
Mereka berdua pun tertawa.
"Ngomong-ngomong, wanita yang bersama mas Veno itu siapa ya ... kok aku jadi penasaran," ucap Rianti yang hanya dapat melihat punggung belakang dari wanita tersebut.
"Ahh bodo amat!" Shinta mendengus kesal sambil mengaduk-ngaduk dengan kasar jus strawbery miliknya.
"Aku tidak peduli!" imbuhnya lagi seraya berpindah tempat duduk memunggungi meja Veno.
Rianti menyadari kalau Shinta itu sedang cemburu, tapi Shinta seperti tak menyadari tentang perasaan itu.
"O iya, kenapa kamu ngajakin aku ke sini, Ri. Terus kamu sepertinya berbohong tentang diajak mas Ardi kesini, iya kan?" selidik Shinta. Ia curiga karena dari tadi tidak melihat Ardi sama sekali.
Rianti hanya tersenyum getir dan menyeruput jus miliknya.
"Sebenarnya aku yang mau ke sini. Mas Ardi gak ngebolehin. Katanya takut aku di goda pria lain," jawab Rianti dengan wajah yang ditekuk.
"Tapi karena aku bilangnya pergi sama kamu, akhirnya dibolehin juga," imbuhnya lagi.
"Ciee ... cie ... pengantin baru ...."
Goda Shinta sambil tertawa geli melihat wajah Rianti yang cemberut.
"Apaan sih kamu, aku seriusan lagi kesel. Selama hampir sebulan menikah, aku sama sekali gak dibolehin keluar rumah. Kaya di sandera tau gak! Ini gak boleh, itu gak boleh. Pernah ni ya ... aku mau keluar rumah sekedar jalan-jalan di sekitar komplek, mang Udin langsung ngelarang sambil bilang gini, ' tolong jangan kamana-mana Nyonya, nanti kalau ketauan Den Ardi saya bisa di pecat'. Gitu," ungkap Rianti sambil mencontohkan gaya bicarany si Udin.
Rianti juga menceritakan betapa posesif suaminya itu kepada Shinta. Hingga di rumah, dia hanya bisa menanam bunga di halaman demi membunuh rasa bosan.
Shinta yang mendengar curhatan dari sahabatnya hanya manggut-manggut dan sesekali menggodanya, namun di respon dengan tatapan tajam dari Rianti.
Sebagai sahabat, Shinta yang memang suka berpikir positif jadi menasehati Rianti agar tidak berpikiran negatif terhadap Ardi. Dan lambat laun suasana hati Rianti kembali tenang.
Tidak lama kemudian Andra pun datang menghampiri mereka, bercanda dan tertawa bersama, sesekali Shinta bergelayut manja di lengan abang sepupunya itu.
Veno yang berada di sudut ruangan entah mengapa menjadi emosi melihat kedekatan mereka.
Gadis labil itu memang keterlaluan! Baru kemarin hampir celaka karena sikapnya yang genit. Sekarang malah ketawa-ketiwi dengan seorang pria. Aku begitu muak dengan gadis itu!
"Kamu kenapa?" tanya Jessika mencoba mengabil perhatian Veno. Namun, Veno masih memandang ke arah Rianti dan Shinta.
__ADS_1
Tok tok tok.
Jessika mengetuk meja dengan tangannya.
"Hey Mas, kamu ngeliatin apa sih!" seru Jessika yang mulai kesal karena diabaikan oleh Veno.
"Eh sory ya ... aku ada urusan sebentar," ucap Veno seraya berdiri dari kursinya meninggalkan Jessika. Ia berjalan menuju meja Shinta. Ia tidak bisa menahan degupan jantungnya yang makin bertabuh ketika melihat tingkah Shinta yang seperti tidak pernah jera. Dan Jessika yang penasaran, langsung mengikuti langkah Veno dari belakang.
Shinta masih terlihat tertawa dan memeluk lengan sang abang.
"Kamu ini gak kapok apa!" ucap Veno dengan suara hampir berteriak, ia tarik lengan Shinta hingga menjauh dari Andra. Tak ayal teriakan itu langsung menarik perhatian pengunjung yang berada di dalam kafe. Malah ada beberapa pengunjung yang mengabadikan pertengkaran mereka itu.
