
Dua bulan kemudian.
Cuaca cerah menyelimuti sudut kota pagi ini. Begitu bersahaja seperti perasaan seorang pria yang saat ini sedang duduk di sisi ranjang. Ia tak berhenti memandang wajah sang istri yang sedang berdiri di hadapannya. Ia sama sekali tak mengerjap melihat kagum penampilan wanitanya yang masih mengunakan baju tidur. Ya, dia adalah Ardi, pria yang begitu menyayangi istrinya hingga sang istri tak punya alasan untuk tak mencintai dirinya. Dia adalah sosok suami sempurna, baik di mata Rianti maupun autrhornya.
Sudah enam bulan mereka bersama. ups ralat, hanya empat bulan, karena Rianti lupa ingatan selama dua bulan. Mereka melewati lika-liku rumah tangga yang rumit. Menghadapi badai yang menerjang yang hampir merenggut nyawa keduanya. Beda usia, pemikiran, budaya hingga fisik tak membuat cinta yang sudah bersemi layu maupun pudar. Karena hakikat cinta itu sendiri adalah menerima kekurangan dan kelebihan dari yang terkasih. Mencintai karena apa adanya kamu. Bukan cinta karena ada apanya padamu.
"Sayang kamu cantik," ucap Ardi tanpa berkedip. Tatapan penuh arti ada di sana, dari cinta, kasih, bahagia, kagum hingga mesum. Semuanya menyatu dalam manik mata pria berusia 32 tahun itu.
Rianti yang di tatap seperti itu langsung menyipitkan matanya.
"Kenapa sih, Mas. Ngeliatin aku sampe segitunya," protes Rianti. Sedangkan tangannya masih asyik menyimpul dasi berwarna coklat tua ke leher Ardi.
"Enggak kenapa-napa. Mas hanya merasa kamu semakin hari semakin cantik," ucapnya dengan nada rendah. Sedangkan tangannya telah bergerilya bebas di bokong Rianti.
Rianti semakin manatap tajam pada Ardi karena tau arah dan tujuan rayuannya itu. Rianti sedikit mengencangkan dasi yang melingkar di leher Ardi, sehingga yang punya leher tercekat, terbatuk-batuk kesusahan menarik napas. Rianti terkekeh geli melihat penderitaan suaminya yang genitnya itu.
"Kok tega banget. Kalo Mas mati gimana?" protes Ardi setelah melonggarkan dasi yang Rianti kencangkan sebelumnya.
"Makanya jangan mulai lagi. Semalam kan udah. Olahraga subuh juga udah. Masa mau minta lagi," gerutu Rianti. Mulutnya mengerucut, kesal akan sikap mesum Ardi yang tak ada habisnya.
"Kamu kenapa sih yang ... dari kemaren bawaannya jutek mulu," ucap Ardi seraya memeluk pinggang Rianti.
"Cerita dong, ada apa hmm ...." Ardi benamkan wajahnya ke perut datar Rianti. Hangat dan nyaman hingga ia betah berlama-lama di sana.
Rianti mendengus kesal, wajahnya ditekuk seakan malas menjawab pertanyaan Ardi.
Pura-rura gak tau atau sengaja lupa, batin Rianti. Ia masih setia dengan diamnya.
Rianti lepaskan pelukan itu. Menatap dalam mata teduh suaminya, kemudian ia rebahkan tubuhnya duduk di sebelah Ardi.
"Mas benar-benar sibuk ya? Gak bisa cuti barang seminggu gitu. Aku pengen pergi ke Bali Mas ... aku pengen kita pergi bulan madu," rengek Rianti seraya menggesek-gesekkan kakinya di lantai porslen yang dingin hingga terciptalah suara decitan kecil dari sana.
"Kan di rumah juga bisa. Tujuan utama orang bulan madu 'kan tidak lain tidak bukan adalah itu," ujar Ardi ambigu seraya melirik di bawah perut Rianti.
Rianti semakin mendengus kesal. Ia palingkan tubuhnya hingga membelakangi Ardi.
"Kalo di rumah namanya bukan bulan madu Mas ...."
"Lalu apa?" tanya Ardi yang tak mengerti bedanya di rumah dengan di Bali.
"Kalo di rumah aku cuma jadi bulan-bulanan kamu," ketus Rianti yang langsung direspon kekehan nyaring dari Ardi.
Mendeggar tawa Ardi membuat Rianti semakin kesal, ia berdiri dan meninggalkan Ardi yang masih asyik dengan gelak tawanya. Namun, baru beberapa langkah Rianti berhenti karena Ardi memeluk tubuhnya dari belakang.
__ADS_1
"Iya deh iya ... nanti Mas coba ngomong sama dekan lagi, maaf kalau acara bulan madu kita tidak pernah terwujud," bujuk Ardi seraya mencium pucuk rambut Istrinya itu. Ia balikkan tubuh Rianti hingga menghadapnya.
"iiiih kamu ini ... bikin Mas gemes tau gak," ucap Ardi seraya memencet hidung Rianti, sampai-sampai yang punya hidung meringis kesakitan.
"Sakit Mas!" gerutu Rianti seraya menjauhkan tangan Ardi dari hidungnya.
"Hahaha ...." Tawa renyah Ardi kembali terdengar. Ia semakin suka menggoda sang istri. Marasa terhibur melihat ekspresi Rianti ketika sedang cemberut.
"Kamu itu jelek kalo lagi marah gini," godanya lagi.
Rianti berdecak kesal. Bukannya di bujuk malah di ledek.
