Duren Sawit

Duren Sawit
Patah hati


__ADS_3

Rianti melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kelas. Hatinya dag dig dig tak karuan mengingat sang guru yang berkali-kali menyatakan cinta padanya.


Ya Allah ... untung aja ni hati berlapis tulang sama kulit. Kalo gak ..." batin Rianti sambil mengelus-elus dadanya yang bertabuh bak genderang perang.


Rianti letakkan tas di atas meja dan mengatur napas agar bisa menjadi sedikit lebih tenang. Ia tarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


Sedangkan Shinta sama sekali tak memperhatikan wajah sahabatnya yang memerah. Ia masih asik bermain dengan posel dan sesekali mengulum senyumnya.


"Eh Shinta, kamu ngapain, senyam-senyum sendiri. Udah kaya orang gila tau gak! Terus tadi kenapa gak bantuin aku, hah!" cecar Rianti emosi.


Shinta yang mendapat letupan lahar dari Rianti sontak saja tersenyum getir. Ia masukkan handphone ke dalam tas dan memandang wajah sahabatnya itu.


"Katanya best friend ... tapi apa! Gak ada peduli-pedulinya sama sekali," sungut Rianti lagi. Ia keluarkan buku sosiologi tanpa memandang wajah Shinta yang terlihat menyesal.


"Iya deh, maaf. Kamu kan tau si Davin itu orangnya seperti apa. Udah kaya samson dia nya. Mental baja telinga kuali. Urat malunya kayak udah putus. Buktinya kita marahin sesadis apapun, sekejam gimana pun kamu nolak dia ... akhirnya ya begitu lagi," ucap Shinta yang emosinya juga sedikit naik level mengingat betapa keras kepalanya Davin. Ia pegang bahu Rianti agar mau menghadapnya.


"Makanya ... kamu cari pacar dong, biar Davin nyerah."


Padahal mah kamu yang udah punya laki masih aja di pepet ama tu bocah, batin Shinta.


"Pak Ardi nampaknya punya rasa sama kamu," timpal Shinta lagi.


"Gak ah ... aku masih mau sekolah. Lagian aku masih belum bisa ngelupain Amir, Shinta ...."


"Apa kamu lupa, Amir itu baru sebulan meninggal," ucap Rianti lirih sambil menunduk dan menyeka air matanya yang terjatuh.


Lidah Shinta mendadak kelu. Mendapati tiap membahas Amir, sahabat amnesianya itu selalu saja menangis.


Ya Tuhan ... demi apapun. Ingin rasanya ku pukul kepala ni anak biar kembali waras. Gak kuat aku ... batin Shinta menjerit. Beberapa kali ia pejamkan matanya menahan emosi yang sedikit mencuat gara-gara sahabatnya itu.


Tidak lama kemudian pelajaran pun di mulai. Semua mendengarkan penjelasan guru dengan serius. Begitu juga Rianti, ia benar-benar merasa menjadi seorang siswi dan hanya fokus pada pelajarannya. Terkecuali Shinta, ia tau semua ini hanya lah pura-pura dan semua guru tau rahasia itu.


Shinta asik dengan fikirannya sendiri sambil mencorat-coret dan menulis nama dewa meloholic hingga penuhlah nama orang itu hampir satu halaman. Ia begitu penasaran dengan sosok teman dumay nya itu. Yang selalu menghibur dikala Shinta sedang marah maupun sedih. Namun sayangnya si empunya nama gak pernah mau kalau di ajak ketemu dan tentu saja membuat Shinta semakin penasaran.


Argh ... bisa-bisa aku jadi arwah gentayangan kalo gini ceritanya.


Bel berbunyi pertanda waktu istirahat tiba. Semua murid termasuk mereka berbondong-bondong menuju ke arah kantin.

__ADS_1


Kali ini cemilan yang Rianti dan Shinta santap adalah bakwan dan korket ubi yang dicocol sambal. Mereka menikmati gorengan sambil sesekali tertawa. Hingga Davin tiba dan menghancurkan senyuman di wajah keduanya.


"Yang, nanti pulang sekolah aku yang anter ya. Sekalian kita nge-date," ucap Davin santai sambil menyeruput teh es milik Rianti. Ia sama sekali tidak mengindahkan tatapan tajam dari Rianti.


Rianti dan shinta tentu saja tidak menyukai kehadiran Davin. Dan parahnya lagi, si Davin memilih mengabaikannya.


"Sukses perlu perjuangan." Itulah motto hidup Davin dan Rianti adalah tujuan mutlak hidupnya.


Rianti pandang wajah Davin yang sedang duduk berhadapan dengannya.


"Davin stop! Jangan ganggu aku. Aku itu gak ada rasa sama sekali sama kamu," tolak Rianti, dan ini adalah penolakan yang ke enam belas yang Rianti katakan untuk Davin agar menyerah mengejar cintanya.


Davin yang di tatap intens seperti itu menjadi serius apalagi setelah medengar pernyataan Rianti.


