
Sebulan kemudian.
Shinta memasuki halaman rumah Ardi dan Rianti.
Meskipun sudah beberapa kali ke sana, Shinta masih terlihat takjub akan rumah megah dan halaman yang luas milik Ardi. Apa lagi di hias dengan berbagai macam bunga membuat rumah itu terlihat makin indah dan nyaman.
Shinta menekan bel dan terdengar seseorang membuka pintu dari dalam.
"Riri ada, Bik?" tanya Shinta ramah kepada Minah yang membukakan pintu untuknya.
"Nyonya lagi di kamar, Non. Ayo silakan masuk dulu?" jawab Minah sopan.
Shinta pun masuk mengikuti Minah menuju ruang tamu. Sambil menunggu Rianti keluar, Shinta mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi facebook.
"Hmm ... bikin status apa ya?" Shinta terlihat berpikir tapi tidak lama ia pun kembali tersenyum.
"Tulis ini aja deh. 'Aku laksana bulan yang akan selalu menyinari malammu yang gelap, walaupun kau tak suka dengan hadirku, tetap saja aku akan menyinarimu sampai kau bisa menerima cahayaku dengan tatapan bahagia darimu'. Idih ... gak nyangka aku bisa puitis juga."
Shinta pun tersenyum setelah mengirim status di beranda facebooknya.
Shinta masih asik dengan ponselnya. Melihat postingan teman-teman yang tidak semua ia kenal. Masuk satu notifikasi pemberitahuan. Sebuah akun bernama Dewa meloholic mengomentari statusnya. Ia tak heran dengan akun tersebut, kerena sudah hampir dua mingguan ini mereka sering membalas komentar di media sosial. Baik di facebook maupun instagram.
"Aku laksana ombak yang akan mengombang-ambingkan cintamu sehingga akhirnya kau akan mabuk kepayang karenaku." Dewa meloholic
Shinta tersenyum membaca balasan dari statusnya. Ia pun kembali membalas komentar itu.
"Aku laksana Matahari yang akan membakar kulitmu. Namun ketika ku tidak ada, kau akan resah menunggu sinarku." Shinta.
"Aku laksana hujan yang akan membasahi tubuhmu hingga kau kedinginan. Tapi ketika ku tak ada, kau akan ketar ketir menungguku turun. Dewa meloholic.
"Hey lagi ngapain sih ... senyam-senyum begitu," ucap Rianti yang baru keluar dari dalam kamarnya.
Shinta masih teelihat asik dengan ponselnya.
"Bentar ya ... aku balas komentar dulu."
"Aku laksana pisau yang siap sedia melukaimu. Tapi ketika ku tak ada, kau tak akan bisa melanjutkan hidupmu."
Shinta pun menyimpan kembali ponsel di dalam tas tangan miliknya. Ia melihat Rianti yang sudah cantik menggunakan dres selutut berwarna merah muda.
"Eh udah keluar juga ternyata. Aku kira kamu lagi semedi di dalam."
Rianti hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sory deh ... aku lagi mandi soalnya."
"Begh ... dulu paling anti berlama-lama di kamar mandi. Lah sekarang malah jadi ratu mandi." goda Shinta.
Rianti pun menyadari atas perubahan yang terjadi. Ia yang dulunya cuek sekarang menjadi lebih teliti. Termasuk dalam hal penampilan. Ia selalu berdandan rapi dan cantik untuk menyambut kepulangan Ardi. Walaupun dengan sikap posesif Ardi yang melarangnya keluar rumah, tak membuat Rianti marah. Karena ia juga paham kalau itu demi kebaikannya. Dan ketika ia merasa sepi dan jenuh, Shinta dengan senang hati menemani dirinya setelah pulang bekerja.
Dari arah dapur, Minah membawa minuman dingin dan cemilan untuk tamu Rianti.
"Silakan Nyonya ... Non Shinta," ucap Minah sembari mengeluarkan 2 gelas jus apel dan cemilan di atas meja lalu kembali ke dapur.
"Aku kok rasanya aneh ya dipanggil non sama orang yang lebih tua." ucap Rianti ketika Minah sudah tidak ada lagi di dekat mereka.
"Kamu aja gk enak ati. Apa lagi aku yang hari-hari di panggil nyonya. Tapi kalau aku suruh mereka panggil aku dengan nama aja, malah mereka yang kelihatan tidak nyaman."