"Ketawa aja terus. Terusin ketawanya sampe naruto kawin sama doraemon. Entar malem, aku pastiin Mas Ardi menangis," ancam Rianti seraya tersenyum licik. Ia pun melangkah keluar kamar meninggalkan suaminya yang sudah mematung.
Ardi terdiam, mendengar gertakan sang istri langsung membuatnya tersenyum kecut. Wah bisa bahaya ini kalo sampe ibu negara satu ini merajuk. Ia pun menarik tas laptopnya yang berada di atas ranjang dan menyusul Rianti.
"Sayang, tungguin," ucap Ardi seraya mengejar langkah Istrinya.
Di depan pintu rumah.
"Mas, nanti aku mau ke tempatnya Shinta. Aku mau nge-mall sama dia," kata Rianti setelah mencium punggung tangan suaminya.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya? Mas gak mau kalau pas pulang nanti kamu gak ada di rumah," sahut Ardi seraya menatap lekat mata istrinya yang selalu mampu menenangkan hati.
Rianti hanya mengangguk pelan seraya berjinjit meraih pipi tirus Ardi dengan cepat.
Cupp.
Ardi terkesiap, mengerjapkan mata seolah tak percaya. Tumben, perasaan tadi lagi ngambek. Eee sekarang main sosor aja.
"Mas hati-hati ya," ucap Rianti seraya melemparkan senyuman termanisnya.
Ardi mengangguk dan berjalan masuk ke dalam mobil membawa perasaan aneh akan suasana hati istrinya yang berubah-ubah.
****
Di mall
Shinta terlihat mengaduk-aduk jusnya dengan malas. Bibirnya terturun dan alis tertarik ke dalam.
Rianti yang tau gelagat tak biasa dari sahabatnya itu pun mulai curiga. Pasalnya sepanjang perjalanan Shinta tak henti-hentinya berdesah. Seperti sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya.
Rianti hentikan sejenak aktivitasnya menikmati segelas es krim yang ia pesan.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Lagi mikirin apa? Dari tadi diem mulu. Coba cerita," tanya Rianti penuh harap. Ia sadar kalau sahabatnya itu perlu tempat untuk mengadu.
Namun Shinta masih terdiam dan kembali menghembuskan napas yang terdengar kasar.
"Ayo cerita ... kamu punya masalah sama Veno?" desak Rianti. Ia perhatikan dengan seksama tingkah Shinta yang hanya mengeduk-aduk minumannya.
"Kami ketahuan. Gosip sudah menyebar kalau aku sama Veno itu mau menikah," keluh Shinta tanpa memandang Rianti. Ia masih asyik memutar-mutar sedotan dalam gelas jus alpukat miliknya. Sedangkan Rianti mengulum senyuman. Ia berusaha keras agar tidak tertawa di depan sahabatnya yang sedang gegana ( gelisah, galau dan merana).
Namun mendadak wajah sedih Shinta langsung berubah. Ia menggeram menggenggam kuat sedotan yang ada di tangannya.
"Ini semua gara-gara mas Veno!!! Dia salah paham pada Erik. Dikiranya aku ada main hati sama karyawan di bagian pemasaran itu. Kan gak mungkin. Lebih konyolnya lagi, dia ngumumin hubungan kami di depan seluruh karyawan yang sedang makan siang di kantin. Bisa bayangin kan betapa malunya aku," ungkap Shinta seraya melepaskan sedotan di tangan dan menghempaskan punggungnya dengan kasar di sandaran kursi resto mall.
Rianti masih di mode pendengar yang baik. Namun, setelah mendengar permasalahan berat Shinta ia tak bisa untuk tidak bersuara.
"Emangnya kenapa kalau ketahuan? Bukannya kalian saling cinta. Harusnya nikmati saja yang ada sekarang ini. Nikmati kebahagiannya. Lagian para gadis berebut untuk jadi pacarnya Veno. Nah kamu, kenapa malu?" cecar Rianti yang tak habis pikir arah jalan pikiran Shinta.
"Bukannya aku gak bersukur. Hanya saja kamu liat dong perbedaan antara aku dan Veno. Dia CEO, sedangkan aku hanya upik abu, Rianti. Gak ada pantes-pantesnya kalo bersanding sama dia," ucap Shinta lagi.
"Aduh Shinta ... gini deh, yang jalanin siapa?" tanya Rianti dengan nada seriusnya.
"Aku sama mas Veno," jawab Shinta.
"Trus yang merasa bahagia siapa?"
"Aku sama mas Veno," jawab Shinta lagi.
"Nah udah gitu aja. Jangan tanggepin nyinyiran para netizen yang iri kalau seorang upik abu bisa dapetin seorang CEO," ujar Rianti menyemangati Sahabatnya yang sedang galau.
"Tapi ...." Shinta tercekat karena Rianti terlebih dahulu memicingkan matanya.
"Udah jangan tapi tapi. Ayo kita pulang, Mas Ardi bentar lagi nyampe rumah," ucap Rianti seraya mengeluarkan uang seratus ribuan untuk membayar minuman mereka.
"Tapi sebelum pulang kita cari buah ceremai dulu ya. Mendadak aku kepengen makan itu apalagi kalo dibikin rujak," imbuh Rianti lagi seraya membayangkan betapa nikmatnya ceremai rujak.
"Aduh udah ngiler duluan aku tuh," ucapnya serata berdiri dari kursi restoran.
****
Waaaahh Rianti yang pengen makan ceremai tapi kenapa authornya yang ngiler...
😋😋
hayuu di like dan komen. Nanti aku kasih deh rujak ceremainya. hehhe
__ADS_1