
Ardi masuk ke kamar dan melihat istrinya masih meringkuk di dalam selimut.
"Sayang ... sayang ...."
Ardi menggoyang-goyang pelan bahu Rianti.
Namun yang di bangunkan tak kunjung bangun malah makin erat menarik selimut.
"Eum ... bentar lagi ya Mas. Aku masih capek."
Ardi tersenyum mendengar perkataan Rianti mengingat apa yang terjadi semalam.
Ardi duduk di tepi ranjang mendaratkan sebuah kecupan singkat sehingga Rianti langsung bangun membuka mata dengan perlahan.
"Morning kiss ... untuk yang terkasih ..."
Rianti yang masih mengantuk mencoba duduk dan menatap sang suami yang sudah rapi dengan kemeja lengan panjang berwarna coklat.
"Mas mau ke kampus?"
Ardi hanya mengangguk.
"Bangun sayang ... Mas udah bikin sarapan ...."
Rianti tersenyum mendapat perlakuan manis di pagi hari.
Semakin hari kamu semakin romantis Mas. Pagi hari gini kamu udah bikin hati aku meleleh ....
"Mas ... nanti kalau kamu mau ke kampus hindari jalus selatan ya ...."
"Emang kenapa sayang?" Ardi terlihat bingung.
"Karena perasaan sayang aku ke kamu udah gak bisa di utarakan lagi. Heheh ...."
Rianti langsung bangun dari posisinya dan berjalan mengambil handuk yang ada di belakang pintu. Ia malu setelah mengatakan gombalan receh pada suaminya. Sedangkan Ardi kembali tersenyum melihat tingkah sang istri yang membuatnya menjadi gemas.
Di ruang makan mereka makan tanpa banyak bicara. Hanya saja Rianti yang beberapa kali mencuri pandang ke arah Ardi.
"Sayang ... sepertinya hari ini Mas tidak bisa izin. Mas harus ke kampus. Ada hal penting yang harus Mas urus." Ardi berbicara setelah menghabiskan nasi goreng di depannya.
"Oh iya gak apa-apa ... Mas kerja yang rajin ya ... karena istri Mas ini udah mulai matre, hehheh ...." Rianti terkekeh kecil setelah mendengar ucapannya sendiri.
"Tentu saja. Demi kamu, Mas akan lakukan yang terbaik agar kamu selalu bahagia." Rayuan Arsi mampu mengukir senyuman di wajah Rianti semakin lebar.
Rianti berjalan mendekat dan duduk di pangkuan sang suami.
"Mas ... perusahaan ayah itu bergerak dibidang apa ya ... terus jabatan ayah disana apa?"
"Oh ... ayah itu direktur utama yang memegang kendali penuh 3 hotel Shafira. Pertama ada di sini, lalu buka cabang lagi di daerah kamu tinggal ... trus baru-baru ini buka lagi di daerah Z. Semuanya bernama Shafira Hotel. Sebenarnya itu perusahaan kakek yang kakek bangun sendiri. Tapi ayah lah yang membuatnya berkembang hingga bisa menjadi tiga," terang Ardi seraya mengalungkan tangannya di pinggang Rianti.
"Oooo ...."
Rianti manggut-manggut dengan penjelasan Ardi, dan mulai meraba-raba dada bidang Ardi. Entah kenapa sejak kejadian semalam dirinya jadi mendadak manja.
"Trus Mas, kira-kira ada pekerjaan untuk Shinta tidak di sana." Rianti memandang mata Ardi.
__ADS_1
Ardi terlihat berpikir.
"Hmmm ... Shinta tamat SMA, kan? Susah sih sepertinya. Semua pekerjaan punya kriteria karyawan sendiri. Tidak hanya dari segi pendidikan, penampilan juga harus menarik."
Ardi berhati-hati dalam ucapannya mengenai fisik. Ia takut kalau menyinggung soal tinggi badan, karena istrinya juga tergolong bertubuh kecil.
"Apa gak bisa di usahain Mas ... kan ayah kamu yang punya hotel. Kasian Shinta, dia mau berhenti kerja tapi belum dapat gantinya."
Rianti mulai beranjak dari pangkuan Ardi dengan wajah sedikit ditekuk, namun Ardi menariknya hingga ia kembali duduk di atas pangkuan suaminya itu.
