit.
"Mas tau gak ini namanya apa?" Rianti menunjukkan salah satu jarinya.
Ardi mengernyitkan dahi, bingung dengan maksud pertanyaan yang begitu absurd.
"Tentu saja itu jempol sayang." Ardi mencubit pelan pipi istrinya sambil tersenyum gemas.
"Aaa ... Mas, sakit!" rengek Rianti.
"Nah kalo ini apa?" Rianti menujuk jari manisnya.
"Tentu saja itu jari. Hanya jari ... karena manisnya ada di kamu," ucap Ardi sambil mencubit hidung Rianti.
__ADS_1
Wajah Rianti bersemu merah. Ia berniat menggombal tapi malah dia yang di gombalin.