Duren Sawit

Duren Sawit
Gaun berdarah


__ADS_3

Akhirnya acara pun selesai dengan baik. Resepsi termegah yang pernah ada di hotel Safira, hotel bintang lima kepunyaan keluarga Mahendra Abbas. Banyak tamu yang hadir, dari pengusaha hingga profesor. Mahendra benar-benar melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan anak dan menantunya tersebut. Ia bahkan rela merogoh kocek yang terbilang fantastis. Belum lagi biaya untuk menyewa bintang ternama, seperti Rossa dan Afgan yang dia undang untuk mengisi acara resepsi anak semata wayangnya. Dalam sekejap keluarga Mahendra abbas menjadi sorotan publik atas kemeriahan pernikahan ke dua Ardi.


Sedangkan Ardi, dia hanya ingin memberikan pesta pernikahan yang tak akan terlupakan oleh Rianti. Gadis belia yang telah mampu menarik dirinya dari kelamnya masa lalu dan dari bayang-bayang Stella.


Para tamu sudah banyak yang pulang. Hanya beberapa karyawan yang terlihat sibuk membereskan aula hotel dari dekorasi nan indah tersebut.


Rianti, Ardi dan Mahendra terlihat berdiri dindepan pintu masuk hotel.


"Bapak ... Ibuk, kenapa gak nginep di sini aja?" rengek Rianti sambil memeluk tubuh kurus ibunya. Dewi, Adi dan yang lainnya hanya mengulum senyum melihat tingkah manja Rianti.


Dewi mengusap pelan rambut Rianti.


"Tidak bisa, Nak. Besok Bapakmu harus mengajar dan adik-adikmu harus sekolah. Nanti kalau ada waktu senggang atau liburan sekolah kami akan kesini lagi," ucap Dewi.


Rianti menoleh ke arah adik-adiknya dan akhirnya mengangguk setuju.


Walaupun tidak ikhlas orang tuanya pulang, tetap saja Rianti melepas kepergian orang tua dan adik-adiknya dengan senyuman dan lambaian tangan.


Mahendra menghampiri Ardi dan Rianti


"Kalian akan menginap di mana malam ini?" tanyanya.


"Di hotel aja, Yah. Mau cepet-cepet gaspool soalnya," jawab Ardi asal sambil cengengesan yang akhirnya mendapat sikutan di perutnya.


"Aww ... sakit sayang," ucapnya yang terdengar manja.


Wajah Rianti medadak merah menahan malu serta marah.


Bisa-bisanya Mas Ardi ngomong kaya gitu di depan ayah. Bikin malu aja.


Mahendra hanya tersenyum bahagia melihat putranya yang sering tersenyum semenjak menikah dengan Rianti.


"Kalau begitu Ayah pergi dulu ya ... masih banyak yang harus Ayah urus," ucap Mahendra dan di balas anggukan dari Ardi.


Sedangkan Rianti mencium pungggung tangan mertuanya itu sembari menahan malu akibat celotehan vulgar suaminya.


Lambaian tangan mengikuti arah mobil Mahendra yang beranjak meninggalkan mereka.


"Mas tu bikin malu tau gak!" Sungut Rianti setelah melihat mobil ayah mertuanya sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Ardi yang melihat wajah cemberut Rianti mendadak memiliki pemikiran yang lain. Ia yang berdiri di belakang Rianti memegang pundak sang istri sambil berbisik.


"Mas ingin kamu malam ini."


Ekspresi wajah Rianti mendadak berubah yang awalnya cemberut sekarang kembali merona mendengar bisikan mesum dari Ardi. Ia tau arah bisikan suaminya tidak lain dan tidak bukan adalah urusan ranjang, yang membuatnya kelelahan namun juga memberinya kenikmatan.


Rianti bejalan menjauh meninggalkan Ardi yang berdiri dibelakangnya. Ia pegang kedua belah pipinya yang terasa panas. Sesekali ia gerakkan tangan kanannya seolah sedang mengipas.


Gila, aku malu banget.


Ketika melangkah kembali masuk ke dalam hotel. Mereka melihat Veno dan Shinta sedang bersitegang di loby.


Rianti yang sudah tau segalanya hendak menghampiri mereka. Ingin menolong Shinta dari laki-laki yang telah melecehkan sahabatnya itu. Namun, langkah Rianti terhenti saat Ardi meraih tangannya.


"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya. Kita tidak bisa ikut campur," ucap Ardi.


"Tapi, Veno itu udah jahatin Shinta, Mas.


