
Keesokan paginya.
Shinta mengerjap berkali-kali. Mencoba memfokuskan pandangannya yang masih terlihat buram. Ia memandang aneh ke sekeliling ruangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Di mana aku? Kenapa kepalaku pusing sekali? Batin Shinta seraya memegang kepalanya yang masih terasa berat. Tak berapa lama Shinta teringat akan pertemuannya dengan Ryan dan seketika itu juga matanya langsung membelalak lebar. Keringat dingin keluar dari pori-pori.
Apa jangan-jangan ...? Pikiran negatif menyelimuti otak Shinta.
"Tidak!!! Itu tidak mungkin terjadi," sangkalnya. Dengan perlahan Shinta menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Mata Shinta semakin membesar. Dengan satu tarikan napas panjang, "Aaaaaaaaaaaa ...." Teriakan Shinta menggelegar memenuhi sudut ruangan.
Veno yang sedang tertidur di kamar sebelah pun terperanjat dan langsung bergegas menemui Shinta.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Veno yang terlihat kalang kabut setelah mendengar teriakan itu.
Shinta meradang. Ia beranjak dari kasur dan memukul Veno dengan membabi buta. Ia terus saja menyerang Veno dengan bantal yang ia pegang.
Veno yang masih mengantuk tak sempat menangkis serangan dadakan itu. Ia hanya meringkuk, menutup kepalanya.
"Apa yang kau lakukan!!!" bentak Shinta disela serangan bantalnya.
Bugh ....
"Dasar penjahat!"
Bugh ....
"Otak mesum!"
__ADS_1
Bugh ....
"Kau bedebah!'
Bugh ....
"Kau kampret sialan!"
Umpatan demi umpatan keluar dari bibir tipis Shinta. Ia tidak perduli lagi dengan tatakrama atau apapun itu. Sekarang ia hanya ingin menumpahkan kekesalan yang sudah naik ke ubun-ubun.
Veno tersenyum tipis menyadari arah pikiran Shinta. Ia pun berdiri dan meraih bantal itu. Ia tatap lekat manik mata Shinta yang telah berkaca-kaca.
"Hey ... jangan sedih. Aku tidak melakukan hal yang tercela kepadamu, Shinta," ucap Veno. Ia mencoba menenangkan gadis yang tengah menangis di hadapannya.
"Bohong!!! Lalu kenapa aku bisa di sini? Kenapa pakaianku berubah jadi kemeja begini?" cecar Shinta tak percaya. Pikirannya langsung kosong ketika menyadari baju yang ia kenakan adalah kemeja yang hanya menutupi tubuh bagian atas dan pahanya saja.
"Aku tidak melakukan apapun. Justru akulah yang menyelamatkanmu dari Ryan. Tidakkah kau ingat kejadian semalam?" tanya Veno balik seraya memegang kedua pundak Shinta
Shinta berpikir sejenak.
"Tidak, aku sama sekali tidak ingat. Seingatku, aku hanya bertemu Ryan di kafe," terang Shinta sembari menghapus jejak air matanya.
"Tenanglah, aku sudah mengurus si bedebah sialan itu!" ujar Veno. Ia pun menjelaskan kejadian sesungguhnya pada Shinta. Bagaimana dia bisa ke sana dan seperti apa ia menghajar Ryan. Rahang Veno kembali mengatup. Ia menggeram mengingat kejadian semalam.
Sedangkan Shinta, tentu saja ia menangis pilu dalam pelukan Veno. Ia tak menyangka kejadian serupa terulang kembali karena kebodohannya. Dan lagi-lagi, Veno lah yang menjadi penyelamatnya.
"Udah, kamu jangan nangis lagi ya. Aku tidak akan membiarkan hal buruk menimpamu," ucap Veno dengan tulus seraya mengeratkan pelukannya.
Untuk sesaat Shinta merasa tenang. Ia nyaman berada di pelukan Veno. Namun mendadak ia lepaskan pelukan itu dan menyipitkan matanya.
"Jadi, Bagaimana kau menghilangkan pengaruh obatnya? Dan siapa yang mengganti pakaianku? cecar Shinta dengan menatap tajam pada Veno.
"Aku merendammu dalam air es," jawab Veno dan kemudian terukir senyum canggung di wajahnya.
"Dan soal pakaian ... itu itu ...." Veno tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendadak Veno salah tingkah dan wajah terlihat berubah warna.
__ADS_1
Shinta meradang. Ia tau arti ekspresi Veno. Darahnya mendesir, wajahnya merah padam. Ia mulai mengayunkan tangan kanan ke arah pipi Veno namun dengan cepat Veno menangkap pergelangan tangan itu.
"Maafkan aku Shinta, aku terpaksa melakukannya. Kamu 'kan tau sendiri, kalau para pembantu tidak ada yang menginap di rumah ini," terang Veno mencoba menangkan Shinta yang sudah siap akan mengamuk.
"Tapi bagaimana bisa kau menelanjangiku!!!" Shinta histeris. Ia tidak terima tubuhnya telah dilihat pria yang bukan muhrimnya.
Shinta lagi-lagi melayangkan tangan kirinya. Akan tetapi gagal, karena Veno kembali menangkap tangannya. Kini Shinta tak bisa bergerak, kedua tangan telah terkunci oleh Veno. Ia meronta, mencoba menarik pergelangan tangannya.
"Tenanglah Shinta, aku tidak melakukan apapun padamu. Soal pakaian ... itu kan situasinya darurat, emergency," elak Veno. Wajahnya terlihat pasi seperi tak mendapat aliran darah. Ia tidak pernah tau kalau shinta begitu mengerikan bila sedang marah.
"Tapi kau telah melihat yang seharusnya tak kau lihat, Veno!!! teriak Shinta. Ia masih meronta namun tetap saja tenaga Veno mengalahkan emosinya.
"Kau telah melihat semuanya. Bagaiman nanti dengan masa depanku. Suamiku pasti tidak akan terima bila tubuhku telah di lihat orang lain," ucap Shinta yang sudah terdengar sedikit rendah. Bulir air kembali keluar dari ujung matanya.
Veno melepaskan tangan Shinta kemudian menangkup wajahnya.
"Tidak akan, itu tidak akan terjadi, Shinta." Veno tatap intens bola mata Shinta yang sedang berair dan menyekanya dengan kedua jempolnya.
"Apa maksudmu?" tanya Shinta seraya membalas tatapan penuh arti itu.
"Karena akulah yang akan menjadi suami masa depanmu," jawab Veno pelan.
Dalam sekejap atmosfer terasa berubah. Tenang, senyap hanya ada deruan napas diantara keduanya. Mata mereka saling beradu. Menatap satu sama lain dengan pikiran masing-masing. Dada Shinta bertabuh cepat begitu pula Veno.
"Aku benar-benar mencintaimu. Apa kau sama sekali tidak memiliki sedikit pun perasaan untukku?" tanya Veno lirih.
Shinta tertegun, menahan degupan jantung yang ia sendiri bisa mendengarnya. Dup dup dup dup. Semakin lama semakin bertabuh. Ia gigit bibir bawahnya menahan gejolak yang entah berasal dari mana. Ia ingin menjawab 'ya' namun tak punya keberanian untuk bersuara.
"Aku anggap diam mu ini berarti setuju, Shinta" ucap Veno pelan.
"Tapi aku—"
"Tidak ada kata tapi. Ayo kita ke penghulu. Aku tak sabar untuk menjadikanmu istriku."
*****
__ADS_1
Cie cie cieeee.....
yukh jangan lupa like dan komen 😊