
Shinta yang mendengar pertanyaan absurd Rianti langsung membelalakkan matanya
Ni anak kenapa? Bercanda atau emang lagi amnesia, masa suami sendiri gak inget.
Rianti perlahan membetulkan posisi duduknya dengan menahan rasa sakit di bagian perut dan organ kewanitaannya. Ia tak henti-hentinya melihat ke sekeliling. Persis seperti orang linglung. Sedangkan Ardi dan Veno terlihat kebingungan akan sikap Rianti yang seolah baru pertama kali bertemu mereka.
"Sayang ... ini aku, suamimu ..." ucap Ardi mencoba meyakinkan Rianti. Ardi pegang tangan Rianti dan menatapnya penuh kehangatan. Namun, Rianti makin terlihat bingung juga takut. Entah mengapa melihat Ardi perasaan takut menghampirinya. Ia tarik tangannya dan langsung memeluk erat pinggang Shinta.
"Shin, apa orang ini gila?" ucapnya pelan tapi masih terdengar oleh Veno dan Ardi.
Ardi beranjak dari tempat duduknya, menggeram, mengepalkan tangan dengan kuat. Ia ayunkan tangan seolah memukul angin. Ardi kesal bahwa Rianti melupakannya. Melupakan kenangan-kenangan manis yang telah mereka lalui berdua. Apalagi Rianti sampai menganggapnya sudah gila. Wahh ... Ardi rasanya ingin berteriak agar rasa frustasinya hilang. Ardi marah, kesal dan juga sedih. Cobaan tak henti-hentinya menghampiri biduk rumah tangga mereka.
"Rianti ... ingat baik-baik, aku suami kamu!" ucapnya lagi. Sekarang suaranya sedikit meninggi hingga Rianti semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Shinta.
Shinta melihat gelagat Rianti akhirnya sadar kalau ini bukan lelucon. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap dalam mata Rianti.
"Ri, kamu inget aku, kan?" tanya Shinta dengan nada seriusnya dan direspon anggukan oleh Rianti.
"Kamu inget dia?" tanya Shinta lagi sambil menunjuk Ardi yang sedang berdiri.
Rianti langsung menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Ia pandang wajah Ardi dan terlihat jelas kalau Rianti tidak menyukainya. Rianti bahkan meringkuk, menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Ardi yang sudah mulai duduk kembali di samping ranjangnya.
"Ri ... kumohon sadarlah. Coba inget-inget lagi dia itu suami kamu," ucap Shinta dengan nada lemah lembutnya.
Rianti terdiam, mencoba mengingat sesuatu. Namun, bukan ingatan yang muncul malah pandangannya menjadi buram, kepalanya menjadi sakit bukan main hingga Rianti histeris, menjambak rambutnya sendiri. Mencoba melawan rasa sakit yang menyerang kepalanya.
Mereka bertiga menjadi ketakutan dan panik melihat tingkah Rianti yang terbilang tak normal.
"Aaagh saakit!" erang Rianti yang masih menjambak rambutnya.
"Ri sadarlah Ri ... sadar!" seru Shinta sambil memegang kuat tangan Rianti agar berhenti menarik paksa rambutnya sendiri.
Ardi langsung memencet tombol darurat yang ada di sebelahnya, tak lama kemudian beberapa dokter tiba dan menyuntikkan sesuatu ke selang kecil infus Rianti hingga Akhirnya Rianti tanang dan kembali tertidur.
__ADS_1
Mengetahui ada yang tidak beres dengan tingkah Rianti, Ardi pun pergi menemui dokter bedah saraf yang menangani Rianti sebelumnya.
"Jadi apa yang terjadi pada istri saya, Dok? Dia hanya mengingat tamannya saja dan sama sekali tidak mengingat saya, suaminya," tanya Ardi frustasi.
Dokter laki-laki yang sudah paruh baya itu pun menunjukkan layar komputer kepada Ardi dan memperlihatkan hasil pengecekan kepala Rianti setelah jatuh dari tangga.
"Ini ... lihatlah! Tidak ada masalah dengan kepala dan kesehatan istri anda. Semuanya kelihatan normal-normal saja. Kemungkinan istri anda mengalami yang namanya amnesia disosiatif atau biasa di sebut juga amnesia psikogenik. Amnesia jenis ini merupakan kondisi ketidakmampuan otak untuk mengingat sesuatu dengan detail baik identitas diri atau peristiwa traumatis yang sangat menekan emosi. Secara tidak langsung Istri anda menekan alam bawah sadarnya untuk melupakan kenangan yang tidak ingin ia ingat. Kejadian ini sangat langka namun bisa saja terjadi karena amnesia yang istri anda derita ini dikarena stres yang berlebihan." Ungkap dokter itu panjang lebar perihal kesehatan Rianti.
