Duren Sawit

Duren Sawit
Grogi


__ADS_3

Di dalam mobil menuju arah pulang, Rianti tak henti-hentinya tersenyum, ia meraba-raba kalung yang ada di lehernya dan sesekali melihat wajahnya di dalam cermin.


"Sayang ... kamu senang?"


Pertanyaan Ardi dijawab dengan anggukan oleh Rianti.


"Ia Mas, aku seneng banget. Aku tidak tau ternyata aku juga bisa matre begini," jawab Rianti sembari membalas senyum manis suaminya.


"Itu bukan matre sayang ... itu namanya naluri. Wanita memang menyukai segala sesuatu yang indah-indah termasuk perhiasan," terang Ardi seraya tersenyum tipis.


"Tapi kamu terlalu banyak memberiku perhiasan Mas. Waktu lamaran saja ada 5 set perhiasan, terus pas nikah juga ada 7 set perhiasan, nah sekarang ada lagi. Lama-lama mungkin aku bisa membuka toko perhiasan sendiri," ucap Rianti sambil terkekeh geli.


"Tidak mengapa kalau kamu mau buka toko perhiasan. Asal jangan toko cinta aja, karena mulai sekarang, selain perhiasan aku juga akan sering memberikanmu cinta." Kini senyuman Ardi terlihat lebih mengembang. Ia gemas dengan istri kecilnya itu.


Mendengar penuturan sang suami membuat Rianti malu. Ia tidak pernah mendengar orang berkata semanis itu padanya.


Ya ampun Mas ... meleleh hatiku tuh.


"Oh ya Mas, Veno itu siapanya kamu?" tanya Rianti yang memang sudah lama ingin tau.


"Dia sepupu Mas, kenapa? Apa kamu menyukainya?" tanya Ardi yang mulai sedikit cemburu mendengar istrinya membahas pria lain.


"Tidak, bukan begitu Mas. Veno itu laki-laki yang di sukai oleh Shinta. Kalau bisa, aku mau menjodohkan mereka," jawab Rianti.


"Tidak perlu, aku tau tipe perempuan yang Veno suka, dan dia tidak menyukai gadis muda seperti Shinta, lagi pula dia itu playboy, mending jauh-jauh dari dia," tutur Ardi mengingatkan istrinya itu.


Rianti memutar bola matanya dan menatap tajam ke arah Ardi.


"Dari mana Mas tau kalau Shinta itu masih muda, padahal aku belum pernah mengenalkan kalian?" tanyanya secara beruntun.


Ardi menjadi gugup setelah ia ditanya seperti itu oleh sang istri.


"Cuma menebak saja."


Rianti hanya mengangguk pelan dan perasaan curiga pun hilang.


Bodoh!!! Hampir saja keceplosan. Rutuk Ardi kepada dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian mereka pun tiba di rumah.


"Mas mau ke atas dulu, melanjutkan pekerjaan. Kamu mandilah lalu istirahat," ucap Ardi dan dia pun berjalan menuju ke lantai atas rumah mereka.

__ADS_1


Rianti hanya mengangguk paham dan melakukan apa yang di perintahkan suaminya. Ia pun menuju kamar mandi yang berada di luar kamar. Sehabis mandi ia baru ingat kalau tidak membawa baju ganti, yang ia bawa hanya handuk kecil yang cuma bisa menutupi bagian dada dan pahanya saja.


Rianti memukul kepalanya sendiri.


Dasar ceroboh! Kenapa aku bisa lupa untuk membawa baju ganti sih.


Rianti mencoba mengintip, takut kalau masih ada Ardi di sana.


"Sepertinya dia masih di atas," guman Rianti.


Ia pun berjalan perlahan sambil menjinjitkan kakinya seperti seorang pencuri yang takut kalau ketahuan. Tapi tanpa Rianti sadari, ternyata Ardi melihat dirinya yang hanya menggunakan handuk dan rambut yang masih basah berjalan perlahan menuju kamar mereka.


"Kamu benar-benar menggoda," ucap Ardi dan terlihat senyuman menyeringai di wajahnya.


Di dalam kamar, Rianti sudah siap dengan baju tidur. Piyama berlengan panjang berwarna biru.


