Duren Sawit

Duren Sawit
Hajarrr


__ADS_3

Rianti pun melangkah maju melewati tubuh Ardi yang sedari tadi melindunginya. Ia berjalan kedepan berhadapan dengan Yenni, si pelakor tak tau malu.


"Apa maksudmu barusan! Emang kenapa dengan tubuh pendek! Toh Mas Ardi lebih memilihku dari pada kamu!" ucap Rianti membela diri, harkat dan martabatnya.


Yenni berdecak kesal.


"Apa kau yakin suamimu itu mencintaimu? Apa kau juga yakin selama 5 tahun aku mengejarnya, ia tidak pernah tergoda olehku?"


Yenni mencoba memprovokasi Rianti.


Saat itu juga Rianti langsung memandang tajam pada Ardi yang berada di belakangnya. Dan sontak saja Ardi menggelengkan kepalanya dengan cepat seolah berkata, 'tidak ... tidak seperti itu.'


Rianti terlihat menyeringai merespon perkataan Yenni. Perbedaan usia, tinggi badan dan status sosial tak menghalangi Rianti untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Ia letakkan kedua tangannya memegang pinggang.


"Berarti yang salah itu kamu! Kenapa mau di pegang oleh orang yang belum jelas ikatannya sama kamu!" ucap Rianti sarkis.


Yenni mulai meradang. Ia tak pernah di permalukan seperti itu seumur hidupnya.


"Heh gadis kampung!"


Yenni mendorong bahu kiri Rianti dengan telunjuknya hingga Rianti terhuyung kebelakang namun dengan cepat Ardi menangkapnya. Ia jadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng kalau Yenni kembali menyerang Rianti.


"Emang apa yang bisa kamu berikan pada Ardi. Hah!!!" ucap Yenni tak kalah emosi.


Mendengar ucapan itu membuat darah muda Rianti makin mendidih. Ia tepiskan tubuh Ardi hingga ke samping dan berjalan kembali menghadap Yenni. Menantangnya dengan mata penuh amarah.


"Jangan tanya itu padaku. Tentu saja aku bisa memuaskan Mas Ardi. Aku masih cantik, muda , kulitku masih kencang dan terlebih lagi aku masih masih singset!" ucap Rianti tak kalah sengit sambil memukul pelan bokongnya sendiri.


"Kalaupun dibanding kamu ... lebih unggul akau ke mana-mana kalik. Aku yakin 10 tahun yang akan datang kau pasti sudah menopause." Rianti tersenyum licik seakan telah menskakmat Yenni.


Yenni semakin meradang. Harga dirinya seolah telah tercabik-cabik. Apalagi mendengar bisik-bisik orang yang dari tadi melihat mereka. Ia ayunkan tangannya hendak penampar Rianti, namun dengan cepat Ardi menahannya.


"Jangan pernah kau sentuh wajah istriku! Atau kau akan tanggung sendiri akibatnya!"


Kini suara Ardi terlihat tegas tidak seperti sebelumnya. Ia ayunkan tangan Yenni hingga terhuyung dan wanita itu pun terjatuh ke aspal.


"Aww ...."


Yenni meringis kesakitan namun Ardi sama sekali tak peduli.

__ADS_1


Ardi merangkul kedua pundak Rianti menuntunnya menjauh dari Yenni.


"Ardi!!! Kau sungguh tega! Kalau kau tidak kembali padaku. Aku akan bunuh diri!!!


Mendengar ancapan Yenni membuat langkah Rianti terhenti. Ia lepaskan tangan Ardi dan membalik tubuhnya menghadap Yenni. Kemudian sekilas memandang ke sekitar.


"Bunuhlah dirimu sendiri. Dan jika kamu mati, kami tidak ada sangkut pautnya denganmu! Semua orang di sini menjadi saksi atas ancamanmu sendiri!" ucap Rianti penuh penekanan. Terlihat seringaian yang mengerikan dari bibirnya.


Dia benar-benar mengerikan kalau lagi marah begini, batin Ardi.


Mereka pun meninggalkan Yenni dan kerumunan orang-orang.


Selama di perjalanan, Rianti hanya terdiam. Beberapa kali meminum air aqua dalam kemasan 500 ml. Pandangannya jauh ke depan tanpa menoleh Ardi yang berada di sebelahnya.


