Duren Sawit

Duren Sawit
Perjuangan Ardi


__ADS_3

Tidak berapa lama pintu terbuka dan masuklah seorang wanita menghampiri dirinya yang telah bersimpuh di lantai. Sontak saja mata Rianti berair dengan sendirinya, jantungnya terasa seakan berhenti berdetak, yang ia rasakan sekarang adalah sesak, sesak yang begitu hebat. Ia rengkuh tubuh wanita itu dan menumpahkan segala beban yang selama ini ia pendam.


"Kak ... maafkan aku, Kak. Aku bersalah, akulah penyebab Amir meninggal," ucap Rianti di sela tangisnya yang sudah mulai pecah. Ia peluk erat tubuh Jessika yang juga telah memeluknya.


"Aku ingat semuanya, Kak. Aku ingat segalanya. Amir meninggal karna aku memberikan nasib buruk kepadanya," ucap Rianti lagi yang masih terdengar lirih. Ia pun kembali mengeluarkan semua kesedihan yang telah bersarang lama di relung hatinya.


Jessika yang sebelumnya di pintai tolong oleh Ardi, telah tau tentang masalah ingatan Rianti. Ia merasa bersalah telah salah paham pada gadis malang yang kini berada di peluknya. Ia tepuk pelan bahu lemah itu dan sesekali membelai rambutnya. Tanpa Jessika sadari ia juga menitikkan airmata, mengingat mendiang adiknya, Amir. Sosok remaja yang ceria, yang selalu mampu mewarnai hari-hari di keluarga mereka. Makin lama makin perih yang Jessika rasakan, hatinya sakit karena tau dialah sebab kematian sang adik.


Jessika longgarkan pelukannya dan menghapus jejak air matanya. Ia pandangi wajah Rianti yang juga sembab karena menangis tiada henti.


"Sudahlah. Jangan menangis lagi, Rianti. Ini bukan salahmu. Amir pergi karena memang sudah takdirnya begitu," ucap Jessika dengan suaranya yang bergetar. Ia usap air yang masih mengalir di pipi tirus Rianti.


"Amir meninggal karena Kakak, kakak lah yang bertanggung jawab. Amir pergi karena ada orang yang menyimpan dendam pada Kakak," ungkap Jessika. Kini suaranya semakin terdengar samar karena beradu dengan isakan tangisnya.


"Maafkan, Kakak ya, karena pernah membencimu atas sesuatu yang tidak kamu lakukan," jelasnya lagi. Jessika lap kembali airmatanya dan memeluk tubuh lunglai Rianti. Ia benar-benar menyesal atas perbuatannya selama ini.


Lumayan lama mereka saling berpelukan, menumpahkan segala rasa sesal dan kesedihan yang selama ini mereka pendam. Hingga Ardi tiba dan mendapati mereka masih dengan posisi duduk di lantai.


Keduanya pun langsung berdiri. Membenahi penampilan juga perasaan mereka. Jessika tuntun tubuh Rianti hingga duduk di tepi ranjang dan merapikan anak rambut yang berantakan di wajahnya yang pucat.


"Sudahlah. Lupakan Amir dan masa lalu kelammu. Biarkan semuanya menjadi kenangan indah untuk kau ingat nanti," ucap Jessika lagi.


"Pak Ardi, sepertinya ingatan Rianti telah kembali," tutur Jessika seraya berdiri mendekati Ardi.


Mendengar perkataan mahasiswinya itu membuat Ardi tersenyum sumringah. Ia merasa senang ternyata sekarang sang istri telah mengingatnya kembali. Namun kebahagiaanya itu hanya sekejap saja.

__ADS_1


"Maksudnya apa, Kak? Emangnya apa yang harus aku ingat lagi selain Amir?" ucap Rianti yang nyatanya memang tidak mengerti dengan perkataan Jessika.


Wajah Ardi kembali muram. Ia duduk di sebelah Rianti dan menatap dalam mata istrinya yang telah sembab.


Baiklah, aku masih setia menunggumu mengingatku kembali, batin Ardi.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Kamu pasti bisa mengingat semuanya kelak," ucap Jessika seraya tersenyum ramah.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Jessika yang kemudian di respon anggukan dan senyuman oleh keduanya.


Setelah kepergian Jessika.


Rianti memandang Ardi yang kembali menatapnya dengan tatapan sendu. Kemudian terdengar helaan napas dari sang guru. Entah kenapa, ada rasa sedih menjalar di hatinya. Ia merasa telah bersalah namun tidak tau dimana letak kesalahannya.


