Duren Sawit

Duren Sawit
Curiga


__ADS_3

Ardi keluar dan merangkul tubuh kecil Rianti yang tertunduk.


"Heran ... jaman sekarang masih ada aja yang suka ngomongin orang." Ardi masih terdengar emosi.


"Jangan terlalu di fikirkan ya ... anggap saja a*jing menggonggong khafilah pun berlalu," ucap Ardi sambil mengusap-ucap pundak kanan istrinya itu.


Rianti mendongak dan menatap wajah sang suami yang sedang tersenyum.


"Mas keren tau gak, sebenarnya aku juga ingin ngomong kasar. Tapi aku malu dan takut kualat," ucap Rianti sambil tersenyum manja.


Ardi terkekeh geli dan memencet hidung istri pendeknya itu.


"Sakit Mas ... sakit!" Rengek Rianti.


"Kamu tuh ya ... bikin Mas gemes tau gak. Mas kira kamu nangis. Ee ... taunya ... kalau saja sudah di rumah, pasti langsung Mas makan kamu hidup-hidup."


"Apaan sih Mas ... masih siang gini udah mesum mode on aja." Wajah Rianti mendadak merah karena malu.


"Hehehe ... ya udah, kita masuk kedalam yuk ... Mas mau beli jas buat acara ulang tahun kampus minggu depan."


"Mas duluan aja ya ... nanti aku nyusul, aku mau ke toilat sebentar," ucap Rianti dan ia pun berlalu meninggalkan Ardi.


Di dalam toilet terdengar 2 orang wanita sedang berbicara di depan cermin.


"Eh Jes, tadi aku liat ada pak Ardi lho ... lagi jalan sama cewe ABG."


"Ah yang bener ... ponakannya mungkin? Secara pak Ardi orangnya seperti itu, mana ada yang berani deketin dia selain aku."


Rianti yang sedang berada di dalam bilik toilet menjadi penasaran tentang sosok Ardi yang ia dengar. Ia pun menempelkan telinganya di dinding untuk mencuri dengar pembicaraan dua wanita tersebut.


"Terus ... kamu masih berani deketin tuh dosen. Nyali kamu gede banget. Apa sih yang kamu suka dari dosen killer itu? Kita udah kuliah disini hampir 4 tahun tapi gak pernah sekalipun liat beliau tersenyum ramah dengan orang lain."


"Ya masih lah ... dia itu berkharisma. Dulu, dia itu orangnya ramah dan sering tersenyum, tapi pas ditinggal mati istrinya, sifatnya jadi berubah gitu."


"Kamu tau dari mana? Soalnya aku cari-cari di internet tidak ada satupun artikel tentang istrinya itu. Yang ada di internet cuma mengatakan kalau dia itu seorang duda dan anak tunggal dari Mahendra Abbas, seorang pengusaha sukses di bidang perhotelan."


Wah ... mereka ternyata ngomongin suamiku."


Rianti masih berusaha menguping pembicaraan mereka.


"Aku denger dari saudara mantan istrinya. Katanya ... istri pak Ardi meninggal karena kecelakaan dan sedang mengandung 4 minggu. Sejak itu sikapnya menjadi berubah total menjadi berdarah dingin seperti sekarang."


"Oh begitu, apa kau punya fotonya?"


"Gak punya, bahkan namanya saja aku gak tau. Tapi yang jelas aku akan berusaha mendapatkan hatinya pak Ardi."


"Ceilee ... PD amat, ya udah yuk kita pulang."


Setelah dua wanita itu pergi, barulah Rianti keluar dari bilik toilet dan melangkah mencari keberadaan sang suami. Ia melihat Ardi sedang melambaikan tangan dengan wajah yang terlihat bahagia.


Rianti terlihat bingung mengingat pembicaraan dua wanita tadi dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Benar-benar bertolak belakang," gumam Rianti.

__ADS_1


"Sini Mas aku bantu bawa." Rianti mencoba mengambil bag paper dari tangan suaminya.


"Gak perlu, Mas saja yang bawa. Kamu cukup gandeng lengan Mas saja," ucap Ardi sambil tersenyum.


Rianti pun menggandeng tangan suaminya dengan mesra.


Setelah sampai di mobil, Rianti membuka bagasi mobil dan menolong Ardi menyimpan semua barang belanjaan.


"Ini isinya jas semuanya, Mas?"


Rianti mencoba menghitung semua bag paper.


"Ada 10 loh ini."


"Ya enggak lah sayang. Mas cuma beli 1, sisa nya itu punya kamu."


"Ooo ... mang apaan Mas isinya." Rianti penasaran.


