Duren Sawit

Duren Sawit
Dilema Shinta.


__ADS_3

Hamil itu identik dengan ngidam, dan ngidam adalah suatu kondisi yang tak bisa di pungkiri sedikit merepotkan, baik untuk si ibu maupun sang ayah. Ibu berat mengandung bayi dan ayah belajar membendung emosi.


Wanita hamil lebih sering ingin dimanja, diperhatikan baik dari segi kasih sayang maupun makanan. Mood yang seperti bom waktu menuntut seorang suami harus bisa menjadi seorang jibom dadakan yang dalam artian harus sigap tanggap menenangkan kemarahan yang kapan saja bisa meledak.


Perubahan hormon pada wanita hamil dapat mempengaruhi tingkat neurotransmiter, yaitu bahan kimia otak yang salah satu fungsinya adalah mengatur emosi. Hal ini membuat wanita hamil sering sedih, menangis juga tersinggung tanpa alasan yang jelas.


Tidak terkecuali Rianti. Semenjak mengetahui kalau dirinya hamil dia lebih sensitif, agresif, dan juga posesif. Entah karena bawaan bayi atau hanya sekedar sugesti, ia lebih sering menangis tanpa sebab. Pernah beberapa hari yang lalu ia melihat jari Minah berdarah. Seakan merasakan luka, Rianti pun menangis selama sejam tanpa jeda. Namun, meskipun begitu ia tetap energik. Tidak mual apalagi muntah. Malah nafsu makan Rianti semakin hari semakin bertambah.


Hari ini keduanya berencana mengunjungi orang tua Rianti.


"Yang, kenapa perut kamu belum keliatan besar?" tanya Ardi disela kegiatan menyetirnya.


"Ya belumlah, Mas. Kan baru tiga bulan lebih," terang Rianti santai tanpa menoleh suaminya. Tangannya begitu cekatan mengetik pesan di layar ponsel.


Ardi hanya manggut-manggut mendengar penjelasan istrinya yang sok sibuk. Kemudian kondisi kembali senyap. Hanya ada suara samar kacang polong yang pecah dan hancur terkena hantaman gigi-gigi Rianti. Selama hamil, ia begitu suka dengan kacang berwarna hijau tersebut. Sekilo kacang habis dalam sehari.


Rianti.


Jadi bagaimana?


Kapan ketemu camer?


Shinta.


Besok, Ri. Hanya memikirkan ketemu mami mas Veno saja jantungku langsung melemah. Bagaimana kalau dia tidak setuju? Bagaimana kalau aku dipermalukan di depan umum? Bagaimana jika dia melempariku uang segepok dan menyuruhku pergi dari kehidupan anaknya? Astaga ... belum apa-apa aku udah gemetar duluan.


Rianti yang membaca pesan singkat sahabatnya hanya mengulum senyum dan kembali membalas pesan itu.


Udah ... jangan mikir yang enggak-enggak. Percaya aja sama Veno. Aku yakin dia bisa melindungi kamu kok. Tenang saja.


"Yang, kamu chat sama siapa sih? Dari tadi gak kelar-kelar," gerutu Ardi yang tak suka di abaikan oleh istrinya.


Melihat ekspresi sang suami yang seperti itu, membuat Rianti tersenyum gemas. Ia pun memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memiringkan tubuhnya. Menatap bayi besar yang sedang menekuk wajahnya.


"euleh euleh ... ada yang sewot ni yeee, hehe ..." ledek Rianti seraya mencubit pipi tirus suaminya yang sudah berwajah masam.


"Aduh Yang, sakit ...."

__ADS_1


Ardi mengusap-usap pipinya.


"Pipi itu bukan untuk dicubit," gerutunya kemudian.


"Lalu," tanya Rianti yang tak hapal dengan sikap mesum suaminya.


"Untuk dicium lah sama buat ngedusel-dusel itu," sahut Ardi ambigu seraya menggerling genit ke arah dua bukit sintal Rianti yang sudah mulai membengkak.


"Ih Mas ini ...."


Wajah Rianti merona. Ia pegang pipi yang sudah menghangat sebab tau arah jalan pikiran suaminya.


Maklum saja, semenjak mengetahui kehamilan Rianti, Ardi belum sama sekali mendapat jatah malamnya. Terlebih lagi mengingat Rianti yang mempunyai riwayat keguguran membuat Ardi berpikir berkali-kali untuk meminta servis yang menjadi candu untuknya. Dan untuk meredam hasrat menggebu itu, ia selalu mengalihkannya ke olahraga, nge-gym di lantai tiga rumahnya. Karena rutin berolahraga itulah, lambat laun membuat tubuh Ardi yang memang semula sudah perfek menjadi lebih sixpack, berotot dan lebih kekar. Yang bisa menghipnotis kalangan perawan maupun emak-emak jejeritan tanpa sadar. Hehehe ....


****


Di rumah kontrakan Andra.


Shinta sedang duduk termenung di kursi besi teras rumahnya. Menyandarkan punggung dan menatap lagit sore yang membiru dengan sempurna. Namun sayang, cerahnya sore hari tak bisa mengubah suasana hatinya yang sedang berkecamuk. Memikirkan cinta beda strata dan juga resikonya.