"Iya ... nanti aku coba ngomong sama ayah. Kamu jangan ngambek gitu dong ...." Ardi gemas dan memencet hidung Rianti.
"Auu sakit Mass!" sungut Rianti sambil menepiskan tangan Ardi.
"Aduh ... kasian. Sakit ya .... kalau yang ini pasti tidak sakit."
Ardi langsung memegang kepala bagian belakang Rianti dan mendaratkan bibirnya untuk menyambar bibir kesayangannya itu.
"Bukankah Mas mau ke kampus?" tanya Rianti.
Ardi melirik jam tangan milikknya.
"Bentar lagi ... baru jam 9 jadi masih ada waktu satu jam. Kita lanjut ya ... tanggung ni, lagi ada yang minta jatah." Ardi tersenyum genit sambil melirik miliknya yang ada di dalam celana.
Rianti hanya tersenyum malu karena tau apa yang dipinta suaminya itu. Ia pun mengangguk pelan. Ardi langsung terlihat senang dan menggendong tubuh Rianti masuk kedalam kamar untuk melanjutkan olahraga pagi, yang sebenarnya sudah tidak pagi lagi.
Suara erangan dan desahan menggema di dalam kamar. Setelah puas mendapat kenikmatan, merekapun terkulai lemas.
Rianti berbaring dipelukan sang suami.
"Iya Mas, aku gak apa-apa kok."
"Ya udah ... Mas siap-siap dulu ya. Nanti kalo kelamaan keburu si imin bangun lagi."
Mendengar ucapan Ardi sontak saja Rianti tersenyum geli dan mencubit pelan perut suaminya itu
*****
Di dalam toko.
Shinta terlihat gelisah karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, namun dirinya belum juga menerima gaji.
"Kelly, kamu udah nerima gaji belom?"
"Udah kok ... tadi sore, yang lain juga udah. Emangnya kamu belom ya?"
"Belom ...."
Shinta terdengar menghembuskan napasnya dengan kasar. Sedangkan Kelly berlalu pergi.
Tingggg
Satu notifikasi chat masuk di ponsel Shinta.
Rianti.
__ADS_1
Gimana? Udah ngomong sama pak Haikal?
"Hyuuffh ...."
Terdengar desahan putus asa dari mulut Shinta. Dan ia pun membalas pesan dari sahabatnya itu.
Shinta.
Belom ... gaji aku aja belom di kasih. Padahal yang lain udah semua.
Rianti.
Kamu ada ngasih tau dia, kalau kamu mau berenti?
Shinta.
Iya ada. Biar dia bisa cari pegawai baru buat gantiin aku, dan dia keliatan oke oke aja.
Rianti.
Hmm ... kamu hati-hati ya ... aku punya firasat buruk soalnya.
Setelah membaca pesan Rianti, hatinya semakin tidak karuan. Ia simpan ponselnya di bawah meja kasir.
"Shinta ... setelah toko di tutup kamu ke ruangan saya ya ... ambil gaji," ucap Haikal yang baru datang dari luar.
Shinta hanya mengangguk pelan dan mencoba menenangkan perasaan yang tiba-tiba merasa tidak enak.
Sedangkan Rianti juga terlihat gelisah. Ia berjalan mondar mandir sambil mencoba menelepon seseorang.
"Mas ... kamu di mana sih ... kok gak jawab telfon?" gumam Rianti dan ia masih mencoba menelepon namun masih saja tidak terhubung.
Mudahan tidak teradi apa-apa. Firasatku benar-benar tidak enak ....
Rianti masih modar mandir sambil berpikir apa yang harus ia lakukan.
Kriiiiing ... kriiiiingg ...
Suara telepon berbunyi dari ruang kerja yang ada di lantai atas. Ardi selalu melarangnya untuk naik ke sana namun sekarang ia memberanikan diri untuk naik dan mengangkat telpon.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Eh tumben terbuka. Biasanya terkunci.
Rianti meraih telpon dan mendekatkannya ke telinga.
"Hallo Ardi! Kamu kemana aja sih! Kenapa telpon aku gak kamu angkat! Kamu masih di rumah!" Terdengar seseorang sedang berteriak di seberang telepon dan langsung saja Rianti menjauhkan telepon itu dari telinganya.
****
Hollaa... mohon dukungannya ya ....
di like sama komen.. tengkyuuhh 😊😊
__ADS_1