
Rianti tidak menyadari bahwa orang yang ada di dekatnya itu telah mengeluarkan senjata tajam jenis belati kerambit. Ia masih sibuk memungut semua bukunya yang berserakan.
"Riri, kamu ngapain di situ!" seru Andra yang berada di ambang pintu rumahnya.
Merasa ada orang lain di sana, pria misterius itu kembali memasukkan senjatanya di balik jaket kemudian berjalan menjauh dari Rianti.
Sedangkan Rianti benar-benar tidak menyadari bahwa ada bahaya sedang mengancam keselamatannya.
"Iya Bang, bentar!" teriak Rianti yang masih merapikan semua bukunya yang terkena pasir dan debu.
Rianti berjalan menghampiri Andra tanpa melihat wajah orang yang barusan di tabraknya. Ia cium punggung tangan Andra.
"Lah, mana Shinta?" tanya Andra keheranan.
"Aku gak tau Bang. Dia ninggalin aku sendirian di UKS, tadi aja aku pulangnya dianterin pak Ardi. Guru baru di sekolah," jujur Rianti.
Mendengar nama Ardi, mendadak andra menjadi marah.
"Ardi Mahendra Abbas?" tanya Andra dengan mata yang sedikit terbuka lebar.
Rianti hanya mengangguk pelan, tidak paham maksud tatapan Andra.
Ah ngapain lagi si kunyuk itu. Apa lagi rencananya sekarang? batin Andra menggeram, hingga terdengarlah suara gemeretak dari dalam mulutnya.
Rianti masih bingung, mencoba menebak-nebak ekspresi Andra.
Tidak lama kemudian berhentilah sebuah mobil sport di depan rumah mereka. Veno keluar mobil dan membukakan pintu untuk gadis pujaannya.
Shinta dengan wajah di tekuk keluar dari mobil Veno, ia membawa banyak bag paper ditangan. Dia begitu kesal, bukannya di antar pulang, Veno malah membawanya keliling mall dan membelikannya begitu banyak pakaian dan alat make up.
"Ini terimalah, aku sudah tidak jadi karyawan magang lagi. Sekarang aku udah sah jadi penerus papi," ucapnya sambil tersenyum bangga.
Tentu saja Shinta menolak dengan tegas pemberian itu, namun akhirnya ia terima juga karena Veno selalu mengancam akan mencium dirinya.
"Shinta!" ucap Andra dan Rianti yang hampir bersamaan. Andra tidak mengerti kenapa bisa Shinta bersama Veno, sedangkan yang ia tau Shinta sedang dekat dengan temannya, Toni.
Veno mengikuti langkah Shinta menuju tempat Andra dan Rianti berdiri.
"Selamat sore, Riri, Bang Andra," ucapnya ramah.
Andra yang dipanggil abang tentu saja bergidik geli. Pasalnya umur Veno lebih tua dua tahun darinya.
__ADS_1
"Kalian dari mana? Kenapa jam segini baru pulang!" tanya Andra yang memang tidak senang ketika Shinta berhubungan dengan keluarga Ardi.
"Maaf, Bang. Bami tadi kami jalan-jalan sebentar," ucap Veno yang masih memasang senyuman ramah
Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Andra dan Shinta. Mereka terdiam seakan malas untuk menyahut perkataan Veno.
"Gak masuk dulu, Mas?" tawar Rianti mencoba mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Lain kali aja, Ri. Saya masih ada urusan. Kalau begitu saya pamit ya," ucap Veno dan ia pun langsung berlalu pergi mengendarai mobil mewahnya.
****
Ardi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Matanya memerah, dan tangan sesekali memukul setir kemudinya.
"Sialan kamu Heru! Ternyata kamu dalangnya!" desis Ardi. Ia menggeram, hatinya menjadi tidak tenang setelah mendapatkan informasi dari detektiv swasta yang ia sewa.
Setengah jam kemudian.
Ardi telah duduk berhadapan dengan Heru di sebuah ruangan kosong. Hanya ada mereka berdua di sana dan di pisahkan oleh meja yang lumayan panjang. Ardi memandang tajam pada Heru yang menggunakan seragam khusus tahanan yang berwarna orange.
