
Setelah tiba di rumah sakit, Rianti langsung masuk ke IGD dan di tangani oleh seorang dokter dan perawat.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ardi yang begitu terlihat khawatir.
Rianti yang mendengar perkataan Ardi hanya tertawa kecil seakan sedang mengejek calon suaminya itu.
Istri apaan, nikah aja belom.
"Tidak apa-apa, Pak. Tidak ada luka yang serius. Setelah ini juga bisa langsung pulang. Ini resep obat yang harus Anda tebus di apotik," kata dokter itu sambil meyerahkan selembar kertas kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ardi duduk di samping Rianti yang sedang sandaran di atas ranjang rumah sakit. Ia tangkup wajah pucat Rianti dengan kedua telapak tangannya hingga mata mereka pun beradu pandang. Ia menatap dalam mata bening gadis itu.
Aku begitu takut tidak bisa menatap mata indah ini lagi. Stella jangan tinggain aku lagi ya.
Rianti yang mendengar suara hembusan napas berat dari Ardi hanya bisa terdiam. Ia tidak tau apa yang di pikirkan oleh pria yang ada di hadapannya.
"Kamu jangan pernah pergi dariku," ucap Ardi pelan. Ia pun menarik tubuh kecil Rianti kedalam pelukannya. Memeluknya dengan hangat dan mencium pucuk kepala gadis itu. Ia curahkan segala kegelisahannya yang tak kunjung hilang.
Rianti hanya mengangguk kecil sambil meraba pelan dada bidang milik Ardi. Mendadak wajahnya terasa panas dan jantung berdegup dengan cepat.
Astaga ... kenapa aku jadi mesum begini. Sadar Rianti, sadar!
Rianti melepaskan pelukan dan mencoba bersikap senormal mungkin.
"Bagaimana cara Mas bisa menemukan aku? Terus apa Mas kenal sama penculik itu?" tanya Rianti penuh selidik.
Ekspresi Ardi mendadak berubah, kini ia terlihat gugup.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Aku bisa menemukan lokasimu karena penculik itu minta uang tebusan. Dan dari sana lah kami bisa menemukan mu," terang Ardi.
Rianti mengernyitkan dahi menverna penjelasan dari Ardi.
"Benarkah? Tapi penculik itu sepertinya punya dendam keramat padamu, Mas," tanya Rianti lagi.
"Mungkin saja dia itu salah satu saingan bisnis ayah," ucap Ardi gugup seraya berdiri dari ranjang Rianti
"Tapi ...."
Belum sempat Rianti menyelesaikan perkataannya, Ardi sudah mendaratkan jari telunjuknya ke bibir Rianti.
"Sttt ... jangan banyak mikir. Percaya aja sama aku ya ... sekarang kamu istirahat aja. Aku akan minta izin sama pihak rumah sakit agar kamu bisa tinggal di sini malam ini. Aku juga akan menelepon keluargamu. Jadi kamu jangan khawatir," terang Ardi yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia pun mengecup pucuk kepala calon istrinya itu kemudian pergi menuju ruang dokter.
__ADS_1
Baiklah, aku akan mencoba mempercayai kamu, Mas.
*****
Rianti melihat pantulan wajahnya di dalam cermin. Memandang memar yang masih terlihat walau sudah di poles make up.
Tok tok tok.
"Ri, udah siap belum?" tanya seseorang yang ada di belakang pintu kamar Rianti.
"Iya ... bentar!" sahut Rianti dengan nada setengah berteriak.
Ia berdiri dan merapikan baju serta tatanan rambutnya.
Sebelum keluar kamar Rianti kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna pink dan sanggul yang tertata indah di atas kepala, namun cantiknya penampilan Rianti tak bisa menghapus rasa gugup yang yang begitu terlihat jelas di wajahnya. Jantungnya berdetak cepat tak seperti biasa. Sesekali ia melatih bibir dan menarik pipinya untuk bisa tersenyum.
Tenanglah Rianti, jangan gugup. Bismillah.
Rianti perlahan berjalan melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Di sana telah ramai sanak saudara dan para kenalan sedang duduk bersila. Terlihat seperti bentuk lingkaran yang mengelilingi sebuah meja.
Ardi tersenyum ketika melihat Rianti tiba. Tapi tidak untuk Rianti. Gadis itu semakin gugup, wajahnya menjadi pucat pasi saat duduk bersebelahan dengan Ardi yang sudah rapi dengan setelan jas serta kopiah di kepalanya.
Rianti melihat wajah ayah dan ibunya yang sedang duduk bersebelahan dengan pak penghulu. Terlihat senyum bahagia terpancar dari wajah kedua orang tuanya itu.
Suasana seketika hening, hanya terdengar suara pak penghulu yang menggema di memenuhi sudut ruanga.
"Saudara Ardi Mahendra Abbas bin Mahendra Abbas, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rianti binti Ady Gustiawan dengan mas kawinnya berupa emas 500 gram, tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rianti binti Ady Gustiawan dengan maskawinnya tersebut, tunai."
"SAH"
"SAH"
"SAH"
"Alhamdulillah."
Terdengar suara riuh rendah para saksi tamu di dalam rumah.
Terlihat senyum bahagia dari bibir Ardi begitu pula dengan keluarga yang lainnya. Hanya Rianti yang berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum kepada semua orang.
__ADS_1
Ady dan Dewi yang berada di samping pak penghulu, merasa sedih dan bahagia di saat bersamaan ketika melihat anak gadisnya akan menapaki kehidupan baru sebagai seorang istri.
"Ciumlah tangan suamimu, Nak," ucap Ady.
Dengan malu-malu Rianti mengikuti apa yang di perintahkan sang ayah. Ia mencium punggung tangan laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya. Dan ketika Ardi akan mencium kening Rianti, gadis itu dengan refleks menarik wajahnya, sontak saja suasana yang sudah tenang kembali riuh melihat tingkah Rianti yang tidak terduga.
Pernikahan berjalan lancar walaupun di iringi dengan tingkah Rianti yang tidak bisa di prediksi. Ia bahkan menangis tersedu-sedu dan tidak mau melepaskan diri dari pelukan sang ibu.
****
Selama di perjalanan Rianti terdiam seribu bahasa. Ia hanya memandang keluar kaca mobil, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ardi mencoba menyetel musik untuk menghidupkan suasana, namun sama sekali tidak ada perubahan dari sikap Rianti yang masih betah dengan lamunannya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Ardi.
"Sayang ... sayang ..."
Ardi memanggil istrinya berkali-kali namun tidak ada jawaban.
Ardi menggenggam tangan Rianti.
"Kamu kenapa Ri, dari tadi hanya diam terus. Apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanya Ardi yang masih fokus memandang jalanan.
"Bukan begitu Mas, aku hanya belum terbiasa dan merasa sedih kalau jauh dari orang tua," terang Rianti.
Mendengar penuturan Rianti, Ardi menghentikan laju mobilnya dan menepi.
"Sayang lihat aku," ucap Ardi sambil memegang bahu kecil Rianti. Ia mencoba meyakinkan istri kecilnya itu yang terlihat sedang bimbang. Ia tatap mata Rianti dengan intens.
"Aku janji tidak akan membuatmu menyesal telah menikah denganku. Aku benar-benar mencintaimu dan aku pasti akan membuatmu bahagia. Kalau kau ingin, aku bisa mengantarmu ke rumah orang tuamu kapanpun kau mau," imbuh Ardi lagi.
Rianti hanya mengangguk dengan perlahan dan tersenyum setelah mendengar janji dari Ardi. Namun perasaan sedih masih saja menyelimuti hatinya.
Setelah hampir 2 jam perjalanan, mereka pun sampai di depan rumah minimalis tempat Ardi tinggal.Rumah yang bercat hijau dan ada taman kecil beserta kolam ikan koi di dalamnya.
Setelah memasukkan semua koper di dalam kamar, Ardi pun membangunkan Rianti yang sudah tertidur hampir satu jam di dalam mobil. Ia goyang pelan bahu kecil Rianti.
"Sayang sudah sampai," ucap Ardi dengan nada lembut.
Rianti menggeliat dan membetulkan posisinya. Ia mengerjap berkali-kali untuk memfokuskan pandangannya.
__ADS_1
"Kita di mana Mas?"
"Ini rumah kita sayang," jawab Ardi seraya menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.