Duren Sawit

Duren Sawit
Veno dan Shinta


__ADS_3

Shinta menatap lekat pantulan wajahnya di cermin. Ia amati hasil kerjanya selama setengah hari hanya untuk berdandan. Ia lakukan itu demi cinta dan masa depannya.


Oke Shinta. Kau sudah cantik. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah tersenyum. Lakukan sebaik mungkin agar ibunya mas Veno menyukaimu.


Shinta memantapkan hati. Ia kumpulkan semua nyawa dan keberanian untuk bertemu calon ibu mertuanya yang super judes itu malam ini. Ia kepalkan kedua tangan dan menatap tubuhnya sendiri dengan keyakinan.


Tapi kemudian keraguan kembali berbisik, tak ayal kegalauan pun kembali menyelimuti hatinya.


Bagaimana kalau aku ditolak? Bagaimana kalau dia mengancam akan bunuh diri kalau mas Veno tetap memilihku? Jalan apa yang harus aku tempuh? Apakah aku harus merelakan atau memperjuangkannya?


Pikiran shinta kembali berkecamuk. Selama tiga bulan berkencan, hal itulah yang selalu menjadi beban. Selalu memberatkan langkahnya di saat bersama Veno. Ia begitu tulus mencintai Veno, si coca-cola idaman hati. Namun, kenyataan kalau dia anak yatim piatu yang menginginkan seorang Veno sungguhlah di luar nalar. Orang tua manapun pasti akan menentangnya.


Hufh ....


Desahan panjang keluar dari bibirnya yang sudah berlapis lipstik. Bahu dan kepala yang tadinya tegak tegap kembali menunduk makin dalam.


Shinta merebahkan diri ditepi ranjang. Wajahnya muram memikirkan reaksi apa yang akan ditunjukkan Yulia, serta perkataan kasar apa yang akan ia terima.


Lagi-lagi ia hembuskan napas lirih seraya menghepaskan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar namun pikirannya terbang ke dunia antah berantah.


"Dek, Abang boleh masuk?"


Terdengar suara Andra di balik pintu. Shinta yang sedang merebahkan tubuhnya, dengan malas membetulkan posisi. Ia benar-benar tak bersemangat. Pikiran yang semraut membuatnya lemas dan lemah seketika.


"Masuk Bang ..." jawab Shinta.


Andra pun membuka pintu dan berjalan mendekati adik sepupunya. Ia paham kegundahan sang adik. Masalah perekonomian tidak mudah dikesampingkan.


"Kamu sudah siap?" tanya Andra membuka obrolan.


Shinta mengangguk pelan tanpa bersuara ataupun memandang Andra. Ia hanya menunduk, mengoyang-goyangkan kakinya yang menggantung tak menyentuh lantai.


"Kalau mereka tak menyukaimu dengan alasan materi, Abang harap kamu tidak sedih ataupun menyalahkan diri sendiri. Semua sudah digariskan. Kalau dia memang jodohmu pasti akan bersama juga," ucap Andra mencoba menghalau kegundahan hati Shinta.


Shinta kembali menghela napas. Wajahnya semakin murung. Riasan cantiknya tak mampu menutupi kekhawatirannya.


"Jangan merisaukan apa yang belum kita miliki, tapi risaukan apa yang belum kita syukuri," ujar Andra menasehati Shinta.


Shinta masih terdiam. Menunduk makin dalam.


"Tapi tetap saja Abang yakin kalau ibunya Veno pasti menerimamu. Kamu cantik dan masih muda. Dia akan rugi kalau merelakanmu begitu saja," tandas Andra lagi.


Shinta tetap tak menyahut. Meskipun telah mendengar ucapan semangat dari sang abang, tetap saja tak membuatnya lantas melupakan kegelisahan hatinya. Ia semakin larut dalam pikiran yang semakin dipikirkan semakin rumit.


Tak berapa lama terdengar seseorang memencet bel pintu rumah mereka.


"Nah tu Veno. Ayo samangat. Keputusan final ada di tanganmu. Kalau kau mundur, Abang tetap mendukungmu. Dan kalau kau maju Abang akan tetap berada di belakangmu," ucap Andra mencoba menyamangati adiknya.


****


Di dalam mobil.


"Beb, kamu kenapa sih diem aja? Gak kayak biasanya," tanya Veno yang memang penasaran. Pasalnya sudah sepuluh menit berkendara Shinta hanya membisu. Mengarahkan penglihatannya di luar kaca mobil.