Hatinya mendidih setelah tau bahwa Heru lah yang menyuruh orang untuk meletakkan foto masa lalunya dan juga mendorong Rianti dari tangga hingga Rianti mengalami keguguran.
Sedangkan Heru terlihat menyeringai licik seakan tahu apa yang ada di fikiran Ardi.
Ardi masih terdiam menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubunnya. Ia ingin tau sebenarnya apa yang di inginkan Heru.
"Apakah pesta pernikahan keduamu lancar?" tanya Heru dengan wajah datarnya.
"Oo iya aku dengar istri kecilmu itu keguguran ya ... dan sekarang mengalami amnesia." ucapnya sambil menahan tawa.
Ardi masih menggeram. Rahangnya mengatup kuat hingga terdengarlah suara benturan keras dari gigi-giginya.
"Ckckck ... kasihan sekali kalian," ucap Heru yang memasang wajah sedih namun tidak lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha ...."
Heru pandangi lagi wajah Ardi yang sedang menahan emosi, terukirlah senyum puas di wajahnya.
"Tangismu adalah bahagiaku!'' ucapnya lagi.
Brugh!!!
__ADS_1
Ardi menggeprak meja dengan kuat.
"Dasar psikopat!" desisnya Ardi meradang.
Ardi beranjak dari kursi dan berjalan menghampir Heru. Ia cengkram kuat kerah baju Heru hingga Heru pun berdiri dari kursinya.
"Kau! Apa yang sebenarnya kau inginkan!" bentak Ardi. Ia sudah tidak tahan dan ingin sekali memukul wajah orang yang mencelakai istrinya tersayangnya.
"Uuu ... seraaaam," ucapnya sambil menggerak-gerakkan tangan seolah sedang gemetar karena takut.
Heru lagi-lagi tersenyum licik dan menepiskan tangan Ardi dari bajunya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Bukankah kau sudah melihatnya sendiri, aku dan bawahanku yang bodoh itu telah berada di dalam penjara. Jadi apa yang bisa aku lakukan?" ucap Heru yang terdengar ambigu di telinga Ardi.
Heru rapikan kemeja Ardi, seolah sedang berhadapan dengan seorang adik. Ia rapikan kerah baju dan membersihkan debu yang menempel di kemeja Ardi.
"Kau tidak akan pernah bahagia selama aku masih hidup!" ucap Heru dengan nada penuh penekanan.
"Kau pikir bagaimana bisa aku tau seluruh situasimu?"
"Tentu saja aku tau. Aku tau segalanya. Di saat kau mengawasi gadis itu, selama itu juga aku juga telah mengamatimu."
"Dua belas tahun aku di bui karena kamu dan wanita itu ( Stella). Kau pikir aku akan diam dan merenungkan kesalahanku."
"Tidak!!! Aku tidak bersalah jadi untuk apa aku di hukum!" ucap Heru yang terlihat menggeram.
Heru mendekatkan bibirnya ke telinga Ardi.
"Kau bertanya bagaimana aku bisa melakukannya? Tentu saja bisa! Di dunia ini tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan uang. Bukankah kau juga tau itu. Buktinya kau bisa menjenguk teman baikmu ini padahal jam kunjungan telah lama berakhir." Seringaian terlihat jelas di wajah tak terurus Heru.
Ardi menggeram dan menarik kerah baju Heru kembali. "Kau!"
"Sttt .... jangan bising-bising," ucap Heru sambil tertawa hambar. Ardi semakin naik pitam dan hampir saja memukul wajah Heru.
"Aku telah membayar suruhan yang paling kompeten. Kau tidak akan bisa menangkapnya Ardi. Jadi bagaimana bisa kau membuktikan kesalahanku," bisik Heru lagi.
Heru tepiskan tangan Ardi dari tubuhnya dan memegang bahu tegap Ardi.
"Berhati-hatilah, temanku itu sangat baik hati. Ia pasti bisa melenyapkan Istrimu tanpa memberikan rasa sakit."
****
__ADS_1
Hai kawan ....
Jangan lupa like komen dan vote nya ya.