
6 hari kemudian.
Shinta memandang pantulan wajahnya di cermin dan mengamati bekas memar yang perlahan mulai pudar.
Hyuhff ....
Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin mengatakan semuanya pada bang Aan. Nanti dia pasti akan mengurungku dan berkata 'Kamu di rumah aja, abang masih sanggup memberi kamu makan!' Aku benar-benar tidak mau seperti itu. Arghh!!! Semua jadi kacau. Hidupku jadi berantakan. Sekarang aku jadi pengangguran dan bahkan dirawat oleh orang asing.
Shinta memutar wajahnya ke kiri dan kanan seraya melihat memarnya.
Baiklah, wajahku hanya perlu sentuhan make up dan pasti nanti akan kelihatan baik-baik saja. Aku juga harus pergi dari sini dan mulai mencari kerja. Aku harus berpamitan pada kak Veno dan om Baskoro yang sudah begitu baik merawatku.
Shinta beranjak dari tempat duduknya hendak pergi keluar kamar.
Tok ... tok ... tokk.
"Siapa?" ucap Shinta seraya membuka pintu.
"Eh Bik Ema, kenapa Bik?" tanya Shinta ketika melihat asisten rumahntangga Veno berada di depan pintu kamarnya
"Sarapan udah siap Non," ucap Ema sembari tersenyum ramah.
"Om Bas sama kak Veno udah ada di sana?" tanya Shinta kemudian.
"Tuan besar dan tuan muda sedang berada di ruang kerja tuan besar Non. Di lantai atas," terang Ema.
"Oo ... ya udah, biar saya aja yang panggil ya Bik."
Ema hanya mengangguk dan melangkah menuju dapur, sedangkan Shinta berjalan ke lantai atas untuk mencari Baskoro dan Veno.
Shinta yang baru tiba di depan pintu ruang kerja Baskoro tidak sengaja mendengar perbincangan ayah dan anak tersebut.
"Kenapa Veno? Kenapa kamu tidak menyukainya? Dia sepertinya tertarik padamu. Anaknya manis dan sopan. Papi setuju kalau dia mau menjadi menantu Papi."
Siapa yang di maksud om Bas, apakah kak Veno sudah punya pacar dan akan menikah?
Shinta penasaran akan kelanjutan obrolan mereka dan semakin merapatkan telinganya ke dinding pintu.
"Ayolah Pi ... Shinta itu terlalu muda, aku tidak menyukainya ... aku hanya menganggapnya sebagai adik."
"Emang apa salahnya sih! Ardi saja bisa mendapatkan Rianti. Padahal dia itu duda dan umurnya pun lebih tua darimu. Apa salahnya kalau kamu bersama Shinta. Toh kalian sama-sama lajang, bukan," bujuk Baskoro. Ia menyukai Shinta dan berharap gadis itu menjadi menantunya.
"Jangan suruh aku menjadi seperti Ardi, Pi ... aku tidak menyukainya. Asal Papi tau saja, Ardi mendapatkan Rianti dengan cara yang licik! Aku tidak mau sepertinya," elak Veno yang tau persis bagaimana liciknya Ardi memanipulasi kehidupan Rianti.
"Apa maksudnya itu, Veno?" tanya Baskoro yang mulai penasaran.
"Sudah lah Pi, jangan bahas ini lagi. Aku mau turun dan sarapan!"
__ADS_1
Shinta yang mendengar pembicaraan itu langsung cepat-cepat turun dan menghapus air matanya yang tidak ia sadari sudah mengalir deras di pipi.
Shinta tiba di meja makan terlebih dahulu dan mengelap jejak air matanya agar tidak terlihat oleh orang lain dan memasang senyum bahagia seperti biasanya.
"Kenapa kamu! Senyam-senyum begitu," ucap Veno yang baru turun dari lantai atas. Wajahnya terlihat tegang karena memang habis bertengkar dengan sang papi.
"Yee ... pagi-pagi udah sewot aja, emang gak boleh ya kalau aku senyum. Senyum itu obat biar awet muda. Aku gak mau kaya kamu yang wajahnya cepet tua, karena hari-hari kerjanya cemberut melulu," xeloteh Shinta.
Veno tidak menanggapi ucapan Shinta, ia hanya menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Shinta.
"Om Bas kemana?" tanyanya berbasa-basi. Ia mencoba mengatur perasaan agar bisa bersikap seperti biasanya.
"Masih di atas, bentar lagi turun," ucap Veno sambil menyantap nasi goreng buatan Ema.