Namun, Shinta masih tak menyahut. Hanya suara desahan yang terdengar kasar di telinga Veno. Veno yang merasakan kejanggalan pun menepikan mobil. Ia keluar dan membuka pintu mobil Shinta. Ia berjogkok menatap manik mata sang kekasih.


"Shin kamu kenapa, hmm ... ayo cerita ke aku," ucap Veno berharap sang pujaan hati mencurahkan segala kesusahan dan kegelisahan yang membuatnya terlihat murung.


"Mas, gimana kalau mami kamu gak setuju dengan hubungan kita?" tanya Shinta, membalas tatapan intens dari Veno.


"Gak apa-apa. Walaupun mami gak setuju. Mas akan tetap menikahimu. Restu dari papi saja sudah cukup untuk Mas mempersuntingmu, Shinta," sahut Veno lembut. Ia Sibak poni Shinta yang tertiup angin kemudian mengecup kening itu dengan pelan.


"Mas tu sayang sama kamu. Mas gak rela hubungan kita kandas hanya karena mami tidak merestui," tandasnya lagi.


"Tapi Mas, restu seorang ibu sangatlah penting. Aku gak mau nikah kalo mami kamu gak ngerestuin kita," sanggah Shinta.

__ADS_1


Veno mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tau Shinta berhati lembut yang akan memintangkan perasaan orang lain ketimbang kebahagiaannya sendiri.


"Sayaaaang, aku tu beneran pengen nikahin kamu. Aku gak rela kamu direbut orang lain atau kamu berpindah ke hati yang lain."


"Udah ya ... jangan banyak mikir yang enggak-enggak. Serahin saja sama aku. Aku akan berusaha semampuku buat meyakinkan mami," terang Veno.


Shinta hanya mengangguk pelan dan mengukir seulas senyum di bibir tipisnya.


"Nah gitu dong, kan cantik," ucap Veno seraya mencubit pelan pipi Shinta.


Sepanjang perjalanan mereka kembali terdiam. Seolah Shinta telan menularkan penyakit bisunya kepada Veno. Karena tak dipungkiri kegelisahan hati Shinta memang benar adanya. Melihat keras kepalanya sang mami dan kehidupan sosialitanya di luar negeri, bisa di pastikan dia akan memandang sebelah mata pada Shinta.


Baiklah, aku akan memperjuangkan kebahagiaannku. Aku tak ingin mami kembali mengatur-atur hidup bahkan keinginanku!!!


Veno memantapkan hati. Ia usap perut seraya menghembuskan napas dengan perlahan.


****


Di dalam restoran.


Keduanya sudah duduk tegang di dalam private room. Ruangan besar dan hanya ada mereka berdua di sana. Shinta memucat, keringat dingin terus saja keluar membasahi telapak tangan. Sedangkan Veno merasakan firasat buruk akan adanya penolakan yang pastinya disertai dengan kata-kata kasar dari sang mami.


Tak lama kemudian, masuklah sesosok wanita umur lima puluhan. Dalam sekejap mata Shinta yang tadinya berat kini membulat dengan sempurna. Ia tercekat, seperti kesulitan mengambil napas. Walaupun ini kali kedua ia bertemu Yulia tetap saja Shinta speechless, disuguhkan dengan barang-barang branded limited editions yang menutupi seluruh tubuh Yulia. Dari mulai gaun, mantel, heels, aksesoris hingga jepit rambut. Membuat Shinta terkagum-kagum. Takjub akan penampilan menawan sang calon mertua.


"Hallo sayang ... sudah lama ya nunggunya?" tanya Yulia seraya menggerakkan jemarinya, menyapa Veno, tak lupa pula cipika-cipiki ( cium pipi kanan dan pipi kiri) sang anak yang sudah dewasa. Sedangkan Veno hanya tersenyum kecut kemudian menarik kursi untuk sang mami duduk.


"Maaf ya ... Mami baru tiba sekarang, kerjaan Mami di Amerika begitu banyak," terang Yulia. Ia memperlihatkan senyuman pada Veno. Tatapan penuh rindu pada anak semata wayangnya.


Veno lagi-lagi tersenyum kikuk dan kembali ke kursinya semula. Kini mata Yulia terfokus pada wanita kecil di sebelah anaknya.