Shinta sontak kaget karena ditarik paksa oleh Veno yang sejak entah kapan berada di belakangnya. Begitu pula dengan Rianti dan Andra.
"Aw ... sakit, Kak!" pekik Shinta.
"Apa-apaan ini!" Andra terlihat marah melihat Shinta yang meringis kesakitan
"Heh Shinta! Apa kamu tidak kapok dengan kejadian tempo hari! Baru tadi pagi kamu mengatakan suka padaku tapi kini malah bermesraan dengan pria lain!" ucap Veno penuh emosi.
Shinta melepaskan dengan paksa cengkraman tangan Veno dari lengannya.
Veno mendadak gugup. Ternyata ia telah salah paham tentang Shinta dan abang sepupunya itu. Sedangkan Andra terlihat kebingungan dengan situasi yang ia hadapi sekarang.
"Tunggu dulu. Apa maksudnya ini Shinta. Kapok! Kejadian tempo hari! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andra yang tak mengerti.
"Hm ... itu ... itu Bang ... itu ...."
Shinta terlihat gugup, dan belum sempat ia melanjutkan perkataanya, datanglah seorang wanita yang mendadak menyerang Rianti dari arah belakang.
Plakkk.
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Rianti.
"Kak Jessi!" teriak Shinta.
Shinta pun langsung memeluk Rianti. Rianti hanya terdiam dan memegang pipinya yang terasa perih.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukakan!" Betak Veno kepada Jesi.
Veno menarik lengan Jessika agar menjauh dari Rianti. Takut kalau Jessika menyerang Rianti lagi. Ia pandangi wajah Jessika. Jessika yang tadinya ia kira wanita lembut dan sopan ternyata adalah wanita yang begitu kasar.
"Kenapa kau memukulnya?" tanya Veno yang masih berusaha mengatur emosinya.
"Aku memukulnya karena dia pantas menerimanya. Gadis pembawa sial! Dia yang membuat adikku satu-satunya meninggal," ucap Jessika tak kalah emosi.
Rianti dan Shinta masih terdiam.
"Kenapa? Apa aku salah? Hah! Apa kalian lupa bahwa akulah yang membawakan cemilan sewaktu kalian datang untuk mengerjakan tugas sekolah bersama Amir. Apa aku dan Amir kurang baik padamu sehingga kau berikan kami nasib sialmu itu!"
Rianti terdiam, teringat sekilas tentang masa lalunya. ia dan Shinta sering datang kerumah Jessika untuk belajar kelompok bersama Amir, adiknya Jessika. Rianti dan Amir bahkan menyukai satu sama lain, namun Amir meninggal kecelakaan sehari setelah menyatakan cinta padannya.
"Itu hanya kecelakaan, Kak," ucap Shinta mencoba meluruskan kesalahpahaman yang ada di pikiran Jessika.
"Kecelakaan katamu! Apa kau tidak tau kenyataan bahwa temanmu itu pembawa si*al. Sebelumnya Doni yang dekat dengannya juga menghilang entah kemana. Bukankah aku benar, Shinta."
Shinta pun teringat kejadian itu. Sesaat setelah Amir meninggal semua siswa mengatakan kalau Rianti memang pembawa si*al. Tidak ada yang mau berdekatan dengan mereka. Sehingga Rianti menjadi lebih pendiam dan tertutup dari sebelumnya.
"Tidak, Kak! Aku bukan pembawa si*al ...."
Suara Rianti terdengar lirih karena mencoba menahan tangisnya.
"Bahkan om dan tante mengatakan ini murni kecelakaan, jadi tidak ada sangkut pautnya denganku," imbuhnya lagi mencoba membela diri.
"Ooo ... sudah berani menyangkal kamu! Walaupun orang tuaku mengatakan itu kecelakaan, tetap saja mereka memilih menghindar dari keluargamu yang membawa nasib buruk, dan memilih pindah ke kota ini."
Rianti kembali terdiam.
Keluarga Jessika memang sangat baik pada keluarganya namun setelah kecelakaan itu mereka mendadak pindah tanpa ucapan perpisahan.
Namun begitu, ia tak terima kalau keluarganya juga di sebut pembawa si*al. Ia hapus air matanya.
"Aku dan keluargaku bukan pembawa sial untuk siapa pun. Buktinya Shinta baik-baik saja."
***
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya 😊