Shinta hanya manggut-manggut sambil menikmati cemilan yang ada di atas meja.
"Oiya, kenapa kamu nyuruh aku kemari, Ri?" tanya Shinta setelah menelan makanannya.
Rianti masuk ke dalam kamar kemudian keluar dengan membawa sebuah kotak yang agak besar.
"Karena ini."
Rianti meletakkan kotak tersebut di atas meja, dan memberikan selembar kertas undangan resepsi pernikahannya dengan sang suami.
"Trus itu apa?"
Shinta melirik kotak yang berbungkus kertas bergambar hello kitty.
Rianti mendorong kotak tersebut ke arah Shinta.
"Ini kado ulang tahun dariku."
Shinta terlihat cemberut namun tetap memperhatikan kado yang ada di hadapannya.
"Aku kira kamu lupa. Aku ngerasa sudah sebulanan ini kamu menjauh. Bales WA lama, trus kalo nelpon gak pernah di angkat."
Rianti beranjak dari sofa dan mendekat ke arah Shinta. Ia tau kalau sahabatnya itu sedang merajuk karena sudah jarang di perhatikan. Ia rangkul bahu Shinta.
"Sory deh ... bukan maksud aku mau menjauh atau melupakan kamu. Hanya saja aku sedang melakukan tugasku sebagai istri makanya slow respon."
Wajah Rianti merona mengingat kegiatan ranjangnya yang hampir tidak mengenal waktu. Setiap suaminya itu mintah jatah, ia pun menurutinya tanpa bisa menolak.
"Tugas apa? Terus kenapa muka kamu merah gini?"
__ADS_1
Shinta meletakkan tangan kanannya di dahi Rianti.
"Tapi gak demam kok," ucapnya heran.
"Ahh jangan di bahas lagi, kamu akan tau setelah menikah nanti."
Shinta masih terlihat heran namun Rianti langsung memeluk tubuhnya.
"Selamat ulang tahun ya ... semoga apa yang kamu inginkan tercapai ... panjang umur, murah rejeki dan melimpah makmur," ucap Rianti dan kemudian melepaskan pelukan.
"Amiinnn." Shinta pun terseyum melihat ketulusan di wajah sahabatnya itu.
"Oiya, itu apa isinya?"
"Buka aja. Itu hadiah spesial buat kamu," ucap Rianti sambil beranjak dari sofa karena terdengar seseorang menekan bel rumahnya.
Rianti membuka pintu dan melihat sang suami yang berada di sana.
"Mas udah pulang."
Ia mengambil tas suaminya sambil tersenyum manis.
Ardi mengangguk pelan kemudian mendorong pelan tubuh istrinya itu hingga menyentuh dinding. Ia langsung menyambar bibir yang barusan tersenyum manis padanya.
Rianti yang lagi-lagi di serang dadakan seperti itu tak bisa menghindar karena leher dan pingggangnya sudah di peluk erat oleh Ardi. Ia mencoba melepaskan diri karena Shinta masih ada di rumahnya.
Sedangkan Shinta yang melihat Adegan panas pasutri itu hanya terdiam mematung dan membuatnya sedikit malu. Kegiatan yang biasa hanya bisa ia lihat di dalam drama kini bisa ia tonton secara live tanpa jeda iklan.
"Ekhemm."
Shinta sengaja membuat suara agar kegiatan mereka terhenti sejenak. Ia ingin pamit pulang, karena tau sepertinya Ardi menginginkan sesuatu yang lebih dari bibir Rianti.
Ardi menghentikan kegiatannya mesumnya. Ia sebenarnya kaget melihat Shinta berada di sana namun mencoba biasa saja.
"Ada Shinta ternyata. Ya udah, Mas tinggal ya ... lanjutin aja ngobrolnya."
Ardi pun berlalu menuju kamar dan meninggalkan mereka di ruang tamu.
Shinta membawa kotak kado dan menghampiri Rianti yang terlihat masih mengatur napas. Wajahnya kembali merona menahan malu di depan Shinta.
Shinta pun berbisik ke telinga Rianti.
"Sekarang aku mengerti kenapa kamu selalu lama membalas pesanku."
__ADS_1