
Minggu pagi.
Cuaca amat cerah, hamparan awan putih menyelimuti langit biru. Terlihat sisa-sisa air hujan membasahi rerumputan hijau yang terbentang luas di halaman. Rianti pejamkan mata, menikmati dinginnya udara pagi seraya mendengarkan kicauan burung yang terdengar begitu merdu di telinganya.
"Ri, kamu ngapai di situ? Tutup dong, dingin banget ini," keluh Shinta yang baru bangun dari tidurnya. Namun hawa sejuk yang masuk lewat jendela kamar membuat Shinta kembali memeluk guling. Ia begitu enggan untuk keluar dari balutan kain tebal yang mampu menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
Rianti tak menghiraukan permintaan sahabatnya itu. Ia masih memandang dengan seksama sekitaran rumah yang terlihat bersih, semalaman hujan turun dengan sangat lebat, hingga warna dedaunan terlihat lebih terang dari sebelumnya
Rianti menghampiri Shinta yang masih berbaring.
"Bangun dong, udah siang ni. Jadi perempuan gak boleh males-malesan. Gak liat tuh udah jam tujuh pagi," ucap Rianti sambil menggoyang-goyang tubuh Shinta. Tapi Shinta tak bergeming. Ia menutup rapat matanya dan semakin menarik tinggi selimut hingga menutupi seluruh kepala.
"Shinta ayo bangun ..."
"Bentar lagi ya, aku masih ngantuk banget ini ..." rengek Shinta tanpa membuka kain yang menutup seluruh tubuhnya.
Rianti berdecak heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Ck ... ini ni akibatnya kalau suka begadang," ucap Rianti sembari duduk di tepi ranjang kecil yang hanya muat untuk tubuh mereka berdua. Ia silangkan kedua lengannya di atas dada sambil melirik sekilas tubuh Shinta yang masih terbalut.
"Mang kamu semalaman ng-chat siapa sih! Cekikikan gak jelas. Aku gak bisa tidur nyeyak gara-gara kamu," sungut Rianti. Ia ingat betul betapa berisiknya Shinta semalam.
Shinta bangun dari zona nyamannya dan langsung mencepol rambut panjangnya dengan asal. Ia pandang punggung sahabatnya itu.
"Iya deh maaf. Aku begitu asik berbales pantun sama si Dewa meloholic, jadi lupa waktu deh ..." jawab Shinta sambil nyengir kuda.
"Kalau kamu begitu kesengsem sama si tu Dewa, kenapa gak ketemuan aja sih. Ribet amat," ucap Rianti lagi yang masih dalam mode marahnya. Kini ia pandang wajah shinta yang masih terlihat kusut dengan kantung mata yang sedikit menghitam. Mendadak emosinya hilang malah timbul rasa kasihan pada sahabatnya itu.
"Aku nya sih mau-mau aja. Yang di ajakin ini yang gak mau, jadi jangan salahin aku dong." Shinta membela diri. Ia beranjak dari kasur empuknya dan langsung mengambil handuk yang tergantung di balik pintu.
Dert dert dert ....
__ADS_1
Rianti melirik ponsel Shinta yang bergetar dan melihat nama seseorang di sana.
"Shin, ada yang nelpon nih. Namanya bulgan," ucap Rianti sambil mengerutkan kening. Membaca kata bulgan membuatnya teringat akan hewan yang terkenal garang dan buas.
Shinta menghela napasnya dan kembali duduk di tepi tempat tidurnya.
"Jangan dijawab," ucap Shinta tanpa ekspresi.
"Kenapa? Terus siapa si bulgan ini?" tanya Rianti yang memang penasaran.
"Bule ganteng alias Tony."
Shinta terdiam sejenak. Terlihat kesedihan menghiasi wajah kusutnya.
"Aku males aja jawabnya. Dia nembak aku kemarin malam."
Rianti mulai menatap serius pada Shinta.
