Duren Sawit

Duren Sawit
Ngidam bagian ke dua.


__ADS_3

"Veno!!!"


Teriakan Shinta dan Yulia menggema di dalam ruangan. Keduanya dengan cepat mendekati tubuh Veno yang sudah roboh, terbaring di lantai.


Yulia panik, pikirannya langsung kosong. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika melihat Veno yang tergeletak tak berdaya. Dengan tangan yang gemetar, ia angkat kepala Veno, memangkunya dengan hati-hati.


"Ambulan!!! Tolong panggilkan ambulan!!!" teriak Yulia kepada seorang karyawati. Tak ayal, karyawan wanita restoran itupun langsung bergegas keluar ruangan untuk menghubungi rumah sakit terdekat dengan ponselnya.


Sedangkan Shinta yang sudah ketakutan dengan cepat menekan luka tusukan dengan sapu tangan yang ia ambil dari atas meja.


Mas kenapa kamu nekat seperti ini. Shinta seka air matanya yang juga sudah terjun bebas membasahi pipi.


Dengan napas tersengal Veno memegang pipi sang mami. Menghapus air yang terus saja mengalir di pipi wanita paruh baya itu.


"Mam, a-ku aku minta ma-maaf karena ti-tidak bi-bisa menjadi anak kebanggaan Mami ..." lirih Veno yang kesulitan bernapas. Ada bulir air tertahan di ujung matanya.


Mendengar ucapa Veno yang tersengal-sengal membuat Yulia sesak, seakan ada batu berat menghimpit dadanya.


"Tidak Veno. Mami yang salah, Sayang." Suara Yulia bergetar. Tak mampu menahan kesedihan atas luka yang diderita Veno.


"Kamu anak mami satu-satunya, bagaimana bisa kamu bisa berakhir seperti ini?"


"Ayo bertahan. Sebentar lagi ambulan datang," imbuh Yulia lagi. Beberapa kali ia menarik napas panjang. Pilu, sedih, dan sakit melihat sang anak tak berdaya seperti itu.


Dengan bibir yang bergetar Veno balas ucapan sang mami dengan senyuman tipis. Kembali ia usap air mata di wajah ibunya. Dan Yulia pun dengan cepat meraih tangan Veno yang seperti berat untuk terangkat.


"A-ku sungguh menyayangi M-mami, tapi a-aku tidak bi-bisa hidup tanpa dia," ucap Veno dengan terbata-bata. Dadanya naik turun, terlihat begitu susah mengambil napas.


Yulia semakin mengeratkan pelukannya. Begitu sakit mendengar kenyataan sang anak memilih mengakhiri hidup karena egonya.


"Tidak sayang, Mami yang salah. Mami minta maaf. Bangunlah. Mami akan turuti apa maumu. Kau ingin menikah, bukan?" ucap Yulia dengan bibir yang bergetar. Ia tatap mata Veno yang berkali-kali mengerjap lemah.


"Ayo bangunlah. Kalau kau terbaring begini bagaimana kau bisa menikah," imbuh Yulia lagi.


Mendengar perkataan sang Mami mendadak Veno bangun dari posisinya. Sunyum sumringah pun terbentuk di wajah itu.


"Mami serius!!!"


****


Rianti sedang termenung di balkon rumahnya. Duduk sandaran di kursi tunggal seraya menatap langit malam yang tak berbintang. Semilir angin yang dingin seolah mampu menancap tepat ke jantungnya. Rianti menutup muka dengan telapak tangan. Meluapkan perasaan sakit dan sedih yang ia tak tau sejak kapan menjalar di hati. Ia hanya ingin menangis. Mengeluarkan air mata yang sama sekali tak bisa di bendung lagi.


Ardi yang memang sedang mencari Rianti tentu saja langsung berjalan menghampiri.


"Di sana rupanya," gumam Ardi seraya berjalan mendekat. Terukir senyum tipis di wajah tampan Ardi.

__ADS_1


"Sayang ka ...."


Ardi tak mampu melanjutkan ucapan. Ia terhenti karena melihat Rianti memandang langit dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


Ardi sekilas menengadah, menghadap ke langit, kemudian menghela napas. Yah ... kumat lagi. Ia garuk tengkuknya yang mendadak gatal.


Semenjak hamil mood Rianti begitu susah di prediksi. Kadang tertawa terpingkal-pingkal karena hal remeh. Dan adakalanya menangis sesenggukan tanpa alasan. Seperti malam ini dan malam-malam sebelumnya. Ia pasti akan menangis pilu ketika tidak ada bintang maupun bulan di langit malam.


Dengan langkah gontai Ardi berjalan mendekati Rianti. Ia berjongkok. Mengusap air dari pipi sang istri.


"Sayang ... jangan nangis lagi dong. Kasian debaynya," bujuk Ardi.


Rianti tak merespon. Ia masih melihat ke angkasa tanpa menghiraukan suaminya.


