Duren Sawit

Duren Sawit
Gara-gara film


__ADS_3

Sore ini adalah hari kepulangan Ardi. Rianti memapah tubuh sang suami dan berjalan dengan perlahan.


"Sayang, Mas bisa jalan sendiri kok," ucap Ardi sambil menarik tangannya dari bahu Rianti dan kini ia lingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu.


"Beneran gak apa-apa? Gak sakit?" tanya Rianti tak percaya seraya mendongakkan kepala, karna memang tinggi badan keduanya benar-benar berbeda. Ibarat tiang jemuran dengan tiang listrik. Beda bingiiitts, heheh


"Ih kamu ini gak percayaan banget sih," ucap Ardi gemas sambil memencet hidung Rianti hingga yang punya hidung jadi meringis.


Merekapun pulang dengan di antar Udin. Sepanjang perjalanan Udin seperti kesusahan menelan ludahnya sendiri, pasalnya sang tuan tak henti-hentinya menciumi pipi sang nyonya.


"Mas jangan gitu dong. Malu ada Mang Udin ..." ucap Rianti seraya menjauhkan kepala Ardi dengan jari telunjuknya. Ia begitu tidak nyaman karena tingkah mesum Ardi yang sedari tadi tak lelah mengecup bahkan mencubit gemas pipinya


"Aah gak apa-apa, Mang Udinn aja gak keberatan. Iya kan, Mang?" ucapnya dengan nada seperti bertanya, tapi kerlingan matanya mengatakan berbeda, hingga yang di lirik menjadi gugup sendiri.


Ya alloh ... ni Den Ardi kesurupan jin mana sih ... kok jadi begitu. Padahal mah dulu waktu sama neng Stella gak gitu-gitu amat.


"Eh iya ... iya, Nyonya," sahut Udin gugup setelah melihat tatapan tajam dari Ardi yang bisa ia lihat jelas dari pantulan cermin.


Udin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang, karena dia tidak ingin melihat pertunjukan yang tidak senonoh dari sang majikan. Setelah berkendara hampir setengah jam akhirnya tibalah mereka di halaman rumah Ardi.


Udin membawa semua barang-barang sang tuan masuk kedalam rumah. Sedangkan Rianti masih setia berjalan bergandengan dengan suaminya. Ia tersenyum sumringah melihat rumah yang sudah lama ia tinggalkan.


"Mas, selama aku pergi siapa yang ngerawat bungaku?" tanya Rianti setelah melewati taman bunganya yang masih terawat dan indah.


"Oo itu, mbak Minah yang ngerawatnya," jawab Ardi singkat dan hanya di respon Rianti dengan 'ooh' tanpa mengeluarkan suara.


Tibalah mereka di dalam rumah. Rianti langsung menuju kamar dan Ardi memilih berbincang dengan Udin di teras depan. Tidak berapa lama Ardi pun menyusul Rianti yang sudah terbaring di atas ranjang empuknya. Ia duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut sang istri yang sedang memejamkan mata.


Rianti bangun dan membenarkan posisinya. Ia duduk berhadapan dengan Ardi.


"Kenapa Mas? Ada yang sakit?" tanya Rianti saat melihat tatapan suaminya yang sendu. Seperti ingin menangis namun memaksa tersenyum di depannya. Ardi hanya menggeleng pelan kemudian merebahkan tubuhnya ke pangkuan Rianti.


"Enggak, Mas hanya merindukanmu," ucapnya pelan, kemudian membenamkan wajahnya ke perut istrinya itu.


Rianti terdiam. Ia jadi mendadak merasakan kegetiran ketika melihat sang suami memeluk pinggangnya. Ada rasa sedih yang menjalar di hatinya ketika mengenang calon bayi mereka yang gagal ia pertahankan. Ardi memang tidak pernah membahas itu, namun tetap saja ia yakin bahwa suaminya itu merasa kecewa.


"Maafkan aku ya, Mas," ucapnya seraya menyeka air mata yang sudah terlanjur mengalir.


Ardi melepaskan lingkaran tangannya dan melihat wajah Rianti yang telah basah. Ia benarkan posisinya dan menangkup wajah tirus Rianti dengan kedua tangannya. Ia pandangi beberapa detik wajah Rianti kemudian membenamkan wajah itu ke dada bidangnya. Ardi hanya terdiam membiarkan Rianti menangis dalam pelukan. Lumayan lama mereka seperti itu. Meluapkan kesedihan tanpa berkata-kata.


Setelah isakannya sedikit mereda Rianti lepaskan pelukan dan memandang lekat pada Ardi.

__ADS_1


"Mas, aku ... aku ...." Belum sempat Rianti melanjutkan perkataanya, Ardi sudah menempelkan telunjuknya ke bibir Rianti. Ia tau pasti Rianti akan mengatakan, 'maaf' lagi kepadanya.


