Duren Sawit

Duren Sawit
Andra


__ADS_3

"Bukankah barusan kamu mengatakan kalau harus jujur dengan perasaan sendiri?" ucap Shinta seraya menatap wajah gugup Rianti.


"Pak Ardi itu dengan jelas menyatakan kalau dia benar-benar mencintaimu. Lagi pula, bukankah kamu juga sudah mulai menyukainya? Nah, sekarang kenapa kamu jadi jual mahal begini," imbuhnya lagi.


Rianti terdiam, memikirkan perkataan sahabatnya itu. Ia memang sudah mulai menerima kehadiran Ardi. Akan tetapi ketika mengingat soal dirinya yang masih bersekolah, belum lagi bayangan Amir yang masih lekat di ingatan, membuatnya menepiskan semua perasaan sukanya terhadap sang guru.


"Udah deh. Kamu mikirnya jangan kejauhan. Nikmati saja perasaan kamu sekarang, Oke." Timpal Shinta lagi.


Rianti masih terdiam, menunduk tanpa bersuara.


Shinta ingin Rianti menjadi lebih dekat dengan Ardi. Berharap sahabatnya itu bisa mengenang masa lalu, dan mendapatkan ingatannya kembali.


Jujur, Ri. Aku sebenarnya udah gak kuat kalo harus seperti ini lebih lama lagi. Aku gak mau pergi ke sekolah. Aku ingin bebas dan mulai kembali bekerja. Aku bener-bener berharap kamu bisa mengingat semuanya dan kembali kepada suamimu.


Terukirlah senyum getir di wajah Shinta. Ia pandangi Rianti yang terlihat meragu.


Pokoknya, aku akan cari cara biar kamu cepet jadian sama suamimu, batin Shinta.


"Kenapa bengong? Ayo cepetan ganti baju!" perintahnya sambil mengangkat dagu Rianti dengan kedua tangannya.


"Masa iya mau nge-date pake baju kaos sama celana pendek begini?" Goda Shinta dengan menekankan kata 'nge-date'.


Wajah Rianti jadi merona membayangkan hal romantis apa yang akan Ardi lakukan kali ini. Karena setiap bersamanya, Rianti di perlakukan dengan sangat baik bak seorang ratu yang begitu berharga.


"Ihh apaan sih," sungut Rianti sambil memegang pipinya yang terasa mulai menghangat.


"Lagi pula aku belum minta izin sama bang Aan. Mana bisa langsung pergi begini."

__ADS_1


Shinta terdiam, Mendengar Rianti membahas Andra, seketika itu juga wajahnya berubah menjadi sedih.


"Kamu kenapa? Kok jadi aneh gitu," tanya Rianti keheranan.


"Ahh gak apa-apa. Aku baik-baik saja. Cepetan kamu ganti baju. Soal bang Aan, aku saja nanti yang bilang ke dia. Sekarang dia mungkin masih tidur," sahut Shinta mencoba meyakinkan Rianti lagi.


Tidak lama kemudian Rianti pun siap. Dengan balutan dress selutut berwarna merah menyala yang di padu padankan dengan blazer berwarna hitam, membuatnya lebih terlihat manis. Apa lagi Shinta mempraktekkan keahlian make up-nya.


"Wah kamu pinter. Sejak kapan kemampuanmu meningkat drastis begini. Dulu seingatku gak sebagus ini deh," puji Rianti sambil menatap wajahnya di depan cermin. Ia kagum akan kemampuan sahabatnya itu.


Sedangkan Shinta yang mendengar sanjungan dari Rianti malah terlihat sedih. Ia kecewa sahabatnya itu melupakan segalanya, bahkan momen-momen bahagia mereka berdua.


Ya iya lah gak sebagus ini. Yang kamu inget itu, waktu aku taunya cuma pake bedak sama celak doang. Ya jelas beda dong, batin Shinta.


Tidak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Rianti dan Shinta pun bergegas ke arah depan dan mendapati Ardi sudah berdiri di balik pintu kontrakan mereka.


Rianti terkesiap melihat penampilan Ardi yang berbeda dari biasanya, ia nampak begitu aduhai dengan tatanan rambut ala tentara crew cut bergaya Amerika, dengan bagian belakang dan samping dibuat lebih tipis, sedangkan bagian atas dibiarkan panjang dua sentimeter.


