Duren Sawit

Duren Sawit
Usaha Ardi


__ADS_3

Tolong donk support author dengan beri like di setiap episodenya, heheh biar saya lebih kenceng lagi up nya.


Happy reading.


****


Sontak saja ketiganya terkejut akan kehadiran orang yang tidak pernah mereka harapkan.


Ngapain dia ke sini? Batin Rianti setelah menatap sekilas wajah orang yang ada di sebelahnya. Entah kenapa ada rasa tidak suka saat melihat Ardi.


Sedangkan Ardi menatap lama wajah istrinya itu, hingga Shinta sengaja berdehem dan membuyarkan pandangaannya


"Kamu baik-baik saja, kan? Kepala kamu masih sakit gak? Terus kenapa pipi kamu tirus begini?" tanyanya sambil memegang kening, kepala, dan terkhir pipi Rianti hingga membuat Rianti salah tingkah sendiri.


Aku sangat merindukan kamu, Ri. Batin Ardi disela tatapannya.


Davin yang melihat adegan itu pun mendengus kesal.


Nih orang tua bisa aja modusnya.


"Yuk sayangku manisku cintaku, kita masuk kelas. Di kantin kaya ada demitnya. Hawa-hawanya gak enak banget, bau busuk!" sindirnya. Davin pun menarik paksa tangan Rianti hingga Rianti mau tak mau mengikuti langkah Davin.


"Ciee cie cieee ... punya saingan ni ye ..." bisik Shinta yang sengaja membuat api cemburu Ardi semakin besar. Shinta berlalu dengan tersenyum puas, meninggalkan Ardi yang masih duduk mematung terbakar emosi di kantin sekolah.


Awas kamu, tunggu pembalasanku, batinnya menggeram. Ardi pun meminum kopi yang ia pesan tanpa meniupnya terlebih dahulu.


Ahh sial! Masih panas rupanya.


Ardi mendengus kesal seraya menahan lidahnya yang terasa terbakar.


Ardi pergi dari kantin setelah membayar kopi yang bahkan belum masuk ketenggorokannya.


"Bener-bener apes. Pagi-pagi udah panas hati plus panas mulut," gumamnya pelan.


Bel berbunyi tanda jam pelajaran dimulai.

__ADS_1


Shinta dan Rianti berada di kelas Xl IPS 2. Mereka duduk di dekat jendela, di baris ke empat sedangkan Davin dan sahabatnya yang bernama Edo duduk di belakang mereka.


Suasana kelas terdengar riuh rendah. Macam-macam tingkah polah para siswa. Ada yang asuik dengan ponsel, ada yang komat-kamit menghapal pelajaran dan masih banyak lagi. Shinta terlihat merebahkan kepalanya di meja dengan beralaskan lengan kirinya.


Sedangkan Rianti memilih melihat pemandangan di luar jendela. Melihat para siswa yang bermain basket di bawah sana. Ya, gedung sekolah mereka terdiri dari tiga lantai. Dan kelas Rianti berada di tengah-tengahnya. Setiap lantai memiliki sembilan ruang kelas dan semuanya terisi full oleh murid. Maklumlah sekolah elit, dari gedung hingga murid semuanya terlihat wahh. Lantai pertama untuk kelas X (sepuluh), lantai ke dua untuk kelas XI ( sebelas ), dan lantai tiga untuk kelas XII ( dua belas ).


Rianti teringat kejadian di kantin sekolah tadi. Ia melihat pandangan Ardi yang lagi-lagi tidak biasa ia uraikan. Entah pandangan apa itu, tapi yang jelas membuat hati Rianti tak karuan. Membuatnya merasa sedih namun senang di saat yang bersamaan.


"Eh Ri, pinjem catatan matematika kamu dong. Aku kemaren gak nyatet," pinta Tasya yang duduk di depan Rianti. Sontak saja Rianti tersadar dari lamunan dan langsung meminjamkan buku catatannya kepada Tasya, atau yang lebih akrab di sapa Sasa. Sasa adalah gadis cantik dengan tubuh tinggi, ramping, kulit putih dan rambut ikal sebahu yang membuatnya di nobatkan sebagai primadona sekolah.


"Makasih ya," ucapnya sambil tersenyum ramah.


Diluar kelas terlihat Ardi dan Eldi berjalan menuju kelas.


