
****
Pergulatan panjang terjadi di motel yang bernama HAPPY. Ya memberikan kebahagiaan juga untuk Rianti dan Ardi. Kebahagiaan surgawi yang selalu di cari-cari oleh semua pasutri.
Rianti yang kelelahan masih mencoba mengatur napasnya. Ia tersenyum hangat memandang Ardi yang berkeringat. Karena memang tidak ada AC di sana.
Sadengkan Ardi, si suami perkasa hanya tersenyum puas karena sekarang tidak perlu lagi menahan keinginan karena sudah ada Rianti si pawang pedang ajaib nan cantik yang tak pernah menolak, tepatnya tak bisa menolak keinginan Ardi.
Ia mengecup kening Rianti kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Tidak lama keduanya pun terlelap karena kelelahan.
Siang hari.
Ardi sudah berada di kediaman Ady Gustiawan, ayah Rianti sekaligus mertuanya.
Nuansa yang nyaman, di tambah saudara yang ramai membuat suasana begitu menyenangkan, sesekali Rianti tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon dari adik-adik yang di rindukannya. Sedangkan Ardi yang merasa sedikit di acuhkan Rianti memilih duduk di kursi rotan di teras rumah.
"Bu, kakak di mana?" tanya Rianti yang dari tadi tidak melihat Reka. Ia rebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Biasalah, kakakmu lagi di kamar," ucap Dewi sambil membereskan sisa makan ringan yang berantakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam kantong kresek berwarna hitam.
"Kak Reka kenapa makin hari semakin suka menyendiri. Kalau terus seperti itu kapan bisa menikah?" tanya Rianti yang terlihat sedih.
"Iya Ri ... bapakmu juga mikirnya begitu. Malah pengen jodohin sama Kris anak pak Bambang segala. Tapi kalau melihat sifatnya yang begitu pasif ibu jadi ragu. Nanti malah membuat keluarga pihak laki-laki gak enak hati. Mau nolak gak enak, mau lanjut lebih gak enak. Jadi sekarang ibu sih terserah dia aja. Kalau udah ketemu jodohnya pasti bakal nikah," jawab Dewi dengan panjang lebar.
Dewi terdiam sejenak dan menghembuskan napasnya perlahan. Dewi tak bisa menyembunyikan kesedihannya akan anak sulungnya itu. Ia tidak ingin Reka mendapat predikat sebagai perawan tua namun juga tak bisa apa-apa untuk mengubah Reka agar bisa sedikit lebih ramah pada orang lain.
"Kamu ingat orang yang dulu nganterin kakak kamu. Itu lho yang namanya Irwan. Yang bantuin kakak kamu waktu keserempet mobil."
"Iya Bu, Riri ingat."
"Dia sepertinya tertarik dengan kakak kamu. Cuma ya gitu. Kakak kamu gak ngerespon sama sekali perasaan Irwan. Akhirnya Irwan mundur teratur terus gak pernah lagi datang kemari. Padahal Irwan itu dokter lho Ri." Kenang Dewi akan sosok Irwan si calon mantu idealnya.
*****
"Apakah Riri sering merepotkanmu, Nak?" tanya Ady yang baru keluar dari dalam rumah dan memilih duduk di sebelah Ardi.
"Tentu tidak, Om. Aku sangat mencintainya. Jadi kalaupun itu sesuatu yang merepotkan ... aku akan ikhlas melakukannya asal dia bisa tertawa."
Ady menggenggam tangan Ardi.
__ADS_1
"Jangan panggil, Om. Panggil Bapak saja." pinta Ady.
"Syukurlah kalau begitu. Saya senang Riri mendapatkan suami yang sudah dewasa, jadi bisa melindungi dan menyayangi dirinya."
Ardi masih terdiam, karena merasa ayah mertuanya itu akan memberikan nasehat tentang rumah tangga kepada dirinya.
"Riri itu anak yang baik, pemaaf juga penurut. Dia sepertinya sudah dewasa di usianya yang masih belia. Mungkin karena merasa bertanggung jawab atas adik-adiknya, jadi dia selalu mengalah apapun situasi dan kondisinya. Riri sama sekali tidak pernah merepotkan kami. Sebagai orang tua saya bangga namun juga sedih karena belum bisa membahagiakan dia."
