
Rianti mencoba mengumpulkan kesadarannya dan mencoba menahan sakit di pergelangan tangan dan kaki yang sudah terikat.
"Apa ini? Kenapa mataku tidak bisa di buka? Tanganku juga di ikat, sakit banget nih, rasanya aku pernah mimpi kayak gini, atau aku cuma mengalami sindrome deja vu? Serem banget nih gak bisa liat, ibuk ... bapak ... tolongin Riri," oceh Rianti seraya menggeliat di atas sebuah bangku.
"Tolong ... tolong ... tolong!!! siapa pun tolong bukain mata Riri dong. Gelap! Aku gak bisa liat," pekik Rianti lagi, berharap ada orang yang mendengar dan menolongnya.
"Tolong!!!"
"Heh! Berisik banget! Bisa diem kagak! nanti kalo teriak sekali lagi, gue lakban tuh mulut!" ucap seseorang yang berada disebelah Rianti.
Rianti langsung terdiam, walaupun rasanya ia begitu ingin berteriak meminta pertolongan.
"Om tolong lepasin, Om," ucap Rianti lirih.
Namun orang yang di panggil Rianti om tersebut tidak memperdulikannya sama sekali.
"Salah aku apa, Om?"
"Gue kagak tau, gue cuma disuruh," ucap pria itu.
Terdengar irama musik lagu Ayu Ting Ting menggema di dalam ruangan.
Biasanya tak pakai minyak wangi ...
Biasanya tak suka begitu ...
Rianti yang mendengar musik tersebut ingin rasanya tertawa, ia tidak menyangka seorang penculik juga menyukai musik dangdut.
"Hallo bos."
"Iya saya mengerti."
"OK."
"Siap bos"
Percakapan yang singkat, padat namun tidak jelas, gumam Rianti dalam hati.
Ia masih mencoba menggerak-gerakkan tangan yang masih terikat, berharap ikatannya kendur dan ia bisa kabur dari sana.
"Heh anak kecil! Percuma loe begitu. Loe kagak bakalan bisa lepas. Ada gue di sini buat ngawasin elo."
Entah kenapa mendengar penuturan si penculik membuat Rianti menyerah, dan hanya berharap pada keajaiban.
****
Ardi turun dari bus yang ia naiki bersama para mahasiswanya. Ia terkejut saat melihat sang ayah dan Veno sedang menungunya.
"Kenapa Ayah ke sini? Aku bisa kok pulang sendiri," ucap Ardi begitu sampai di hadapan ayahnya.
"Ardi, sebenarnya Rianti menghilang. Ia sepertinya di culik," ungkap Mahendra yang sudah tak bisa menahan kekhawatirannya.
" Apa!!! Bagaimana ceritanya, Yah?" tanya Ardi yang tak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya.
__ADS_1
"Kata keluarganya, Rianti hilang sekitar jam 7 dan sekarang belum juga di temukan. Ibunya melihat ada pesan kalau kamu menyuruhnya untuk bertemu di luar rumah," terang Mahendra.
Ardi melirik jam tangannya. Ia menghela napas dan memejamkan mata beberapa detik. Ia jelas panik, namun mencoba mengatur perasaanya.
"Berarti sudah 2 jam Riri di culik. Aku pinjam ponselmu," ucap Ardi kepada Veno dan Veno pun menyerahkan ponselnya.
Ardi terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Hallo, Pak. Saya Ardi, tolong lacak posisi istri saya sekarang!" kata Ardi dengan nada memerintah.
"Bagaimana bisa kamu tau posisi Rianti?" tanya Mahendra yang tidak mengerti.
"Aku menyimpan alat pelacak di cincin berlian yang aku kasih ke dia tempo hari," jelas Ardi seraya membuka pintu mobil sport miliknya.
Lalu ia pun langsung masuk ke kursi kemudi dan menjalankan mobil perlahan keluar dari area kampus. Sedangkan Veno dan Mahendra mengendarai mobil milik Veno.
"Tu anak ngebut banget. Gak liat apa jalanan lagi rame begini," gerutu Veno yang mencoba mengikuti laju mobil Ardi.
Sedangkan Ardi hanya fokus menyetir agar bisa menyelamatkan Rianti.
****
Di ruangan tempat Rianti di sekap.
"Om, tolong lepasin ikatan ini."
"Aku mau ke toilet."
Mendengar permintaan gadis itu, si penculik merasa iba dan membukakan ikatan mata dan kaki tangan Rianti.