"Belum aku jawab," sahut Shinta seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku itu gak ada rasa sama dia. Kaya gak ada chemistry gitu lho. Tapi aku gak enak buat nolak maupun mendekat. Dia itu baik, baik banget malah, udah gitu pengertian. Aku udah mencoba membuka hati namun hasilnya nihil. Aku beneran galau, Ri," terang Shinta sembari menggulung-gulung handuk yang ada di pundaknya.
Rianti menghela napasnya. Ia seolah merasakan kesedihan yang kini melanda sahabat terbaiknya itu. Ia peluk tubuh Shinta sambil menepuk punggungnya dengan perlahan.
"Lebih baik kamu jujur walaupun terasa pahit. Dari pada manis di awal tapi akhirnya akan melukai perasaan kalian berdua."
Shinta melonggarkan pelukan Rianti dan perlahan rasa bimbangnya sedikit berkurang.
Dert dert dert ....
Ponsel Shinta kembali bergetar dan terpampang jelas nama seseorang yang membuat Rianti kembali mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Siapa lagi itu si basi?" tanyanya lagi.
"Itu Veno, si bedebah sialan," ucap Shinta dengan nada sedikit berbeda ketika menyebut nama Tony. Kini nada suaranya terdengar menggeram dan mata yang terlihat menahan amarah.
"Udah biarin aja, jangan di angkat. Aku males ngeladen orang gak tau malu kaya dia. Udah terang-terangan di tolak namun tetep keukeh mau jadi pacar aku."
"Tapi bukankah dulu kamu bilang sangat menyukainya. Nah sekarang kenapa gak jadian aja. Aku yakin kamu gak bisa nerima Tony karena tanpa kamu sadari, di relung hatimu masih ada nama Veno di sana," ujar Rianti yang langsung membuat ekspresi Shinta berubah total. Kini wajahnya terlihat kembali sedih.
"Udah ah, jangan bahas itu," ucap Shinta sambil menghela napasnya yang terasa berat.
Keduanya terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Shinta memikirkan perkataan Rianti. Sedangkan Rianti mendadak merindukan Ardi.
Ya, selama hampir sebulanan ini, Rianti merasa tenang dan nyaman bila berdekatan dengan Ardi. Seorang pria yang ia anggap gila namun berhasil membuat hatinya bergemuruh tak karuan. Ia merasakan benci dan rindu di saat bersamaan. Tidak lama kemudian, terdengar satu notifikasi chat masuk ke ponselnya dan dengan cepat ia buka pesan singkat itu. Wajahnya mendadak merona dan terukirlah senyuman di bibirnya yang berwarna merah muda.
Shinta yang hapal dengan perubahan raut wajah sahabatnya itu pun mengulum senyumannya. Ia tau kalau Rianti telah mendapat pesan dari Ardi.
Mendadak sifat usil Shinta kembali mencuat. Ia rampas ponsel Rianti dengan cepat dan langsung membalas isi pesan singkat itu dengan menyertakan banyak emot hati di sana. Shinta pun kemudian tersenyum puas setelah melihat pesan yang ia kirim telah terbaca.
"Shintaaa!!!" teriak Rianti yang geram akan tingkah lancang sahabatnya itu.
Namun Shinta hanya tersenyum senang sambil memasang wajah tak berdosa.
"Kamu ini kenapa sih! Dia itu cuma nanyain 'kamu lagi apa?' tapi kenapa kamu balas 'aku merindukanmu'. Mana banyak love love nya. Kamu bener-bener gila, Shinta. Bagaimana aku bisa menghadapi pak Ardi besok?" sungut Rianti dengan nada suara naik satu oktaf.
Hp Rianti kembali mendapatkan pesan dari Ardi. Dan Rianti mendadak panik setelah tau Ardi akan menjemputnya lima menit lagi.
"Aaa kan, ini gara-gara kamu. Dia akan kesini lima menit lagi," imbuh Rianti lagi sambil berjalan mondar-mandir di depan Shinta.
Shinta lagi-lagi hanya tersenyum mendapati kepanikan menghiasi wajah Rianti. Ia tarik tangan Sahabatnya itu hingga terduduk di sebelahnya.
"Riri sayaaaang. Coba kamu tenang dulu," ucap Shinta seraya menatap dalam mata Rianti.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kamu takutkan?"