"Sttt ... Mas tau kamu mau ngomong apa. Sekarang kita mulai semuanya dari awal lagi ya? Mas janji akan menjadi pacar sekaligus suami yang terbaik untukmu," ucapnya penuh ketulusan. Selama Rianti hilang ingatan, ia menyadari satu hal, bahwa istrinya itu juga berhak menjalani masa-masa remajanya yang terhalang akibat ulahnya.


Rianti kembali menyeka jejak air mata dan mencoba mengerti perkataan suaminya itu.


"Maksud Mas?" tanya Rianti dengan ekspresi polosnya.


Ardi pegang bahu Rianti dan kembali menatap mata indah itu dengan sangat intens.


"Mas sadar selama ini begitu egois. Sekarang Mas gak akan seperti itu lagi. Mas akan berperan menjadi pacarmu dulu sebelum menjadi suamimu. Mas akan mengganti masa remajamu yang terlewatkan," terang Ardi yang langsung di respon senyuman mengembang dari bibir Rianti.


Rianti tangkup wajah Ardi dan membelai pipi dan rahang tegas Ardi.


"Itu artinya aku boleh melakukan apapun?" tanya Rianti dengan mata yang berbinar-binar. Kemudian langsung di respon anggukan cepat oleh Ardi.


"Aku gak akan di kurung lagi, kan?" Ardi kembali mengangguk.


"Selama itu dalam pengawasan Mas dan tidak ada laki-laki lain didalamnya. Mas pasti menuruti apa maumu," imbuhnya dengan menekankan kata lelaki lain pada kalimatnya barusan.


Rianti memutar bola matanya malas dan berdecak kesal karena sifat possesive Ardi kembali mencuat.


"Kalau gitu aku ingin kita berkencan, besok," ujar Rianti dan lagi-lagi di respon anggukan dan senyuman dari Ardi.


Ia mendekat ... lebih dekat ... sedikit lagi ... Napasnya sudah memburu, jantungnya makin bertabuh dan,


Degh!!!


Ardi tercekat karena tangan Rianti menahan bibirnya.


"Kalo lagi pacaran gak boleh main sosor. Dosaaaa ..." ucap Rianti sambil cekikikan setelah melihat ekspresi Ardi yang melongo keheranan. Ia pun beranjak dari kasur dan berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Tapi Sayang, gak adil ..." protes Ardi yang kecewa karena gagal menghidupkan suasana romantisnya.


"Udah jangan protes! Ayo masuk!" perintah Rianti.


Wajah Ardi kembali cerah saat sang istri mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi.


"Jangan ngeres, aku mau nyukur kumis Mas itu lho. Bukan yang lain," terang Rianti yang tentu saja berefek ke raut muka Ardi. Dengan langkah gontai ia pun masuk. Karena memang selama dua minggu di rumah sakit ia belum sempat cukuran.


Namun bukanlah Ardi kalau tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Di dalam kamar mandi bukannya bercukur melainkan yang lain.

__ADS_1


"Cukurannya nanti saja ya ... soalnya ada yang lebih mendesak dari pada wajah," bisik Ardi yang terdengar begitu sensual hingga meronalah pipi Rianti.


Namun ketika hendak ke permainan inti, Rianti langsung mengambil alih kendali.


"Sekarang aku aja yang jadi kapten," ucap Rianti bermetafora.


"Kamu yakin?" tanya Ardi keheranan.


"Tentu saja, aku kan udah belajar," jawabnya yang terdengar ambigu.


"Maksudnya!" ucap Ardi yang mulai salah paham. Bagaimana tidak, sang istri serumah dengan pria lain yang jelas-jelas menyukai istrinya.


"Stt ... jangan berpikiran yang gak enggak, tubuhku tidak pernah terjamah orang lain selain kamu, Mas."


****


Ardi : Makasih ya Thor. ( tersenyum lebar)


Author : hmm, jangan nagih-nagih lagi!


Ardi : ya gak bisa gitu lah. Kalo cuma sekali kapan juniornya tercipta.


Author : Idih otak kamu tuh banyak pasirnya. Ngeresss...


Ardi : Hahah ... siapa suruh nyiptain duda, udah gitu bucin pula.


Author : Iya. salah gue.. puasss!!!


Ardi : Eh BtW ... Film apa sih yang di tonton Rianti.


Author : Au ah gelaaaapp ( kaburr)


Ardi : Yeee Author ... kembali jangan lari...


wkwkwk iklannya kagak jelas yak...


yaudah sing penting ketawak ...


hahahah


jangn lupa like and komen ya gaes.. Authornya sedih. lapak sepi. view juga pergi..

__ADS_1


😔😔


__ADS_2