Terlihat raut kesedihan di wajah Ady.
"Tidak mengapa, Pak. Saya akan berusaha untuk membahagiakan Riri," ucap Ardi meyakinkan mertuanya itu.
Ady tersenyum ramah.
"Namun apa kau tau sifat buruknya itu?" tanya Ady yang membuat Ardi menjadi penasaran.
Ardi menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Dia itu pendendam."
Ardi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ady tersenyum melihat ekspresi Ardi yang kelihatan bingung.
Ardi lagi-lagi hanya mengangguk pelan.
"Kalau semisal kamu melakukan kesalahan dan meminta maaf padanya, tentu kamu akan ia maafkan. Tapi di lain kesempatan ia pasti akan membalasmu." imbuh Ady lagi.
"Jadi kalau kamu punya salah akuilah kesalahamu segera. Jagan sampai ia tahu dari orang lain. Kalau sudah seperti itu, maka tidak akan ada kesempatan kedua untukmu."
Mendengar perkataan dari ayah mertuanya itu membuat Ardi sedikit khawatir tentang rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari Rianti.
Setelah beberapa jam di sana akhirnya mereka pamit pulang. Dengan berat hati Rianti meninggalkan keluarganya untuk kembali ke rumah tangganya sendiri.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah, dan mang udin dengan segera mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi mobil. Ardi keluar dari mobil dan merangkul tubuh sang istri masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba seseorang menelepon dirinya.
Ardi memeluk tubuh Rianti dari belakang seraya mengecup puncak kepala Rianti.
"Sayang, Mas keluar dulu ya ... mau ketemu Veno."
"Ini udah malam, Mas. Udah hampir jam sembilan malam lho. Gak cape apa?" tanya Rianti dengan wajah sedikit ditekuk. Seakan tak rela suaminya itu pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Jangan cemberut gitu donk ... cuma bentar aja. Ketemunya pun di cafe dekat sini."
Rianti melepaskan pelukan dan menghadap ke arah Ardi.
"Hm ... ya udah deh. Hati-hati ya ...."
Ardi tersenyum dan mengecup cepat bibir sang istri sebelum akhirnya berlalu pergi.
Di Cafe.
Terlihat Veno sedang duduk menunggu kehadiran seseorang. Sesekali ia menatap pintu masuk berharap Ardi, orang yang ia tunggu cepat datang.
Veno memanggil Ardi dengan suara setengah berteriak sambil mengangkat tangannya.
"Di sini!"
"Ada perlu apa?" ucap Ardi to the point seraya duduk di atas kursi.
"Aku hanya penasaran. Siapa itu Amir?" tanya Veno yang sudah penasaran sejak kemarin malam.
"Lalu kenapa kau bisa bersama kakaknya?" tanya Ardi yang balik penasaran tentang hubungnnya degan kakak Amir.
"Namanya Jessika. Mami mau menjodohkanku dengannya."
"Terus kamu mau?" tanya Ardi lagi.
"Ya enggak lah ... kelakuannya udah kayak bar-bar gitu."
"Trus apa kamu mengenal Amir?" tanya Veno lagi.
"Tentu saja aku mengenalnya, aku sudah mengamati Rianti selama 3 tahun. Jadi aku tau siapa saja yang dekat dengannya, termasuk Doni dan amir."
Veno berdecak heran dan menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya apa yang barusan ia dengar.
"Kamu benar-benar pintar. Bagaimana bisa kamu melakukan itu?" ucap Veno yang menatap tajam kearah Ardi.
"Apa salahnya! Aku tidak melanggar hukum! Aku hanya mengawasi tanpa menyakitinya" ucap Ardi yang mulai tersulut emosi setelah mendengar ucapan sarkis dari Veno.
"Lalu bagaimana kau bisa menyingkirkan Doni? Aku dengar dia menghilang tanpa jejak."
"Aku mengirimnya belajar keluar negeri."
__ADS_1
Veno berdecak heran dan masih menatap tajam ke arah Ardi.
"Lalu bagaimana dengan Amir? Apa kau yang melenyapkannya?" tanya Veno yang mulai curiga.