"Tapi aku mencintai kamu, Ri."


"Bukankah kamu tau kalau cinta itu penuh perjuangan, dan sekarang aku sedang memperjuangkan kamu."


"Kamu itu begitu berharga, makanya aku rela melakukan apapun agar kamu mau nerima aku," ucap Davin sambil memasang wajah memelas meminta belas kasihan dari Rianti.


Rianti menghembuskan napasnya perlahan dan beberapa kali memejamkan mata. Ia tidak ingin menjadi emosi sebelum permasalahannya selesai.


"Cinta itu hakikatnya suci. Namun caramu ini yang membuat cinta itu terlihat kotor dan tak berarati."


"Sadarlah ... rasa yang ada di hatimu untuk aku itu bukan cinta, tapi obsesi."


"Kamu mencintaiku, silakan itu urusanmu dengan hatimu. Tapi jika kamu meminta balasan, maaf, aku menghargai pertemanan kita lebih dari apa pun." Kini nada bicara Rianti lebih tegas dari sebelumnya. Ia memberikan penekanan pada kata 'pertemanan'.


Davin yang mendengar penolakan beruntun dari Rianti tentu saja merasakan terluka tapi sama sekali tak keluar darah. Ia langkahkan kakinya sambil tertunduk lemas meninggalkan Rianti dan shinta yang masih duduk di kursi panjang kantin. Dia memang sering mendengar penolakan demi penolakan yang di ucapkan Rianti. Entah kenapa perkataan Rianti barusan membuatnya seperti susah bernapas. Apa lagi mengingat Rianti yang secara tidak sadar selalu berpihak kepada Ardi.


Apakah aku harus menyerah? Itulah pikiran yang memenuhi otaknya saraya melangkah keluar.


Suasana kantin masih terdengar riuh-rendah oleh para siswa yang bercengkrama dan bercanda sepeninggal Davin. Sedangkan Rianti merasa tidak enak hati pada pria yang begitu memujanya namun juga merasa lega di saat yang bersamaan.


Semoga kau mengerti, Davin. Batin Rianti


***

__ADS_1


Waktu telah menunjukkna pukul dua siang, semua murid telah berhamburan keluar kelas dan bergegas untuk pulang atau sekedar jalan-jalan me-rileks kan pikiran mereka yang overload.


Begitu juga Rianti dan Shinta. Keduanya berencana akan pergi ke pantai karena memang sudah lama tidak ke sana. Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat seseoarang memanggil dari arah belakang. Ya, dia adalah Ardi yang begitu terlihat berwibawa dengan membawa buku paket di tangan kanan dan kacamata yang bertengger kukuh di hidungnya yang mancung.


"Awas ngeces," goda Shinta sambil cekikikan ketika melihat mata Rianti yang tak berkedip sama sekali ketika memandang Ardi.


"Ish apaan sih," sungut Rianti sambil mencubit bahu sahabatnya itu.


"Shinta, hari ini boleh gak saya yang anter Rianti," pinta Ardi.


Shinta sejenak terdiam, saling adu pandang dengan Rianti, kemudian ia pun tersenyum dan mengangguk pelan.


Sedangkan Rianti menatap tak suka. Shinta yang membiarkannya pulang bersama orang yang tidak ia kenal baik. Apalagi Ardi beberapa kali mengutarakan perasaan sukanya.


"Kalau aku di apa-apain bagaimana?" bisik Rianti yang terdengar menggeram di telinga Shinta.


Shinta hanya tersenyum geli, lalu kembali menggoda sahabatnya itu.


"Ya udah, kalau kamu di apa-apain, ya pasrah aja," ucap Shinta asal sambil cekikikan di telinga Rianti.


Ingin sekali Rianti mencubit pipi Shinta yang seolah tertawa di atas penderitaanya. Namun, belum sempat melancarkan niatnya itu, Ardi terlebih dulu menggenggam tangan Rianti dan berjalan menuju parkiran.


"Awas kamu Shinta," desis Rianti yang terdengar samar-samar di telinga Shinta. Tapi lagi-lagi di respon dengan senyuman dan lambayan tangan oleh Shinta sambil bergimik 'good luck'.


****


Kita ngiklan dulu yukh 😊😊


Davin: Thor beneran nih aku harus ngerelain Rianti. Sumpah gak rela hati ini Thor ... 😢


Author : Sttt jangan ngebantah! Atau aku matiin ajak kamu di part selanjutnya ( Author tersenyum devil)


Davin : Ih kok ngancem sih Thor. cerita kamu jadi ada manis-manisnya karna ada aku tau gak!"


Author : Ish ish ish ... di mana-mana pebinor dan pelakor gak ada yang manis keles.. yang ada tuh pait asem sepet dan bagusnya di lempar di lautan lepas biar di telan hiu sekalian.


Davin : 😭😭

__ADS_1


Author : Udah jangan nangis. Entar aku kasih kamu jodoh yang lebih semok dan bahenol dari Rianti. Mau?


Davin : 👍👍


__ADS_2