Hembusan napas Shinta terdengar begitu lirih. Ia pejamkan mata berkali-kali, berharap dapat menenangkan pikiran yang semakin runyam.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Andra yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Ia sudah rapi dengan celana jogger dan t-shirt berlapis jaket kulit.


"Enggak Bang," jawab Shinta sekenanya.


"Kalo sekiranya gak cocok, putus aja. Kamu juga masih muda. Jalan kamu buat ketemu laki-laki yang lebih baik dari dia masih terbuka lebar," kata Andra mencoba memprovokasi pikiran sang adik. Ia tau kalau Shinta pasti memikirkan Veno, calon adik ipar yang lebih tua darinya.


Shinta kembali menghela napas. Mendengar nasehat sang abang semakin membuat pikirannya tambah pelik.


"Abang mau ke mana?" tanya Shinta mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Mau nge-date," jawab andra singkat seraya mengikat tali sepatu. Semenjak mengikhlaskan Rianti, ia mencoba membuka hati kembali pada mantan kekasihnya, Ria.


"Kamu cinta banget ya sama Veno," tanya Andra lagi. Ia belum puas karena belum mendapat jawaban dari pertanyaannya.


"Veno itukan lebih tua. Resiko kematiannya dua kali lebih cepat dari pada kamu," jelas Andra lagi yang terdengar sarkis di telinga Shinta.

__ADS_1


"Bang Andra nyumpahin aku!" sela Veno yang baru tiba dan tanpa sengaja mendengar gibahan Andra. Sedangkan Andra yang tak sadar perkataannya di dengar Veno, langsung tersenyum kikuk.


"Lha, kita ngomong kenyataan aja deh, No. Kamu itu emang tua. Nanti kasian Shinta bisa-bisa jadi janda muda," elak Andra, memasang wajah tak berdosa.


Mendengar ucapa sarkis dari Andra, tak membuat Veno lantas marah. Ia juga tau maksud dan tujuan Andra adalah untuk melindungi Shinta. Veno letakkan sekotak pizza yang ia bawa ke atas meja dan merebahkan diri duduk di sebelah Shinta.


"Kalaupun semisal aku mati duluan, gak apa-apa kok. Aku rela kok kalo dia nikah lagi. Dan semua harta aku bakal aku warisin ke Shinta," terang Veno seraya memandang Andra yang sedang berdiri tak jauh darinya. Veno pun menggenggam erat tangan Shinta. Perkataan yang begitu terdengar tulus hingga mampu membuat Shinta mengerjap heran. Ia tak menyangka mendengar perkataan aneh bin ajaib itu langsung dari mulut Veno. Shinta tercekat, bukan karena harta namun karena Veno mampu berpikir logis. Di saat pria lain akan berjanji sehidup semati. Veno bahkan merelakannya menikah lagi dan juga memberinya warisan. Jadi janda kaya dong aku nya, pikir Shinta.


"Tapi untuk sekarang ini, Shinta itu hanya milik aku Bang. Tidak akan aku biarin dia berpaling ke lain hati," tandas Veno meyakinkan calon abang iparnya.


Shita menangkup wajah Veno dengan kedua belah tangannya. Ia tatap manik mata Veno yang teduh tanpa berkedip.


"Mas, kamu rela kalo semisal aku nikah lagi," tanya Shinta tak percaya.


Veno hanya mengangguk pelan seraya membalas tatapan mata kekasihnya.


"Kamu bakal ngasih aku warisan?" tanya Shinta lagi dan masih direspon anggukan dari Veno.


"Itu artinya Mas rela kalo aku racun?"


Tiba-tiba pertanyaan konyol itu keluar dari bibir Shinta. Ia tutup mulutnya segera karena tau telah salah bicara. Namun, respon Veno benar-benar berbeda. Ia tidak marah sama sekali melainkan senyum tulus terukir di wajah tampannya.


"Iya aku rela kamu racun. Asal aku minumnya sama-sama kamu," jawab Veno asal yang langsung mendapat pukulan kuat di bahu kekarnya. kemudian keduanya pun terkekeh lucu mengingat perkataan yang melenceng jauh dari kata romantis.


****


Bigimane ... Ceritanya gaje yah. heheheh


baydewey ...


Terima kasih buat para readers sekalian . Kalian sudah setia menjadi pembaca cerita duren durenan karya receh saya ini. Andai jarak kita dekat. kita bisa kumpul santuy di warung kopi heheheh😊.


Saya cuma mau kasih tau bahwa sekarang ini telah memasuki part-part terakhir ya. jadi pantengin terus dan jangan bosan like dan komen. walopun hanya sekedar tulisan LANJUT sudah membuat hati author berbunga-bunga.. ce ile... πŸ˜†πŸ˜†


Tapi beneran loh. tiap kalian like sama komen udah bikin saya semangat nulis. Serasa dihargai gitu ...😊


heheh jangan lupa like komen dan vote ya gaes... love you all.

__ADS_1


__ADS_2