Duren Sawit

Duren Sawit
Tau segalanya


__ADS_3

****


Rianti kembali menutup mulutnya yang setengah menganga. Ia tak menyangka Ardi akan melamarnya dengan begitu romantis bak drama korea yang pernah ia tonton. Rianti terharu dan tidak sadar menitikkan air mata setelah melihat Ardi berlutut dan membuka kotak kecil berisi cincin berlian yang entah berapa karat. Jantungnya berdegup kencang, bibirnya pun tersenyum lebar, dengan cepat ia menjawab.


"Yes, I do ...."


Ardi tersenyum bahagia mendapat jawaban dari Rianti, begitu pula Rianti yang tak kalah bahagia mendapatkan Ardi, suami yang seperti malaikat tak bersayap baginya.


Ardi berdiri, memasangkan cincin di jari manis lalu mencium dengan lembut punggung tangan Rianti.


"Mas, aku sungguh bahagia?" ucap Rianti.


Ardi berdiri dan memeluk tubuh wanitanya.


Menghapus air mata Rianti yang kembali mengalir. Ia mencium pipi kiri dan kanan Rianti dengan lembut, lalu kemudian berakhir di bibir. Terdengar sorak sorai dari karyawan restoran yang menyaksikan suksesnya lamaran Ardi.


Di sepanjang jalan, Rianti tak henti-hentinya tersenyum, sesekali ia pandang wajah suami yang sudah melamarnya dua kali. Dan dua kali juga ia tak bisa menolaknya.


"Kenapa?" tanya Ardi yang mengetahui kalau Rianti sedang menatap dirinya tanpa berkedip.


"Aku bahagia Mas, sungguh bahagia. Aku merasa manusia paling hoki di dunia ini. Dikelilingi orang-orang yang baik dan kamu adalah yang baik dari yang terbaik," ucapnya sambil menunjukkan dua jempol tangannya, lalu tersenyum senang.


Ardi meraih tangan kanan Rianti dan menciumnya dengan pelan.


"Sebenarnya Mas yang merasa paling beruntung karena memilikimu, Sayang," ucapnya sambil mengedipkan mata.


Rianti menjadi gemas dan mencubit bahu suaminya itu.


"Dasar Gombal."


"Tapi kamu suka kaaan," goda Ardi sambil terkekeh geli.


Pipi Rianti semakin merah merona bak tomat yang ada di iklan sarden.


"Iih Mas apaan sih. Gak kok ... biasa aja," elak Rianti sambil menahan malu.


"Ce elaa ... mulut bisa bilang tidak. Tapi pipi kamu ini lho ... bukti nyata," ucapnya sambil menyentuh pipi Rianti yang semakin merah karena di goda Ardi.

__ADS_1


"Ihhh Mas ... udah ah. Aku kan jadi malu," ucap Rianti kemudian dan direspon tawa ardi yang semakin lepas.


Rianti hanya tersenyum melihat suaminya tertawa seperti itu yang menambah level ketampanan Ardi.


Aku sungguh senang, Mas. Super duper amat bahagia.


Ardi menghentikan laju mobilnya dan memasuki sebuah rumah yang bertuliskan 'MOTEL HAPPY'.


"Lha Mas kenapa kita ke sini? Bukankah katanya mau ke hotel?" tanya Rianti seraya melepaskan sabuk pengaman.


"Hotelnya masih jauh, sedangkan Mas


sudah kelelahan. Gak apa kan kalo malam ini kita nginap di sini?" pinta Ardi. Dan Rianti hanya mengangguk pelan.


Ardi membuka bagasi mobilnya.


"Ngapain lagi, Mas?"


Rianti heran suaminya membuka bagasi dan mengeluarkan tas tangan yang lumayan besar.


"Bawa perlengkapan tempur," jawabnya sambil tertawa kecil.


Wajah Rianti mulai cemberut. Ardi yang melihat ekspresi menggemaskan itu pun tersenyum dan mengacak-acak pucuk rambut Rianti.