"Rahasia ...." Arsi tersenyum misterius.


Ardi mengemudikan mobilnya dengan perlahan keluar dari parkiran mall.


Sepanjang perjalanan Rianti terlihat memikirkan sesuatu.


"Setelah mendengar omongan wanita tadi aku jadi penasaran dengan masa lalu Mas Ardi. Tanya gak ya ... tapi kalau dia marah bagaimana?


Rianti menatap serius wajah suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Sejak pertama kali kita bertemu. Insiden cat terbang itu." Kelakar Ardi sambil tersenyum.


Namun Rianti masih terlihat serius.


"Benarkah? Apa tidak ada yang kau sembunyikan dariku, Mas?"


Ardi menghentikan laju mobilnya dan menepi di pinggir jalan.


Ardi menangkup wajah istrinya itu dengan ke dua telapak tangannya.


"Sebenarnya ada apa? Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, hmm ...." Ardi tersenyum manis melihat wajah istrinya.


Rianti melepaskan wajahnya dari tangan Ardi.


"Aku hanya penasaran aja Mas, setelah insiden cat terbang itu kamu langsung melamarku, dan aku bersukur kita bisa bahagia seperti sekarang."


"Lha terus masalahnya apa? bukankah bagus, kita sekarang bisa saling mencintai."


"Aku hanya penasaran aja. Mas selalu baik padaku namun tidak pernah sedikitpun membahas masa lalu Mas, termasuk mendiang istri Mas," terang Rianti.


Ekspresi Ardi mulai berubah. Ia terlihat gugup, kemudian memalingkan wajahnya dari Rianti dan menatap ke arah depan.


Rianti terdiam dan terlihat masih menunggu penjelasan dari Ardi.


"Namanya Stella, ia meninggal karena kecelakaan. Mas tidak pernah membahas itu karena Mas takut kamu akan menjadi tidak nyaman. Bagaimana pun juga, dia adalah orang yang pernah begitu Mas sayang. Mas takut kamu akan cemburu."

__ADS_1


Kini giliran Rianti yang menangkup wajah suaminya itu


"Apa hanya itu alasannya? Apa tidak ada yang lain?" tanya Rianti. Ia tatap dalam mata teduh suaminya.


Ardi hanya mengangguk pelan.


Cupp.


Rianti kecup bibir Ardi dengan cepat.


"Aku gak akan pernah cemburu dengan masa lalu kamu, Mas. Aku hanya akan marah kalau Mas merahasiakan sesuatu dariku," ucap Rianti jujur dan ia pun langsung melepaskan tangannya dari wajah Ardi.


Namun Ardi dengan cepat meraih leher Rianti dan mendaratkan ciumannya di sana. Ciuman yang semakin lama semakin dalam tak lupa pula tangannya ikut andil menggerayangi tubuh sang istri. Ardi melepaskan pugutannya ketika keduanya hampir kehabisan napas.


"Tidak ada rahasia di antara kita sayang, percayalah padaku, hmm ...."


Rianti hanya tersenyum dan mengangguk paham. Ia rapikan pakaian yang berantakan oleh ulah suaminya itu.


Ardi kembali menghidupkan mesin mobil dan mulai berkendara lagi.


Setelah 10 menitan barulah mereka sampai di tempat tujuan.


Rianti terkesiap melihat rumah yang begitu besar dan tak henti-hentinya berdecak kagum.


"Mas rumah kamu besar banget, udah kaya istana."


Ardi hanya tersenyum dan memarkirkan mobilnya di garasi rumah dan mengajak Rianti masuk kedalam.


Terlihat 2 orang wania paruh baya dan 1 pria menghampiri mereka.


"Selamat datang Den, Nyonya." Sapa salah seorang dari mereka.


"Sayang ini namanya Mang Udin, yang ini Mbak Minah dan Mbak juminten." Ardi Memperkenalkan asisten rumah tangga mereka kepada Rianti.


Rianti tersenyum memandang kedua wajah wanita yang sebaya dengan ibunya itu.


"Jangan panggil nyonya ya Mang, Mbak, panggil saya Riri aja," pinta Rianti.


Ardi pun membawa Rianti masuk kedalam rumah.


"Begitu mirip sama nyonya ya, Minah," bisik Juminten.


Minah hanya mengangguk.


"Stt ... jangan sampai nyonya dengar," ucap Udin.


****


**Hai wan kawan. Jangan lupa like and vote ya...


Kalau ada yang kurang dalam penulisan, mohon berikan krisan di kolom komentar.


☺☺☺**

__ADS_1


__ADS_2