"Kamu gak sarapan?" tanyanya balik setelah menelan nasi yang ada dalam mulutnya.
"Bentar lagi Kak, aku nunggu om Bas turun," jawab Shinta sekenanya.
Tanpa Veno sadari, Shinta memandangnya dengan pandangan yang penuh dengan kesedihan.
Menyukai seseorang begitu dalam namun tidak terbalas ternyata begitu menyakitkan, batin Shinta.
Shinta menghapus air matanya yang hampir menetes.
Sejak kejadian di kampus tempo hari, shinta telah membulatkan tekatnya untuk tidak menyukai Veno lagi. Namun, setelah kejadian di warung mang Cecep dan menerima perlakuan baik Dari Veno, membuat Shinta kembali menyukai Veno. Pria arogan namun penyanyang.
Kamu benar-benar bodoh Veno, bagaimana bisa kamu tidak menyadari ada cinta yang begitu tulus untukmu.
Baskoro menghela napasnya.
"Ekhem." Ia sengaja membuyarkan tatapan Shinta dan berjalan menuju meja makan.
"Kamu tidak sarapan Shinta?" Baskoro menarik kursinya sembari duduk.
"Aku nungguin Om." Shinta terlihat salah tingkah seakan sudah terciduk oleh Baskoro.
"Ya udah, ayok kita makan."
Mereka bertiga pun makan tanpa banyak bersuara.
"Papi ... Shinta, aku udah selesai makan." ucap Veno sambil berdiri dari kursinya.
"Tunggu Kak, ada yang ingin aku bicarakan sama kalian," cegah Shinta. Ia ingin mengutarakan keinginannya.
Veno duduk kembali dan menatap papinya lalu kembali menatap Shinta.
Baskoro pun terlihat bingung. Ia meminum air putih yang ada di sebelahnya dan memandang dengan serius wajah Shinta.
__ADS_1
"Aku akan pulang ke kost hari ini." ucap Shinta ragu.
Baskoro dan Veno sontak tercengang mendengar penuturan Shinta.
"Kanapa?" tanya Baskoro dan Veno yang hampir bersamaan.
Baskoro dan Veno sekilas sempat beradu pandang lalu kembali memandang wajah Shinta.
"Itu ... aku hanya ingin kembali ke kehidupanku. Aku berterima kasih karena kalian begitu baik merawatku hingga sembuh. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja."
"Tapi, kamu belum sembuh benar Shinta ...." Baskoro terlihat tidak setuju dengan keputusan yang diambil Shinta.
"Gak apa-apa, Om, sekarang aku udah baikan."
Veno masih menatap tajam pada Shinta.
"Baiklah, sekarang apa rencanamu," tanya Veno datar, tanpa ekspresi.
"Aku akan mencari kerja dan memulai kembali kehidupanku, entah itu jadi pelayan minimarket atau kerja di rumah makan. Yang penting aku mendapatkan kerja."
"Tidak! Jangan itu Shinta. Itu terlalu berat, kerja di rumah makan itu melelahkan dan terlalu sibuk. Bagaimana kalau kamu nanti sakit," ucap Baskoro. Ia terlihat khawatir.
"Gak apa-apa Om, namanya juga kerja mana ada yang ringan, hehehe ...." Shinta mencoba mengatur suasana agar tidak terlalu serius.
Veno masih terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Apa tidak ada lowongan yang cocok untuk Shinta di perusahaan, Pi?"
Baskor terdiam sejenak. Ia memikirkan posisi apa yang cocok untuk Shinta yang hanya tamatan SMA.
"Gak perlu kok, Kak, Om. Aku bisa mencari pekerjaan sendiri." Shinta memicingkan matanya menatap tajam ke arah Veno. Ia tidak menyukai usulan itu.
"Baiklah, daripada kerja di rumah makan, mending kamu kerja di perusahaan Om. Tapi jadi cleaning service. Bagaimana? Gajinya juga lebih besar dari rumah makan, terus ada jaminan kesehatannya. Jadi kamu tidak akan kelelahan."
"Tapi ...."
Belum sempat Shinta melanjutkan, Veno sudah menyela perkataannya.
"Udah ikuti saja saran Papi."
"Iya ... Om mohon kamu tidak menolak tawaran dari Om."
"Dan kamu juga Veno. Kamu sudah harus belajar manajemen perusahaan. Kamu akan Papi tempatkan sebagai karyawan magang. Mulailah dari bawah dan tidak akan ada perlakuan khusus untukmu."
****
jangan lupa like dan komen nya ya wan kawan. 😊
__ADS_1