"Dia siapa, No?" tanya Yulia seraya menurunkan sedikit kaca mata hitamnya. Benar-benar tatapan mengintimidasi. Membuat Shinta canggung dan takut setengah mati.


Hmm gadis ini cantik juga. Tau soal fashion*, pikir Yulia. Ia kembali menatap dengan seksama penampilan Shinta yang menggunakan jumsuit berkaki panjang tak berlengan dan berkerah V-Neck* bergaris-garis. Tak luput pula mata Yulia melihat mantel hitam karya saint laurent yang di bandrol dengan harga 43,2 juta rupiah.


Shinta kembali tercekat. Ingin menyahut namun suara tak kunjung keluar. Veno yang menyadari gelagat Shinta meraih tangan dingin itu dan mengenggamnya dengan hangat.


Tatapan Yulia yang tadinya penuh pertanyaan kini berubah ke mode kasih sayang. Ia begitu merindukan Veno dan mengangguk pelan bertanda setuju.


Dua puluh menit berselang. Mereka makan tanpa bersuara. Hanya terdengar pelan suara sendok yang membentur piring. Sedangkan Shinta yang merasa tak karuan tetap memaksa menelan steak yang sudah di sediakan. Namun, bukannya turun ke perut melainkan seolah berkumpul penuh di dada. Berat dan sesak. ia berkali-kali meneguk air putih, mencoba mendorong makanan yang ia telan.


"Jadi, apa maksud kamu ngajak Mami makan malam?" tanya Yulia setelah menghabiskan makanan utama. Kini ia cicip desssert mango float yang di suguhkan oleh pegawai restoran.


Shinta dan Veno yang tidak bisa mencerna makanan dengan nyaman tentu saja memilih menyudahinya sedari tadi. Memaksa memakan sesuatu tidak akan baik. Malah akan membuat pencernaan terganggu dan akan menyakiti diri sendiri.


Setelah mendengar pertanyaan Yulia membuat keduanya kembali ke mode canggung. Keduanya saling adu pandang.


"Mi, kami mau nikah," ucap Veno menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Shinta tertunduk. Sedangkan Yulia tentu saja tercengang dan tak sadar melepaskan sendok berukuran kecil yang ia pegang hingga jatuh ke lantai. Kini mata Yulia memandang serius wajah calon mantu yang anaknya pilih. Dalam sekejap mata yang tadinya menyipit langsung membelalak lebar.


"Dia ini kan gadis kampung itu!" seru Yulia yang baru mengingat wajah Shinta. Ia terlalu terpukau dengan penampilan Shita hingga tak memperhatikan dengan seksama wajah gadis itu.


Yulia berdiri dengan angkuh. Ia silangkan lengan di atas dada dan menatap Shinta dengan tatapan menghujam.


"Bisnis apa yang keluargamu miliki?" tanya Yulia dengan suara datarnya.


"Saya anak yatim piatu, Tante. selama ini saya tinggal bersama paman dan bibi saya. Paman seorang kontraktor lepas dan bibi seorang penjahit," jawab Shinta terbata-bata. Ia gugup bukan kepalang. Tangan yang tadinya berkeringat kini langsung kaku, tak bisa bergerak. Mendapat pertanyan yang mendiskreditkan membuatnya makin terpojok.


Mendengar penuturan Shinta mendadak wajah Yulia merah padam. Tertarik sebelah bibirnya. Ia menyeringai geram akan kelancangan Shinta yang menginginkan anak semata wayangnya.


"Cih ... tidak tau diri! Bagaimana wanita sepertimu bisa bermimpi menjadi cinderella," ketus Yulia.


"Jangan-jangan baju mahal yang kau gunakan ini adalah hasil mengeruk uang Veno. Ck ... tak tau malu! Murahan!" hujatnya lagi.


Shinta terdiam. Menundukkan kepala makin dalam. Ia seka air mata yang telah terlanjur jatuh. Ia tau kata-kata pedas itu akan ia dengar. Namun, setelah mendengarnya langsung seolah begitu tajam menancap ke arah jantung. Sakit.


"Mami, jangan seperti itu. Aku mencintainya Mi," sela Veno menengahi kata-kata kasar yang terus saja keluar dari mulut Yulia. Ia dekati tubuh ibu kandungnya berharap bisa menghentikan hujatan yang tak berdasar.

__ADS_1


Kini tatapan tajam Yulia arahkan kepada Veno.


