Duren Sawit

Duren Sawit
Say no to pelakor!


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir fitting baju pengantin. Selama kurang lebih 2 bulan mereka sering bolak balik ke butik hanya untuk mengepaskan ukuran baju pengantin Rianti. Maklum, dengan tubuh yang mungil membuat perancang busana sedikit kesulitan membuat pakaian yang pas di tubuh Rianti.


Setelah semua siap. Rianti berjalan menghampiri sang suami. Ia perlihatkan gaun pilihannya dan beberapa kali memutar tubuhnya sendiri.


"Bagaimana Mas, aku cantik gak?"


Terlihat senyuman yang merekah indah di wajahnya.


Ardi memendang istrinya dengan tatapan kagum. Ia begitu terpesona melihat penampilan Rianti yg begitu cantik dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih dengan disain A-line melekat di pinggul dan sedikit mengembang di bagian pinggang, kemudian melebar sampai mata kaki seperti huruf a besar.


"Kamu begitu cantik," ucap Ardi tanpa berkedip dan bibir yang tak berhenti tersenyum.


"Kamu seperti bidadari," imbuhnya lagi.


Tak ayal mendengar gombalan Ardi wajah Rianti memerah menahan malu. Dan karyawan butik yang mendengarnya pun ikutan tersenyum.


Setelah selasai dengan urusan baju, mereka pun pergi untuk makan malam. Dan pilihan Ardi adalah makan malam di restoran langganannya selama ini.


"Mas ...."


Rianti menarik lengan kemeja Ardi.


"Kenapa sayang?" tanya Ardi sambil melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.


"Aku gak mau makan di sini," ucap Rianti dengan suara pelan.


Ardi menatap wajah istrinya itu. Padahal setiap kali makan malam Rianti selalu minta di restoran langganan mereka ini.


"Lalu mau makan di mana?" tanya Ardi lemah lembut.


"Aku mau makan bakso mang cecep."


Ardi pun menyanggupi permintaan sang istri. Ia kembali menghidupkan mesin mobil dan keluar parkiran dengan perlahan.


Setibanya di sana Ardi menjadi bingung melihat tempat yang di tuju Rianti. Bukan restoran ataupun rumah makan. Malah mirip seperti kios yang lebarnya hanya beberapa meter saja. Sedangkan tempat baksonya hanya gerobak yang beratapkan terpal yang tiap sisinya di ikat tali.


"Sayang ... kamu yakin mau makan di sini? Udah gak ada tempat duduk yang kosong lho." Ucap Ardi sambil melihat ke sekeliling.


"Gak kok Mas, masih ada yang kosong di pojokan sana," jawab Rianti sambil menunjuk meja bulat di sudut halaman.


"Oh ya udah. Kamu duluan aja. Mas mau markirin mobil dulu."


Rianti pun memesan bakso langganannya. Bakso yang menjadi makanan favorit dirinya dan Shinta.

__ADS_1


Sambil menunggu baksonya siap. Rianti memainkan game ular kesukaannya. Maklum, walaupun bakso di pinggir jalan tetap saja harus antri. Karena memang pelanggannya lumayan banyak.


Tiba-tiba ada sebuah bola menggelinding dan menyentuh kaki Rianti.


"Kak, itu bolanya Aji," kata seorang anak kecil yang berjalan menuju ke arahnya. Rianti hanya tersenyum, pasalnya melihat bocah itu membuatnya teringat dengan adik bungsunya, Rony.


"Iya ... sini ambillah." Rianti pun berjalan menghampiri bocah laki-laki itu.


Ia begitu gemas melihat pipi Aji yang tembam dan badan yang lumayan gempal.


Rianti berjongkok agar bisa memandang wajah imut bocah itu.


"Kamu lucu banget sih. Ini bolanya ambillah." Rianti pun menyerahkan bola itu ke tangan Aji dan mengacak-acak rambutnya.


"Jangan di ilangin lagi."


Aji hanya menggangguk dan terlihat senyuman polos diwajahnya.


"Aji."


Panggil seorang Pria yang mengenakan kacamata yang sedang menenteng bungkusan bakso menuju ke arah mereka.


Rianti berdiri sedangkan Aji berlari menghampiri pria yang memanggil namanya serta memeluk kaki pria itu.


"Terima kasih ya, maaf kalau merepotkan."


Ia pun pergi dengan melemparkan senyum manis kepada Rianti dengan menggendarai sepeda motor matic-nya.


"Neng ini baksonya," ucap Mang Cecep sambil melatakkan mangkuk yang berisi bakso.