Rianti hanya mengangguk dan berjalan di belakang pria gempal itu. Rianti melihat di sekeliling dan mendapati bahwa tidak ada orang lain selain mereka berdua. Apalagi terlihat pintu keluar sedang terbuka lebar. Aku harus kabur, pikir Rianti.
Setelah keluar dari toilet, Rianti melihat kalau si penculik sedang berjongkok mengikat tali sepatunya.
Kesempatan dalam kesempitan, batinnya. Rianti pun langsung berlari cepat menuju pintu yang terbuka lebar.
Arghh!!!
Rianti mengerang kesakitan. Ternyata ada seorang pria berada tepat di depan pintu dan langsung mencengkram lehernya
"Dasar gadis bodoh!!! Kau benar-benar ingin mati rupanya." Pria itu pun membanting tubuh kecil Rianti hingga menghantam lantai.
Rianti kembali mengerang. Tubuhnya terasa remuk dengan napas yang masih tersengal. Dengan posisi yang hampir telungkup, Rianti memberanikan diri untuk bertanya pada pria kasar itu.
"Siapa Anda dan kenapa melakukan ini padaku?" tanya Rianti dengan bibir yang bergetar. Nyalinya untuk kabur mendadak hilang menguap ke udara. Yang ada hanya kengerian menyelimuti hati dan pikirannya.
Pria kasar itu kembali mendekat ke arah Rianti dan menjambak rambut pendek gadis itu.
"Kau tidak perlu tau, Sayang. Yang harus kau ketahui adalah kau harus mati agar Ardi menderita lagi.Hahaha ... " ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Rianti hanya terdiam sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Pria itu masih menjambak rambut Rianti sehingga wajah Rianti terlihat mendongak ke atas.
"Ardi benar-benar gila, kenapa dia mau menikahi gadis sepertimu?" ucapnya sambil menatap wajah Rianti yang sudah berubah pucat.
__ADS_1
"Hmm ... tapi aku mengerti kenapa dia melakukannya. Karena kamu itu sangat ...."
Plaakk!!!
Sebuah hantaman kursi mendarat tepat di punggung pria itu hingga membuatnya pingsan seketika.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Ardi seraya menatap nanar mata indah Rianti dan mememluknya.dengan hangat. Ia benar-benar takut bila terjadi sesuatu pada calon istrinya itu.
Rianti hanya mengangguk pelan sembari memberikan senyuman, namun bukannya tersenyum ia malah merintih kesakitan karena ada memar di bibir yang terasa sakit ketika tersenyum.
"Sini aku gendong," ucap Ardi.
Namun belum sempat Rianti menjawab, Ardi sudah menggendongnya ala bridal style menuju mobil.
Bukankah dia itu temennya si gadis vulgar? Astaga ... berati dia itu calon istrinya Ardi. Kenapa jadi ribet begini sih!"
Veno hanya tersenyum saat Rianti menatap heran padanya.
Bukankah dia itu pria Coca-colanya si Shinta, batin Rianti.
Setelah sampai di dalam mobil, beberapa polisi masuk ke dalam gudang yang terbengkalai tempat Rianti di sekap.
"Siapa yang manggil polisi," tanya Rianti sambil menoleh kepada pria di sebelahnya.
Ardi yang masih menatapnya dengan tatapan sendu hanya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin Veno."
"Yang di dalem itu?" tanya Rianti yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Ardi hanya mengangguk dan masih menatap wajah Rianti yang memar.
"Jangan menatapku seperti itu, aku sudah tidak apa-apa kok," kata Rianti mencoba meyakinkan Ardi yang sedari tadi menatapnya dengan penuh kesedihan.
"Kita kerumah sakit sekarang ya, wajah kamu memar semua," ucap Ardi sambil membelai wajah Rianti. Rianti hanya mengangguk setuju.
Ardi masih menatap wajah calon istrinya itu ia bersihkan debu yang menempel di wajah Rianti.
Stella jangan tinggalin aku lagi yah, aku gak akan mampu hidup tanpamu.
Ardi mendekatkan wajahnya ... semakin dekat ... sedikit lagi ... napas Ardi mulai memburu ... jantungnya semakin bertabuh.
Degh.
Ardi tercekat karena Rianti mendadak menutup mulutnya.
"Belum muhrim."
*****
Kalau suka dengam karya saya tolong di like ya ...
Dan kalaupun tidak suka mohon tinggalkan krisannya di kolom komentar.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊😊