
"Hallo ... mas Ardi udah berangkat tadi siang," jawab Rianti pelan.
"Ohh iya ... maaf ya. Kirain masih di rumah. Kalau dia udah pulang, suruh hubungi aku balik. Bilang dari Veno."
"Oh ini mas Veno supupu Mas Ardi ya? Aku Rianti, Istrinya mas Ardi," terang Rianti
"Iya, kenapa?" jawab Veno yang masih di seberang telepon.
"Mas masih ingat teman aku, Shinta ... yang kerja di toko baju."
"Iya masih, kenapa?"
"Boleh minta tolong gak Mas. Bisa pastiin keberadaannya ... firasat aku gak enak."
"Oh baiklah. Ya udah aku ke sana?" sahut Veno dan langsung menutup telepon.
Rianti meletakkan kembali telepon rumah ke tempatnya.
Ia melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan buku dan kumpulan map yang tersusun rapi.
Padangan Rianti kini tertuju pada sebuah kertas yang sudah tergeletak di lantai.
"Kertas apa ini? Apa mas Ardi menjatuhkannya?" Gumamnya seraya berjongkok hendak melihat kertas tersebut.
Namun, belum sempat meraihnya terdengar suara mesin mobil dari arah luar.
"Astaga ... Mas Ardi udah nyampe."
Rianti turun dengan tergesa-gesa tanpa sempat melihat kertas yang ada di lantai. Ia takut suaminya akan murka karena ia telah masuk ke ruang kerja tanpa izin.
****
Shinta berjalan dengan perlahan menuju ruangan Haikal. Suasana toko sudah sepi dan beberapa lampu bahkan sudah mati.
Tok ... tok ... tok.
"Masuklah!"
Shinta berjalan perlahan karena kondisi lututnya yang terluka.
"Kakimu kenapa Shinta?" tanya Haikal seraya mengernyitkan dahinya.
"Kecelakaan kemaren sore Pak. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Shinta sekenanya.
Haikal beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Shinta.
"Pak, saya ... saya mau ambil gaji," ucap Shinta dengan terbata-bata. Ia gugup saat melihat tatapan Haikal yang tak biasa.
__ADS_1
Namun Haikal hanya menyeringai mendengar ucapan dari gadis yang ada di hadapannya.
Ia berjalan maju dan Shinta mencoba menghindarinya dengan melangkah mundur. Namun sialnya, Shinta tidak bisa bergerak lagi karena tubuhnya sudah berada menempel di dinding ruangan.
Haikal menatap lamat-lamat mata bening milik gadis yang berada di depannya.
"Shinta ... tanpa bekerja pun aku bisa memberikanmu uang sebanyak yang kamu mau." Haikal menggerayangi wajah Shinta dengan jari telunjuknya. Bahkan sesekali mencium rambut gadis itu.
"Aroma strawbery ... manis ...."
Shinta semakin gugup karena sentuhan mendadak itu.
"Tolong! Bapak jangan kurang ajar!" teriak Shinta. Wajahnya sudah pias seakan tak mendapat aliran darah. Ia tau Haikal akan melakukan hal buruk padanya.
Shinta mencoba melangkah ke samping, namun Haikal dengan cepat menarik pinggag Shinta hingga tubuh mereka menempel dengan sangat erat.
"Pak ... tolong lepaskan saya," ucap Shinta sambil memukul tubuh pria beristri itu. Ia berupaya sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari pelukan Haikal.
Namun Haikal hanya tersenyum dan tak memperdulikan pukulan Shinta. Ia peluk dengan paksa tubuh kecil Shinta dan menahan kepala gadis itu untuk tetap berada di dada bidangnya.
"Jangan melawan Shinta ... bukankah kamu juga menginginkan ini? Bukankah kamu juga menyukaiku? Sekarang aku juga sudah mulai menyukaimu. Tapi kenapa kau mau pergi dariku? Tinggallah bersamaku! Kau tidak perlu lagi bekerja. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu, dari rumah, pakaian, kendaraan akan aku berikan. Kau hanya perlu menyambutku saat aku menginginkanmu. Bagaimana sayang?" terang Haikal yang terdengar tulus. Shinta bahkan bisa mendengar degupan jantung Haikal.
"Tolong Pak ... tolong lepaskan saya. Bapak salah paham. Saya tidak pernah menginginkan ini. Saya hanya mengagumi Bapak dan tidak lebih. Tolong Bapak jangan seperti ini ... kasian istri dan anak-anak bapak," ucap Shinta sambil menangis.
"Jangan bohong kamu! Buktinya hadiah dari saya kamu ambil dan sekarang kamu pakai." Haikal melirik heels silver yang Shinta kenakan.
Mendengar perkataan Shinta membuat Haikal murka. Mata yang tadinya penuh kasih sekarang terlihat penuh amarah. Ia lepaskan pelukannya.
Plaaakkk!!!
Haikal dengan kuat menampar pipi kiri gadis itu hingga keluar darah segar dari bibir kecil Shinta. Ia pegang pipi shinta dengan kuat sehingga gadis itu meringis kesakitan.
"Jadi selama ini kamu mempermainkan aku! Dasar perempuan j*lang! Tidak tau di untung!"
Plaaakk!!!
Kini pipi kanan yang terkena tamparan hingga Shinta terjatuh kelantai.
Shinta mencoba berdiri namun Haikal kembali mendekati tubuhnya, menarik rambut panjang Shinta, hingga kepala gadis itu menengadah ke atas.
"Pak tolong ampuni saya," pinta Shinta sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir deras menyatu dengan darah segar di wajahnya
"Baiklah! Saya akan mengampunimu, kalau kau mau melayaniku malam ini." Terlihat senyum yang mengerikan dari bibir Haikal.
Shinta makin ketakutan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Haikal kepada
dirinya.
__ADS_1
Haikal menarik rambut panjang Shinta hingga mau tak mau Shinta mengikuti langkah Haikal yang terlihat seperti hilang akal. Ia lemparkan tubuh Shinta di atas sofa dan mulai mengungkungnya.
"Tolongggg!!!! Toloooongg!!!" Shinta berteriak berharap ada yang mendengar teriakannya.
Lagi-lagi Haikal hanya menyeringai.
"Teriaklah Shinta! Teriaklah sekencang-kencangnya karena tak akan ada yang mendengarmu, apa lagi menolongmu. Ruangan ini kedap suara, apa kau tidak tau itu!"
"Tolong jangan Pak. Kasihani saya, saya tidak akan melaporkan kejadian ini, asal Bapak mau melepaskan saya." Shinta memegang kuat kancing bajunya yag akan di buka paksa oleh Haikal.
Plaaaakk ... plakkk ...!!!
Kini tamparan bolak balik yang Shinta rasakan di kedua belah pipinya. Shinta merasakan sakit di bagian kepala dan hampir kehilangan kesadaran. Merasa Shinta sudah tak berdaya dan tak melawan. Haikal dengan brutal mengoyak kemeja kerja gadis itu sehingga terlihat dalaman Shinta yang berwarna merah menyala.
"Kamu memang benar-benar menggoda Shinta," gumam Haikal.
Namun di saat Haikal akan memulai aksinya.
Bruuughh...!!!
Pintu kantor Haikal terbuka lebar dan sudah ada Veno di sana. Ia melihat Shinta yang terbaring tak berdaya dan hampir kehilangan kesadaran membuat Veno menjadi begitu marah
"Breng***!!!"
Veno mencengkram kerah baju haikal dan memukul wajah itu dengan tinjunya hingga Haikal tersungkur ke lantai. Berkali-kali Veno melayangkan pukulannya ke wajah Haikal hingga Haikal hampir tak berdaya.
Veno menoleh ke arah Shinta yang hampir setengah telanjan* membuatnya makin naik pitam, dan lagi-lagi ia pukul wajah Haikal hingga mengeluarkan banyak darah.
"Baj**gan!!! Kamu apakan dia. Hah!!!
Haikal yang sudah babak belur dihajar Veno tersenyum, menyeringai licik
"Dia itu perempuan j**ang. Bukankah wajar kalau aku menikmatinya." Haikal mencoba memprovokasi Veno.
"Baj**gan!!! Ba**satt!!!"
Veno mulai mengepalkan tinjunya dan hendak melayangkan pukulan.
"Jangan Kak ... nanti dia mati." Suara Shinta terdengar lirih dan ia mencoba menutupi tubuhnya yang hampir telanjan*.
Veno langsung bwranjak dan menutupi tubuh Shinta dengan jaketnya.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu duduk saja dulu, aku akan telepon polisi untuk memenjarakan si brengse* ini!" ucap Veno sambil memegang pundak Shinta. Lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
"Jangan Kak ... kasian anak-anaknya yang akan kehilangan cinta dari seorang ayah."
"Tapi ...." Veno tak bisa melanjutkan perkataannya saat melihat tatapan mata Shinta.
__ADS_1
"Kak ayo kita pergi dari sini." Shinta mencoba berdiri namun akhirnya terkulai lemas dan tak sadarkan diri.