"Kamu jangan bodoh, Veno! Dia hanya memanfaatkanmu. Dia hanya ingin menguras uang keluarga kita," terang Yulia menyadarkan kegilaan Veno.


"Tidak Mami, itu tidak benar. Shinta tidak pernah sekalipun meminta uang maupun barang kepadaku. Dia gadis yang berbeda dari kebanyakan perempuan yang ku kenal dan bahkan Mami pasti nanti menyukainya juga," jelas Veno.


Mata Yulia semakin berapi. Ia tatap nanar Shinta yang masih terduduk menunduk sedih.


"Kalau bukan kamu yang membelikannya mantel mahal itu lalu siapa lagi? Atau dia telah menjual diri pada lelaki hidung belang demi mendapatkan pakaian mahal itu!" Tudingan Yulia semakin kejam membuat kesedihan Shinta semakin dalam.


"Tidak Mi. Mantel itu hadiah dari sahabatnya, Rianti. Aku bahkan bisa membelikannya lebih dari itu. Tapi dia tidak pernah mau menerimanya," jelas Veno yang masih mencoba meyakinkan Yulia.


"Ooo ... Rianti istrinya Ardi? Wahh mantap sekali kalian berdua," ucap Yulia lagi seraya bertepuk tangan. Meremehkan.


"Kalian gadis kampung bisa mendapatkan Ardi dan sekarang mengincar Veno. Di mana kalian belajar merayu laki-laki," desis Yulia lagi.


"Sadarlah Veno. Dia itu ular!"


"Kamu masih mau memilihnya? Tidakkah kau kasihan pada Mami. Mamilah yang mengandung dan melahirkanmu. Sampai hati kamu melawan Mami demi perempuan ini."


Yulia pegang tangan sang anak berharap perkataannya bisa di mengerti. Namun Veno tak bergeming. Ia lepaskan tangannya dan berjalan mendekati kursi Shinta.


"Aku mencintainya Mi. Aku harap Mami merestui kami," ucap Veno seraya memeluk tubuh Shinta yang sudah berderai air mata.


"Tidak!!! Sekali tidak tetap tidak!!!" teriak Yulia histeris.


"Kenapa tidak?" tanya Baskoro yang entah sejak kapan berdiri di balik pintu. Ia mendekati Shinta dan mengusap pelan rambut gadis itu.


"Apa kekurangannya? Tidakkah kau lihat dia ini cantik dan muda. Jadi pasti bisa memberikan kita banyak cucu nantinya," jelas Baskoro.


Yulia membuang muka. Jengah akan sikap Veno dan mantan suaminya yang lebih membela Shinta dari pada dia.


"Aka karena harta dan latar belakang?"


"Apa dengan memiliki latar belakang baik dan materi yang berlimpah bisa membuatmu bahagia?"


"Tidakkah kamu belajar dari kesalahan masa lalu kita?"


"Kita memiliki segalanya. Dari harta, nama, pendidikan dan segalanya. Apa kita bahagia?"


"Tidak Yulia!!! Kita hancur, kita kacau. Apa kau juga ingin mewariskan kesalahan kita kepada Veno?"


Mendengar penjelasan dan pertanyaan demi pertanyaan itu seolah menapar keras pipinya. Mukanya semakin merah padam. Ia mengakui perkataan mantan suaminya memang benar adanya. Namun ego wanita sosialitanya meronta. Menolak keras kehadiran Shinta.


"Tidak!!! Sampai matipun aku tidak akan merestui mereka," jawab Yulia penuh penekanan.


Veno melepas rangkulannya dan mendekati Yulia. Dengan mata teduh ia tatap mata sang mami yang sedang berapi-api.


"Baiklah Mi. Aku juga tak bisa hidup kalau harus berpisah dengannya."


Dengan cepat Veno meraih pisau steak yang ada di meja makan. Menancapkannya dengan kuat ke perutnya sendiri.


Arghh ....


Veno mengerang. Ia roboh bersimbah darah.


****


Jeng jeng jeng


Matikah Veno?


Heheheh


jangan lupa like komen dan vote nya dong.

__ADS_1


ini part spesial Veno dan Shinta yang saya buat lebih panjang dari biasanya. Saya juga minta maaf beberpa hari trakhir jarang up. Anak saya lagi bapil jadi harus fokus ke ank dulu...


__ADS_2