"Sayang ... udah dong. Kan gak baik untuk anak kita. Kalau kamu nangis terus, nanti dia juga ikutan sedih," imbuh Ardi lagi seraya mengusap pelan perut Rianti yang sedang membulat karena sudah menginjak usia delapan bulan.


Rianti meraih tissu di atas meja. Menyeka air mata juga menghembusakan lendir dari hidungnya. Menatap lekat mata teduh Ardi.


"Mas, aku juga maunya berenti. Tapi aku gak tau caranya," terang Rianti yang masih bercampur dengan isakan.


Rianti seka kembali bulir air di pipi.


"Mas tu gak tau rasanya jadi aku. Aku juga gak mau nangis. Tapi mata aku selalu berair, hati aku juga sakit Mas."


Rianti menarik napas panjang. Terlihat jelas ia berusaha untuk berhenti menangis. Namun, lagi-lagi air itu kembali mengalir dengan deras dan di iringi isakan Rianti yang makin keras.


Ardi seka air mata itu dari pipi sang istri dan menariknya ke dalam pelukan. Ia usap perlahan rambut yang beraroma stroberi.


"Iya ... Mas gak tau rasanya jadi kamu. Mas juga bersalah karena gak bisa jadi kamu. Andai saja kesulitan kamu bisa Mas ambil alih, pasti sudah dari dulu Mas lakukan," ucap Ardi tulus.


Tak di pungkiri, perkataan sepenuh hati itu memberikan getaran di hati Rianti. Getaran yang membuatnya makin bergantung pada Ardi. Walaupun sudah menikah lebih dari setahun, tetap saja kata-kata manis Ardi seperti permen yang mampu menenangkan Rianti apapun situasi dan kondisinya.


"Maafin Mas ya," sesal Ardi.


Tak ada jawaban dari Rianti. Namun, isakannya sudah sedikit mereda. Rianti eratkan pelukan. Menghirup aroma maskulin sang suami yang sedikit bisa menenangkan penyakit dadakan yang ia derita.


"Tapi Mas janji, setelah ini akan membahagiakan kamu dan anak kita. Mas janji, inilah tangisan yang akan kamu keluarkan," imbuh Ardi yang masih mengusap, membelah rambut halus Rianti.


Tiba-tiba Rianti dengan kasar mendorong tubuh Ardi. Memegang perut yang mengeras, nyeri.


"Kenapa?" Ardi panik. Melihat Rianti mengerang, samar.


Rianti gigit bibir bawahnya, mengusap pelan perut searah jarum jam. Ia bahkan memejamkan mata dengan erat hingga nampaklah kerutan membentang di dahinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ardi lagi yang sudah mulai terlihat gelisah. Ia seka keringat yang mengucur dari kening Rianti. Akan tetapi Rianti masih tak bisa menyahut. Gerakan sang calon bayi benar-benar kuat hingga ia harus menegakkan tubuh menahan sensasi terik di bagian perut.

__ADS_1


"Mas, coba tenangin anak kamu. Sakit ni," ucap Rianti dengan mata yang masih terpejam.


Ardi pun dengan cepat meletakkan tangannya dan mengusap kulit perut Rianti yang sudah membuncit. Dan benar adanya. Pergerakan anaknya di dalam sana luar biasa kuat. Membuatnya membelalakkan mata kemudian terukir seulas senyum bahagia di bibirnya. Ia usap perut itu dengan lebut, mengecup seraya berbisik.


"Sayang ... jangan kuat-kuat. Kasian Bunda."


Ardi usap kembali dengan pelan dan dalam sekejap gerakan dahsyat itu langsung tenang dan raut wajah Rianti mulai malemas.


Setelah merasa sedikit nyaman, Rianti menangkup wajah Ardi yang memang sedari tadi duduk bersila di hadapannya.


"Anak Mas ini benar-benar nakal, persis ayahnya," ucap Rianti, tersenyum lega.


Kira-kira cewe apa cowo ya. batin Ardi seraya mengusap kembali perut Rianti.


"Yang kamu beneran gak penasaran dengan kelamin anak kita? tanya Ardi, heran.


"Gak Mas. Biar jadi kejutan. Yang penting anak kita sehat. panjang badan dan berat badan sesuai. Aku cukup tau itu aja," terang Rianti.


"Tapi kan kita perlu persiapkan nama, Yaaang," ucap Ardi lagi yang terdengar memelas.


"Gak perlu Mas. Aku udah siapin nama," sahut Rianti.


"Siapa?"


"Rahasia dong."


****


Ardi : Ada ya Thor orang ngidam kaya gitu. Kok aku baru tau.


Author : Gak tau. Gue juga bingung. Pasalnya waktu gue ngidam gak gitu-gitu amat.


Ardi : Lah terus ngapain kamu bikin Rianti begitu. 😡


Author : Entah. Gue seneng ja gitu buat hidup lo ngenes. hahahah


****


Bigimane?


Masih gaje?


heheh


like nya dung ... komen sama vote.

__ADS_1


udah mau end ni. Jangan pelit-pelit. heheheh


__ADS_2