
Veno duduk di balkon rumah. Ia melihat kertas tebal bergambarkan dirinya dan juga Shinta. Keduanya sedang berpose bak raja dan ratu yang sedang di mabuk cinta. Saling berpandangan dengan posisi Shinta berbaring dipangkuan. Begitu terlihat mesra nan indah apalagi dengan backgroud prewedding kursi tahta kerajaan. Veno tersenyum. Ia belai kertas undangan pernikahannya.
Terlintas kembali ingatan tentang kejadian yang lalu. Bagaimana ide konyol berhasil menipu sang mami hingga akhirnya merestui pernikahan mereka. Dengan bermodal plaster, lakban dan kantong berisi sedikit cairan berwarna darah, mampu meluluhkan hati ibunya yang begitu keras. Ia tau, jika hanya mengandalkan bujukan, sang mami tidak akan pernah peduli.
Tibalah hari persandingan.
Pesta yang bertemakan Wonderland di adakan di hotel Safira. Dekorasi megah nan indah bernuansa putih memenuhi ballroom hotel dengan lampu chandelier menghiasi langit-langit gedung. Pesta yang begitu trendi karena ada campur tangan Yulia di dalamnya.
Kedua mempelai begitu mempesona bak pangeran dan putri raja. Senyum keduanya begitu penuh arti. Ada kebahagiaan dan kesedihan dalam satu tarikan bibir itu. Mengigat betapa panjang jalan yang harus mereka lalui untuk bisa bersama.
Di malam ini, begitu banyak tamu undangan yang datang. Dari kalangan artis hingga disainer turut menghadiri pernikahan Veno. Bahkan banyak di antara kenalannya berkomentar betapa beruntung Yulia mendapatkan Shinta. Gadis belia nan cantik untuk menjadi menantu. Sedikit mengobati egonya yang sudah terluka.
***
Veno membungkuk. Membuka pintu mobil.
"Mi, terima kasih banyak," ujar Veno seraya memandang wajah sang Mami. Nampak ada sedikit kesedihan di bola mata coklat wanita yang telah melahirkan dirinya.
Yulia hanya diam. Memalingkan wajah. Lagi-lagi keangkuhan yang sudah seperti mendarah daging tak membiarkannya tersenyum maupun bicara. Namun, dalam relung hati, ia tetap merestui pernikahan itu. Berharap pernikahan sang anak selalu bahagia hingga akhir hayat.
"Ayo Pak, berangkat!" titah Yulia yang masih terdengar angkuh.
Mobil pun bergerak perlahan meninggalakan hotel. Veno melambaikan tangan kepada sang mami yang akan kembali ke Amerika.
****
__ADS_1
Di dalam kamar hotel. Shinta telah mengganti gaunnya yang berat dengan baju tidur. Lebih tepatnya lengerie yang disediakan oleh pihak hotel.
Ia duduk memandang pantulan wajahnya di dalam cermin. Keringat dingin mulai mengucur deras. Berkali-kali ia seka wajahnya dengan tisu. Shinta gelisah. Mengingat dirinya yang sekarang sudah sah menjadi seorang istri. Apalagi dengan baju tidur yang super tipis, membuatnya bergidik ngeri, membayangkan apa yang harus ia lakukan malam ini.
Dert ... dert ....
Ponselnya bergetar dan tertera nama Rianti di sana.
"Hallo, Shin. Sorry ya aku gak bisa dateng. Soalnya badan aku udah berat banget," kata Rianti yang ada di seberang telepon. Ia begitu menyesal tak bisa hadir di pernikahan sahabat sekaligus iparnya.
"Iya Ri. Gak apa-apa," jawab Shinta singkat. Suaranya terdengar bergetar.
"Kenapa? gugup ya?" ucap Rianti, menggoda.
Shinta menarik napas panjang. Ia tak ingin bercanda di saat dirinya sedang gusar.
Rianti terkekeh geli. Mendengar suara tak ramah Shinta membuatnya ingin lebih menjahilinya.
"Eh Shin. Malam pertama itu sakit loh. Percaya deh sama aku," ucap Rianti dengan suara yang terdengar serius. Membuat Shinta mengernyitkan dahi dan memijitnya perlahan. Tak di pungkiri itulah yang menjadi ketakutannya di malam ini.
"Dulu kamu bilang rasanya kayak tubuh terbelah dua. Tapi sebenarnya lebih dari itu."
Shinta masih terdiam. Kini ia gigit kuku jarinya. Sesekali menahan napas.
"Sakitnya itu menjalar ampe ke ubun-ubun. Perih, sakit, nyeri. Kaya kaki cantengan tapi dipaksa pake sepatu. Ngiluuuu," imbuh Rianti lagi yang terdengar begitu antusias menggoda sahabatnya.
__ADS_1
Bibir Shinta bergetar. Jantung mulai berdetak cepat. Mendengar celotehan Rianti membuat nyalinya makin menciut.
"Ih paan sih. Udah ah aku tutup!"
Dengan kasar ia tekan layar ponsel itu. Meletakkannya di atas meja rias hotel. Wajahnya semakin pasi ketika melihat pantulan wajah Veno yang sudah berdiri di belakang. Ia bediri, membalik posisi dan menghadap Veno.
"Mas sejak kapan di situ?" tanya Shinta yang makin terlihat gugup.
"Baru aja kok. Tapi kenapa wajah kamu jadi pucet begitu. Mang siapa yang nelfon?" tanya Veno seraya mendekat, heran akan gelagat Shinta. ia lap bulir air yang menempel di dahi Shinta dengan tisu yang ada di sana.
"Oh ... itu Rianti," jawab Shinta sekenanya. Ia berusaha menyembunyikan ketakutan yang semakin menjadi.
Veno hanya ber 'oh' tanpa bersuara. Ia pandangi wajah Shinta dengan intens. Wajah tirus nan mulus yang kini sudah sah menjadi miliknya. Ia angkat dagu Shinta dan menatap lekat manik mata itu. "Kamu cantik, Beb ..." lirihnya.
Shinta mematung. Mengerjap berkali-kali. Tabuhan jantungnya semakin menjadi hingga rasanya kakinya mendadak lemas. Ia perlahan menggeser tubuh, hendak pergi. Namun, Veno dengan cepat menarik tangan Shinta hingga tubuh keduanya menempel dengan sempurna.
Shinta kembali tercekat. Ingin bersuara namun Veno terlebih dahulu menggendongnya tanpa mengalihkan pandangan. Tatapan apa itu? Batin Shinta makin bergejolak. Apalagi ocehan Rianti masih begitu kuat terdengar di telinga.
"Mas, mau ngapain? Kenapa aku digendong?" tanyanya pura-pura tak tau.
Veno tersenyum. Ia gemas akan ekspresi Shinta yang terlihat jelas kalau sedang cemas. Ia masih berjalan dan meletakkan tubuh Istrinya di atas ranjang yang sudah bertabur kelopak bunga berwarna merah.
Shinta berbaring, meraih selimut dan mengeratkannya ke dada. Ia masih memandang serius pada Veno yang sudah membuka jas dan kemeja.
"Mas mau ngapain?" tanya Shinta lagi. Degupan di dada semakin menggila. Beberapa kali ia telan saliva-nya dengan susah payah.
__ADS_1
"Mau minta yang ada di otak kamu?" sahut Veno, ambigu.