"Kamu gak apa-apa ngajar di sini? Ngajar anak SMA bener-bener nguras tenaga dan emosi lho ... beda sama ngajar mahasiswa," ujar Eldi yang memang tau betul perbedaan menjadi dosen dan guru, ya walaupun keduanya sama-sama sibuk dan melelahkan. Tapi menjadi guru SMA memang harus diwajibkan tahan banting.


Ardi menghela napasnya karena tau betul maksud perkataan Eldi. Ia pun kembali memantapkan hatinya yang sejak pagi mood positif nya ambyar karena Davin.


Aku gak boleh kalah dari bocah ingusan itu!


"Tapi bagaimana dengan informasi istrimu? Tidakkah kau takut semua akan terbongkar?" tanya Eldi secara beruntun.


"Aku sudah mengatur semuanya, jadi tidak akan ada yang tau tentang ini."


"Ya sudah, semoga berhasil," ucap Eldi mencoba memberi semangat pada teman masa kecilnya itu.


Tidak lama kemudian Eldi dan Ardi pun masuk kedalam kelas. Tentu saja suasana yang awalnya riuh menjadi lebih riuh lagi karena kedatangan mereka.


Eldi mengangkat tangan kanannya sebagai kode agar murid duduk dan tenang. Setelah situasi mulai senyap barulah Eldi berbicara di depan kelas.


"Anak-anak, kita kedatangan guru baru di sekolah kita. Dia sementara akan memegang mata pelajaran matematika selama bu Sofia cuti melahirkan."


Semua murid terdiam, lebih tepatnya terpesona akan dua makhluk sempurna ciptaan Tuhan. Bahkan murid laki-laki pun terlihat iri kepada mereka. Eldi yang mempunyai postur tinggi, kulit sawo matang, hidung yang mancung dan mata yang agak belo membuatnya terkesan maccho. Sedangkan Ardi yang asalnya memang keturunan orang pribumi dan chiness memiliki wajah lebih condong ke arah chiness. Jadi ia juga memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. ya ... ketampanan yang sebelas dua belas dari Eldy. Kalau Eldi terkesan gentleman sedangkan Ardi terkesan imut tapi tetep keren.


"Hallo semuanya ... perkenalkan saya Ardi Mehendra Abbas, panggil saja Pak Ardi. Saya akan mengajar matematika selama enam bulan kedepan. Saya harap kalian bisa bekerja sama tanpa banyak menguras tenaga saya," ucapnya tegas sambil melemparkan senyumnya. Situasi yang awalnya terkendali dan konsusif kembali terdengar riuh- rendah.

__ADS_1


"Senyum Bapak manis banget sih, Pak. Nanti bisa-bisa kami mengidap diabetes semua kalo begini ceritanya," celetuk siswi yang berada di pojok paling belakang.


"Uuu ...."


Semua murid bersorak setelah mendengar perkataan nyeleneh itu.


"Pak, Bapak tau gak bedanya nama Bapak sama novel online?" tanya Sasa yang tak mau kalah.


Ardi hanya menggeleng, tidak mengeti maksud pertanyaan konyol muridnya.


"Kalo novel online di tulisnya di platform. Tapi kalo nama Bapak di tulisnya di hati aku."


"Huuuuu ...."


Lagi-lagi murid kembali bersorak setelah mendengar gombalan yang di lontarkan si primadona sekolah.


Ardi yang di gombalin di depan kelas hanya bisa tersenyum menahan tawa. Baru kali ini aku di gombalin secara massal, batinnya.


"Ya sudah ... tenang-tenang! Kita berada di dalam kelas bukannya pasar ikan," tegas Eldi dan semua murid kembali diam, walaupun ada yang masih berbisik-bisik pada teman sebangkunya.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Pak Ardi semoga betah di sini," ucap Eldi kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas.


Ardi memandang hangat sekilas wajah Rianti yang sangat ia rindukan, namun tatapannya menjadi berubah tak senang tatkala melihat ada Davin yang duduk di belakang Rianti.


"Baiklah anak-anak. Perkenalannya cukup sampai di sini saja. Sekarang keluarkan buku kalian karena kita akan mulai pelajarannya."


Ardi menuliskan satu soal trigonometri di papan tulis.


"Apa ada yang bisa jawab?" tanyanya kemudian.


Semua murid terdiam, senyap pertanda tidak ada yang tau jawabannya. Kemudian ide gila terlintas di benak Ardi.


"Kamu ... ya kamu yang duduk di kursi pojok sana," ucap Ardi sambil menunjuk ke arah Davin.


"Ayo maju ... selesaikan soal ini!" perintahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2