Ardi juga terlihat makin mempesona dengan balutan celana jeans dan kaos bermerek yang ia kenakan. Gaya yang membuat dirinya terlihat lebih muda dan modis. Apalagi di tambah senyumannya yang khas membuat hati wanita manapun meleleh. Ia ibarat mata air di tengah kemarau panjang yang mampu menuntaskan dahaga para hawa yang haus akan cinta.


Shinta hanya tersenyum melihat Rianti tak bergerak, begitu juga matanya yang sama sekali tidak berkedip.


Sedangkan Ardi merasa salah tingkah karena di tatap se-intens itu oleh istrinya.


"Kenapa, Ri? Penampilan saya aneh ya?" tanya Ardi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tentu saja aneh. Kenapa gak dari dulu kayak gini. Buktinya sekarang ada yang seperti terhipnotis," sela Shinta. Ia senggol bahu sahabatnya itu sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Ya udah deh buruan pegi sono," ucap Shinta lagi sambil mendorong pelan tubuh Rianti ke dalam pelukan Ardi. Rianti tentu saja menjadi salah tingkah sendiri karena mendarat tepat di dada bidang pria yang ada di hadapannya. Sedangkan Ardi tersenyum senang sambil menatap Shinta seolah mengatakan, 'terima kasih' kepadanya.


"Ya udah yuk kita berangkat sekarang," pinta Ardi seraya menggenggam tangan Rianti. Rianti yang mendapat sentuhan mendadak itu tentu saja kaget. Namun akhirnya ia genggam juga tangan yang begitu hangat itu.


Shinta memandang mereka hingga hilang dari penglihatannya. Ia pun duduk di kursi tunggal yang ada di teras rumah sambil menghembuskan napasnya yang terasa sesak. Tanpa ia sadari keluarlah bulir air di ujung matanya.


"Maafkan aku, bang," gumamnya lirih.


Sebulan yang lalu.


"Dek, Riri mana?" tanya Andra yang memang sedang duduk santai di teras rumah. Ia tutup majalah fashion yang ada ditangannya.


"Dia tadi aku suruh pulang sama suaminya, Bang," ucap Shinta sambil melepas sepatu.


"Apa!!! Kenapa kamu izinin, Shintaaa!" bentak Andra seraya berdiri dari posisi duduknya. Suara Andra begitu menggelegar hingga telinga Shinta terasa berdenging dan jantungnya mendadak berdetak dengan lebih cepat. Ia pandang mata Andra dan terlihat kemarahan yang begitu besar di sana.


Shinta yang masih menggunakan seragam sekolah, melangkah mundur hingga berada di ambang pintu. Ia peluk buku paketnya dengan erat dan mencoba bertanya penyebab dari kemarahan mendadak abang sepupunya itu.


"Memangnya kenapa, Bang? Bukankah bagus kalau Riri bersama suaminya? Dengan begitu dia bisa cepat mendapatkan ingatannya kembali."


Mendengar pernyataan Shinta, tingkat emosi Andra semakin tinggi. Ia tidak rela kalau Rianti kembali pada Ardi, si bedebah yang telah mencuri dan menyakiti gadis yang ia cintai. Beberapa kali ia pejamkan mata, mencoba meredam bara api yang sudah terlanjur mencuat hingga ke ubun-ubun.


Andra pun pergi meninggalkan Shinta yang ketakutan karena ulahnya. Ia kendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membawa perasaan yang bergemuruh di dalam dada. Betapa tak relanya ia kalau Rianti sampai kembali pada Ardi.


Sedangkan Shinta yang tidak mendapat jawaban, mencoba melangkahkan kaki yang terasa berat, ia seakan tak mampu menopang beban tubuhnya. Shinta gemetaran, dan air mata perlahan jatuh membasahi pipi. Gadis itu tidak menyangka abang yang selama ini begitu baik dan penyayang, ternyata begitu tega membentak dan meninggikan suara di depannya.


Setelah kepergian Andra, Shinta berfikir keras alasan kenapa Andra begitu marah dan selalu protektif bila menyangkut Rianti.

__ADS_1


Apa mungkin?


__ADS_2