
Mendenagar bisikan dari Shinta membuat Rianti menjadi salah tingkah. Begitu malu hingga rasanya kulit wajahnya menebal dan terasa kembang kempis.
"Asli malu banget ...."
Rianti mengantar Shinta yang hendak pulang hingga sampai ke halaman. Ia berusaha melebarkan senyuman yang begitu terasa canggung. Dan Shinta lagi-lagi melihat Rianti dengan tatapan sedang menggoda seakan mengatakan, ' Cie ... cie ...' kepada dirinya lalu tersenyum senang.
"Eh beli motor baru ya?" kata Rianti mencoba mencairkan kecanggungannya.
"Iya, bang Aan yang DP-in. Nanti cicilannya aku yang bayar. Oiya ... Aku udah pindah ke kontrakannya kemarin," ucap Shinta sambil meletakkan barang bawaannya ke dalam jok motor.
Rianti hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Shinta. Hal itu di karenakan Andra tau kejadian tentang Shinta dan Haikal . Ia pun tidak membiarkan adik sepupunya itu tinggal sendirian lagi.
Shita pamit pulang dengan senyuman di wajahnya. Dan Rianti mengantar kepergian sahabatnya itu dengan lambaian tangan serta teriakan.
"Hati-hati di jalan ya!!!"
Hari sudah mulai sore, dan Shinta mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa melihat kejadian tadi membuatnya teringat dengan Veno. Pria yang telah mengambil ciuman pertamanya tanpa persetujuan. Ia pun mengumpat dalam hatinya.
"Dasar nyebelin! Ba*gsat! Baji**an gila! Udah ngambil bibir perawanku terus dengan santainya bilang, ' aku gak punya perasaan yang spesial buat kamu'. Kan kamvret! Laki-laki kaya gitu emang harus cepat di tenggelamkan! Aku do'ain semoga kamu benar-benar jadi perjaka tua!"
Shinta tak henti-hentinya mengumpat. Ia begitu kesal dengan sikap Veno yang tak mengindahkan perasaan sukanya. Sejak kejadian itu, ia benar-benar bertekat untuk melupakan perasaanya dan move on dari halusinasi yang mengatakan kalo Veno itu Pria coca-cola yang di ciptakan tuhan untuknya.
Karena kebenciannya itulah Shinta memutuskan untuk tidak pernah mengenalnya. Manganggapnya orang asing, yang kebetulan bekerja di tempat yang sama.
Shinta sendiri bekerja sebagain cleaning service di kantor Baskoro. Sedangkan Veno menjadi anak magang yang sering kali di marah oleh atasannya. Tak ayal melihat Veno di permalukan di depan karyawan lain, membuatnya sedikit puas. Ia merasa membalas dendam tanpa harus turun tangan.
Shinta masih mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Dari kejauhan ia melihat Veno sedang mencoba menahan taksi namun tak ada yang mau berhenti. Shinta langsung mempercepat laju kendaraannya karena tidak mau berhubungan lagi dengan Veno. Sekilas nampak wajah Veno yang begitu kesal karena Shinta pura-pura tidak melihatnya.
"Rasain! Mang enak di cuekin!"
Shinta lagi-lagi tersenyum puas melihat penderitaan Veno.
Sesampainya di kontrakan. Shinta melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman.
Ia sedikit bingung namun tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Dek. Sini masuk."
Shinta mendekati Andra dan mencium punggung tangan Andra yang 10 tahun lebih tua darinya.
"Ini Toni, temen Abang waktu kuliah dulu."
Shinta tersenyum ramah membalas senyuman Toni, Ia berniat untuk bersalaman dan mencium punggung tangan Toni, namun dengan cepat Toni menariknya.
"Aku bukan abang kamu loh ya ... jadi gak perlu pake cium tangan segala," ucapnya ramah sambil mengacak-acak poni Shinta.
__ADS_1
Shinta hanya tersenyum. Kemudian pamit untuk masuk ke kamarnya. Semenjak kejadian naas itu, Shinta jadi menjaga jarak dengan orang asing. Walaupun tadi ia sedikit goyah melihat ketampanan Toni yang begitu mempesona dengan wajah blasterannya
****
Rianti memasuki kamar mencari suami yang telah membuatnya begitu malu di depan Shinta. Entah demi apapun rasanya ia ingin menenggelamkan wajahnya sendiri ke dalam perut bumi. Berharap rasa malunya akan sirna. Ia masih melangkah ke seluruh ruangan kamar namun tak menemukan Ardi
Rianti berdecak kesal.
"Ck ... kemana sih!!!"
Dengan wajah cemberut. Ia mencari ke sekeliling rumah.
"Mas ... Mas Ardi ... Mas!!!"
