
Veno kembali ke ruang tamu, ia melihat Ardi dan ayahnya sedang mengobrol dengan santai.
"Lagi ngomongin apaan sih ... seru amat," ucap Veno sambil meletakkan nampan yang berisi teh hangat dan cemilan di atas meja.
"Lagi bahas kamu, kamu kapan nikah?" ujar Baskoro dengan nada ketus.
"Yee Papi ... itu lagi, itu lagi yang di bahas. Coba bahas apaan kek." Veno mendengus lirih.
"Lha Papi harus bahas apa kalau sama kamu? Mau bahas perusahaan, kamu mana ngerti. Kamu 'kan pengangguran," ucap Baskoro sarkis
Veno hanya berdecak kesal karena di remehkan oleh ayahnya sendiri.
Ardi hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka.
"Coba kamu lihat Ardi. Setelah menikah wajahnya mulai berseri. Kelihatan beda dengan waktu sebelum menikah. Apalagi istrinya masih muda dan cantik. Menang banyak dia," terang Baskoro yang di susul kekehan dari bibirnya.
"Aku tanpa menikah juga masih bisa bahagia Pi ... untuk sementara aku masih belum mau menikah. Titik tidak pake koma!" dengus Veno.
Baskoro hanya geleng-geleng kepala melihat betapa teguh pendirian anak semata wayangnya itu.
"O iya Papi kenapa cepet pulang? Bukankah katanya cabang di sana bermasalah?"
"Udah di handel sama Toni. Sekarang Papi mau ke kantor lagi. Kalian lanjutin aja ya ngobrolnya," ucap Baskoro sambil berjalan dan melemparkan senyuman kepada Ardi.
"Bagaimana kondisi Shinta?" Ardi bertanya setelah menyeruput teh miliknya.
"Tidak terlalu baik, tapi aku akan terus menjaganya hingga dia pulih."
"Lalu apa kamu bahagia setelah menikah dengan Rianti?" Kini giliran Veno yang bertanya kepada Ardi.
Ardi terdiam sejenak lalu tersenyum lebar.
"Tentu saja aku bahagia karena aku begitu mencintainya."
"Mencintai siapa? Stella atau Rianti?"
Ardi terdiam dan senyuman mendadak hilang dari wajahnya.
"Berhati-hatilah, sepinter-pinter nyimpan bangke, pasti nanti kecium juga," ucap Veno mengingatkan.
Ardi masih terdiam.
"Aku juga penasaran, Sebenarnya siapa pria yang tempo hari menculik Rianti? Kata polisi yang bertugas, di dalam rumahnya terdapat banyak fotomu dan juga foto Rianti bahkan ada beberapa foto saudara Rianti. Sepertinya dia sudah lama mengincar kalian."
__ADS_1
Ardi menghela napas dan mengeluarkannya perlahan. Ia rebahkan punggungnya di sofa.
"Dia itu Heru, mantan kekasih Stella. Dia bahkan pernah mencoba memperkosa Stella, beruntung waktu itu ada orang yang melihat kejadian tersebut dan akhirnya dia dipenjara. Aku tidak menyangka dia masih begitu dendam kepadaku. Bahkan setelah keluar dari penjara dia masih mengincarku. Ia kira akulah yang menghancurkan kebahagiaanya dan merebut Stella dari dirinya."
Veno masih menatap wajah sepupunya itu. Tatapan kebencian namun juga ada rasa kasihan.
"Berhati-hatilah. Sepertinya dia orang yang menakutkan. Sekarang dia memang berada di penjara. Namun, kita tidak tau ke depannya seperti apa."
Veno berdiri dan menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja.
"Aku tinggal sebentar ya ... aku akan mengambil barang-barang Shinta yang tertinggal semalam."
*****
Setelah pulang dari rumah Veno, sikap Rianti berubah jadi pendiam. Sepanjang perjalanan ia hanya diam dan sesekali menghela napas. Ardi pun menghentikan mobilnya dan menggenggam tangan Rianti.
"Kamu kenapa sayang? Apa ada kaitannya dengan Shinta?" tanya Ardi seraya memandang istrinua yang sudah tertunduk lemah.
Rianti hanya mengangguk dan kemudian menangis sesenggukan. Ardi memeluk tubuh kecil istrinya itu.
"Menangislah sayang ... keluarkan semua kesedihanmu. Mas tau, sebenarnya dari tadi kamu menahannya, kan."
Rianti masih menangis, ia hanya mampu mengangguk tanpa menjawab.
Setelah merasa tenang, barulah ia berbicara kepada Ardi.