Rianti masih menatap lamat mata Ardi. Makin dipandang, hati Rianti semakin tak karuan. Entah mendapat keberanian dari mana ia layangkan sebuah kecupan di bibir Ardi.


Astaga, apa yang aku lakukan, batin Rianti. Ia gelagapan takut-takut sang guru marah padanya. Rianti berdiri dan menggenggam tangannya sendiri.


"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ucapnya yang terdengar absurd. Ia hendak melangkahkan kaki meninggalkan Ardi, akan tetapi dengan cepat Ardi menarik pinggangnya hingga ia langsung terduduk dipangkuan sang guru.


Jantung Rianti berdetak tak beraturan. Keringatnya kembali mengalir dan tangannya mulai gemetaran. Ia ingin segera pergi dari sana, namun tubuhnya seperti tidak memihak otaknya.


Ardi yang mendapat kejutan mendadak itu tentu saja menginginkan lebih dari sebuah kecupan. Ia pegang dagu Rianti dan mendaratkan bibirnya ke bibir mungil istrinya. Bibir yang sudah lama sekali ia rindukan.


Rianti terdiam, mendapat sentuhan itu bukannya marah, ia malah memejamkan mata dan membiarkan sang guru menjelajahi setiap inci bibirnya. Lama mereka hanyut dalam imajinasi masing-masing, membiarkan hasrat yang sudah tak bisa di bendung lagi.

__ADS_1


Ya Tuhan ... aku pasti sudah kehilangan akal. Bagaimana bisa aku melakukan dosa seperti ini.


Rianti hentikan perbuatan gilanya dan beranjak dari pangkuan Ardi. Tapi lagi-lagi Ardi menarik tubuhnya hingga kini posisinya terduduk dan membelakangi sang guru. Jantungnya kembali bertabuh saat merasakan kecupan hangat di punggungnya.


"Tolong cepatlah mengingatku, Rianti," gumam Ardi lirih. Ia eratkan pelukannya seolah tak ingin Rianti pergi menjauh.


Mendengar perkataan yang samar-samat itu membuat Rianti kepikiran. Ia berusaha mengingat sesuatu tentang dirinya dan sang guru. Namun nihil, ia tidak ingat sama sekali.


Lima menit pun lerlalu.


"Ayo kita keluar," pinta Ardi setelah melepaskan tangannya yang melingkar indah di pinggang Rianti.


"Kemana?" tanya Rianti seraya berdiri dari pangkuan Ardi.


"Kita makan siang dulu, habis itu kita pergi kencan," jawab Ardi seraya melemparkan senyuman yang begitu terlihat manis.


Rianti kembali merasaka hawa panas di sekujur tubuhnya, ketika Ardi menekankan kata 'kencan' di ujung kalimatnya barusan membuat hati Rianti berbunga-bunga. Ia ikuti langkah Ardi yang sudah terlebih dahulu menggenggam tangannya.


Ketika hendak keluar kamar, Ardi di kejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam telah berdiri tepat di depan pintu kamar mereka.


"Maaf, Anda mencari siapa?" tanya Ardi kepada pria yang terlihat menyembunyikan wajahnya di balik topi.


Ardi merasakan sesuatu yang janggal pada orang itu. Ia tarik tubuh Rianti kebelakang punggungnya seraya memberi kode agar sang istri pergi menjauh.


Tiba-tiba sebuah pisau menancap di perut bagian kiri Ardi. "Argh!!!" erangnya seraya membungkuk, menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian organ dalamnya . Ia cengkram kuat bahu si pelaku dan mencoba mengeluarkan benda tajam yang telah bersarang di perutnya. Namun hanya dengan sekali tepisan, tubuh Ardi yang sudah mengeluarkan banyak darah langsung roboh seketika. Pria misterius itu kembali mengeluarkan senjata dari balik jaketnya. Dengan seringaian yang mengerikan ia arahkan sebuah pistol ke tubuh Rianti yang hanya berjarak tiga meter darinya. Rianti ingin berteriak namun tenggorokannya seperti tercekat.

__ADS_1


Melihat keselamatan istrinya yang terancam, Ardi pun berusaha bangkit dengan mengumpulkan tenaganya yang tersisa. Dengan langkah yang terhuyung ia rebut pistol itu dari tangan si pelaku. Pergulatan sengit pun terjadi di antara keduanya. Hingga akhirnya terdengar suara tembakan yang menggelegar memenuhi setiap sudut kamar hotel.


__ADS_2