Ia semakin Emosi karena mencari Ardi di rumah yang besar benar-benar menguras tenaga dan perasaanya.
Ia sudah mencari di lantai bawah yang mempunyai 3 kamar. Kemudian naik ke lantai 2 yang mempunyai 2 kamar. Dan terakhir ke lantai atas tempat suaminya menyelesaikan pekerjaannya. Seperti kantor mini namun mirip perpustakaan karena memang tersusun begitu banyak buku.
"Mas ... Mas Ardi!"
Pekiknya lagi sambil menuruni anak tangga.
Rianti terlihat ngos-ngosan seperti telah melakukan maraton. Ia pun melangkah ke dapur dan meneguk dua gelas air putih di sana. Segelas untuk rasa hausnya dan segelas lagi untuk meredam emosi di dadanya.
"Nyonya mencari, tuan?" tanya Juminten yang baru masuk dari pintu belakang rumah.
"Tadi saya liat tuan lagi di belakang, Nyonya."
"Ooh ... terimakasih, Bik."
Rianti pun berlalu meninggalkan Juminten dan berjalan ke halaman belakang rumah.
Ardi terlihat sedang bersama mang Udin di sana. Mereka terlihat sedang membakar sesuatu karena terlihat ada sedikit asap mengepul dari sana.
Rianti berada sekitar 20 meter di belakang Ardi.
Dengan emosi yang membuncah di dada ia pun berteriak sekencang-kencangnya.
"Mas Ardiiiii!!!"
Ardi terkejut dan menjadi gelagapan setelah mendengar Rianti memanggil namanya.
Ia terlihat gugup seperti telah tertangkap basah melakukan suatu kesalahan. Sesekali ia beradu pandang dengan Udin.
Rianti berjalan menghampiri mereka. Dengan cepat Ardi memberikan beberapa kertas ke tangan Udin dan berjalan menuju ke arah Rianti.
"Mas kemana aja sih! Dipanggil-panggil jugak!" seru Rianti yang masih dengan mode jutek, dan wajah yang di tekuk.
__ADS_1
"Mas gak ke mana-mana kok, dari tadi di sini. Kamu yang nyarinya ke mana?" ucap Ardi sambil memegang bahu Rianti.
Rianti menghela napas mencoba mengatur emosinya.
Ardi tau istrinya itu sedang kesal karena apa yang di lakukannya di depan Shinta.
"Mas tau kamu lagi marah, kan. Coba tarik napas dalam-dalam dari hidung ... lalu keluarkan perlahan melalui mulut. Lakukan tiga kali."
Rainti pun melakukan apa yang di instruksikan Ardi. Setelah sedikit tenang ia pun memandang Ardi kemudian ke arah Udin yang berada di belakang suaminya itu
"Mas sama Mang Udin lagi ngapain?" tanyanya keheranan.
"Gak apa-apa. Cuma bakar berkas lama aja kok. Iya kan, Mang," jawab Ardi sambil menoleh kebelakang tempat di mana Udin berdiri.
"Ee ... iya Nyonya, cuma sampah," jawab udin yang juga terlihat gugup.
"Bakar apaan Mang? Sini Riri bantu."
Rianti pun berjalan melewati Ardi hendak ke arah Udin namun dengan cepat Ardi menahan tangan istrinya itu.
"Kamu ngapain nyariin Mas?" tanya Ardi mencoba menahan langkah Rianti.
Rianti yang sempat lupa akan tujuannya mencari sang suami pun kembali ke mode awal.
"Mas! Kalo mau nyium tu bilang-bilang, liat tempat juga ... kemaren kepergok bik Jum, hari ini Shinta. Aku malu Mas!" keluh Rianti sambil menyilangkan lengan tangannya di atas dada.
"Oo jadi harus bilang dulu ya ...."
Ardi terlihat sedang memandang Rianti dalam mode mesumnya.
"Sayang, Mas mau cium kamu."
Ardi pun dengan cepat meraih pinggang Rianti dan mencium bibir istrinya itu. Memagutnya dengan penuh nafsu tanpa menghiraukan ada Udin di belakangnya.
"Ihh Mas ngapain Sih!" Rianti memukul dada Ardi setelah Ardi melepaskan pagutannya.
Ardi tersenyum puas.
"Lha bukannya tadi Mas udah bilang ya kalo mau nyium kamu," ucapnya pura-pura lugu lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Rianti memandang Udin yang berada tak jauh darinya. Lagi-lagi ia merasa malu akan tingkah suaminya itu.
"Mas Ardi! Awas kamu Mas."
Ia pun menyusul sang suami masuk ke dalam rumah.
****
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote ya gaes. Jempol kalian mengubah hidup author. heheh