Duren Sawit

Duren Sawit
Bumil


__ADS_3

"B-bukan aku pelakunya," ucap Jessika terbata-bata. Ia mendadak takut berhadapan dengan Ardi, si dosen mantan pujaan hati.


"Kalau kau tidak percaya ... kau bisa mengecek setiap sudut CCTV yang ada di daerah sini," imbuhnya lagi mencoba membuktikan kalau dirinya memang tidak bersalah.


Ah sial! Kenapa aku bisa melupakan hal mendasar seperti itu.


"Baiklah," ucapnya datar. Ardi pun berbalik hendak meninggalkan rumah Jessika. Ardi hentikan langkahnya tanpa membalik tubuh


"Amir meninggal bukan kecelakaan, dan bukanlah Rianti pelakunya. Aku juga ada tempat kejadian. Aku dengan jelas melihat adikmu dibuntuti dari sekolah dan ditabrak ketika jalanan sedang sepi," ungkap Ardi tentang kecelakaan yang menimpa amir dua tahun lalu.


"Coba kalian telusuri siapa saja yang menyimpan dendam kepada keluarga kalian," imbuhnya lagi kemudian berlalu pergi menuju post satpam yang memiliki CCTV perumahan elit tempat Jessika tinggal.


Ardi masuk ke dalam mobil dan menenggak air mineral yang selalu sedia di dalam mobilnya. Ia baru merasakan sakit di tangan kanannya ketika tidak sengaja terkena tumpahan air. Ia baru menyadari kalau tangannya yang sudah berlumuran darah.


"Argh sial!" desis Ardi dan Ia ambil dasi yang ada di dalam laci mobil untuk melilit lukanya dengan asal-asalan. Yang penting darah tidak menetes, begitu pikirnya.


Ardi melihat dengan seksama satu per satu rekaman kamera pengawas yang diperlihatkan satpam komplek. Dahinya mengkerut dan alis sedikit terangkat. Ia pun memijit-mijit dahinya yang tidak sakit.


"Itu artinya Jessika berkata jujur," batin Ardi.


Ardi mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih Pak," ucapnya singkat kepada satpam yang sudah lumayan sepuh itu. Lalu berlalu pergi meninggalkan komplek perumahan elit tempat Jessika tinggal.


Si satpam hanya mematung kebingungan, tidak percaya ada laki-laki yang tampan tapi galak namun murah hati. Buktinya ia bisa menerima duit sejuta dengan hanya memperlihatkan rekaman CCTV.


"Bodo amat lah ... yang penting dapet duit. Bisa dipake untuk bayar uang sekolah Sasa," pikir si satpam dan ia pun melanjutkan pekerjaannya.


Di rumah sakit.

__ADS_1


Mahendra sedang duduk di sofa dan memperhatikan menantunya dengan tatapan sendu. Ia tau ia juga ikut bersalah atas kesalahan Ardi. Namun, demi anak apapun bisa dilakukan Mahendra meskipun bertentangan dengan nuraninya sendiri. Itu pun berlaku juga pada semua orang tua di dunia ini.


Rianti memaksakan diri mengunyah bubur yang terasa susah untuk ditelan, Akan tetapi, Shinta dengan telaten menyuapi makanan yang tidak ingin ia makan. Sesekali Rianti pandang wajah sepuh mertuanya itu. Mertua yang baik hati namun memiliki anak yang begitu ia benci. Rianti pun berusaha menyunggingkan senyum kepada Mahendra yang masih berstatus ayah mertuanya.


"Udah ya Shin ... aku kenyang," ucapnya sambil menahan sendok yang sedikit lagi mengenai bibirnya.


"Gak bisa! Kamu baru makan dikit loh. Ayo cepet Aaa ..." ucap Shinta sambil mulutnya juga menganga seolah sedang memberi makan anak kecil.


Rianti pun mengunyah makanan itu dengan terpaksa dan mendorongnya masuk ke dalam perut dengan meneguk air putih yang berada di meja samping ranjangnya.


Tiba-tiba Rianti merasakan mual dan air liur terasa penuh di mulutnya. Ia pun langsung menutup mulut dan mencari wadah untuk mengeluarkan isi perutnya.