"Udah selesai, Mas?" tanya Rianti yang melihat Ardi masuk ke dalam kamar dan meraih handuk yang tergantung di balik pintu.


"Hmm ... " jawab Ardi singkat.


Setelah Ardi keluar kamar, Rianti mengambil ponsel dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil membuka facebook yang sudah lama tidak ia gunakan. Ia terkejut saat ada 10 pesan yang masuk dari akun yang bernama Rilovin forever.


"Siapa ini? Rasanya aku tidak kenal dengan seseorang yang bernama Rilovin,"


Rilovin forever.


Ri kamu di mana?


Kenapa tidak masuk kerja?


Aku merindukanmu sayang.


Ri, bales dong pesanku ini.


Riri.


Sayang.


I love you.


Bales dong.

__ADS_1


Rinduku udah akut nih.


Rianti, tolonglah cepet bales pesan dan cintaku.


Merasa tidak mengenal akun itu, Rianti memilih mengabaikannya dan langsung mencharger ponselnya di atas nakas.


Ardi yang sudah selesai dengan ritual mandinya kembali ke dalam kamar hanya dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggang.


Rianti yang tak sengaja melihat dada bidang sang suami menjadi salah tingkah dan wajahnya bersemu memerah.


"Udah selesai, Mas?" tanya Rianti berbasa-basi.


Rianti pun langsung merebahkan tubuhnya dan menutup dirinya dengan selimut.


"Ya ampun ... kenapa aku jadi gugup begini." batin Rianti.


Ardi yang memperhatikan tingkah malu-malu itu membuatnya tersenyum gemas.


Dengan handuk yang masih melingkar di pinggang, ia pun naik ke ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri.


Rianti semakin gugup ketika merasa Ardi berada di belakangnya. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, dan sama sekali tidak bergerak. Sedangkan jantungnya berdetak begitu cepat hingga membuatnya kesulitan bernapas.


Ardi yang semula memandang langit-langit kamar perlahan memejamkan mata, menertalisir hasrat kelelakiannya yang bergejolak minta disalurkan. Namun sepertinya hasrat yang membuncah tak mampu ia tahan. Ia mengubah posisi dan memandang punggung Rianti.


"Sayang ... kamu sudah tidur?" tanya Ardi. Rianti yang mendengar suara berat suaminya itu semakin memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tau kalau melayani suami di atas ranjang adalah kewajiban apalagi ini adalah malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Namun, tetap saja ia belum siap, apalagi Shinta mengatakan kalau rasanya pasti akan sakit. Keberanian Rianti semakin menciut dan memilih pura-pura tidur.


Ardi yang merasa tidak mendengar jawaban dari Rianti menggeser tubuhnya dan mendekat, merapikan rambut Rianti yang berantakan.


"Sayang ... " panggilnya lagi. Kini kecupan lembut mendarat di leher Rianti, membuat Rianti terkejut namun masih tidak berani membuka mata. Ia semakin memeluk erat guling dan tangan yang mulai berkeringat.


"Ibuk ... Riri takut," batin Rianti.


Merasa tidak di respon sang istri tak membuat Ardi patah semangat, malah menjadi semakin menginginkannya. Ia sebenarnya tau kalau Rianti belum tidur.


Kini tangan Ardi masuk ke dalam selimut untuk memeluk pinggang Rianti dan merapatkan tubuh bagian bawahnya.


Rianti semakin terkejut saat di peluk apalagi merasa ada yang mengeras di bawah sana.


Ardi mulai menghirup aroma rambut Rianti, dan menarik tubuh Rianti hingga terlentang.


"Bukalah matamu, Mas tau kamu belum tidur, kan?" ucap Ardi sambil menatap mata istrinya yang terpejam.

__ADS_1


Rianti yang sudah tertangkap basah membuka matanya perlahan dan melihat wajah sang suami yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Mas udah tau?" tanya Rianti sambil memaksakan senyumnya. Melihat wajah sang suami yang begitu dekat membuat rasa takutnya semakin menjadi. Ia terus-terusan berdoa agar Ardi tidak menyentuhnya untuk malam ini.


__ADS_2