"Ini perlengkapan kita untuk menginap ... bagaimana? Mas pinterkan." Lagi-lagi Ardi mengedipkan mata dan di balas pukulan kecil dari Rianti yang mendarat tepat di bahu kekarnya.


"Kan sudah Mas bilang ... menjadi duda itu bukan dosa, malah menyenangkan karena telah berpengalaman," imbuhnya lagi sambil memegang bahu Rianti dan menuntunnya masuk ke dalam motel.


Awalnya pemilik motel mencurigai pasangan yang beda usia itu, tapi setelah Ardi menunjukkan coppy-an buku nikah, barulah mereka mendapat lampu hijau dari si empunya motel.


Ardi duduk di kasur dan melihat ponselnya dan sekali-kali men-scroll layarnya.


"Kenapa belum tidur, Mas?" tanya Rianti yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya memakai bathrobs pink miliknya. Ia berjalan melewati Ardi dan langsung duduk di depan meja rias, menggosok-gosok rambutnya agar cepat mengering.


"Ini ... Mas lagi liat foto nikah kita. Wajah kamu lucu tau gak, udah kaya naik roller coaster ... tengang banget." Kelakar Ardi sambil tertawa.


Rianti tak percaya dengan ucapan Ardi, ia pun merampas paksa ponsel itu dan melihat foto mereka. Ekspresi Rianti yang awalnya terlihat galak, kini berubah 180 derajat. Ia kembalikan ponsel itu sambil menahan rasa malunya.

__ADS_1


"Hahaha ... bagaimana? Mas tidak bohong, bukan," ucap Ardi setelah melihat perubahan ekspresi Rianti.


Rianti hendak kembali ke meja rias namun pinggangnya terlebih dahulu di tarik Ardi hingga dia duduk tepat di pangkuan suaminya itu.


"Nanti pas acara resepsi jangan tegang ... santai saja, ya ...."


Ardi mengeratkan pelukan dan mencium punggung tubuh Rianti yang masih menggunakan bathrobs.


Rianti terdiam sejenak. Ia teringat dengan keluarganya.


"Mas tau gak kapan terakhir aku ke pantai?"


Ardi terdiam dan masih memeluk Rianti dari belakang.


"Terakhir aku dan Shinta ke pantai kalau gak salah sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi entah bagaimana caranya bapak bisa tau, dan aku di hukum gak boleh pegang ponsel selama sebulan," ucap Rianti mengenang masa lalu yang pahit namun ia justru merindukannya.


Aku tau ... aku tau segalanya tentangmu, batin Ardi. Ia pun makin mengeratkan pelukannya.


"Mas ... itu aku ... emb ...."


Rianti terlihat ragu untuk berbicara.


Ardi membalik tubuh kecil Rianti hingga menghadapnya.


"Besok kita ke sana. Mas tau, kamu merindukan orang tuamu, kan?"


Rianti pun mangangguk dan tersenyum bahagia, mendapati suaminya tau apa yang ada di pikirannya tanpa ia utarakan.


Melihat senyum yang terukir di wajah Rianti membuat naluri kelelakiannya mulai meronta hebat. Ia tak bisa menahan diri saat bersama dengan wanita yang telah ikhlas merelakan masa mudanya itu. Ia pegang dagu Rianti dan mendaratkan kecupan lembut di sana.


"Sayang ... Mas menginginkanmu."


Rianti tersenyum tanda setuju. Ia juga sudah menahan gejolak api cintanya sejak berada restoran tadi. Entah apa yang merasuki dirinya hingga berani mengambil inisiatif terlebih dulu.


"Sayang ... kamu hebat."


Rianti terlihat malu dan wajahnya kembali merona. Ia juga tak menyangka dia bisa seberani itu.

__ADS_1


"Entah lah Mas ... sepertinya didemit genit penghuni pantai telah merasukiku."


.


__ADS_2