Aku gak suka dia mainin perasaan sahabat aku," jawab Rianti sambil mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya. Tapi lagi-lagi Ardi dapat meraih tangan Rianti dan langsung melingkarkannya di lengannya sendiri.


"Stt ... udah! Jangan ngebantah! Biarkan Veno meminta maaf atas kesalahannya. Veno udah cerita sama Mas apa yang terjadi di antara mereka berdua. Yang pasti Veno itu tulus hanya saja caranya salah."


Ucapan Rianti terputus saat telunjuk Ardi menempel di bibirnya.


"Dah ... jangan ngebantah! Sekarang mana yang lebih utama, suami apa temen!"


Nada suara Ardi terdengar tegas dan mau tak mau Rianti pun mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar mereka. Meninggalkan Veno dan Shinya yang sedang bertengkar di lobi hotel.


Veno membentangkan kedua tangan di depan Shinta. Dia ingin gadis yang telah di sakitinya itu mendengar kata-katanya. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan yang tidak akan terulang lagi. Semenjak kejadian di dalam lift, Shinta selalu saja menghindar dan mengabaikan teleponnya.


"Shinta, tolong dengerin penjelasan aku dulu. Jangan menghindar lagi. Aku sudah seperti orang gila selama semingguan ini," ucap Veno yang terdengar frustasi.


"Apa yang mau di jelasin lagi. Udah minggir! Aku mau lewat!" ucap Shinta sambil menepis tangan Veno yang berada di depannya.


Dengan cepat Veno menarik pinggang Shinta dan memeluknya erat dari belakang.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar khilaf waktu itu. Aku di kuasai rasa cemburu hingga aku kehilangan akal."


"Oo berarti waktu itu kamu sedang kehilangan akal ketika mengatakan aku milikmu. Sukurlah! Karna aku juga tidak mau menjadi milikmu!" ucap shinta yang masih dengan nada juteknya.

__ADS_1


Shinta masih berusaha melepaskan pelukan Veno, tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Veno yang sedang memeluknya.


"Shinta tolong maafin aku. Bukan begitu maksudku. Aku minta maaf karena telah melecehkanmu, padahal aku tau dengan jelas apa yang telah kamu lalui." Suara Veno terdengar lirih.


Mendadak Shinta teringat apa yang telah Veno lakukan untuk menyelamatkannya dari Haikal. Serta semua kebaikan yang telah ia terima. Sedikit demi sedikit Shinta


pun mulai merasa tenang.


"Baiklah. Aku akan mendengar penjelasanmu. Tapi bisa tidak kamu lepasin aku dulu. Semua orang menatap aneh ke arah kita," ucap Shinta yang sudah mulai bisa meredam emosinya.


Mereka memilih duduk di sofa yang tersedia di lobi hotel.


Veno menatap Shinta dengan penuh penyesalan. Sedangkan Shinta malah memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu. Aku sudah berulang kali menyangkalnya. Mencoba melupakan bayangmu. Tetap saja, akhirnya pikiranku kembali lagi kepadamu."


"Aku sadar telah beberapa kali membuatmu kecewa dan marah atas penolakan dariku. Tapi bisakah kamu memberiku kesempatan untuk memperbaikinya."


Mendengar pengakuan itu Shinta pun memandang sinis pada Veno.


"Maaf, aku sudah tidak punya perasaan suka padamu lagi," ucap Shinta.


"Tolong berilah aku kesempatan," pinta Veno memelas.


Shinta terdiam sejenak dan berpikir. Ia yang melihat kesungguhan dan ketulusan Veno menjadi bingung dengan perasaanya antara memilih kembali bersama Veno atau memilih Toni yang dengan jelas mengatakan menyukainya. Apalagi Andra lah yang menjadi penghubung antara dirinya dan Toni.


Tiba-tiba pikiran Shinta teralihkan ketika mendengar suara ribut-ribut dari arah lift. Terlihat Ardi yang begitu panik sedang menggendong Rianti yang sudah tak sadarkan diri dengan banyak noda darah di gaun pengantinnya.


"Veno! Tolong siapkan mobil!" perintah Ardi. Wajahnya penuh ketakutan melihat istri tercintanya yang terkulai lemah.


Veno langsung berlari keluar lobi hotel dan menuju parkiran.


"Ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Shinta sambil mengikuti langkah Ardi dari belakang.


***


**Terima kasih sudah mampir ke cerita saya 😊


Jangan lupa like and vote nya yah 😊**

__ADS_1


__ADS_2