Rianti pun berjalan kembali ke mejanya dan tersenyum ramah kepada Mang Cecep.


"Mamang tinggal ya ... masih banyak yang pesan," ucap Mang Cecep ramah dan di balas senyuman serta anggukan dari Rianti.


Lima menit berlalu namun Ardi tak kunjung tiba.


"Ish ... kamana sih mas Ardi!" Gerutu Rianti.


Ia aduk-aduk bakso, memberinya kecap dan banyak cabai ke dalamnya. Ia memang mencintai suaminya itu namun rasa lapar mengalahkan rasa cinta. Jadi tak perlu pikir panjang Rianti pun mengeksekusi bakso kesukaannya itu hingga selesai dengan sempurna.


Setelah membayar bakso, Rianti pun pergi mencari Ardi. Menahan rasa pedas yang masih terasa di bibirnya. Berjalan menyusuri jalanan menuju ke arah Ardi memarkirkan mobil.


Ada apa itu rame-rame.

__ADS_1


Rianti pun berjalan menuju kerumunan orang yang lumayan ramai seperti sedang melihat pertunjukan. Karena badannya yang pendek, Ia tak bisa melihat apa yang orang tonton. Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa mindernya. Dengan susah payah akhirnya ia pun bisa menerobos masuk melewati celah kerumunan orang-orang.


Di sana ia melihat seorang wanita yang sedang menangis dan memegang kaki seorang pria.


"Tolonglah jangan begini," terdengar suara pria yang mencoba menarik kakinya dari pelukan si wanita. Suara yang Rianti sangat hapal.


Itu kan Mas Ardi.


Rianti memberanikan diri berjalan mendekati dua orang yang telah menjadi sorotan itu. Sebenarnya ia malu, namun entah kenapa langkahnya seakan ringan menghampiri Ardi dan menarik lengan baju sang suami.


"Kenapa ini Mas?" tanyanya keheranan. Ia pandangi Ardi kemudian wanita yang sedang bersimpuh memeluk kaki suaminya itu


Ardi sontak saja kaget mendapati dirinya sedang dalam situasi yang tak bisa di jelaskan.


"Hmm ... ini sayang ... ini ...."


Ardi gugup tak tau menjelaskannya dari mana.


Wanita itu langsung berdiri. Marapikan pakaiannya yang berantakan serta menghapus air matanya. Ia menatap Rianti dengan tajam, seolah sedang meremehkannya.


"Jadi kamu istrinya Ardi!" Bentak wanita itu.


Ardi membawa Rianti ke belakang punggungnya seperti sedang melindungi sang istri dari bahaya.


"Beraninya kamu mengambil Ardi dariku!"


Rianti semakin bingung. Ia pandangi wajah Ardi.


"Bukan sayang ... ini tidak seperti dugaanmu. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya," ucap Ardi. Ia takut istrinya itu akan terpengaruh. Ia pandang wajah wanita yang ia kenal itu.


"Jangan seperti ini ... aku tidak mempunyai perasaan padamu. Aku tidak menyukaimu bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu," ucapnya dengan lembut. Ia tak mau berkata kasar kepada wanita yang sudah 5 tahun terakhir mengejar cintanya.


"Kumohon sadarlah Yenni. Di luaran sana masih banyak yang mengharapkan cintamu."


Namun Yenni seperti tak terima. Ia pegang tangan kanan Ardi dengan kedua belah tangannya.


"Tidak Ardi. Jangan seperti ini ... kau kan tau perasaan ku kepadamu. Perasan yang sudah lama tumbuh, bagaimana bisa aku menyingkirkannya," ucap Yenni sambil menyeka air matanya yang kembali mengalir.


"Tidak Yenni, aku mencintai istriku. Aku mohon kamu mengerti dan lupakan aku," ucap Ardi yang masih dengan nada lemah lembutnya.


Kenapa bisa kau acuhkan aku demi gadis pendek seperti dia!" ucap Yenni yang mulai tersulut emosi.


"Apa yang bisa di lakukan gadis kampung dan pendek ini!"

__ADS_1


Entah kenapa di hina oleh Yenni membuat Rianti meradang. Darahnya mendesir menahan emosi. Belum lagi sensasi cabai yang masih terasa di lidah dan bibirnya. Ia ingat akan wajengan ibunya yang mengatakan 'cobaan orang berumah tangga tidaklah main-main'. Dan sekarang rumah tangganya sedang di goyang oleh pelakor yang terang-terangan ingin mengambil sang suami.


__ADS_2