"Maafin aku ya Mas, aku terlalu cengeng."
Ardi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu menghapus jejak air mata di pipi Rianti.
"Tidak sayang, sudah sewajarnya kalau sedih, orang pasti menangis. Dan jika menahan tangisan, pasti akan membuatmu lebih menderita. Menangislah sayang, karena Mas akan selalu bersedia untuk menghapus kesedihanmu."
"Ayo katakan, sebenarnya apa yang terjadi hingga kau begitu sedih?"
"Aku kasihan sama Shinta Mas. Di wajahnya penuh dengan memar, dan aku yakin di hatinya pasti lebih terluka. Sedangkan aku yang ia anggap sebagai sahabat tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya." Air mata Rianti kembali menetes.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu bersedih. Shinta akan baik-baik saja. Om Baskoro dan Veno pasti akan menjaganya dengan baik."
"Apakah mereka bisa di percaya, Mas?"
"Iya, mereka itu orang-orang baik. Tenang saja ya," ucap Ardi dan di respon senyuman oleh sang istri.
Ardi pun melanjutkan perjalanannya dan berhenti di depan sebuah mall.
__ADS_1
"Ayo turun sayang." Ardi membuka pintu mobil untuk Rianti setelah memarkirkan mobilnya.
Rianti keluar dari mobil dan memandang heran pada suaminya itu.
"Kenapa kita kesini, Mas?" Rianti turun dengan membawa tas selempang kecil yang hanya cukup untuk menyimpan ponsel dan dompetnya.
"Ada yang perlu aku beli, ayo ...." Ardi menggenggam tangan Rianti.
Rianti hanya menurut dan merekapun masuk kedalam mall dan berhenti di toko yang menjual perhiasan dan eksesoris.
Ardi melihat-lihat jam tangan yang akan ia beli.
"Mbak, saya pilih jam yang ini." Ardi menunjuk sebuah jam tangan merk Fossil berwarna coklat yang talinya terbuat dari kulit.
"Kamu pilih yang mana?" Ardi mendekati Rianti yang sedang melihat-lihat perhiasan yang ada di dalam etalase.
"Gak ah Mas, yang kemaren-kemaren aja gak kepake. Masa mau beli lagi."
Ardi melirik liontin yang ada di leher Rianti.
"Terus kenapa gak kamu pake pemberian dari Mas. Kamu malah sering make pemberian orang lain dari pada pemberian dari suami kamu sendiri." Protes Ardi.
"Kenapa? Mas cemburu? Ini bukan pemberian orang lain, ini tuh pemberian bang Aan yang udah aku anggap abang sendiri Mas. Lagi pula aku suka liontin ini karena simpel tidak terlalu mencolok. Kalau aku make perhiasan yang gede nanti aku di rampok bagaimana? Kan bahaya ...." Rianti mencoba menjelaskan.
Ardi bedacak kesal.
"Ya jelas lah aku cemburu ... mana ada suami yang rela melihat istrinya memakai pemberian pria lain. Apalagi tidak ada hubungan darah. Benar tidak Mbak?" Ardi melirik dua karyawan toko.
Karyawan toko hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Ardi.
"Iiih Mas apa-apaan sih ... ya udah aku pilih yang ini deh Mbak." Rianti menunjuk liontin bulat dengan bintang kecil di dalamnya.
"Tunggu sebentar ya Pak, Buk. Kami akan menyiapkan surat-suratnya terlebih dahulu," ucap karyawan itu dengan ramah.
Tidak berapa lama masuklah dua orang wanita paruh baya yang sedang berbisik di belakang mereka.
"Cih ... anak muda jaman sekarang mau-maunya jadi simpenan om-om."
"Iya ... padahal masih muda. Wajahnya juga cantik. Mau-maunya menghancurkan masa depan sendiri."
Rianti yang mendengar percakapan itu langsung menarik tangannya dari genggaman sang suami. Setelah perhiasannya siap, Ardi dengan entengnya merangkul bahu Rianti dan menghampiri ibu-ibu itu.
"Maaf ya ... dia ini bukan simpenan. Dia ini istri sah saya! Dan masa depannya tidak akan hancur karena dia adalah istri saya. Istri Ardi Mahenda Abbas, anak dari tunggal dari Mahendra Abbas, pebisnis sukses hotel bintang lima!" ucap Ardi penuh penekanan dengan suara setengah berteriak. Bahkan ada bebera pelanggan yang menyaksikan kejadian itu ikut mencemooh tingkah minus kedua wanita tersebut.
__ADS_1
****
like nya dongg...😊😊