Shinta yang tau kondisi Rianti dengan sigap mengambil kantong keresek bekas bungkus bubur ayam yang ia beli.


"Hoek ... hoekk."


"Shin kayanya ada yang aneh dengan perutku, rasanya gak enak banget," keluh Rianti ketika sudah selesai menguras habis isi perutnya.


"Mungkin karena masuk angin, Ri," sahut Shinta sambil memijit-mijit pundak Rianti


Tidak berapa lama Melati datang dengan beberapa perawat dan dokter magang yang mengikutinya dari belakang. Seketika itu juga wajah Shinta berubah menjadi pucat. Ia belum sempat mengatakan kepada Melati untuk merahasiakan tentang kehamilan Rianti.


"Bagaimana keadaanmu pagi ini?" tanya Melati dengan senyuman ramahnya.


"Udah agak mendingan Dokter," sahut Rianti.


Shinta yang berada di belakang Rianti menatap melati dengan intens seakan memberikan kode. Ia silangkan jari telunjuk tangan kanan dan kirinya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tak lupa pula mulut yang terlihat komat-kamit seperti orang yang sedang membaca mantra.


Melati dan yang lainnya hanya tersenyum geli bahkan ada yang tertawa melihat tingkah absurd Shinta. Mareka benar-benar tidak mengerti maksud kode yang Shinta berikan.

__ADS_1


"Tapi kenapa ya ... saya dari tadi merasakan mual dan muntah-muntah. Apakah karena efek obat? Atau mungkin masuk angin?" tanya Rianti beruntun dengan ekspresi polosnya, yang tentu saja membuat senyuman Melati semakin lebar.


Melati mendekati Rianti seraya berkata.


"Itu bukan efek obat. Itu memang karena kamu sedang mengandung, dan orang yang sedang mengandung pasti merasakan mual di pagi hari atau yang biasa di sebut morning sickness," jelas melati secara gamblang.


Rianti yang mendengar pernyataan Melati pun langsung tertegun. Perasaaanya campur aduk. Rianti merasa senang, kesal, marah dan sedih di saat yang bersamaan. Air matanya pun kembali menetes. Hatinya terasa sakit mengingat rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja.


Shinta yang berada di belakang Rianti hanya terkulai lemas dan menghela napas panjangnya.


Yahhhh ... ketahuan juga. Jadi orang miskin mah susah. Untuk menjaga rahasia aja gak bisa apalagi menjaga harta.


Shinta yang berdiri di belakang Rianti pun merangkul pundak dan memeluk tubuh lunglai Rianti. Sedangkan Melati hanya mengernyitkan dahi tidak tau situasi dan kondisi apa yang ia hadapi sekarang.


"Kamu jangan menangis, gak baik buat kandunganmu," ucap Melati mencoba menghibur Rianti. Namun setelah mendengar kata Melati tangisan Rianti semakin nyaring hingga menggema di dalam ruangan.


Melati dan yang lainnya bingung menghadapi sikap Rianti yang menangis meraung-raung. Ia meninggalkan Rianti setelah memberikan obat dan sedikit nasihat untuk kebaikan Rianti dan calon bayinya. Kemudian kembali bertugas mengunjungin pasiennya yang lain.


Sambil berjalan meninggalkan Ruangan VIP tempat Rianti menginap Melati terus-terus saja berpikir.


Apa karena hormon ya? Atau karena dia ibu muda yang masih labil ... atau mungkin dia tidak ingin memiliki bayi Ardi? Masa sih ... Tapi tidak mungkin ... secara Ardi tidak ada kekurangan sama sekali. Dia tampan dan kaya, ya ... meskipun tidak ramah tapi its ok lah. Bibit bebet dan bobotnya sudah bisa dipastikan mutunya sudah terjamin. Semua wanita pasti rela mengandung anak dari seorang Ardi. Tapi apa alasannya bertingkah sepertu itu?


Begitulah pertanyaan demi pertanyaan yang ada di dalam kepala Melati.


****


Gaes ... jamgan lupa tinggalin like, komen dan vote kalaian dong. Karena itu bener-bener mambantu saya buat ngelanjutib ceritanya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2