Ardi terkulai lemah mendengar penjelasan dokter. Ia menyadari dia lah sebab utama istrinya seperti itu. Ardi menghempaskan napas dengan kasar.
"Apa tidak bisa disembuhkan, Dok?"
"Tentu saja bisa dengan terapi psikologi, tapi mengenai jangka waktunya tidak bisa saya pastikan karena ini menyangkut kejiwaan seseorang. Dia akan cepat mengingat masa lalunya kalau dia sudah siap. Tapi jangan dipaksa mengingat. Ia akan semakin stres dan bahkan bisa melupakan segalanya."
Setelah mendengar penjelasan dokter, Ardi pun kembali ke ruangan Rianti. Ia berjalan dengan gontainya seolah kaki terasa berat untuk melangkah. Rasa penyesalan menyelimuti hatinya. Ia menyesal telah melakukan banyak kebohongan demi kebahagiaannya sendiri.
"Aku benar-benar pecundang," rutuk Ardi kepada dirinya sendiri.
Sesampainya di ruangan, Veno, Shinta dan juga Mahendra telah menunggu penjelasan yang Ardi dengar dari dokter. Ardi menjelaskan semua yang dokter katakan padanya. Semua orang terlihat sedih, apalagi Mahendra yang dua kali kehilangan calon cucunya. Ia pandang wajah Rianti yang sedang tertidur pulas.
Mahendra memandang wajah Veno, Ardi dan shinta yang terlihat kusut dan lelah.
"Kalian pulanglah dan istirahat. Biar malam ini Ayah yang jaga Rianti di sini," ucap Mahendra.
"Tapi Ayah aku ingin tetap di sini," sanggah Ardi.
"Pulanglah Ardi. Istirahatkan tubuh dan pikiranmu. Kalau kau seperti ini terus. Bukan hanya Rianti yang sakit kau juga akan sakit. Lalu siapa yang akan menjaga Rianti dan menemukan pelakunya," ucap Mahendra mencoba meyakinkan Ardi.
Tanpa perdebatan yang panjang akhirnya mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit seperti saran Mahendra.
Ardi pulang di antar oleh supir ayahnya. Sedangkan di parkiran terlihat Veno sedang membujuk Shinta agar mau di antar olehnya.
"Ayolah Shinta, aku anter ya ... ini sudah jam 10 malam tidak baik seorang gadis naik taksi sendirian. Entar kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?" tanya Veno yang sengaja menakuti shinta agak mau masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Shinta terlihat berpikir sejenak, dan akhirnya mengangguk setuju.
****
Ke esokan harinya di kediaman Ardi datanglah Andra dengan wajah yang siap untuk berkelahi. Ia begitu emosi setelah mendengar penjelasan Shinta tentang awal mula kebohongan Ardi hingga bisa mendapatkan Rianti.
Ardi berjalan menuju mobil yang ia parkirkan di depan rumahnya. Ia hendak pergi kerumah sakit namun tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ardi!" teriak Andra yang berada di belakang Ardi. Belum sempat Ardi melihat dengan jelas wajah orang yang memanggil, sebuah pukulan melayang ke pipi kiri Ardi hingga Ardi terhuyung dan menghantam pintu mobil yang hendak di bukanya tadi.
Andra cengkram kerah baju Ardi dan memukul wajah Ardi lagi hingga Ardi tersungkur ke tanah yang sudah berlapis aspal. Terlihat darah segar keluar dari ujung bibirnya.
Melihat darah Ardi bukannya menghentikan pukulan Andra. Andra malah semakin kalap mata, mengungkung tubuh Ardi di bawahnya.
Bugh!
"Ini untuk tipuanmu!"
Bugh!
"Ini untuk derita batin dan fisik Rianti!"
Bugh!
"Dan yang ini karena kau telah merebut Rianti dariku!"
Ketika Andra akan melayangkan pukulan selajutnya, dua orang satpam meraih lengan Andra dan menariknya menjauh dari tubuh Ardi.
Ardi mencoba berdiri dan menghapus jejak darah yang mengalir dari bibir dan hidungnya. Memberikan kode kepada kedua satpam untuk melepaskan Andra. Dan tanpa aba-aba Andra kembali mencengkram kerah baju kemeja Ardi.
"Aku akan merebut Rianti darimu! Baji*gan sepertimu tidak pantas bersamanya. Ingat itu!" ancam Andra, kemudian melepaskan cengkramannya. Ia berlalu pergi dari halaman rumah Ardi dengan membawa perasaan marah yang masih membuncah di dadanya.
****
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya dong. heheh