Ardi seperti kebingungan bagaimana menjelaskan situasinya yang sebenarnya agar Rianti tidak marah kepadanya. Ia hentikan laju kendaraan dan menepi di pinggir jalan.


Ardi melepaskan sabuk pengamannya agar bisa lebih bebas menghadap Rianti.


"Sayang ... Mas benar-benar tidak ada hubungan apapun padanya. Percayalah ...."


Namun, lagi-lagi Rianti tidak memandang suami yang sedang berbicara kepadanya. Matanya masih memandang ke depan dan meremas botol aqua dengan kuat hingga berbunyi.


Rianti masih terdiam dan bunyi botol aqua semakin nyaring.


"Mas beneran gak pernah punya rasa kepadanya. Tidak pernah sekalipun Mas tergoda akan rayuannya. Tolonglah percaya, Mas benar-benar mencintaimu."


Rianti menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Mas, cepatlah kita pulang! Aku tidak ingin membahas soal itu," ucap Rianti dengan nada datarnya.


Kini Ardi yang menghela napas. Ia mengerti kalau istrinya itu sedang marah dan tak ingin di ajak bicara. Akhirnya Ardi pun menghidupkan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan kembali.


Ternyata kalo dia marah begitu menakutkan.


Sesampainya di depan rumah. Rianti langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam. Ardi yang mengira istrinya sedamg marah langsung menangkap pergelangan tangan Rianti.


"Mas lepasin gak!" ucap Rianti dengan suara sedikit nyaring.


"Enggak bisa! Kita harus bicara dulu. Selesaikan dulu kesalahpahaman ini sayang."

__ADS_1


Ardi menarik tangan Rianti untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Mas sakit! Kau menyakitiku, Mas." Rianti hampir menangis karena cengkraman Ardi.


Melihat Rianti yang meringis kesakitan, Ardi pun melepaskan cengkramannya. Ia biarkan Rianti berlari menuju kamar dan masuk ke dalam kamar mandi.


Lumayan lama Rianti di dalam sana dan membuat Ardi yang menunggu di luar menjadi cemas. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian duduk lalu rebahan lagi. Ia gelisah karena Rianti tak kunjung keluar.


Kenapa lama sekali ... apa dia sebegitu marahnya padaku hingga menangis sendirian di dalam sana.


Tok tok tok.


"Sayang ... ayo donk keluar. Kita bisa bicarain ini baik-baik. Hmm ...."


"Sayaaang ... keluar dong. Kalo mau marah, sini marah aja. Mas rela kok kamu marahin atau kamu pukul sekalian. Mas gak akan ngelawan."


Namum sama sekali tak ada jawaban dari Rianti.


Tok tok tok


"Sayang bu ...."


Ceklek


Pintu terbuka dan Rianti berdiri di sana.


"Ngapain sih Mas? berisik banget. Kamar mandi di rumah ini kan banyak. Ngapain gedor-gedor. Aku kan jadi gak bisa fokus," sungut Rianti sambil berlalu meninggalkan suaminya yang berdiri di dekat pintu kamar mandi.


Ardi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bingung dengan sikap Rianti yang ia kira kalau istrinya itu sedang merajuk di dalam kamar mandi.


"Mang kamu ngapain di kamar mandi?" tanya Ardi sambil mengernyitkan dahinya.


"Ya buang hajatlah Mas, ngapain lagi," jawabnya santai sembari duduk di atas kasur. Ia pun mengeluarkan ponselnya hendak memainkan game yang tadi sempat tertunda.


Ardi yang merasa tertipu pun menghampiri Rianti, mengambil ponsel dan mencubit gemas pipi istrinya itu


"Kamu nih ya ... mas kira lagi ngambek. Ee taunya lagi BAB." Ardi pun tertawa lepas. Ia lega ternyata Rianti tidak menganggap serius masalah tadi.


"Aku tadinya marah sama Mas. Maraaahh banget. Tapi ya sudahlah. Aku beranggapan kalo tu perempuan sedeng udah aku singkirin. Sama kaya isi perut yang udah aku keluarin tadi," ucap Rianti asal. Dan ia pun tertawa senang.

__ADS_1


__ADS_2